KULIAHALISLAM.COM – Mungkin sejarah tentang Bani Hasyim keluarga Rasulullah SAW sudah tidak asing lagi bagi kita, karena waktu sekolah kita sudah pernah mendapatkan mata pelajaran PAI tentang sejarah Rasulullah SAW, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), atau mata pelajaran Tarikh.
Ternyata di dalam Muhammadiyah juga ada Bani Hasyim, bahkan menurut sejarah pernah menjadi tulang punggung dakwah Persyarikatan Muhammadiyah. Secara umum belum banyak yang mengetahui kalau dalam Muhammadiyah juga ada Bani Hasyim.
Sedangkan Bani Hasyim keluarga Rasulullah SAW juga mempunyai keistimewaan, bahkan menjadi pendukung dakwah Rasulullah SAW. Kisah ini sudah tidak asing lagi bagi kita, bagaimana perjuangan Bani Hasyim ketika mendukung Rasulullah SAW saat berdakwah.
Silsilah Bani Hasyim Muhammadiyah
Dalam foto di atas, putra dan putri dari Haji Hasyim bin Ismail tidak diketahui tahun pembuatannya. Duduk dari yang paling kanan ke kiri: Jazimah, Munjiyah, Bariyah, dan Walidah. Berdiri dari yang paling kanan ke kiri: Daniyalin alias Syudja, Jazuli alias Fakhrudin, Hidayat alias Ki Bagus Hadikusumo, dan Zaini.
Untuk kita ketahui bersama, disebut sebagai Bani Hasyim karena berasal dari keluarga Haji Lurah Hasyim bin Ismail. Kelak putra dan putri Haji Lurah Hasyim bin Ismail akan menjadi kader Muhammadiyah, hingga menjadi tulang punggung Muhammadiyah.
Kalau Pak Hajriyanto Y. Thohari menuliskan pohon pengaderan Muhammadiyah dari Bani Hasyim ke Bani Hisyam serta ke Bani Rais hingga keluarga Pak A.R. Fachruddin, itu adalah sebuah contoh pengaderan Muhammadiyah yang ideal.
Bahwa Muhammadiyah perlu melestarikan pengaderan secara kultur dan modern agar tidak khawatir Muhammadiyah akan kekurangan kader. Dengan pengaderan berbasis keluarga ini, hal tersebut akan membantu mengatasi kekurangan kader bagi Muhammadiyah di masa depan.
Meminjam istilah Pak Hajriyanto, Muhammadiyah juga mempunyai tulang punggung bernama Bani Hasyim. Dari mana silsilah Bani Hasyim sehingga menjadi tulang punggung Persyarikatan Muhammadiyah, bahkan nanti ada juga istilah 4 Serangkai Muhammadiyah Bani Hasyim?
Ditemukan sebuah buku tua yang ditulis dengan huruf Arab-Jawa (Pegon). Buku tersebut peninggalan dari Haji Hasyim bin Ismail, beliau adalah lurah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. (Kutipan Catatan dr. Haji Mu’tasimbillah al Ghozi, D.Sp.M. (K), yang berjudul “Muhammadiyah yang Kutahu”, Yogyakarta 2005).
Jabatan lurah tersebut didapat karena meneruskan jabatan dari Haji Bekel Ismail, yaitu ayahnya. Buku tersebut ditulis dalam bahasa Arab-Jawa, tetapi ditulis ulang ke dalam huruf latin oleh cucunya yang bernama Siti Laila binti Zain bin Hasyim bin Ismail.
Penget tatkolo anggen kulo angsal sih dalem dados abdi dalem Lurah punokawan haji ing kedaton amarengi dinten selasa wage tanggal kaping 26 wulan syawal tahun jimawal 1309. Lurah Haji Muhamad Hasyim. (Kutipan Catatan dr. Haji Mu’tasimbillah al Ghozi, D.Sp.M. (K), yang berjudul “Muhammadiyah yang Kutahu”, Yogyakarta 2005).
Artinya: Peringatan ketika saya mendapat anugerah sebagai Lurah Penghidmat Kerajaan di bidang Agama di istana pada hari Selasa Wage tanggal 26 Syawal tahun Jimawal 1309 Hijriah. Lurah Haji Muhammad Hasyim.
Karena rumah Lurah Hasyim di utara halaman yang berbatasan dengan rumah Kiai Dahlan, maka semua anak-anaknya berguru mengaji serta ikut dalam kegiatan Kiai Dahlan. Mereka menjadi santri dari Kiai Dahlan. Jadi, keluarga Lurah Haji Hasyim semua berguru kepada Kiai Ahmad Dahlan.
Dan menurut buku tua yang ditulis Haji Lurah Hasyim bin Ismail, jumlah anaknya yang masih hidup berjuang untuk Muhammadiyah dikenal dengan istilah yang terkenal, yaitu 4 Serangkai Muhammadiyah. Putri-putri Lurah Hasyim bin Ismail juga menjadi tulang punggung Persyarikatan Muhammadiyah sepeninggal Kiai Dahlan.
4 Serangkai Bani Hasyim
Dari sini ada data silsilah 4 Serangkai Bani Hasyim yang sudah masyhur. Sebetulnya putra dan putri Haji Hasyim itu ada delapan atau sebelas, dan kesemuanya menjadi kader tulang punggung Muhammadiyah setelah ditinggal oleh Kiai Ahmad Dahlan.
Kenapa saya sebut 4 Serangkai? Hal itu saya ambil istilahnya dari buku Museum dengan judul “Napak Tilas Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo”, bahwa keempat putra Haji Lurah Hasyim bin Ismail disebut 4 Serangkai.
Hal ini sebetulnya sudah banyak yang menjelaskan biografinya, dari 4 Serangkai Muhammadiyah dari Bani Hasyim tersebut ada Kiai Sudjak, Ki Bagus, Fakhrudin, dan Zaini.
- Tatkala dlahiripun Daniyalin ambarengi ing dinten Tsalasa Wage tanggal 23 bulan Dzulqo’dah tahun Dal. Sanat 1303. Peringatan ketika lahir anak saya lelaki Daniyalin, bersamaan dengan hari Selasa Wage tanggal 23 bulan Dzulqa’dah tahun Dal. Sanat 1303. Di hari tuanya bernama Sudjak.
- Tatkolo dlahiripun Jazuli ambarengi ing dinten Kamis Pon kaping 11 wulan Robi ul awal tahun Jim akhir. Sanat 1305. Peringatan ketika lahir Jazuli bersamaan dengan hari Kamis Pon tanggal 11 bulan Rabiul awal tahun Jim. Sanat 1305. Di hari tuanya bernama Fakhrudin.
- Tatkolo dlahiripun Hidayat ambarengi ing dinten Senin Paing kaping 11 wulan Robi ul akhir tahun Ehe Sanat 1308. Peringatan ketika lahir anak lelaki saya Hidayat bersamaan dengan hari Ahad Legi tanggal 11 Rabiul akhir tahun Ehe. Sanat 1308. Di hari tuanya bernama Hadikusumo.
- Tatkolo dlahiripun Muhamad Zain ambarengi in dinten Saptu Legi Kaping 5 wulan Safar tahun Ze. Sanat 1310. Peringatan ketika lahir anak lelaki Muh. Zain bersamaan dengan hari Sabtu Legi tanggal 5 bulan Safar tahun Ze. Sanat 1310. Di hari tuanya bernama Zain Sulfoni.
Putri-Putri Bani Hasyim
Selain 4 Serangkai Muhammadiyah dari keluarga Lurah Haji Hasyim, ada juga putri-putri Lurah Haji Hasyim yang menjadi kader pemimpin di Muhammadiyah-Aisyiyah.
Putri pertama, Jasimah berdasarkan buku tua Lurah Haji Hasyim. Tatkala dlahiripun Jasimah ambarengi ing dinten Ahad Legi tanggal 12 wulan Sya’ban tahun jim awal. Sanat 1301. Peringatan ketika lahir anak saya perempuan Jasimah, bersamaan hari Ahad Legi tanggal 12 Sya’ban tahun Jimawal. Sanat 1301 (Hijriyah). Jasimah adalah aktivis Aisyiyah pertama, organisasi perempuan Muhammadiyah yang lahir pada tahun 1917, walaupun beliau bukan ketua pertama Aisyiyah.
Putri kedua, Munjiyah. Tatkolo dhohiripun Munjiyah amarengi ing dinten Itsnin legi kaping 14 wulan Dzulhijjah tahun Jim awal 1317. Peringatan ketika lahir anak perempuan saya Munjiyah bersamaan dengan hari Isnin Legi tanggal 14 bulan Dzulhijjah tahun Jim awal 1317. Munjiyah adalah singa podium perempuan dalam Kongres Perempuan Pertama tahun 1928 mewakili organisasi perempuan Muhammadiyah-Aisyiyah. Beliau juga Ketua Aisyiyah ketiga.
Putri ketiga, Bariyah. Tatkolo dhohiripun Bariyah amarengi ing dinten Jum’ah legi, kaping 21 wulan Shafar tahun be Sanat 1325. Peringatan ketika lahir anak perempuan saya Bariyah bersamaan dengan hari Jumat Legi, tanggal 21 bulan Safar tahun Be. Sanat 1325. Bariyah adalah tokoh Aisyiyah karena menjadi Ketua Pertama Aisyiyah dan juga menjadi penggerak perempuan di Muhammadiyah.
Untuk putri keempat, Siti Walidah, tidak ada di kutipan buku tua peninggalan Haji Lurah Hasyim tersebut. Akan tetapi, Siti Walidah yang ini berbeda dengan Siti Walidah Nyai Ahmad Dahlan (istri Kiai Dahlan).
Dalam buku tua tersebut, Lurah Haji Hasyim menuliskan lebih dari 8 anaknya. Seperti kisah di atas yang tercatat, anak Lurah Haji Hasyim sebenarnya sekitar sebelas karena ada yang wafat, dan di catatan tua tersebut dijelaskan kapan wafatnya. Namun, ada salah satu yang belum diketahui bernama Muh. Basir.
Teks buku tua tersebut berbunyi: Tatkolo dhahiripun Muh. Basir ambaregi ing dinten Senin Legi kaping 7 wulan Robi ul awal tahun Be Sanat 1313. Ketika lahir anak lelaki Muh. Basir bersamaan dengan hari Isnin Legi tanggal 7 bulan Rabiul awal tahun Be. Sanat 1313. Eyang ini kemudian tidak jelas keadaan selanjutnya, menurut penjelasan dari cucunya yang bernama Siti Laila binti Zain bin Hasyim bin Ismail.
Keistimewaan Bani Hasyim Muhammadiyah
Mengutip cerita Pak Hajriyanto Y. Thohari, keluarga Haji Hasyim adalah keluarga yang ideal bagi pengaderan Muhammadiyah karena semua anak-anaknya berhasil menjadi kader pemimpin Muhammadiyah pada masa-masa awal Muhammadiyah (Republika.co.id, 2020).
Kedelapan putra-putri Haji Hasyim adalah sebagai berikut: pertama, Siti Djazimah; kedua, Muhammad Soedjak (kemudian belakangan menjadi Ketua PKO: Penolong Kesengsaraan Oemat); ketiga, Haji Fachrodin (Wakil Ketua Hoofdbestuur atau HB Muhammadiyah); keempat, Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Hoofdbestuur atau HB Muhammadiyah); kelima, Haji Zaini; keenam, Siti Moendjijah (Ketua Aisyiyah); ketujuh, Siti Bariyah (Ketua Aisyiyah pertama); dan kedelapan, Siti Walidah.
Selain sebagai contoh pengaderan ideal bagi Muhammadiyah, keluarga Haji Lurah Hasyim juga menjadi tulang punggung Muhammadiyah sepeninggal Kiai Dahlan. Sampai sekarang cucu dan cicitnya adalah aktivis-aktivis Muhammadiyah.
Dengan pengaderan yang ideal ini, Muhammadiyah akan terbantu agar tidak kekurangan kader. Kalau perlu, keluarga Muhammadiyah mencoba untuk membuat Pohon Pengaderan seperti yang dikisahkan oleh Pak Hajriyanto Y. Thohari di atas.
Keistimewaan Bani Hasyim Keluarga Rasulullah
Bani Hasyim keluarga Rasulullah perjuangannya hampir mirip dengan Bani Hasyim Muhammadiyah. Dimana ketika itu dikisahkan Rasulullah akan dibunuh, Bani Hasyim dan Bani Muthalib melindungi Rasulullah.
Bahkan Bani Hasyim sampai dikucilkan oleh orang Quraisy. Bani Hasyim juga dirugikan dengan kebijakan-kebijakan orang Quraisy karena Bani Hasyim melindungi Rasulullah SAW.
Kebijakan kejam itu berisi tentang larangan menikahi kedua suku Bani Hasyim dan Bani Muthalib, melakukan transaksi dengan mereka, membuka jalan nafkah untuk mereka, berdamai dengan mereka, dan membantu mereka, sampai pihak Bani Muthalib bersedia menyerahkan Rasulullah SAW untuk dibunuh.
Orang-orang yang beriman dan memilih untuk membela Rasulullah hingga merasakan penderitaan itu, sesungguhnya mereka telah berhasil meneladani kepribadian Rasulullah SAW. Ketabahan mereka untuk membantu satu sama lain adalah karena Allah. Tidak peduli mereka menderita di dunia, asalkan tetap berada di jalan yang benar dan mendapat rida Allah SWT. (lihat Al-Buthi, Fiqh al-Sirah, hal. 87), (nu.or.id, 2021).
Sedangkan Bani Hasyim Muhammadiyah juga berjuang bersama Kiai Dahlan kala masa awal-awal saat ingin mendirikan Muhammadiyah, sampai disangka Kiai Kafir dan gerakan Kristen halus. Bahkan tempat mengaji mereka dirobohkan, yaitu Langgar Kidul Kiai Ahmad Dahlan di Kauman. Santri-santri awal Kiai Dahlan pun mayoritas berasal dari keluarga Bani Hasyim.
Sumber Referensi:
- Suara Muhammadiyah, 2020.
- Republika.co.id, 2020.
- Napak Tilas Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo.
- Kutipan Catatan dr. Haji Mu’tasimbillah al Ghozi, D.Sp.M. (K), yang berjudul “Muhammadiyah yang Kutahu”, Yogyakarta 2005.
- Nu.or.id, 2021.
- Sumber gambar: Kutipan Catatan dr. Haji Mu’tasimbillah al Ghozi, D.Sp.M. (K), yang berjudul “Muhammadiyah yang Kutahu”, Yogyakarta 2005.

