Membaca melibatkan banyak hal. Aktivitas ini tidak sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan proses visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual, membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif.
Para ahli pun mendefinisikan membaca dari berbagai sudut pandang. Hodgson, misalnya, menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang ingin disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Sementara itu, Kridalaksana melihat membaca sebagai keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara.
Pengenalan kata dapat berupa aktivitas memahami makna kata dengan bantuan kamus. Di sisi lain, membaca juga merupakan sebuah proses strategis. Pembaca yang efektif akan menggunakan konteks teks dalam rangka mengonstruksi makna. Strategi ini bervariasi dan dapat disesuaikan dengan jenis teks serta tujuan membaca yang dihadapi.
Dalam konteks keagamaan, kemampuan membaca Al-Qur’an memiliki definisi yang khas. Menurut Masj’ud Syafi’i, kemampuan membaca Al-Qur’an adalah kemampuan melafalkan surat atau ayat Al-Qur’an secara individu dengan jelas, teratur, sempurna, perlahan, dan halus (tartil). Membaca Al-Qur’an tidak perlu terburu-buru dan harus senantiasa disesuaikan dengan hukum tajwid.
Perintah untuk membaca Al-Qur’an ini termaktub dalam Surah Al-`Alaq ayat 1–5, yang merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahapemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat di atas menjelaskan adanya perintah membaca yang tegas. Untuk dapat membaca dengan baik, seseorang perlu mempelajari proses baca-tulis. Dalam hal ini, bacaan dasarnya adalah Al-Qur’an. Kitab suci inilah yang harus dipelajari dan dibaca terlebih dahulu, sehingga umat Islam perlu berikhtiar kuat untuk mempelajarinya.
Selanjutnya, untuk mempelajari Al-Qur’an, seseorang otomatis harus mengamalkan prinsip yang selaras dengan ayat pertama tersebut, yaitu wajib melantunkan bacaan dengan mengagungkan nama Tuhan Sang Pencipta. Anjuran untuk belajar membaca Al-Qur’an ini sangat jelas bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis.
Dalam agama Islam, Al-Qur’an merupakan pondasi atau landasan utama, sehingga membaca Al-Qur’an menjadi salah satu jalan utama untuk memahami ajaran Islam secara utuh. Mampu membaca Al-Qur’an berarti telah turut andil dalam pelestarian dan perlindungan kitab suci yang menjadi pilar agama ini. Membaca Al-Qur’an bernilai sangat penting bagi umat Islam karena aktivitas tersebut bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Sebaliknya, jika seseorang tidak bisa membaca Al-Qur’an, ia akan mengalami kesulitan yang besar dalam memahami tuntunan ayat-ayat-Nya.
Secara etimologis, istilah metode berasal dari kata Yunani methodos, yang terbentuk dari kata meta (melalui) dan hodos (jalan). Oleh karena itu, metode dapat diartikan sebagai jalan yang harus diikuti, cara melakukan sesuatu, atau suatu prosedur kerja. Dalam bahasa Arab, istilah ini sepadan dengan kata minhaj, al-wasilah, al-kaifiyah, atau at-thariqah yang semuanya bermakna jalan atau rute yang harus ditempuh.
Sementara itu, kata qiroati merupakan bentuk jamak dari qira’ah, yang merupakan bentuk masdar dari kata qara’a yang berarti “membaca”. Dengan demikian, qira’ah secara harfiah berarti bacaan, dan ilmu qiroati berarti ilmu tentang membaca.
Metode Qiroati pada dasarnya merupakan sebuah metode praktis yang memungkinkan seseorang belajar membaca Al-Qur’an secara cepat dan tepat. Pada praktiknya, metode ini berkembang pesat karena langsung mengintegrasikan dan mempraktikkan bacaan berdasarkan ilmu tajwid (Rochanah, 2019, hlm. 106). Dari prinsip dasar Qiroati inilah kemudian muncul berbagai variasi metode membaca Al-Qur’an lainnya di Indonesia, seperti metode Iqro, metode An-Nahdliyah, metode Tilawati, dan lain sebagainya.
Tujuan dan Visi-Misi Pengajaran Metode Qiroati
- Menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.
- Menyebarluaskan ilmu dan metodologi dalam mempelajari bacaan Al-Qur’an.
- Menegaskan bahwa guru yang mengajarkan Al-Qur’an haruslah sosok yang telah memahami ilmu tajwid dan lancar dalam membaca Al-Qur’an sendiri.
- Meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan atau pengajaran Al-Qur’an secara berkelanjutan.
Langkah-Langkah Pembelajaran Qiroati
- Guru menerangkan pokok pelajaran yang akan dimulai pada sesi tersebut.
- Guru menggunakan sebagian waktu di awal untuk mencontohkan cara membaca yang benar, sementara siswa menyimak dengan saksama.
- Setelah dicontohkan oleh guru, para siswa menirukan dan membaca bersama-sama.
- Siswa bergiliran membaca satu per satu secara individual, sementara siswa lainnya menyimak.
- Guru mengusahakan agar setiap siswa mendapatkan kesempatan membaca secara mandiri.
- Perhatian guru hendaknya menyeluruh, baik kepada siswa yang sedang maju membaca maupun kepada siswa yang sedang menyimak.
Daftar Pustaka
Ahmad Syarifuddin. 2004. Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Quran. Jakarta: Gema Insani Press.
Depag RI. 2012. Al-Quran Dan Terjemahnya. Jakarta: Ath-tooriq.
Maryani, Listi. 2018. “Implementasi Metode Qiroati Dalam Pembelajaran Membaca Al-Quran Di SD IT Mutiara Hati Purwareja Kecamatan Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara”. Skripsi. IAIN Purwokerto.
Moh Rais Hat, Moh Zaini. 2003. Belajar Mudah Membaca Al Qur’an Dan Tempat Keluarnya Huruf. Jakarta: Darul Ulum Press.
Poerwadarminta, W.J.S. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. (Catatan: Typo nama penulis diperbaiki dari Poerwadinata)
Rochanah. 2019. “Meningkatkan Minat Membaca Al-Quran Pada Anak Usia Dini Melalui Metode Qiroati”. Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal, 7(1), 103-119.
Sjafi’i, A. Mas’ud. 2001. Pelajaran Tajwid. Bandung: Putra Jaya.
Sunhaji. 2002. Strategi Pembelajaran Konsep Dasar, Metode, dan Aplikasi dalam Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Senja

