Keislaman

Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Perdebatan Tindakan Tuhan (Bag 2)

4 Mins read

Salah satu keyakinan dasar dalam perspektif teologi (akidah) Asy’ariyah adalah bahwa Tuhan tidak memiliki kewajiban untuk menciptakan makhluk. Tuhan memiliki kehendak mutlak; Dia bisa saja menggerakkan atau tidak menggerakkan proses astronomi seperti “Big Bang”—ledakan besar yang diperkirakan terjadi sekitar 13,8 miliar tahun lalu sebagai asal muasal alam semesta.

​Dengan kata lain, setiap proses astronomi yang dijelaskan oleh sains kontemporer, bagi seorang mukmin, sejatinya digerakkan oleh kehendak dan tindakan Tuhan. Ini adalah kacamata iman.

​Pandangan ini jelas berbeda dengan perspektif seorang saintis yang tidak beragama (ateis/agnostik). Bagi mereka, proses alam bersifat mekanis atau “deterministik”. Artinya, alam semesta mengikuti hukum fisika tertentu dan tidak dapat bergerak ke arah lain. Dalam pandangan ini, tidak ada partisipasi atau campur tangan Tuhan di dalamnya.

​Gus Ulil menjelaskan bahwa dalam pandangan Asy’ariyah, Tuhan tidak lantas membebankan tanggung jawab moral (taklif) kepada makhluk-Nya seketika Dia memutuskan untuk menciptakannya. Tuhan tidak “harus” melakukan semua hal tersebut. Inilah posisi akidah Asy’ariyah yang menjadi pegangan mayoritas umat Islam (Ahlussunnah wal Jamaah).

​Sebaliknya, kaum Muktazilah berpendapat bahwa Tuhan wajib (harus) melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk-Nya (ash-shalah wa al-ashlah). Menurut mereka, Tuhan tidak boleh melakukan hal yang merugikan atau buruk bagi makhluk-Nya. Dia harus melakukan yang terbaik.

​Muktazilah berargumen: karena Tuhan telah memberikan beban kewajiban (taklif) syariat kepada makhluk setelah diciptakan, maka Tuhan wajib menurunkan kitab suci melalui rasul-rasul-Nya. Tujuannya adalah memberikan panduan moral tentang baik dan buruk demi kebaikan makhluk itu sendiri. Mengapa? Karena itulah satu-satunya cara yang dianggap adil untuk membantu makhluk-Nya.

​Beberapa intelektual Muslim rasionalis kerap berpihak kepada Muktazilah. Mereka percaya bahwa pandangan Muktazilah lebih masuk akal dan sesuai dengan logika manusia dibandingkan pandangan Asy’ariyah. Salah satunya adalah Mustafa Akyol, intelektual Turki penulis buku “Reopening Muslim Minds” (Membuka Kembali Pikiran Umat Islam), yang mengurai alasan mengapa pemikiran umat Islam mengalami kemandekan (jumud).

Baca...  Talaq dan Iddah dalam Alquran

​Mustafa menilai posisi Muktazilah lebih tepat. Ia mengkritik posisi Asy’ariyah yang menyiratkan bahwa Tuhan bertindak seolah-olah tidak berdasarkan hukum moral yang pasti—seperti prinsip “Tuhan boleh melakukan apa pun”—yang menurutnya dapat menimbulkan keraguan teologis.

​Namun, Gus Ulil berpendapat bahwa pandangan Asy’ariyah justru lebih tepat karena berada di posisi tengah (moderat). Asy’ariyah tidak mengingkari bahwa Tuhan berbuat baik kepada makhluk-Nya; poin utamanya adalah bahwa Tuhan tidak wajib atau tidak bisa dipaksa untuk melakukan hal-hal baik itu.

​Gus Ulil menekankan pada kata “tidak wajib”. Logikanya, jika Tuhan “wajib” melakukan sesuatu, lantas siapa yang mewajibkan-Nya? Jika Tuhan diharuskan melakukan sesuatu, berarti ada otoritas atau hukum di luar kuasa Tuhan yang mengikat-Nya.

​Jika demikian, Tuhan menjadi tidak bebas sepenuhnya dan tunduk pada hukum. Secara tidak langsung, pandangan ini menempatkan Tuhan setara dengan kategori makhluk. Pertanyaannya, apakah Tuhan dapat dihakimi oleh hukum? Tentu tidak, karena Tuhan yang sejati adalah Dzat yang Maha Bebas (Free Agent).

Tindakan Tuhan dalam Teologi Asy’ariyah

​Syahdan, lawan debat Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa Tuhan harus menciptakan makhluk, bukan karena ada manfaat bagi Dzat Tuhan, melainkan agar makhluk itu sendiri mendapatkan manfaat dari penciptaan tersebut. Namun, Al-Ghazali membantah argumen ini. Menurutnya, meskipun ada manfaat bagi makhluk yang diciptakan, itu tidak serta-merta mewajibkan Dzat Tuhan untuk melakukannya.

​Masih menurut Al-Ghazali, adalah tidak masuk akal jika Anda berpendapat bahwa Tuhan menciptakan makhluk semata-mata untuk membantu mereka. Dalam konteks ini, lawan debat Al-Ghazali berargumen bahwa penciptaan hanya masuk akal jika Tuhan berencana menempatkan makhluk-Nya di surga dan memberikan nikmat tanpa rasa sakit sedikitpun.

Baca...  Melihat Tafsir Pada Masa Tabi’in

​Faktanya, banyak manusia yang justru berharap untuk tidak pernah ada di dunia. Mereka berkata, “Seandainya aku tidak diciptakan, tentu lebih enak karena tidak disuruh beribadah dan tidak diancam masuk neraka jika melanggar. Atau, andai aku tidak diciptakan, tentu aku tidak perlu merasakan hidup miskin dan susah.”

​“Bahkan orang-orang pintar dan para Nabi pun pernah mengeluh tentang beratnya kewajiban manusia,” kata Gus Ulil. Sebagian berharap tidak memiliki beban moral, sebagian berharap tidak pernah dilahirkan, dan sebagian lagi berharap hanya menjadi benda mati.

​Dalam sebuah riwayat, Sayyidina Umar bin Khattab pernah memegang sebatang jerami. “Seandainya aku seperti jerami ini, tentu lebih enak,” katanya sambil mengangkat jerami tersebut. Ini menunjukkan bahwa sosok sekelas Umar pun terkadang merasa lebih suka menjadi benda mati yang tidak memikul tanggung jawab (hisab) apa pun.

​Kembali ke perdebatan, jika taklif (beban syariat) ini dikaitkan dengan pahala, maka taklif memang memiliki manfaat di akhirat. Namun, Tuhan sejatinya bisa saja memberikan ganjaran surga tanpa harus membebani manusia dengan taklif.

​Lawan debat Al-Ghazali menyahut, “Ya, benar bahwa Tuhan bisa memberikan ganjaran tanpa perlu taklif. Tapi, bukankah seseorang lebih berhak mendapat ganjaran karena usahanya sendiri? Bukankah lebih mulia dan lebih nikmat jika seseorang mendapatkannya karena jerih payah, bukan sekadar pemberian cuma-cuma?”

​Al-Ghazali menjawab dengan sederhana namun menohok, “Sesungguhnya seseorang yang berpendapat demikian sedang berlindung kepada Tuhan dari akal yang berujung pada kesombongan terhadap Tuhan itu sendiri. Ia merasa dirinya telah bersusah payah dan berjasa, seolah-olah ia telah ‘menyabar-nyabarkan’ diri terhadap nikmat Tuhan demi menghadapi godaan setan.”

​Menurut Gus Ulil, Al-Ghazali memandang klaim “hak atas pahala” sebagai bentuk kesombongan (takabbur). Mengapa? Karena ketika seseorang merasa telah memenuhi kewajibannya lalu menuntut Tuhan harus memberikan balasan, seolah-olah tercipta hubungan utang-piutang antara makhluk dan Tuhan.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad fi Al-I'tiqad: Hukum dan Ketentuan Sifat Tuhan

​Pertanyaannya, bagaimana mungkin orang dengan perspektif seperti ini merasa berhak atas pahala dan mewajibkan Tuhan mengabulkannya? Jika seseorang percaya bahwa dia memiliki “hak asasi” untuk masuk surga karena amalnya, dia adalah orang yang sombong.

​Ia dianggap sombong karena dalam akidah Asy’ariyah, ketaatan seseorang bukanlah tiket otomatis yang “membeli” surga. Memenuhi kewajiban tidak berarti seseorang berhak menagih ganjaran kepada Tuhan. Sekali lagi, tidak ada yang dapat memaksa Tuhan.

​Menurut Gus Ulil, ketika seseorang taat memenuhi tanggung jawabnya, dari manakah ketaatan itu berasal? Pasti bukan murni dari manusia, karena segala kekuatan dan taufik berasal dari Tuhan. Jika modal ketaatan itu sendiri berasal dari Tuhan, bukankah meminta kompensasi karena merasa berhak adalah tindakan takabbur? Jawabannya: Ya.

​Bukankah Tuhan yang memberi kita semua kemampuan? Bukankah Tuhan yang mengizinkan kita untuk terlahir? Maka, segala klaim jasa manusia menjadi tidak relevan di hadapan-Nya. Sederhananya, Al-Ghazali menyimpulkan bahwa berdebat dengan kaum rasionalis ekstrem (yang mewajibkan Tuhan) tidaklah menguntungkan, dan lebih baik mendoakan kebaikan untuk mereka.

(Bersambung…)

196 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Gerakan Dan Pemikiran Muhammad Ali Pasya

3 Mins read
Kuliahalislam.Muhammad Ali Pasya lahir di Kawalla, Yunani 1765 dan wafat di Mesir tahun 1849 M. Muhammad Ali Pasya merupakan pelopor pembaharuan dan…
Keislaman

Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Tindakan-Tindakan Tuhan (1)

3 Mins read
Kita tahu bahwa salah satu klaim pandangan keagamaan (akidah) Asy’ariyah mengenai tindakan Tuhan adalah bahwa Tuhan tidak memiliki tanggung jawab moral untuk…
KeislamanTokoh

Ibnu Rusyd Filsuf Muslim Terkemuka Dari Andalusia

6 Mins read
Kuliahalislam.Ibnu Rusyd al-Hafizh (520-595 H), mepunyai nama lengkap bernama Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Rusyd…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Berita

PC IMM Bekasi Bidang Hikmah Tolak Wacana Penempatan Polri di Bawah Kementerian

Verified by MonsterInsights