KisahSejarah

Kisah Cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha: Pelajaran & Hikmahnya

3 Mins read

Cinta sangat identik dengan perasaan, kasih sayang, dan ketertarikan. Setiap orang pastinya pernah merasakan cinta, mulai dari usia remaja hingga dewasa. Begitu juga dengan Zulaikha, sosok yang mencintai Nabi Yusuf sejak awal mereka dipertemukan. Kisah cinta para nabi memang memberikan kesan tersendiri yang bisa diteladani. Salah satu kisah yang paling terkenal dan fenomenal ialah kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha.

​Nabi Yusuf dikenal sebagai sosok laki-laki yang memiliki wajah amat rupawan. Parasnya begitu memesona sehingga banyak perempuan di sekitarnya yang terpikat. Pertemuan Nabi Yusuf dengan Zulaikha diawali ketika rombongan musafir menemukan Nabi Yusuf di dalam sumur setelah dibuang oleh para saudaranya. Musafir tersebut kemudian menjualnya dengan harga murah, yaitu hanya beberapa dirham saja.

​Beberapa waktu kemudian, Nabi Yusuf dibeli oleh seorang pembesar Mesir yang dikenal dengan nama Qithfir. Dalam sebagian kitab tafsir, disebutkan bahwa Qithfir adalah suami Zulaikha. Singkat cerita, Nabi Yusuf dibawa ke rumah dan diberikan pelayanan terbaik oleh pembesar Mesir tersebut. Ia tumbuh dewasa dan ketampanannya semakin hari kian bertambah, membuat orang-orang di sekitarnya terkesima.

​Tak terkecuali Zulaikha. Didorong oleh rasa kagum yang mendalam, Zulaikha pun mencoba menggoda Nabi Yusuf. Akan tetapi, Nabi Yusuf dapat menahan godaan tersebut atas petunjuk dan kehendak Allah SWT.

Pandangan Ahli: Terkait peristiwa ini, Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa godaan yang dihadapi Nabi Yusuf adalah ujian kemanusiaan yang sangat berat. Namun, Allah SWT menyelamatkannya melalui burhan (tanda/petunjuk) yang disaksikan oleh Nabi Yusuf. Ini menunjukkan bahwa kesucian diri hanya dapat terjaga ketika seseorang memiliki kedekatan spiritual yang kokoh dengan Sang Pencipta.

Baca...  Dato Karama: Ulama Pertama Yang Menyebarkan Islam di Sulawesi Tengah

​Akibat rumor yang beredar bahwa Nabi Yusuf yang telah menggoda Zulaikha, sang pembesar Mesir akhirnya menjebloskan Nabi Yusuf ke dalam penjara. Namun, kebenaran tetaplah keluar sebagai pemenang. Bagi Nabi Yusuf, penjara justru lebih disukai daripada harus terjerumus ke dalam kemaksiatan. Di balik jeruji besi itulah ia menghabiskan waktu yang cukup lama.

​Setelah sekian lama, tibalah waktunya Nabi Yusuf dibebaskan atas mukjizat kemampuannya menakwilkan mimpi raja. Kariernya melesat hingga ia menjabat sebagai pejabat tinggi negara, bahkan menjadi penguasa menggantikan raja sebelumnya.

​Waktu berlalu, Nabi Yusuf dan Zulaikha pun dipertemukan kembali. Keadaan Zulaikha saat itu telah berubah drastis dan membuatnya malu untuk bertemu Nabi Yusuf. Zulaikha tak lagi kaya dan cantik seperti dahulu; ia telah beranjak tua, miskin, dan matanya pun buta akibat terus menangis. Di momen itulah Zulaikha berkata: “Mahasuci Allah yang telah mengubah seorang raja menjadi budak karena dosa yang pernah dibuatnya, dan mengubah budak menjadi raja karena ketaatannya.”

​Pertemuan itu membuat keduanya saling bercerita. Hingga pada puncaknya, Nabi Yusuf bertanya kepada Zulaikha, “Apakah masih ada yang tersisa dari rasa sukamu pada diriku?” Zulaikha menjawab, “Demi Allah SWT, memandang wajahmu sekali saja, lebih aku sukai daripada dunia dengan segala kenikmatannya.” Nabi Yusuf pun menangis mendengar ungkapan tulus Zulaikha.

​Pada akhirnya, Nabi Yusuf dan Zulaikha dipersatukan dalam pernikahan yang sah. Nabi Yusuf memohon kepada Allah SWT untuk mengembalikan semua yang pernah dimiliki oleh Zulaikha: kemuliaannya, kecantikannya, kekayaannya, hingga penglihatannya. Allah SWT mengabulkan permohonan tersebut, bahkan mengembalikan kemudaan Zulaikha. Demikianlah Allah memuliakan hamba-Nya yang mampu menjaga diri dari apa yang diharamkan, yakni zina.

Baca...  Peran Kesultanan Banten: Penyebaran Islam dan Perdagangan di Nusantara

Pandangan Ahli: Fenomena transformasi cinta Zulaikha ini dibahas secara mendalam oleh ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Jawab al-Kafi. Beliau mengungkapkan sebuah kaidah penting: “Ketika Zulaikha mencintai Yusuf dengan cinta yang bersifat duniawi (nafsu), ia justru tersiksa dan kehilangan segalanya. Namun, ketika ia bertobat dan mengalihkan cintanya hanya kepada Allah, Allah justru mengembalikan Yusuf kepadanya dalam ikatan yang berkah.” Ini membuktikan bahwa cinta yang hakiki harus berlabuh pada Ilahi terlebih dahulu sebelum menuju pada makhluk.

​Kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha memberikan pelajaran penting bagi kita semua bahwasanya jodoh tidak akan tertukar. Jika Allah SWT telah menakdirkan sepasang insan untuk berjodoh, Dia akan senantiasa memberikan jalan terbaik, sebagaimana Nabi Yusuf dan Zulaikha yang dipertemukan kembali dalam sebuah ikatan yang halal.

​Perempuan memang sering kali mengedepankan perasaannya. Namun, jika cinta Allah telah membara di dalam hati, cinta kepada makhluk tidak akan ada bandingannya. Zulaikha membuktikannya; Allah mendatangkan kembali Nabi Yusuf ke dalam hidupnya setelah ia bertobat dan hanya mengharapkan rida dari Sang Pencipta.

​Begitu juga dengan generasi muda masa kini. Ingatlah bahwa mendekati zina adalah hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Jikalau kita memiliki rasa cinta kepada seseorang namun belum waktunya untuk diungkapkan, alangkah baiknya kita menjaga rasa tersebut sebagai anugerah Tuhan. Jangan merusaknya dengan perbuatan keji yang melanggar syariat. Tempatkanlah cinta pada tempat yang tepat, dan jagalah kehormatan dirimu. Sebab, cinta yang tidak melibatkan Allah di dalamnya hanyalah akan membawa kenikmatan sesaat yang berujung pada penyesalan.

4 posts

About author
Mahasiswa UIN Sunan Ampel
Articles
Related posts
EsaiKeislamanSejarah

Menjemput Berkah di Gerbang Jam’iyah: Menghidupkan Kembali Askese Spiritual Wasiat Kiai As’ad

12 Mins read
Dalam konstelasi sejarah peradaban Islam Nusantara, khususnya dalam bentang garis linimasa Nahdlatul Ulama (NU), nama al-Maghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin bukan sekadar…
EsaiKeislamanKisahSejarah

Menapaki Jejak Agung Sayyidul Ayyam: Transformasi Sejarah, Teologi, dan Eksistensi Hari Jum’at

6 Mins read
Bagi seorang Muslim, waktu bukanlah sekadar perputaran jarum jam yang dingin atau pergantian siang dan malam yang mekanis. Waktu adalah hamparan sakral…
EsaiKeislamanKisahSejarah

Lisan Kesucian: Menyelami Hikmah Pembelaan Ilahi Melalui Bayi Berbicara

6 Mins read
Dalam mengarungi samudra kehidupan, manusia sering kali dihadapkan pada situasi di mana kebenaran diputarbalikkan, fitnah merajalela, dan logika manusia buntu untuk menemukan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *