Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa, yang setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” Menurut Imam Al-Ghazali, banyak dari kita yang mungkin belum memahami hakikat maknanya secara mendalam.
Terkadang, Anda mengira Rasulullah menyebutkan hal itu hanya untuk mendorong orang agar rajin membaca, bukan sebagai ukuran nilai yang sebenarnya. Di lain waktu, Anda mungkin merasa hal ini sulit dinalar: bagaimana mungkin surah yang pendek bisa setara dengan sepertiga dari enam ribu lebih ayat Al-Qur’an?
Keraguan ini muncul karena keterbatasan pengetahuan kita tentang hakikat Al-Qur’an dan kecenderungan untuk hanya fokus pada makna lahiriah. Kita sering berpikir bahwa nilai sesuatu ditentukan oleh panjang pendeknya kata, ibarat orang yang lebih menyukai tumpukan koin daripada sebutir permata hanya karena jumlah koinnya lebih banyak.
Surah Al-Ikhlas: Sepertiga Al-Qur’an
Ketahuilah bahwa Surah Al-Ikhlas tidak diragukan lagi setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Jika merujuk pada kitab Jawahirul Qur’an, aspek penting Al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian utama:
- Pengetahuan tentang Allah Yang Maha Agung (Tauhid).
- Pengetahuan tentang hari akhirat.
- Pengetahuan tentang jalan yang lurus (Syariat).
Surah Al-Ikhlas secara murni mencakup poin pertama, yakni pengetahuan tentang Allah, keesaan-Nya, dan kesucian-Nya dari segala sekutu. Surah ini meniadakan asal-usul (nasab), cabang, maupun kesamaan bagi Allah, serta menggambarkan-Nya sebagai As-Shamad—Penguasa yang tidak membutuhkan apa pun. Karena ia mencakup satu dari tiga pilar utama tersebut, maka ia setara dengan sepertiga Al-Qur’an.
Gus Ulil dalam ngajinya menjelaskan bahwa menurut para ulama seperti Ibnu Taimiyyah dan Al-Qurthubi, Surah Al-Ikhlas mengandung dua nama agung: Al-Ahad dan As-Shamad. Dari segi pahala, membaca surah ini tiga kali memang memiliki keutamaan yang setara dengan mengkhatamkan Al-Qur’an, namun bukan berarti menggantikan kewajiban membaca keseluruhan isi mushaf.
Surah Yasin: Jantung Al-Qur’an
Setelah memahami Al-Ikhlas, mungkin Anda ingin mengetahui arti sabda Nabi: “Surah Yasin adalah jantung Al-Qur’an.” Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk merenungkannya sendiri agar kesadaran itu muncul dari dalam jiwa. Beliau percaya bahwa kegembiraan saat menemukan rahasia kebenaran secara mandiri akan meningkatkan motivasi ibadah seseorang.
Surah Yasin disebut sebagai jantung Al-Qur’an karena memuat intisari ajaran Islam secara padat, meliputi tauhid, kenabian, dan kepastian hari kebangkitan. Surah ini merangkum tiga pilar akidah dengan bahasa yang kuat dan menyentuh, menjadikannya esensi bagi keimanan.
Secara lebih rinci, alasan Surah Yasin disebut jantung Al-Qur’an meliputi:
- Fokus pada Keimanan: Berfokus pada pengakuan terhadap Hari Akhir sebagai puncak keimanan.
- Bukti Kekuasaan: Mencakup tanda-tanda kebesaran Allah (Tauhid) dan kisah para utusan-Nya.
- Peringatan Mendalam: Meskipun tidak terlalu panjang, surah ini menyajikan perenungan mendalam tentang hidup dan mati yang mampu menggetarkan hati.
Selain itu, Surah Yasin memiliki keutamaan dalam mendatangkan rahmat, pengampunan, dan ketenangan hati, sehingga sering dianjurkan dibaca dalam momen-momen sakral. Wallahu a’lam bisshawab.

