Artikel

Tradisi yang Terjaga: Hubungan Sab’atu Ahruf dengan Qira’at Sab’ah

2 Mins read

Penulis: Muhammad Ziaurrahman*

Alqur’an terjaga keasliannya sepanjang zaman dan diriwayatkan secara mutawattir di setiap zamannya. Dalam kehidupan umat Islam, Alqur’an tidak hanya menjadi teks suci, tetapi juga sebagai tradisi yang terus hidup dan terjaga. 


Berikut tradisi yang menjadi pondasi kokoh dari keberkahan dan kemuliaan Alqur’an, yaitu sab’atu ahruf dan qira’ah sab’ah. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi hubungan kedua tradisi ini.

Sab’ah Ahruf

Sab’atu Ahruf merupakan konsep dalam ilmu Alqur’an yang mengacu pada keyakinan bahwa Alqur’an diwahyukan dalam tujuh lahjah atau gaya bahasa yang berbeda, tetapi kesatuan makna tetap terjaga. Terdapat hadis mutawattir diriwayatkan oleh Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa Alqur’an diturunkan dengan tujuh huruf (sab’ah ahruf), berikut ini:

أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عَلَى حَرْفٍ فَرَاجَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ فَيَزِيدُنِي حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ

“Jibril telah membacakan kepadaku dengan satu huruf, maka aku pun kembali kepadanya untuk meminta agar ditambahkan, begitu berulang-ulang hingga berakhirlah dengan tujuh huruf” (H.R. Muslim no. 1355).

Hadis tersebut memberikan keterangan bahwa Sab’atu ahruf merujuk pada keyakinan bahwa Alqur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW memiliki tujuh variasi/gaya bacaan yang diizinkan dan kesatuan makna tetap terjaga. Pendapat ini adalah pendapat sebagian besar ulama dan yang paling mendekati kebenaran.

Konsep sab’atu ahruf mengakui bahwa bahasa Arab memiliki keberagaman dialek (lahjah) dan konsep ini tidak mengubah makna atau isi Alqur’an. Sab’atu Ahruf menunjukkan rahmat Allah SWT yang memberikan kemudahan dalam keberagaman, sehingga Alqur’an dapat diakses dengan lebih mudah oleh masyarakat yang memiliki latar belakang bahasa Arab yang beragam pada masa itu dan diizinkan untuk memakai salah satu dialek yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Baca...  Sejarah Qurban Habil dan Qabil Berdasarkan Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 27-31

Qira’at Sab’ah 

Menurut al-Zarqani, qira’at sab’ah merujuk pada mazhab yang dianut oleh 7 imam qira’at serta kesepakatan riwayat-riwayat dari jalur-jalurnya. Perbedaan bacaan para imam qira’at mencakup pengucapan huruf-huruf atau bentuk-bentuknya. Sedangkan menurut al-Zarkasyi, qira’at adalah perbedaan bacaan qira’at yang berada dalam lafaz-lafaznya, tidak hanya huruf-huruf tetapi juga dalam pengucapan takhfit, tasydid, dan aspek lainnya. 

Tujuh imam qira’at tersebut adalah Nafi’ al-Madani, Ibnu Katsir al-Makki, Abu Amr al-Bashri, Ibnu Amir as-Syamsi, ‘Ashim al-Kuffi, Hamzah al-Kuffi, dan al-Kisa’i al-Kuffi dan juga setiap imam qira’at memiliki dua perowi yang masyhur. 

Pendapat al-Sabuni Qira’at Sab’ah bersifat Mutawattir, karena mazhab bacaan para imam qira’at sampai kepada Rasulullah SAW. Para imam qira’at mewariskan bacaan qira’at secara secara lisan dari generasi ke generasi.

Qira’at Sab’ah merupakan bukti nyata dari pemeliharaan Alqur’an secara tradisi lisan. Para imam qira’at bertanggung jawab dalam menyampaikan Alqur’an dengan tepat sesuai dengan sanad qira’at mereka, dan menjaga keaslian serta kemuliaan Alqur’an.

Hubungan Sab’ah Ahruf dengan Qira’at Sab’ah

Banyak orang awam yang mengartikan sab’ah ahruf pada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dengan tujuh qira’at atau qira’at sab’ah, padahal pemaknaan tersebut tidaklah tepat karena keduanya memilik artian yang berbeda tetapi saling berhubungan.

Hubungan antara sab’ah ahruf dengan qira’at sab’ah adalah seperti hubungan antara rumah dengan kamar. Ahruf ibarat rumah sedangkan qira’at ibarat kamar. 

Bagaimanapun banyaknya qira’at yang ada, keseluruhan berada dalam lingkup ahruf. Namun, tidak semua ahruf itu terdapat dalam satu qira’at, adakalanya huruf tertentu disebutkan dalam satu qira’at dan tidak disebutkan dalam qira’at lainnya. 

Jadi, sab’ah ahruf merupakan dasar atau landasan serta membuka pintu variasi bacaan dari sebuah qira’at, dan qira’at sab’ah merupakan hasil dari landasan tersebut meskipun tidak keseluruhan sab’ah ahruf tercakup pada qira’at sab’ah. 

Baca...  Peran Media Sosial Untuk Meningkatkan Literasi Demokrasi

Simpulan

Sab’atu ahruf dan qira’at sab’ah merupakan tradisi yang terjaga dari Alqur’an. Kedua konsep ini bukan hanya sekedar bacaan, tetapi merupakan warisan yang hidup dalam tradisi lisan umat Islam. 

Mari kita terus menjaga tradisi ini, Semoga artikel ini membawa manfaat bagi pembaca untuk terus mempelajari, mendalami dan menghargai Alqur’an dengan lebih dalam dan kaya makna. 

*) Mahasiswa prodi Ilmu Alqur’an dan Tafsir, UIN Sunan Ampel Surabaya

2539 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
Artikel

Jasa Sebar Kuesioner dan Jasa Riset Pasar dalam Pengambilan Keputusan Bisnis

4 Mins read
Sebelum meluncurkan produk, membuka usaha, atau mengambil keputusan investasi, memahami kebutuhan pasar merupakan langkah yang sangat penting. Perusahaan tidak dapat hanya mengandalkan…
Artikel

Mengukur Potensi Bisnis melalui TAM, SAM, SOM dan Analisis Finansial

6 Mins read
Membangun bisnis baru tidak cukup hanya dengan melihat apakah produknya dibutuhkan pasar. Sebuah rencana usaha bisa terlihat menarik dari sisi omzet, tetapi…
Artikel

Mahasiswa KKN MAS gelar pelatihan minuman probiotik dan sosialisasi NIB Bagi UMKM Desa Ngenep

2 Mins read
KULIAHALISLAM – Mahasiswa KKN MAS kelompok 94 menggelar pelatihan pembuatan minuman probiotik dari limbah nanas dan sosialisasi serta pendampingan pembuatan nomor induk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *