Keislaman

Perkembangan Syair Dalam Islam

4 Mins read

Kuliahalislam.Syair (Syi’ir) menurut kesusastraan Arab adalah ucapan atas susunan kata yang pasif yang terikat pada rima ( Pengulangan bunyi) dan matra (unsur rima yang berpola tetap) dan biasanya mengungkapkan imajinasi yang indah serta berkesan dan memikat. Dalam bahasa Melayu/ Indonesia, satu kuplet syair biasanya terdiri atas 4 baris, yang berakhir dengan sama ; a,a,a,a.

Syair Di Arab

Syair dari negeri Arab diduga sudah ada jauh sebelum lahirnya agama Islam. Syair tertua yang diduga berasal dari zaman Jahiliyah diperkirakan berasal sekitar dua abad sebelum Hijriyah, disebut syair jahiliyah (asy-syi’ir al Jahili). Syair di masa jahiliyah menempati posisi penting di kalangan orang Arab, di samping pengungkapan imajinasi dan perasaan, syair juga memberikan pemberitaan hal-hal yang dibanggakan, pelukisan peperangan dan sebagainya, sehingga syair dinamai juga Diwan al-‘Arab ( Catatan sejarah Arab).

Pada masa itu biasanya syair dibacakan di tengah orang banyak di tempat-tempat tertentu, seperti suq (pasar). Syair yang terkenal biasanya digantungkan di Ka’bah yang dikenal dengan mu’allaqat assab ( tujuh macam syair terkenal yang digantung di pintu Ka’bah).

Penggunaan dan pembacaan syair atau penyair juga mendapat penghormatan dari masyarakat lebih dari seseorang Khatib atau ahli pidato (orator). Apabila seseorang menjadi penyair terkenal berhasil memenangkan perlombaan, maka orang sekabilahnya menyelenggarakan pesta, sebagai ucapan selamat atas keberhasilannya.

Sekelompok wanita memainkan alat musik yang disebut Mizhar ( alat kecapi). Mereka bergembira karena penyair telah mengangkat nama baik kabilah. Menurut al-Jahiz Abu Usman bin Bahar (wafat 225 H/869 M), ahli balagah, penghargaan kepada para penyair mulai menurun ketika mereka memanfaatkan kepandaian bersyair untuk mencari nafkah dan mencari muka kepada penguasa, sehingga orator lebih dihargai masyarakat daripada mereka.

Tujuan Syair

Berdasarkan isinya, syair jahiliyah bertujuan antara lain, sebagai berikut: pertama, al-Wasf ( pemberian atau lukisan). Sesuai dengan lingkungan alam pada masa jahiliyah, maka pemerian dalam syair berkisar pada alam lingkungan yang disaksikannya seperti padang pasir, lembah-lembah, hujan, sungai dan angin; pemerian perburuan dan kendaraan yang ditunggangi penyair seperti unta dan kuda; dan pemerian bekas tempat tinggal kekasih tercinta.Imri al-Qais adalah penyair jahiliyah yang terkenal sebagai pengubah syair al-wasf.

Kedua, al-Hamasah ( semangat). Ditujukan untuk membangkitkan semangat dengan penggambaran peperangan dan kebanggaan pada diri dan nenek moyang. Ketiga, al-Gazl yaitu ungkapan cinta kepada wanita. Penyair mengungkapkan keindahan lekat lekuk tubuh dan wajah wanita yang dicintainya secara sopan dan jelas. Keempat, al-Madh (pujian). Menggambarkan kebaikan-kebaikan dan kemuliaan orang yang dipujinya baik sebagai tanda terima kasih karena mendapatkan karunia dari orang yang dipuji, maupun karena maksud mendapatkan lebih banyak kebaikan dari orang yang dipuji.

Kelima, al-Hija’ (ejekan). Syair ini bertujuan membesar-besarkan keburukan dan kejelekan serta seseorang yang mengingkari kebaikan dan kemuliaan seseorang atau menyerang musuhnya dengan bait ( rangkaian sejumlah baris) syair. Keenam, ar-Rasa’ (ratapan). Syair ini bertujuan memuji-muji dan meratapi orang mati serta menyatakan duka dan kesedihan yang amat mendalamkan ditinggal oleh si mati.

Syair Setelah Datangnya Islam

Setelah datangnya Islam, yakni masa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, syair tidak lagi menempati tempat yang utama seperti masa pra-Islam, karena umat Islam pada masa awal itu sibuk dengan A-Qur’an dan hadis. Al-Qur’an menyebutkan bahwa penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat, senang mengembara di tiap-tiap lembah dan suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya (Q.S 26: 224-226). Tetapi hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang beriman seperti bunyi ayat Al-Qur’an yang artinya : “Kecuali orang-orang ( penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapatkan kemenangan sesudah menderita kezaliman”, (Q.S 26 : 227).

Orang-orang kafir Arab menuduh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai seorang penyair gila yang mengarang ayat-ayat Al-Qur’an. Tuduhan mereka itu disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 5 yang artinya : ” Bahkan mereka berkata pula : (Al-Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut bahkan diaada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya dia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus,”, kemudian dalam al-Qur’an surat as-Saffat ayat 36 yang artinya : “Dan mereka berkata, apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”, dan surah at-Tur ayat 30 yang artinya : “Bahkan mereka mengatakan : Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”.

Namun, Al-Qur’an membantah semua tuduhan atas diri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut. Bantahan itu terlihat dalam surah Yasin ayat 69 yang artinya : “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya ( Muhammad) dan bersyair itu tidak layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberikan penerangan”. Hal ini terbantah juga dalam surah al-Haqqah ayat 41 yang artinya : “Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya”.

Sekalipun demikian, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak melarang sama sekali kegiatan bersyair asalkan ungkapan-ungkapan puisi dakwah yang mengajak kepada perbuatan mulia. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri mempunyai seorang penyair yaitu Hasan bin Tsabit, yang disuruh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menjawab syair-syair penghinaan dari pihak kaum Quraisy dalam peperangan. Di masa al Khulafaur Rasyidin, syair juga kurang mendapat perhatian sebagaimana pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Syair mulai berkembang kembali pada masa Dinasti Bani Umayyah dan Dinasti Abbasiyah sampai masa kebangkitan Arab.

Syair Dalam Sastra Melayu

Dalam sastra Melayu bentuk syair pertama kali diperkenalkan oleh Hamzah Fansuri, tokoh tasawuf dari Aceh yang hidup pada masa akhir abad ke-16 hingga abad ke-17. Syair-syairnya berisi ajaran tasawuf, riwayat kehidupannya dan cerita penggembaraannya di banyak tempat. Syair sebagai salah satu bentuk puisi lama dalam kesusastraan Melayu terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan rima akhir yang sama dan tanpa memakai sampiran ( baris pertama dan kedua). Setiap baris umumnya terdiri dari empat kata. Setiap bait merupakan bagian dari sebuah puisi panjang yang bercerita mengenai sesuatu hal.

Dalam kesusastraan Melayu, terdapat syair keagamaan, suatu bentuk syair yang berisi ajaran-ajaran agama pengetahuan tentang Allah dan riwayat para nabi. Syair yang berisi masalah fiqih antara lain syair rukun haji, syair hukum ibadah dan syair hukum nikah. Syair yang berisi riwayat para nabi diantaranya ; syair nabi Allah Ayub dan syair nabi Allah Yusuf. Hari kiamat dan siksa neraka terdapat pula pada syair kiamat dan syair neraka dan syair azab dalam neraka. Pengetahuan tentang Allah terdapat antara lain pada syair marifat Allah.

Syair- syair keagamaan yang terpenting adalah syair-syair tasawuf Hamzah Fansuri. Syairnya bersifat mistis, melambangkan hubungan Tuhan dengan manusia dan berisi ajaran tentang mengenal Tuhan dan Zat Tuhan serta mengesahkan Tuhan. Diantara Syair tasawufnya adalah syair perahu dan syair burung pingai.

Ditinjau dari segi isi, selain syair keagamaan juga terdapat berbagai jenis syair lainnya seperti syair panji ( berisi cerita mitos yang dipengaruhi kesusastraan Jawa, umumnya bercerita tentang kepahlawanan), syair romantis, syair kiasan dan syair sejarah atau syair perang. Selain itu juga terdapat syair saduran yang umumnya merupakan gubahan dari cerita Jawa atau wayang.

233 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
Keislaman

Rujuk Nikah Dalam Fiqih Islam

3 Mins read
Kuliahalislam.Rujuk (ruju’) adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang suami setelah menjatuhkan talak terhadap istrinya baik melalui ucapan yang jelas…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya: Khutbah Al-Muhasibi tentang Bahaya Harta

2 Mins read
Kita tahu Imam Haris Al-Muhasibi adalah salah satu dari sekian tokoh sufi yang cukup terkenal. Banyak yang belum mengetahui bahwa julukan “Al-Muhasibi”…
Keislaman

Dakwah Digital di Era Media Sosial: Tantangan & Solusi Bijak

5 Mins read
PENDAHULUAN ​Media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia di era teknologi modern. Melalui platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *