Bulan Ramadan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Kehadirannya tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk beribadah, tetapi juga sebagai momentum memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan. Berbagai tradisi Islam maupun budaya Nusantara menyambut bulan ini dengan penuh suka cita, mencerminkan kebahagiaan dan semangat untuk berbuat kebaikan. Pada bulan ini pula, umat Islam berlomba-lomba dalam kebajikan serta lebih berhati-hati menjaga diri dari perbuatan dosa. Nilai-nilai tersebut penting ditanamkan sejak dini, termasuk kepada anak-anak di lingkungan sekolah dasar.
Semangat inilah yang kemudian dihadirkan dalam dunia pendidikan, khususnya di SD Yapita Surabaya. Sebagai upaya menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, sekolah menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang dahulu dikenal sebagai Pondok Ramadan. Kini, kegiatan tersebut bertransformasi menjadi Lentera Ramadan dengan konsep yang lebih segar dan bermakna.
”Nama Lentera Ramadan digagas oleh Ibu Nadia Ilfana, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SD Yapita Surabaya. Beliau menuturkan bahwa kata ‘Lentera’ merupakan singkatan dari Lembaran Tabligh Edisi Ramadan,” jelas panitia. Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penyesuaian dengan konsep kegiatan yang dilaksanakan.
Perubahan nama dari Pondok Ramadan menjadi Lentera Ramadan dilatarbelakangi oleh perbedaan sistem pelaksanaan. Jika istilah “pondok” identik dengan kegiatan bermalam, maka pada praktiknya kegiatan ini tidak lagi disertai dengan menginap di sekolah. Kegiatan bermalam sebenarnya pernah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan sempat menjadi harapan dari siswa maupun wali murid. Namun, pelaksanaannya menghadapi berbagai kendala, seperti jumlah siswa yang tidak sebanding dengan jumlah guru bertugas sehingga pengawasan kurang optimal, serta keterbatasan fasilitas sanitasi. Oleh karena itu, pihak sekolah melakukan evaluasi dan menghadirkan konsep baru yang lebih efektif melalui Lentera Ramadan.
Kegiatan Lentera Ramadan dilaksanakan selama tiga hari dengan menghadirkan suasana pembelajaran yang lebih variatif dan menyenangkan. Berbeda dengan Pondok Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya yang lebih berfokus pada penyampaian materi teoretis, tahun ini kegiatan dikemas dengan sentuhan kreativitas. Siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak untuk berkreasi, seperti membuat kaligrafi, merangkai buket, serta latihan kultum atau tausiah.
Pemilihan kegiatan kaligrafi memiliki tujuan tersendiri, yaitu mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan siswa terhadap seni menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Di tengah minat anak-anak yang saat ini lebih condong pada gambar kartun atau anime, kaligrafi diharapkan menjadi alternatif yang tidak hanya menarik, tetapi juga bernilai ibadah. Selain itu, kegiatan pembuatan buket juga disederhanakan agar lebih mudah diikuti oleh siswa. Inovasi ini merupakan bagian dari rangkaian tema Ramadan di SD Yapita, yang sebelumnya pernah mengusung tema “Ramadan Berprestasi”.
Meski demikian, pelaksanaan kegiatan tahun ini tetap menghadapi tantangan, salah satunya adalah faktor cuaca yang kurang mendukung. Pihak sekolah sebenarnya berharap dapat melaksanakan ibadah bersama dalam satu tempat, seperti salat berjamaah dan bermunajat, terlebih pada hari Jumat terakhir di bulan Ramadan yang dikenal sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Walaupun kehadiran guru tahun ini lebih lengkap sehingga suasana kebersamaan lebih terasa, kondisi cuaca membuat beberapa rencana belum dapat terlaksana secara maksimal.
Harapan utama dari terselenggaranya Lentera Ramadan adalah agar nilai-nilai ibadah yang telah dipelajari di sekolah dapat terus dipraktikkan di rumah, seperti menjaga salat lima waktu, melaksanakan salat tarawih hingga akhir bulan, serta mengamalkan kebaikan lainnya. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tidak hanya merasakan suasana Ramadan di sekolah, tetapi juga mampu menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

