Keislaman

Tadabbur Surat At-Tahrim Ayat 6: Makna dan Dampaknya Menurut Quraish Shihab

3 Mins read

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari membaca, memahami, hingga menghayatinya. Dalam istilah keagamaan, terdapat empat kata yang biasa digunakan: qiraah, tilawah, tartil, dan tadabbur. Keempatnya memiliki makna berbeda yang memberikan dampak bervariasi bagi pembacanya.

​Pertama, qiraah. Secara bahasa, qiraah berarti membaca apa saja. Membaca komik pun bisa disebut qaraah. Al-Qur’an menggunakan kata ini pertama kali dalam wahyu “Iqra’” (bacalah) tanpa menyebutkan objek bacaan secara spesifik. Hal ini mengisyaratkan bahwa Nabi diperintahkan membaca apa saja, asalkan didasari semangat bismi rabbik—demi dan karena Allah SWT. Membaca satu huruf pun sudah termasuk qaraah. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka dia akan mendapatkan ganjaran.” Beliau menegaskan bahwa Alif Lam Mim bukan satu huruf, melainkan tiga huruf yang masing-masing bernilai pahala.

​Kedua, tilawah. Ini adalah aktivitas membaca dengan mengikuti huruf demi huruf dan kata demi kata secara berurutan. Lebih dari itu, apa yang dibaca kemudian diikuti dengan amal perbuatan. Oleh karena itu, tilawah tidak bisa hanya dilakukan pada satu huruf; ia harus menghimpun banyak kata yang mengandung nilai kesucian.

​Ketiga, tartil. Tartil berarti menyusun bacaan dengan indah, memperhatikan makhraj (tempat keluarnya huruf), serta hukum tajwid seperti kapan harus menebalkan (tafkhim) atau menipiskan (tarqiq) suara—contohnya pada lafaz Bismillah. Tartil juga mencakup pemahaman kapan harus berhenti (waqaf) dan memulai kembali bacaan.

​Apa Itu Tadabbur?

​Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata tadabbur berakar dari kata dubur yang berarti “belakang”. Secara definisi, tadabbur adalah membaca Al-Qur’an dengan cara memahami dan menghayatinya sehingga melahirkan “sesuatu” di belakang (setelah) bacaan tersebut. Dengan kata lain, ada dampak nyata dari pemahaman dan penghayatan Anda setelah selesai membaca.

Baca...  Benarkah Istri Nabi Bukan Ahlul Bait? Menelisik Perdebatan Penafsiran Surah Al-Ahzab Ayat 33

​Tadabbur bukanlah perkara mudah. Banyak orang paham isi Al-Qur’an—seperti para orientalis—namun mereka tidak menghayati apalagi mengamalkannya. Tadabbur menuntut lahirnya dampak dan tuntunan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

​Kisah Tangis Nabi dan Hakikat Tadabbur

​Suatu ketika, Sayyidah Aisyah ditanya mengenai hal yang paling mengagumkan dari Nabi SAW. Beliau menjawab bahwa seluruh pribadi Nabi mengagumkan. Namun, ia menceritakan satu malam saat Nabi meminta izin untuk shalat. Aisyah melihat Nabi berwudhu dengan sempurna, lalu sepanjang malam beliau menangis.

​Keesokan harinya, Nabi ditanya mengapa beliau menangis. Nabi menjawab, “Tadi malam turun ayat Al-Qur’an yang membuatku berusaha memahami, menghayati, dan men-tadabburi-nya.” Ayat tersebut adalah:

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur, tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah. Mereka itulah bahan bakar api neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 10).

​Inilah tadabbur yang sesungguhnya. Dalam Surat Muhammad ayat 24, Allah berfirman: “Tidakkah mereka merenungkan (tadabbur) Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” Jika ingin ber-tadabbur, bukalah hati agar cahaya Ilahi bisa masuk dan tercermin dalam tingkah laku. Jangan hanya membuka pikiran, karena akal tidak bisa menciptakan iman dan cinta; akal hanya berfungsi mengukuhkannya. Hati-lah tempat bersemayamnya iman.

​Tadabbur Surat At-Tahrim Ayat 6: Menjaga Keluarga

​Dalam konteks keimanan, terdapat perbedaan antara mukmin (yang sudah mantap imannya) dan yu’min (yang baru berada di tahap awal). Quraish Shihab menjelaskan bahwa seorang mukmin sejati akan bergetar hatinya saat mendengar asma Allah, sebagaimana digambarkan dalam Surat Al-Anfal ayat 2.

​Sementara itu, bagi mereka yang masih berada di tahap awal keimanan, terdapat tuntutan besar untuk memelihara diri dan keluarga dari api neraka. Hal ini tertuang dalam Surat At-Tahrim ayat 6:

Baca...  Benarkah Tafsir Ibadiyah Eksklusif? Bedah Kitab Hamyan Al Zad

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras…”

​Iman Adalah Pembenaran Hati

​Quraish Shihab menekankan bahwa iman adalah pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh nurani, bukan sekadar pembenaran akal. Pada mulanya, iman memang sering disertai tanda tanya atau keraguan menuju keyakinan.

​Bahkan Nabi Ibrahim AS pernah memohon kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana cara menghidupkan yang mati, bukan karena tidak percaya, melainkan agar hatinya lebih mantap (li yathma-inna qalbi). Begitu pula para sahabat Nabi yang pernah merasa ragu dalam hati namun takut mengucapkannya. Nabi justru bersabda, “Dzalikal iman” (Itulah iman). Keraguan yang dibarengi usaha mencari jawaban akan mengantarkan pada keyakinan yang kokoh.

​Sebagai simpulan, tadabbur Al-Qur’an bukan sekadar membaca. Seseorang yang men-tadabburi Al-Qur’an akan membaca, memahami, dan menghayati isinya hingga berdampak pada aktivitas dan nilai hidupnya. Surat At-Tahrim ayat 6 hadir sebagai pengingat bagi orang beriman untuk senantiasa menjaga diri dan keluarga dalam ketaatan kepada Allah SWT, menyadari bahwa dunia hanyalah sementara dan akhirat adalah tempat kembali yang kekal.

Wallahu a’lam bisshawab.

200 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Kebebasan Mutlak Tindakan Tuhan

2 Mins read
Klaim kelima kaum Asy’ariyah menyatakan bahwa ketika seorang hamba melaksanakan kewajiban dan menaati-Nya, Tuhan tidak memiliki kewajiban untuk memberikan pahala. Sekali lagi,…
Keislaman

Belajar Kiat Bisnis Utsman bin Affan: Kaya dan Dermawan

2 Mins read
Setiap orang yang ingin memulai bisnis pasti berharap diberi kemudahan, kesuksesan, dan keberkahan. Banyak cara dilakukan untuk meraihnya, salah satunya dengan belajar…
Keislaman

Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Perdebatan Tiga Saudara (Bagian 4)

3 Mins read
Menurut pandangan Asy’ariyah, tindakan Tuhan bisa saja menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan bagi makhluk hidup, termasuk hewan dan manusia yang tidak bersalah (iilam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Berita

Pelantikan PKC PMII Jatim: Fokus Lompatan Kaderisasi & Jatim Berdaya

Verified by MonsterInsights