Dalam Islam, ternyata manusia mempunyai perjanjian dengan Allah SWT. Perjanjian itu dilakukan ketika manusia masih berbentuk roh. Sebelum manusia lahir ke dunia, ia mempunyai waktu kebersamaan dengan Tuhan.
Sesuai dengan pendapat Imam Junaid al-Baghdadi, seorang sufi yang lahir di Baghdad pada tahun 215 H, sebelum manusia terbentuk menjadi jasad, ia mengalami kebersamaan dengan Tuhan. Dalam kebersamaan itulah manusia melakukan perjanjian dengan Tuhan. Lalu, apa isi dari perjanjian antara Allah dan manusia tersebut?
Perjanjian tersebut merupakan kesaksian manusia akan Tuhannya, yaitu Allah SWT, sebagaimana tertera dalam QS. Al-A’raf ayat 172:
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’” (QS. Al-A’raf: 172)
Imam Junaid al-Baghdadi meriwayatkan tafsiran dari ayat di atas yang berbunyi:
”Tidak tahukah kau bahwa Allah berfirman ketika mengambil anak Adam—dia mengutip ayat tersebut sampai kalimat ‘Kami menyaksikan’? Dalam ayat ini, Allah menerangkan kepadamu bahwa Dia berbicara kepada mereka sewaktu mereka belum berwujud dan berada dalam diri-Nya. Keberadaan ini tidaklah sama dengan keberadaan yang biasanya diatributkan kepada makhluk-makhluk Tuhan; ini merupakan jenis keberadaan yang hanya diketahui oleh Allah. Allah mengetahui keberadaan mereka, meliputi mereka, dan melihat mereka pada saat mereka tidak berwujud serta tidak mengetahui bagaimana wujud mereka sendiri di masa yang akan datang di dunia ini. Keberadaan mereka berada di luar waktu. Ini merupakan wujud ilahiah dan konsepsi keilahian yang hanya terjadi pada-Nya.” (Dikutip dari Syifa al-Qulub: Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik 5, 2 [2021])
Pendapat Imam Junaid al-Baghdadi mengenai perjanjian dengan Tuhan ini dijelaskan dalam teorinya yang bernama Mitsaq. Allah telah mengikat manusia untuk bersaksi bahwa Allah SWT adalah Tuhannya, dan tiada Tuhan selain Dia.
Namun, ketika manusia telah dilahirkan ke dunia, ia lupa akan apa yang terjadi sewaktu masih menjadi roh. Artinya, manusia lupa akan perjanjiannya dengan Tuhan setelah lahir ke dunia. Hal ini memicu kemungkinan lahirnya agama-agama atau tuhan-tuhan lain yang diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Jadi, dapat dikatakan bahwa telah terjadi pengingkaran terhadap perjanjian antara manusia dan Allah SWT. Lantas, apakah keberadaan agama lain merupakan bentuk pengingkaran terhadap Tuhan?
Agama adalah suatu kepercayaan kepada Tuhan yang dianut oleh manusia, yang di dalamnya terdapat aturan-aturan untuk ditaati. Manusia yang taat terhadap agamanya dapat dikatakan sebagai manusia yang beriman.
Ketika berada di dunia, manusia mempunyai kebebasan memilih agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Namun, ada pula manusia yang beragama hanya karena mengikuti keluarganya, sehingga agama di sini bersifat turun-temurun atau tradisi.
Seperti yang dikutip oleh Didi Junaedi dalam Republika.co.id, Ibnu Katsir mengutip hadis shahihain (Bukhari dan Muslim) yang menyatakan: “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (suci), yakni beragama Islam. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Bila dikaitkan dengan perjanjian pra-kelahiran, hadis di atas mengindikasikan bahwa ketika manusia lahir lalu menjalani kehidupannya dengan tidak beragama Islam, ia telah mengingkari janjinya dengan Allah SWT.
Apa yang Harus Dilakukan Manusia untuk Menuju Ridha Allah?
Seharusnya, saat sudah lahir di dunia, manusia menjalankan kewajibannya terhadap Allah SWT, yaitu dengan tetap meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhannya Yang Maha Esa, menyembah kepada-Nya, dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada-Nya.
Mungkin, jika manusia selalu ingat akan janjinya dengan Tuhan, hidup yang dijalaninya senantiasa diliputi dengan kebahagiaan dan keberkahan. Sebaliknya, jika manusia lupa atau ingkar akan janjinya, hidupnya senantiasa diliputi dengan kesengsaraan ataupun kesedihan.
Hal ini dipertegas dalam Surah al-Ikhlas yang artinya:
- Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
- ”Allah tempat meminta segala sesuatu.”
- ”(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”
- ”Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”
Dapat disimpulkan dari surah tersebut bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Manusia diperintahkan meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan tidak diperbolehkan untuk menyekutukan-Nya. Allah jugalah tempat manusia memohon dan meminta atas segala sesuatu yang dijalaninya selama di dunia. Sungguh, Allah SWT akan memberikan apa pun yang diminta oleh hamba-Nya, baik itu rezeki, kesehatan, pekerjaan, kebahagiaan, maupun hal lainnya.
Janganlah manusia ingkar terhadap Tuhannya. Kuncinya hanya satu: manusia harus taat kepada Allah SWT. Di mana pun kita berada dan kapan pun waktunya, marilah kita mengingat Allah SWT, berzikir kepada-Nya, dan tetap menjalankan kewajiban-Nya. Semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT dan senantiasa mendapatkan ridha-Nya. Aamiin.
Oleh: Nurul Faizah, Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

