Lahir hampir dua ribu tahun yang lalu, Epictetus adalah salah satu filsuf yang pemikirannya tetap terasa hidup hingga hari ini. Ia tidak meninggalkan buku yang ditulis dengan tangannya sendiri, tidak membangun akademi besar, dan tidak menjalani kehidupan yang dari luar tampak layak disebut sukses. Sebagian besar hidupnya justru dihabiskan dalam keadaan yang, bagi kebanyakan manusia, menjadi simbol paling nyata dari ketidakbebasan: ia adalah seorang budak di Kekaisaran Romawi.
Namun, justru dari kehidupan yang penuh keterbatasan itulah lahir sebuah pemikiran tentang kebebasan yang begitu kuat. Epictetus seakan menunjukkan kepada kita sebuah paradoks: seseorang dapat dirampas harta bendanya, status sosialnya, bahkan kebebasan tubuhnya, tetapi masih memiliki satu wilayah yang tidak mudah ditaklukkan oleh dunia—cara ia memilih untuk memandang dan merespons segala sesuatu yang terjadi kepadanya.
Di situlah letak kehebatan Epictetus. Ia bukan sekadar orang yang berbicara tentang Stoisisme; ia menjalani filsafat itu sebagai cara hidup. Baginya, filsafat bukan hiasan intelektual yang dipakai untuk terlihat bijaksana dalam percakapan. Filsafat adalah latihan sehari-hari untuk belajar hidup dengan jernih di tengah dunia yang tidak pernah sepenuhnya berjalan sesuai keinginan kita. Ia memahami sesuatu yang sering kita lupakan: hidup tidak pernah memberikan kepada manusia kendali penuh atas keadaan.
Kita tidak dapat memilih bagaimana orang lain memperlakukan kita, apakah seseorang akan mencintai kita, apakah pekerjaan kita akan berhasil, apakah tubuh kita akan selalu sehat, apakah rencana kita akan berjalan sempurna, atau berapa lama sesuatu yang kita cintai akan tinggal bersama kita. Namun, menurut Epictetus, kehilangan kendali atas dunia bukan alasan untuk kehilangan kendali atas diri sendiri.
Gagasan ini terdengar sederhana, tetapi jika direnungkan dengan sungguh-sungguh, ia dapat mengubah cara kita menjalani kehidupan. Kita sering menghabiskan energi untuk melawan sesuatu yang sejak awal bukan milik kita untuk dikendalikan. Kita marah karena seseorang tidak menghargai kita. Kita gelisah karena masa depan belum jelas. Kita kecewa karena kehidupan tidak mengikuti rencana yang telah kita susun. Kita merasa hancur ketika sesuatu yang kita cintai pergi, seolah-olah dunia telah berjanji kepada kita bahwa semua yang kita miliki akan bertahan selamanya. Padahal, dunia tidak pernah membuat janji semacam itu.
Epictetus mengajak kita menarik garis yang tegas antara apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak. Penilaian kita, pilihan kita, keinginan kita, tindakan kita—itulah wilayah yang dapat kita latih. Sementara pendapat orang lain, keadaan ekonomi, reputasi, masa lalu, hasil akhir sebuah usaha, bahkan sebagian besar peristiwa yang terjadi kepada kita berada di luar kendali penuh kita.
Kebijaksanaan, dalam pandangan ini, bukan kemampuan untuk mengendalikan segala sesuatu. Kebijaksanaan justru muncul ketika kita tahu apa yang harus kita kendalikan dan apa yang harus kita lepaskan. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa pemikiran Epictetus terasa begitu relevan di zaman modern. Kita hidup dalam dunia yang menawarkan ilusi kontrol hampir setiap saat.
Dengan teknologi, kita dapat mengatur jadwal, memesan makanan, berkomunikasi dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya, memantau berita, mengatur keuangan, bahkan membentuk citra diri kita di hadapan orang lain. Tetapi, semakin banyak hal yang dapat kita kendalikan, semakin mudah pula kita merasa bahwa segala sesuatu seharusnya berjalan sesuai kehendak kita.
Ketika kenyataan menolak, kita merasa tersinggung. Kita menganggap ketidakpastian sebagai kesalahan, kegagalan sebagai penghinaan, dan kehilangan sebagai ketidakadilan. Epictetus menawarkan sikap yang berbeda. Ia tidak meminta kita menjadi manusia yang pasif, apatis, atau tidak memiliki ambisi. Stoisisme bukan ajaran untuk berhenti berusaha. Justru sebaliknya, kita diminta melakukan apa yang memang menjadi tanggung jawab kita, tetapi kemudian menerima dengan lapang hasil yang tidak sepenuhnya berada di tangan kita.
Seorang petani dapat mengolah tanah, memilih benih, merawat tanaman, dan bekerja sebaik mungkin. Tetapi, ia tidak dapat memerintah hujan turun tepat pada waktunya. Seorang pelajar dapat belajar dengan tekun, tetapi tidak dapat menentukan seluruh soal yang akan muncul dalam ujian. Seseorang dapat mencintai pasangannya dengan tulus, tetapi tidak dapat memaksa hati orang lain untuk mencintainya selamanya.
Kita dapat bekerja keras membangun sesuatu, tetapi tidak pernah dapat menjamin bahwa dunia akan memberikan hasil yang sesuai dengan usaha kita. Maka tugas kita bukan memastikan hasil, melainkan memberikan yang terbaik pada bagian yang memang menjadi milik kita. Di sini, Epictetus membawa kita kepada bentuk kebebasan yang lebih dalam. Kebebasan bukan sekadar kemampuan untuk melakukan apa pun yang kita inginkan.
Jika kebebasan berarti demikian, maka manusia akan selalu menjadi budak keinginannya sendiri. Orang yang tidak mampu mengendalikan kemarahan menjadi budak kemarahannya. Orang yang hidup demi pengakuan menjadi budak pendapat orang lain. Orang yang selalu membutuhkan kekayaan lebih banyak menjadi budak keinginannya untuk memiliki. Orang yang tidak tahan kehilangan menjadi tawanan dari segala sesuatu yang ia cintai.
Karena itu, manusia yang benar-benar merdeka bukanlah manusia yang memiliki segala sesuatu, melainkan manusia yang tidak kehilangan dirinya ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Bayangkan seseorang menghina kita. Secara spontan kita mungkin merasa bahwa harga diri kita telah diserang. Tetapi, Epictetus akan mengajak kita berhenti sejenak. Apa yang sebenarnya terjadi? Seseorang mengucapkan sesuatu. Kata-kata itu berada di luar kendali kita.
Namun, penilaian yang kita berikan terhadap kata-kata itu masih berada dalam wilayah pilihan kita. Kita tidak harus langsung menyerahkan ketenangan batin kepada orang lain hanya karena mereka memilih untuk berbicara dengan buruk. Hal yang sama berlaku ketika kita mengalami kegagalan. Kegagalan memang dapat menyakitkan. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Tetapi, ada perbedaan antara merasakan sakit dan membiarkan rasa sakit menentukan seluruh hidup kita. Epictetus tidak menawarkan kehidupan tanpa penderitaan. Ia menawarkan kemampuan untuk menghadapi penderitaan tanpa kehilangan arah. Mungkin justru di situlah Stoisisme terasa manusiawi. Ia tidak mengatakan bahwa kita harus menjadi batu yang tidak memiliki emosi. Kita tetap boleh sedih, takut, kecewa, marah, dan berduka.
Yang dilatih adalah hubungan kita dengan emosi tersebut. Kita belajar mengamati sebelum bereaksi. Kita belajar bertanya sebelum menyimpulkan. Kita belajar membedakan antara peristiwa dan cerita yang kita bangun tentang peristiwa itu. Sebab sering kali bukan peristiwa itu sendiri yang paling menghancurkan kita, melainkan makna yang kita berikan kepadanya.
Kehilangan pekerjaan adalah sebuah peristiwa; “Hidup saya sudah berakhir” adalah penilaian. Ditolak seseorang adalah peristiwa; “Saya tidak akan pernah dicintai” adalah kesimpulan. Mengalami kegagalan adalah peristiwa; “Saya adalah orang gagal” adalah identitas yang kita tempelkan kepada diri sendiri. Epictetus mengajarkan agar kita berhati-hati terhadap penilaian semacam itu. Dunia memang dapat memberikan luka, tetapi pikiran manusia sering kali menambahkan lapisan penderitaan yang sebenarnya tidak harus ada.
Itulah sebabnya ajaran Epictetus bukan hanya cocok untuk masa perang, kemiskinan, atau penderitaan besar. Ia juga berguna dalam hal-hal yang tampaknya sangat kecil: kemacetan yang membuat kita terlambat, komentar seseorang di media sosial, pesan yang tidak dibalas, rencana yang berubah mendadak, rekan kerja yang menyebalkan, atau hari yang tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Justru dalam peristiwa-peristiwa kecil itulah latihan filsafat berlangsung. Kita tidak perlu menunggu tragedi besar untuk belajar menjadi manusia yang lebih tenang. Setiap gangguan kecil dapat menjadi latihan.
Setiap kekecewaan dapat menjadi kesempatan untuk bertanya: apa yang berada dalam kendaliku sekarang? Apa tindakan yang paling masuk akal? Apakah aku sedang menghadapi kenyataan, atau sedang berdebat dengan kenyataan karena kenyataan tidak sesuai keinginanku? Pertanyaan terakhir mungkin merupakan salah satu pertanyaan paling penting dalam hidup. Kita sering mengira bahwa kedamaian akan datang ketika dunia akhirnya sesuai dengan keinginan kita.
Epictetus membalik logika tersebut. Kedamaian justru mulai tumbuh ketika keinginan kita belajar berdamai dengan kenyataan. Ini bukan berarti menyerah terhadap keadaan. Jika sesuatu dapat diperbaiki, perbaikilah. Jika ketidakadilan harus dilawan, lawanlah dengan keberanian. Jika ada tujuan yang layak dikejar, kejarlah dengan sungguh-sungguh. Tetapi setelah semua yang dapat kita lakukan telah dilakukan, kita harus memiliki keberanian untuk menerima bagian yang bukan milik kita.
Ada kekuatan yang sangat besar dalam kalimat sederhana: aku telah melakukan bagianku. Setelah itu, hasil bukan lagi sepenuhnya milikku. Mungkin inilah warisan Epictetus yang paling berharga. Ia mengajarkan bahwa kehidupan yang baik tidak harus menunggu kehidupan yang sempurna. Kita tidak perlu menunggu kaya untuk bersyukur, menunggu dipuji untuk merasa bernilai, menunggu semua masalah selesai untuk merasa damai, atau menunggu masa depan menjadi jelas untuk mulai hidup dengan sungguh-sungguh.
Kita hanya memiliki saat ini, pilihan yang ada di hadapan kita, dan karakter yang sedang kita bangun melalui pilihan-pilihan tersebut. Epictetus pernah hidup dalam kondisi yang jauh lebih keras daripada kebanyakan manusia modern. Namun, pengalaman itu tidak membuatnya menyimpulkan bahwa manusia tidak berdaya. Sebaliknya, ia menemukan ruang kebebasan justru di tempat yang tampaknya paling sempit.
Dari seorang budak, ia berbicara tentang kebebasan. Dari seseorang yang memiliki sedikit, ia berbicara tentang kekayaan batin. Dari kehidupan yang tidak mudah, ia menunjukkan bahwa manusia masih dapat memilih bagaimana menjalani hidupnya. Dan mungkin itulah mengapa suaranya masih terdengar setelah hampir dua ribu tahun.
Kita mungkin tidak dapat menentukan apa yang akan datang besok. Kita tidak dapat menjamin siapa yang akan tinggal, siapa yang akan pergi, apa yang akan berhasil, dan apa yang akan gagal. Kita tidak dapat mengatur seluruh dunia agar sesuai dengan keinginan kita. Tetapi kita masih dapat memilih apakah hari ini kita akan hidup dengan kebencian atau kejernihan, dengan ketakutan atau keberanian, dengan keluhan atau tanggung jawab.
Kehidupan yang merdeka bukanlah kehidupan tanpa batasan. Kehidupan yang merdeka adalah kehidupan di mana, di tengah berbagai batasan yang tidak dapat kita pilih, kita masih mampu memilih siapa diri kita. Dan mungkin, setelah semua yang kita kejar akhirnya berlalu, itulah satu-satunya bentuk kebebasan yang benar-benar pernah menjadi milik kita.

