I. Pendahuluan
Kesehatan merupakan hak dasar setiap manusia sekaligus amanah yang perlu dijaga. Salah satu upaya strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga membantu individu, keluarga, dan masyarakat mengembangkan kemampuan untuk mengambil keputusan serta mempertahankan perilaku yang mendukung kesehatan. Namun, penyampaian informasi semata tidak selalu menghasilkan perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Kondisi kesehatan masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa berbagai faktor perilaku masih menjadi tantangan. Riskesdas 2018, misalnya, menunjukkan adanya peningkatan prevalensi hipertensi dan diabetes berdasarkan hasil pengukuran/pemeriksaan dibandingkan tahun 2013. Riskesdas juga mencatat peningkatan proporsi aktivitas fisik kurang serta tingginya masalah konsumsi buah dan sayur. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan tidak cukup diselesaikan melalui pemberian informasi, tetapi membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan motivasi, lingkungan, kemampuan individu, dan keterlibatan masyarakat.
Dalam konteks filosofis, salah satu konsep yang relevan untuk dikritisi adalah tabula rasa yang berkaitan dengan pemikiran John Locke. Dalam An Essay Concerning Human Understanding (1690), Locke menolak gagasan bahwa manusia memiliki ide bawaan dan menjelaskan bahwa pengetahuan manusia berkembang melalui pengalaman. Karena itu, tabula rasa sebaiknya dipahami secara hati-hati sebagai pandangan epistemologis mengenai pembentukan pengetahuan, bukan sebagai pernyataan sederhana bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kapasitas atau karakteristik bawaan.
Apabila gagasan tersebut diterapkan secara berlebihan dalam pendidikan kesehatan, pasien dapat diposisikan hanya sebagai penerima informasi, sedangkan tenaga kesehatan menjadi pihak yang dianggap paling mengetahui dan menentukan. Pendekatan seperti ini berisiko mengabaikan pengalaman, nilai, keyakinan, motivasi, serta kemampuan pasien untuk mengambil keputusan.
Islam menawarkan perspektif yang berbeda melalui konsep fitrah. Allah SWT berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (QS. Ar-Rum: 30).
Konsep fitrah dalam tulisan ini digunakan sebagai landasan filosofis-keislaman yang memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan, potensi, akal, nilai, dan kemampuan untuk berkembang. Dengan demikian, pendidikan kesehatan tidak hanya berfungsi “mengisi” manusia dengan informasi, tetapi juga membantu individu mengenali, mengembangkan, dan mengarahkan potensi tersebut menuju perilaku yang lebih sehat.
Berdasarkan pemikiran tersebut, esai ini bertujuan menganalisis keterbatasan penerapan paradigma tabula rasa dalam pendidikan kesehatan serta menawarkan konsep fitrah sebagai perspektif alternatif yang dapat memperkuat pendekatan pemberdayaan dalam pelayanan keperawatan.
II. Pembahasan
Tabula Rasa dan Pendidikan Kesehatan
John Locke dalam An Essay Concerning Human Understanding menjelaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari ide bawaan, melainkan berkembang melalui pengalaman. Pandangan ini menjadi salah satu fondasi penting empirisme dalam filsafat Barat. Oleh karena itu, istilah tabula rasa lebih tepat digunakan untuk menggambarkan persoalan bagaimana pengetahuan atau ide terbentuk daripada menyatakan bahwa manusia dilahirkan tanpa seluruh bentuk kapasitas bawaan.
Dalam pendidikan kesehatan, persoalan muncul ketika paradigma tersebut diterapkan secara sederhana dan menjadikan pasien sebagai “lembar kosong” yang harus diisi oleh tenaga kesehatan. Perawat kemudian berperan sebagai pemberi informasi, sementara pasien diposisikan sebagai penerima yang diharapkan mengikuti seluruh instruksi.
Contohnya dapat ditemukan dalam pola pendidikan kesehatan yang hanya berupa ceramah: perawat menjelaskan bahaya merokok, pentingnya olahraga, pembatasan garam, atau kepatuhan minum obat, kemudian menganggap bahwa semakin banyak informasi yang diberikan akan semakin besar kemungkinan pasien mengubah perilakunya.
Padahal perubahan perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengetahuan, sikap, pengalaman, lingkungan sosial, keyakinan, kemampuan mengambil keputusan, serta motivasi individu. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan tidak dapat hanya bergantung pada proses transfer informasi.
Keterbatasan Pendekatan Tabula Rasa dalam Keperawatan
Terdapat beberapa keterbatasan ketika konsep tabula rasa diterapkan secara berlebihan dalam pendidikan kesehatan.
- Pertama, pendekatan tersebut berisiko mengabaikan kapasitas internal manusia. Pasien bukan individu yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan. Setiap pasien datang dengan latar belakang keluarga, budaya, pengalaman sakit, keyakinan, serta pemahaman mengenai kesehatan. Semua hal tersebut memengaruhi cara pasien menerima dan menerapkan informasi.
- Kedua, pendekatan tersebut dapat mengurangi otonomi pasien. Jika tenaga kesehatan selalu menjadi pusat keputusan, pasien berpotensi hanya mengikuti instruksi tanpa memahami alasan dan tanpa memiliki rasa kepemilikan terhadap keputusan kesehatannya sendiri. Padahal keberhasilan pengelolaan penyakit kronis sangat membutuhkan keterlibatan pasien dalam kehidupan sehari-hari.
- Ketiga, transfer informasi tidak selalu menghasilkan motivasi intrinsik. Pasien mungkin mengetahui bahwa olahraga penting, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu membuatnya berolahraga. Pasien mungkin memahami bahaya gula berlebih, tetapi tetap mengalami kesulitan mengubah pola makan. Artinya, terdapat jarak antara “mengetahui” dan “mampu serta mau melakukan”.
- Keempat, pendekatan instruktif dapat mengabaikan konteks sosial dan budaya. Perilaku kesehatan terbentuk dalam keluarga dan masyarakat. Pilihan makanan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, hingga cara seseorang memaknai penyakit sering kali berkaitan dengan lingkungan sosialnya. Oleh sebab itu, intervensi kesehatan perlu mempertimbangkan konteks kehidupan pasien.
Kritik tersebut tidak berarti bahwa pendidikan dan informasi kesehatan tidak penting. Informasi tetap merupakan komponen penting. Namun, informasi akan lebih bermakna apabila disertai dialog, pemberdayaan, dukungan lingkungan, dan kesempatan bagi pasien untuk mengambil keputusan.
Konsep Fitrah sebagai Perspektif Alternatif
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki fitrah. Allah SWT menyatakan dalam QS. Ar-Rum ayat 30 bahwa manusia diciptakan di atas fitrah Allah. Pemahaman tersebut diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.”
Hadis tersebut diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan menghubungkan konsep fitrah dengan kondisi dasar manusia.
Dalam esai ini, konsep fitrah tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa manusia sejak lahir sudah memiliki pengetahuan medis atau otomatis memiliki perilaku sehat. Fitrah lebih tepat dipahami sebagai potensi dasar manusia yang dapat diarahkan dan dikembangkan.
Dengan demikian, konsep fitrah dapat diterjemahkan ke dalam pendidikan kesehatan melalui tiga aspek:
- Manusia memiliki potensi untuk mengenali kebutuhan dirinya. Rasa lapar, haus, lelah, nyeri, dan berbagai respons tubuh merupakan sinyal yang membantu manusia mengenali kondisi dirinya. Pendidikan kesehatan membantu individu memahami sinyal tersebut secara benar dan mengambil tindakan yang tepat.
- Manusia memiliki kemampuan berpikir dan memilih. Akal memungkinkan seseorang mempertimbangkan berbagai pilihan dan konsekuensi. Dalam keperawatan, kemampuan tersebut perlu dihargai melalui komunikasi terapeutik, pengambilan keputusan bersama, dan pendidikan kesehatan yang disesuaikan dengan kemampuan pasien.
- Manusia memiliki dimensi nilai dan spiritualitas. Bagi pasien Muslim, nilai agama dapat menjadi sumber makna dan motivasi. Namun, pemanfaatannya harus dilakukan secara sensitif dan tidak memaksakan keyakinan. Perawat perlu menanyakan apakah pasien ingin memasukkan aspek spiritual dalam perawatan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pasien.
Dengan demikian, konsep fitrah dapat menjadi dasar filosofis bagi pendidikan kesehatan yang melihat pasien sebagai manusia yang memiliki potensi, bukan sebagai individu yang kosong.
Fitrah, Pendidikan, dan Pemberdayaan
Pemikiran Al-Ghazali mengenai pendidikan dan pembinaan akhlak dapat digunakan sebagai salah satu perspektif dalam memahami proses pengembangan manusia. Konsep takhliyah dan tahliyah menggambarkan proses meninggalkan sifat yang tidak baik dan mengembangkan sifat yang baik. Dalam konteks esai ini, pemikiran tersebut dapat diinterpretasikan sebagai proses pembinaan dan pengembangan diri, bukan sekadar memasukkan pengetahuan baru ke dalam diri seseorang.
Karena itu, hubungan antara fitrah dan pendidikan kesehatan dapat dirumuskan sebagai berikut: pendidikan bukan sekadar proses memasukkan informasi, tetapi proses membantu manusia mengenali nilai, potensi, kebutuhan, dan tanggung jawabnya sehingga mampu mengambil keputusan yang lebih baik.
Perspektif ini memiliki titik temu dengan Self-Determination Theory dari Deci dan Ryan. Teori tersebut menjelaskan bahwa motivasi dan perkembangan manusia berkaitan dengan tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu autonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Pemenuhan ketiga kebutuhan tersebut berkaitan dengan motivasi yang lebih optimal dan kesejahteraan psikologis.
Dalam keperawatan, prinsip tersebut berarti pasien perlu diberi kesempatan untuk terlibat dalam keputusan, dibantu agar merasa mampu melakukan perubahan, dan memperoleh dukungan dari tenaga kesehatan maupun lingkungan sosialnya.
Perspektif tersebut juga sejalan dengan Ottawa Charter for Health Promotion yang menempatkan pemberdayaan sebagai bagian penting promosi kesehatan. Promosi kesehatan tidak hanya memberikan informasi, tetapi membantu individu dan masyarakat meningkatkan kontrol terhadap faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan. Ottawa Charter juga menekankan penguatan aksi masyarakat, pengembangan keterampilan personal, serta reorientasi pelayanan kesehatan.
Dengan demikian, konsep fitrah dapat ditempatkan sebagai perspektif filosofis-keislaman yang melengkapi pendekatan ilmiah tentang motivasi, pemberdayaan, dan promosi kesehatan.
Implementasi Konsep Fitrah dalam Pelayanan Keperawatan
Konsep fitrah dapat diterapkan dalam berbagai tatanan keperawatan. Implementasinya bukan dengan menggantikan ilmu medis dengan pendekatan agama, melainkan dengan mengintegrasikan nilai, motivasi, otonomi, dan kebutuhan spiritual pasien ke dalam asuhan keperawatan.
- Keperawatan Komunitas Dalam keperawatan komunitas, pendidikan kesehatan sering menghadapi masalah rendahnya keberlanjutan perubahan perilaku. Misalnya, masyarakat telah mendapatkan edukasi mengenai hipertensi, aktivitas fisik, dan pola makan, tetapi penerapannya belum tentu berlangsung secara konsisten. Pendekatan berbasis fitrah dapat dimulai dengan menggali nilai dan pengalaman masyarakat. Perawat tidak langsung memberikan ceramah, tetapi bertanya: “Menurut Bapak dan Ibu, apa alasan terbesar ingin tetap sehat dan aktif?” Jawaban masyarakat dapat menjadi dasar penyusunan program. Bagi sebagian orang, motivasinya mungkin ingin tetap bekerja, menemani keluarga, dapat beribadah dengan nyaman, atau menghindari komplikasi penyakit. Program kemudian dapat dikembangkan melalui kegiatan seperti pemeriksaan tekanan darah, aktivitas fisik bersama, edukasi gizi berbasis makanan lokal, kelompok dukungan, serta pencatatan perkembangan kesehatan. Dalam konteks masyarakat Muslim, kegiatan spiritual dapat menjadi salah satu pilihan apabila masyarakat menghendakinya. Misalnya, kegiatan dapat ditutup dengan doa bersama. Namun, kegiatan spiritual tidak boleh menggantikan intervensi medis yang diperlukan. Pendekatan tersebut lebih sesuai dengan prinsip pemberdayaan karena masyarakat ikut menentukan tujuan dan bentuk kegiatan. Hal ini sejalan dengan Ottawa Charter yang menekankan pentingnya community empowerment, kepemilikan masyarakat, dan partisipasi dalam menentukan masalah kesehatan mereka.
- Keperawatan Medikal Bedah Pada pasien diabetes melitus, masalah kepatuhan diet dan pengobatan sering kali tidak cukup diselesaikan dengan memberikan daftar makanan dan jadwal obat. Pendekatan berbasis fitrah dapat dilakukan melalui komunikasi yang menghargai pengalaman pasien. Perawat dapat bertanya: “Apa yang paling sulit Ibu lakukan sejak mengetahui diabetes?” atau “Apa tujuan kesehatan yang paling ingin Ibu capai?” Jika pasien mengatakan ingin tetap sehat agar dapat beraktivitas bersama keluarga atau menjalankan ibadah dengan nyaman, tujuan tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari motivasi personal. Perawat kemudian membantu pasien menentukan perubahan yang realistis, misalnya mengurangi minuman manis secara bertahap, meningkatkan aktivitas fisik sesuai kondisi, mengikuti pengobatan, dan melakukan pemeriksaan yang dianjurkan. Pada pasien Muslim yang menginginkannya, nilai menjaga kesehatan sebagai amanah dapat digunakan sebagai penguat motivasi. Namun, nilai spiritual tersebut harus ditempatkan sebagai pendukung, bukan sebagai pengganti edukasi medis. Dengan demikian, pasien tidak hanya menerima perintah, tetapi memahami alasan perubahan dan ikut menentukan target yang dapat dicapai.
- Keperawatan Anak Pada keperawatan anak, konsep fitrah dapat diterapkan melalui penghargaan terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak. Anak memiliki kebutuhan untuk bergerak, bermain, berinteraksi, belajar, dan memperoleh nutrisi yang sesuai. Perawat dapat memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur, stimulasi tumbuh kembang, pembatasan waktu layar (screen time), serta pemantauan pertumbuhan. Pendekatan berbasis fitrah tidak berarti menyatakan bahwa makanan tertentu seperti madu atau kurma secara otomatis memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi anak. Sebaliknya, prinsip halalan thayyiban dapat menjadi nilai yang mendukung pemilihan makanan, sementara kebutuhan gizi tetap harus didasarkan pada ilmu gizi dan rekomendasi kesehatan. Dengan pendekatan tersebut, orang tua tidak hanya diberi daftar larangan, tetapi dibantu memahami kebutuhan anak dan membuat pilihan yang realistis sesuai kondisi keluarga.
- Keperawatan Jiwa Dalam keperawatan jiwa, aspek spiritual dapat menjadi salah satu sumber dukungan bagi pasien, terutama ketika pasien sendiri menganggap agama sebagai bagian penting dalam kehidupannya. Pada pasien dengan kecemasan, misalnya, perawat dapat membantu pasien menggunakan teknik relaksasi, latihan pernapasan, aktivitas terstruktur, serta strategi koping yang sesuai. Jika pasien menghendaki pendekatan spiritual, kegiatan seperti doa, zikir, atau refleksi keagamaan dapat digunakan sebagai bagian dari strategi koping. Ayat Al-Qur’an: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) dapat menjadi sumber penguatan bagi pasien Muslim yang menginginkannya. Namun, penting ditegaskan bahwa pendekatan spiritual tidak boleh digunakan untuk menyederhanakan gangguan jiwa menjadi persoalan kurang iman atau kurang ibadah. Pasien dengan depresi, kecemasan berat, atau gangguan jiwa tetap membutuhkan asesmen profesional dan intervensi sesuai standar keperawatan serta medis. Dengan demikian, spiritualitas berfungsi sebagai salah satu sumber kekuatan pasien, bukan sebagai pengganti terapi profesional.
Perubahan Peran Perawat: Dari Pengajar Menjadi Fasilitator
Berdasarkan pembahasan tersebut, konsep fitrah membawa perubahan cara pandang terhadap peran perawat. Dalam pendekatan instruktif, perawat cenderung berperan sebagai pemberi informasi, sedangkan pasien ditempatkan sebagai penerima. Sebaliknya, pendekatan berbasis fitrah memandang perawat sebagai fasilitator dan pasien sebagai mitra dalam proses perawatan.
Perubahan tersebut terlihat dari pergeseran fokus pendidikan kesehatan. Jika pendekatan instruktif lebih menekankan kepatuhan terhadap instruksi, pendekatan berbasis fitrah lebih menekankan keterlibatan dan kemandirian pasien. Komunikasi yang sebelumnya bersifat satu arah juga diarahkan menjadi dialog dua arah dengan menggali pengalaman, kebutuhan, nilai, alasan, dan tujuan pasien.
Dengan demikian, perawat tidak hanya memberikan solusi, tetapi membantu pasien menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi dirinya. Informasi kesehatan tetap diberikan sebagai dasar pengambilan keputusan, tetapi dipadukan dengan motivasi, nilai, lingkungan, dan kemampuan pasien. Perubahan perilaku juga tidak semata-mata dikontrol dari luar, melainkan dikembangkan melalui kesadaran dan kemampuan pasien untuk menjaga kesehatannya secara mandiri.
III. Penutup
Teori tabula rasa memberikan kontribusi penting dalam sejarah pemikiran tentang pengetahuan manusia, tetapi penerapannya secara sederhana sebagai paradigma pendidikan kesehatan memiliki keterbatasan. Manusia tidak dapat dipandang hanya sebagai penerima informasi yang dibentuk dari luar. Perubahan perilaku kesehatan juga dipengaruhi oleh motivasi, pengalaman, nilai, lingkungan sosial, otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.
Konsep fitrah dalam perspektif Islam menawarkan landasan filosofis yang memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi dasar dan kemampuan untuk berkembang. Fitrah tidak berarti bahwa manusia secara otomatis mengetahui cara hidup sehat, tetapi menunjukkan adanya kapasitas manusia untuk mengenali kebaikan, menggunakan akal, membangun nilai, serta mengembangkan perilaku melalui proses pendidikan dan pengalaman.
Konsep tersebut memiliki titik temu dengan pendekatan modern seperti Self-Determination Theory yang menekankan kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan, serta Ottawa Charter yang menekankan pemberdayaan individu dan masyarakat dalam meningkatkan kontrol terhadap kesehatan.
Dalam pelayanan keperawatan, pendekatan berbasis fitrah dapat diwujudkan melalui komunikasi dua arah, pengambilan keputusan bersama, penghargaan terhadap nilai pasien, pemberdayaan keluarga dan komunitas, serta integrasi spiritualitas apabila sesuai dengan kebutuhan pasien. Pendekatan ini tidak menggantikan ilmu medis dan keperawatan, tetapi memperkaya cara tenaga kesehatan memahami manusia secara holistik.
Oleh karena itu, pendidikan kesehatan keperawatan sebaiknya bergerak dari paradigma “mengisi pasien dengan pengetahuan” menuju “memberdayakan pasien untuk memahami, memilih, dan menjalankan perilaku sehat.” Dalam kerangka Islam, proses tersebut dapat dimaknai sebagai upaya membantu manusia mengenali dan mengembangkan potensi fitrahnya untuk menjaga kesehatan sebagai amanah. Dengan demikian, perawat tidak hanya menjadi pemberi informasi, tetapi juga menjadi fasilitator, pendamping, dan pemberdaya dalam perjalanan pasien menuju kesehatan yang lebih mandiri dan bermakna.
Daftar Pustaka
- Al-Bukhari, M. I. (1997). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
- Al-Ghazali, A. H. (2005). Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Fikr.
- Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1104_01
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Hasil Utama Riskesdas 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Profil Kesehatan Indonesia 2020. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Locke, J. (1690). An Essay Concerning Human Understanding. London: Thomas Basset.
- Notoatmodjo, S. (2018). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
- Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
- World Health Organization. (1986). Ottawa Charter for Health Promotion. Geneva: World Health Organization.

