Dunia Barat awal modern yang dimulai dari abad ke-17 merupakan titik awal kemenangan bagi peradaban Barat dalam memajukan ilmu pengetahuan. Pada era ini, muncul berbagai aliran pemikiran seperti rasionalisme, empirisme, hingga positivisme (Hardiman, 2007).
Pada saat itu, pengetahuan yang bersifat inderawi jauh lebih diutamakan daripada yang bersifat metafisik, dan rasionalitas jauh diunggulkan di atas irasionalitas. Dalam tatanan tersebut, peradaban Barat cenderung memandang agama sekadar sebagai doktrin dogmatis yang irasional dan berhalusinasi belaka (Armstrong, 2011). Kondisi ini mendorong munculnya pemikir dan filsuf atheis atau pengkritik tajam terhadap agama, seperti David Hume, Ludwig Feuerbach, dan Karl Marx.
Salah satu tokoh yang sangat radikal pada masa itu adalah Friedrich Nietzsche. Ia secara eksplisit mengumandangkan gagasan bahwa “Tuhan telah mati” (Gott ist tot), di mana karya-karyanya senantiasa diarahkan untuk mengkritik keberadaan agama dan Tuhan (Nietzsche, 1882/2001). Pandangan hidup inilah yang mewarnai dan membentuk corak peradaban Barat modern.
Ilmu pengetahuan menjadi segala-galanya bagi dunia Barat modern. Akibatnya, manusia pada masa itu terjebak dalam pemujaan terhadap sains (scientism) tanpa didasari spiritualitas yang kokoh dalam diri masing-masing. Begitu ekstremnya, manusia berusaha membebaskan diri dari tatanan Ketuhanan untuk membangun peradaban yang semata-mata berpusat pada manusia atau antroposentrisme (Nasr, 1981).
Manusia memosisikan diri sebagai penentu tunggal atas nasibnya, yang berakibat pada terputusnya hubungan dengan nilai-nilai spiritual. Namun ironisnya, manusia modern Barat justru gagal menjawab persoalan mendasar tentang eksistensi kehidupannya sendiri. Yang tersisa hanyalah kecemasan, kehamparan, dan krisis makna hidup (existential vacuum) (Frankl, 2006).
Menanggapi krisis spiritualitas masyarakat modern tersebut, Seyyed Hossein Nasr menawarkan pencerahan pemikiran. Menurut Nasr (1993), pada hakikatnya manusia terdiri dari tiga unsur utama, yaitu jasmani, jiwa, dan intelek (intellect/al-‘aql).
- Pertama, jasmani (tubuh). Jasmani adalah dimensi fisik yang membutuhkan asupan materi seperti makanan dan minuman agar tetap sehat dan mampu beraktivitas.
- Kedua, jiwa (psyche/nafs). Jiwa merupakan hakikat intrinsik dari keberadaan tubuh yang mencakup perasaan, emosi, pikiran, dan angan-angan. Tanpa jiwa, manusia tidak akan menjadi utuh. Keberadaan jiwa pulalah yang mendorong lahirnya dorongan dan keinginan intuitif untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
- Ketiga, intelek (intellect/al-‘aql). Nasr membedakan antara rasio (reason) dan intelek (intellect). Intelek berkedudukan sebagai “mata hati” (ain al-qalb). Apabila mata hati ini tertutup, manusia tidak akan pernah mampu mencapai pengetahuan esensial mengenai hakikat keberadaan dirinya.
Oleh karena itu, manusia dituntut untuk menyelaraskan ketiga unsur tersebut secara seimbang. Jika manusia hanya mengedepankan aspek lahiriah saja, tidak ada bedanya manusia dengan makhluk lainnya. Ketiganya harus berjalan berdampingan secara harmonis.
Peradaban Barat modern terlalu mengandalkan kekuatan nalar atau rasio semata, sehingga mereka tenggelam dalam pemikiran rasionalistik yang berakibat pada tertutupnya mata hati (Nasr, 1989). Untuk mengatasi hal ini, manusia harus terus mengasah kekuatan intelektual spiritual agar kesadaran ilahiah tetap terjaga, salah satunya melalui implementasi ajaran sufisme (tasawuf).
Melalui pendekatan tasawuf, akan tercipta keseimbangan antara kekuatan rasio yang berbasis di otak dengan kekuatan intelek (mata hati). Keseimbangan ini dimulai melalui tahapan spiritual (maqamat) seperti tobat, zuhud, zikir, wara, sabar, dan tingkatan lainnya (Schon, 2002).
Menurut Nasr (1997), apabila manusia modern ingin mengakhiri kekeliruan berpikir dan kesesatan yang timbul akibat perbuatannya sendiri—yang dipicu oleh disingkirkannya dimensi keilahian—maka pandangan serta sikap hidup keagamaan harus dihidupkan kembali. Nasr memilih tasawuf sebagai alternatif pembebas manusia modern dari kehampaan spiritual melalui amalan-amalan riadah spiritual.
Tasawuf merupakan dimensi esoteris dan inti dari pewahyuan Islam. Selain itu, tasawuf mampu menyuntikkan energi serta semangat baru ke dalam tubuh, jiwa, dan intelektual manusia. Nasr menyimpulkan bahwa berbagai krisis dan persoalan dalam sejarah peradaban Islam maupun manusia secara umum tidak akan mampu diselesaikan tanpa melibatkan peran penting yang dimainkan oleh tasawuf (Nasr, 1989).
Penulis: Muhammad Toha Sobirin (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)
Editor: Adis Setiawan
Daftar Pustaka
- Armstrong, K. (2011). A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. Ballantine Books.
- Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.
- Hardiman, F. B. (2007). Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Gramedia Pustaka Utama.
- Nasr, S. H. (1981). Knowledge and the Sacred. Crossroad.
- Nasr, S. H. (1989). Ideals and Realities of Islam. Aquarian Press.
- Nasr, S. H. (1993). The Need for a Sacred Science. State University of New York Press.
- Nasr, S. H. (1997). Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. ABC International Group.
- Nietzsche, F. (2001). The Gay Science (B. Williams, Ed.; J. Nauckhoff, Trans.). Cambridge University Press. (Karya asli diterbitkan 1882).

