Filsafat

Saat Kita Berhenti Mengejar: Lao Tzu dan Rahasia Kejernihan Batin

5 Mins read

​Pada tahun 1912, penyair India Rabindranath Tagore mengunjungi London. Sebagai seseorang yang datang dari dunia yang berbeda, ia tentu melihat kota itu dengan mata seorang pengamat. London saat itu merupakan salah satu pusat kehidupan modern: jalan-jalan dipenuhi manusia, kendaraan bergerak tanpa henti, aktivitas perdagangan berlangsung dari pagi hingga malam, dan setiap orang tampak memiliki urusan yang harus segera diselesaikan.

​Ketika penulis Edward Carpenter bertanya kepadanya tentang hal yang paling mengesankan dari kota besar itu, jawaban Tagore justru tidak menunjuk pada bangunan, teknologi, kekayaan, atau kemajuan. Ia berkata bahwa yang paling membuatnya terkesan adalah “gerakan tanpa henti dan gelisah dari setiap orang” (Carpenter, 1916).

​Carpenter kemudian mengangguk dan mengatakan bahwa orang-orang di sana memang tampak seperti sedang terburu-buru mencari sesuatu. Tagore menjawab dengan sebuah pengamatan yang sederhana, tetapi terasa semakin dalam ketika kita membawanya ke kehidupan kita sendiri: mereka terburu-buru karena tidak menyadari harta karun besar yang mereka miliki di dalam dirinya sendiri.

​Lebih dari seratus tahun telah berlalu sejak percakapan itu. Kota-kota telah berubah. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang mungkin tidak pernah dibayangkan Tagore. Manusia kini dapat mengirim pesan ke belahan dunia lain dalam hitungan detik, bekerja tanpa harus berada di tempat yang sama, dan mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya. Namun, ada sesuatu yang ternyata tidak banyak berubah.

​Kita masih terburu-buru. Kita masih mengejar. Kita masih merasa ada sesuatu di luar diri kita yang harus ditemukan agar hidup akhirnya terasa lengkap. Kita mengejar uang, pengakuan, jabatan, hubungan, pengalaman, kesenangan, bahkan ketenangan. Ironisnya, terkadang kita mengejar ketenangan dengan cara yang justru membuat diri semakin gelisah. Kita mengisi setiap ruang kosong dengan suara.

​Ketika tidak bekerja, kita membuka layar. Ketika sedang sendirian, kita mencari percakapan. Ketika pikiran mulai terasa tidak nyaman, kita segera mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian. Kita begitu terbiasa bergerak sehingga diam terasa seperti sesuatu yang harus dicurigai. Barangkali inilah kegelisahan yang telah dilihat Lao Tzu berabad-abad sebelum dunia mengenal kota modern, telepon, kendaraan, dan layar yang menyala sepanjang hari.

​Lao Tzu, seorang bijak Tiongkok kuno yang secara tradisional ditempatkan sekitar abad ke-6 SM, mewariskan Tao Te Ching, sebuah karya singkat yang terdiri atas 81 bab (Laozi, trans. 1993). Buku itu tidak menawarkan resep kehidupan dalam pengertian biasa. Ia lebih seperti sebuah ajakan untuk berhenti melawan arus kehidupan dan kembali mendengarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebisingan pikiran.

Baca...  Modernisme Islam dan Kritik Terhadap Tradisionalisme

​Salah satu kebijaksanaan yang paling kuat dari pemikiran Lao Tzu adalah gagasan tentang air keruh. Ia mengajak kita membayangkan sebuah wadah berisi air yang bercampur lumpur. Jika air itu terus diaduk, lumpur akan tetap melayang. Air menjadi semakin keruh setiap kali kita mencoba mengusiknya. Tetapi jika kita berhenti mengaduk dan membiarkannya diam, perlahan lumpur akan turun ke dasar. Air yang semula keruh mulai menjadi jernih dengan sendirinya.

​Lao Tzu mengungkapkannya melalui pertanyaan yang sederhana: apakah kita memiliki kesabaran untuk menunggu sampai lumpur mengendap dan air menjadi jernih? Dapatkah kita tetap tenang sampai tindakan yang tepat muncul dengan sendirinya? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru sulit dijalankan. Kita hidup dalam kebiasaan untuk segera bereaksi. Ketika menghadapi masalah, kita ingin segera menemukan jawabannya.

​Ketika seseorang menyakiti kita, kita ingin segera membalas. Ketika masa depan terasa tidak pasti, kita ingin segera mengetahui apa yang akan terjadi. Ketika pikiran terasa kacau, kita memaksanya untuk segera tenang. Padahal tidak semua hal dapat diselesaikan dengan lebih banyak usaha. Ada keadaan-keadaan tertentu dalam hidup ketika tindakan terbaik justru bukan melakukan sesuatu, melainkan berhenti sejenak—sebuah konsep yang dalam filosofi Taoisme dikenal sebagai Wu Wei atau tindakan tanpa paksaan (Slingerland, 2003).

​Bukan karena kita menyerah, tetapi karena kita memberi kesempatan kepada pikiran untuk kembali melihat dengan jernih. Bayangkan ketika kita sedang marah. Pada saat itu, pikiran kita seperti air yang sedang diaduk. Satu pikiran melahirkan pikiran lain. Sebuah kalimat sederhana dapat terasa seperti penghinaan. Sebuah kejadian kecil dapat membawa kembali luka-luka lama. Kita mulai menyusun jawaban, membayangkan kemungkinan buruk, menafsirkan maksud orang lain, dan membangun cerita di dalam kepala sendiri.

​Semakin lama kita memikirkannya dalam keadaan seperti itu, sering kali semakin jauh kita dari kejernihan. Kita mengira sedang mencari solusi, padahal sebenarnya sedang terus mengaduk air. Hal yang sama terjadi ketika kita cemas. Kita merasa bahwa dengan memikirkan sesuatu terus-menerus, kita sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Namun, kecemasan jarang menghasilkan kejernihan. Ia hanya membuat pikiran berputar pada tempat yang sama.

Baca...  Menyelami Makna Segitiga Kehidupan dalam Islam dan Filosofis

​Kita bertanya, “Bagaimana kalau ini terjadi?” Kemudian muncul pertanyaan lain, “Bagaimana kalau yang lebih buruk terjadi?” Sebelum sesuatu benar-benar terjadi, kita telah mengalami puluhan kemungkinan di dalam pikiran sendiri. Akhirnya, kita kelelahan bukan karena kehidupan sedang menimpa kita, melainkan karena pikiran kita tidak pernah berhenti mengaduk dirinya sendiri. Di sinilah diam memiliki makna yang berbeda.

​Diam bukan kekosongan. Diam bukan kemalasan. Diam adalah ruang tempat sesuatu yang keruh mendapatkan kesempatan untuk mengendap. Kita sering menganggap bahwa selalu bergerak berarti selalu maju. Padahal tidak semua gerakan membawa kita ke tempat yang lebih baik. Ada kalanya seseorang berjalan begitu cepat hanya karena ia takut berhenti dan menyadari bahwa ia sebenarnya tidak tahu sedang menuju ke mana.

​Berhenti sejenak dapat menjadi bentuk keberanian. Ketika kita tidak segera mengambil keputusan dalam keadaan marah, kita memberi waktu kepada emosi untuk mereda. Ketika kita tidak langsung menjawab ketika terluka, kita memberi kesempatan kepada kata-kata yang lebih bijaksana untuk muncul. Ketika kita tidak memaksa diri menemukan jawaban atas semua pertanyaan kehidupan hari ini, kita mulai memahami bahwa sebagian jawaban memang membutuhkan waktu.

​Alam sendiri tidak pernah terburu-buru. Pohon tidak menarik daunnya agar tumbuh lebih cepat. Sungai tidak memaksa airnya mencapai laut dalam satu malam. Matahari tidak mempercepat terbit hanya karena manusia sedang terburu-buru memulai hari. Ada ritme yang bekerja tanpa suara, tanpa paksaan, tanpa kegelisahan. Mungkin manusia menjadi gelisah karena telah terlalu jauh dari ritme itu.

​Kita ingin segala sesuatu terjadi sesuai jadwal yang kita buat sendiri. Kita ingin kesuksesan datang pada usia tertentu, hubungan menjadi seperti yang kita harapkan, pekerjaan berjalan sesuai rencana, dan masa depan memberikan kepastian. Ketika kehidupan tidak mengikuti keinginan tersebut, kita menganggap ada sesuatu yang salah. Padahal mungkin tidak selalu demikian. Mungkin sebagian hal memang sedang membutuhkan waktu untuk mengendap.

​Ada keputusan yang baru terlihat jelas setelah kita tidur dan bangun keesokan harinya. Ada persoalan yang terasa sangat besar hari ini, tetapi tampak lebih kecil beberapa bulan kemudian. Ada kemarahan yang ternyata kehilangan kekuatannya setelah kita memberi jarak. Ada kehilangan yang pada awalnya hanya terasa sebagai kehancuran, tetapi perlahan mengajarkan kita tentang sesuatu yang tidak pernah kita pahami sebelumnya.

Baca...  Wahyu dan Akal: Menimbang Pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd

​Kejernihan tidak selalu datang karena kita menemukan lebih banyak jawaban. Terkadang kejernihan datang karena kita berhenti mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Inilah mungkin maksud terdalam dari perumpamaan air keruh. Kita tidak perlu selalu memaksa diri untuk menjadi tenang. Kita hanya perlu berhenti mengaduk. Ketika pikiran sedang penuh, tidak semua pikiran harus dipercaya. Ketika emosi sedang kuat, tidak semua emosi harus ditindaklanjuti. Ketika hidup sedang tidak jelas, tidak semua ketidakjelasan harus segera diselesaikan.

​Ada kebijaksanaan dalam menunggu. Bukan menunggu dengan pasif, melainkan menunggu dengan kesadaran. Membiarkan sesuatu mengambil bentuknya. Mengamati tanpa terburu-buru memberikan penilaian. Memberi ruang kepada diri sendiri untuk bernapas sebelum memilih arah.

​Barangkali harta karun yang dimaksud Tagore memang bukan sesuatu yang tersembunyi di luar sana. Bukan kehidupan yang lebih sempurna, bukan pencapaian yang lebih besar, bukan tempat yang lebih jauh. Harta itu mungkin adalah kemampuan kita untuk kembali ke dalam diri sendiri, ke tempat yang selama ini tertutup oleh kebisingan, ambisi, ketakutan, dan keinginan untuk terus bergerak.

​Kita mungkin telah menghabiskan terlalu banyak waktu mencari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ketenangan itu ada, tetapi tertutup oleh kegaduhan. Kejernihan itu ada, tetapi tertutup oleh pikiran yang terus bergerak. Kebijaksanaan itu ada, tetapi sering kali kita tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Karena itu, ketika hidup terasa terlalu penuh, mungkin kita tidak selalu membutuhkan jawaban baru. Mungkin kita hanya membutuhkan sedikit ruang.

​Duduk sebentar. Bernapas. Tidak melakukan apa-apa. Membiarkan pikiran yang berputar perlahan kehilangan kecepatannya. Membiarkan emosi turun seperti lumpur ke dasar air. Tidak memaksa diri untuk segera memahami semuanya. Sebab air tidak menjadi jernih karena dipaksa menjadi jernih. Ia menjadi jernih ketika kita berhenti mengaduknya.

​Dan mungkin kehidupan pun bekerja dengan cara yang sama. Ketika kita berhenti mengejar segala sesuatu dengan panik, sesuatu yang selama ini tertutup oleh kegelisahan perlahan mulai terlihat. Bukan dunia yang tiba-tiba berubah, melainkan cara kita melihat dunia yang menjadi lebih jernih.

​Mungkin kita tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menemukan apa yang selama ini kita cari. Kita hanya perlu cukup tenang untuk menyadari bahwa sesuatu yang berharga itu mungkin sudah ada di dalam diri kita sejak awal.

4 posts

About author
Pegiat di Cross-Dicilinary Discussion Group Sapientiae
Articles
Related posts
ArtikelEsaiFilsafat

Ketika Maudy Ayunda Mengajak Mindfulness: Bagaimana Islam Mengajarkan Kita Melihat Kekacauan Masyarakat?

4 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Beberapa waktu lalu, lini masa kita mendadak adem—atau lebih tepatnya, dipaksa adem. Penyebabnya adalah Maudy Ayunda. Sosok yang potret hidupnya nyaris…
FilsafatKeislaman

Hermeneutika Islam: Mengatasi Bias dalam Memahami Teks Agama

3 Mins read
​Memahami Islam sering kali dianggap sebagai perkara sederhana: membaca Al-Qur’an, memahami hadis, kemudian mengambil kesimpulan dari keduanya. Namun, persoalan menjadi lebih kompleks…
EsaiFilsafat

Membaca Ulang Das Kapital Marx: Ketika Hantu Lama Berjalan di Lorong Dunia Modern

5 Mins read
Mengapa teks abad Ke-19 masih menghantui kita? Pertanyaan ini selalu menggelitik kuping saya setiap kali membuka kembali lembaran pemikiran Karl Marx di…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *