Sejarah intelektual selalu dihiasi oleh upaya memahami fenomena ontologis yang mengandung segelintir pertanyaan mendasar: Mengapa kejahatan selalu mengiringi manusia? Dan mengapa kebaikan pun ikut mengambil perannya dalam melawan kejahatan? Siklus pertanyaan inilah yang memancing berbagai pandangan eksistensial dalam bidang filsafat dan agama bermunculan. Salah satunya berawal dari paham teologi dualistik Manikeisme, sebuah aliran kuno yang tersebar luas dari penjuru Persia, Eropa, hingga Asia Timur.
​Apa itu Manikeisme?
​Manikeisme (atau Manicheism) secara terminologi Yunani adalah dogma dualistik di mana para penganutnya memercayai bahwa alam semesta diiringi oleh dua substansi: kejahatan dan kebaikan, atau keindahan dan keburukan. Nama aliran ini diambil dari pendirinya, yakni Mani, seorang tokoh spiritual dari wilayah Persia pada abad ke-3 Masehi.
​Mani hidup di sela-sela eksistensi berbagai tradisi besar di era itu, seperti Buddhisme, Kristen, serta paham Monoteisme dan Politeisme lainnya. Dalam masyarakat Persia, ia dijuluki sebagai seorang Nabi karena ia tidak hanya menuntun tradisi-tradisi tersebut, akan tetapi memadukan semua tradisi itu sehingga membentuk suatu paham kosmologi yang terstruktur.
​Esensi Cahaya dan Kegelapan
​Esensi dari Manikeisme adalah kosmos. Dogma ini menekankan bahwa realitas tersusun dari dua substansi yang memiliki sifat setara: kekal tetapi saling bertentangan. Di antaranya adalah sifat cahaya yang menyimbolkan kebaikan, ruh, kebenaran, kesadaran, dan keimanan. Di sisi lain, terdapat kegelapan yang mengiringi cahaya, merefleksikan materi, nafsu, kebodohan, kejahatan, keburukan, dan kekacauan. Esensi ini menjadi bukti bahwa dunia tempat kita berpijak merupakan hasil dari perpaduan antara dua entitas: cahaya dan kegelapan.
​Akan tetapi, perlu digarisbawahi bahwa Manikeisme tidak berpusat pada penelaahan kosmologi dan mitologis semata. Manikeisme menelaah konflik batin yang senantiasa hidup dalam diri manusia. Cahaya dan kegelapan tidak diinterpretasikan secara simplifikatif, melainkan sebagai metafora dari kesadaran dan keterikatan satu sama lain.
​Manusia sebagai objek menduduki posisi sentral dalam konflik yang terus berinkarnasi dari masa ke masa. Jiwa manusia bermula dari cahaya, tetapi terpenjara dalam tubuh material yang kian waktu haus akan keburukan. Dengan demikian, perjalanan hidup bukan sekadar terfokus pada melakukan kebaikan atau keburukan, namun juga bagaimana perjuangan manusia membebaskan cahaya dirinya yang saat ini terperangkap oleh gelapnya nafsu.
​Jalan Pengetahuan dan Sejarah Kemunduran
​Paham emansipasi dalam Manikeisme menegaskan bahwa pembebasan tidak didapatkan secara spontan. Hal itu diraih melalui perjalanan empirik spiritual mutlak, yakni jalan pengetahuan (logos) dan keistiqamahan dalam gaya hidup asketis (menahan diri dari kenyamanan duniawi, khususnya perilaku yang dianggap bergantung pada materialisme).
​Secara historis, Manikeisme dahulunya dinobatkan sebagai “agama dunia”. Sebutan ini didasari oleh konflik dan hasrat kebutuhan manusia yang kian merajalela, seperti krisis spiritual, kebutuhan penjelasan mengenai penderitaan, serta kondisi sosial-politik yang tidak stabil akibat perang berkepanjangan antara Romawi dan Persia. Faktor inilah yang kemudian menjadikan doktrinnya tersebar luas secara universal, selaras dengan konflik yang dialami oleh masyarakat di berbagai kota.
​Namun, ada masa di mana Manikeisme dinilai sebagai paham yang membahayakan oleh penduduk Romawi. Ajaran ini dicap bidah atau tidak sesuai dengan ajaran Kristen karena Mani mengklaim dirinya sebagai seorang Nabi. Semenjak itu, Mani dipenjara oleh Kekaisaran Romawi dan wafat di dalam penjara. Para penganutnya pun mengalami nasib naas; diperbudak dan dianiaya selama berabad-abad.
​Relevansi Manikeisme di Era Modern
​Kendati secara entitas penganut Manikeisme tidak lagi menampakkan diri, gagasan-gagasannya tidak pernah binasa. Historis dualisme Manikean merupakan harta karun dunia yang dapat ditemukan melalui renungan keagamaan dan filosofis. Tampaknya, sampai zaman kontemporer saat ini, pemikiran Manikeisme masih tetap eksis di semua kalangan, khususnya kaum intelektual dan spiritual. Metode pemikirannya yang cenderung kontroversial antara hitam dan putih—atau baik melawan jahat—masih terlihat dominan dalam cara individu bersosial dan menyikapi dunia.
​Selain itu, korelasi Manikeisme justru tampak semakin nyata di era transformasi teknologi saat ini. Kita hidup dalam limpahan kontradiksi: moral bertentangan dengan moral, gagasan bertarung gagasan, kebenaran versus kebenaran. Belum lagi stimulasi dari kesenjangan media sosial yang melaju pesat, mengakibatkan dominasi cara pandang dunia secara instan (fast culture) semakin digdaya. Hal ini menimbulkan keinstanan dalam menghakimi bahwa “akulah yang benar dan kamulah yang salah”. Alur drama ini secara tidak sadar merefleksikan permasalahan yang ditelaah oleh kaum Manikean, meski tidak diperindah oleh bingkai religiusitas.
​Di sisi lain, perspektif Manikean juga mengambil peranan penting dalam mengkritisi isu-isu materialisme modern. Perilaku konsumtif, eksploitasi alam, dan sikap anarkis untuk mendapatkan segalanya merupakan interpretasi dari dominasi materi atas jiwa. Peristiwa ini mengakibatkan hakikat dari jiwa itu sendiri mulai hilang. Bagi Mani, kondisi ini diuraikan sebagai hilangnya cahaya jiwa dari asalnya karena tertutupi oleh kenikmatan material.

