Al-Qur’an adalah sumber utama bagi umat Islam sebagai petunjuk dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tuntunan dan petunjuk agar umatnya dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat (Q.S. Al-Isra’ [17]: 9).
Adakalanya Al-Qur’an menyampaikan tuntunan tersebut secara langsung berupa perintah dan larangan, namun ada juga yang disampaikan melalui kisah-kisah agar menarik minat pembaca dan pendengar.
Kisah-kisah atau qashas dalam Al-Qur’an merupakan sebuah upaya agar muncul rasa ingin tahu terhadap pesan-pesan yang terselip dalam sebuah ayat (Shihab, 2013). Dengan adanya rasa ingin tahu, penanaman kesan suatu peristiwa ke dalam hati pembaca menjadi lebih mudah.
Hal ini ditambah dengan adanya nasihat dan tutur kata yang disampaikan secara menarik serta bervariasi, sehingga seseorang ikut merasakan suasana cerita yang disajikan ayat demi ayat. Orang pun akan merasa senang mendengarkannya dan memperhatikan dengan rasa ingin tahu akan pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an memiliki kelebihan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kisah mana pun di dunia ini. Al-Qur’an bukanlah kitab kisah, apalagi sekadar dongeng dan kumpulan cerita belaka. Namun, Al-Qur’an memahami kodrat manusia yang cenderung lebih menyukai kisah-kisah agar mereka dapat mengambil ibrah (pelajaran) dengan mudah (Al-Qaththan, 2007).
Berikut beberapa keistimewaan kisah dalam Al-Qur’an dibanding kisah lainnya:
- Keshahihan cerita: Kejadian di dalamnya dijamin kebenarannya. Hal ini sangat membedakannya dari kisah lain yang sudah bercampur dengan dongeng dan fantasi belaka.
- Menjadi solusi: Memberikan jalan keluar bagi masalah-masalah yang dihadapi manusia karena selaras dengan fitrah.
- Mendidik jiwa: Membimbing jiwa manusia menuju kebaikan.
- Sarat nilai agama: Mengandung nilai-nilai keimanan dan akhlak.
- Menjawab logika secara ilmiah: Qashas berdialog dan menjawab logika manusia secara ilmiah karena melibatkan akal untuk selalu berpikir.
Jadi, tidak diragukan lagi bahwa kisah yang baik dan cermat akan digemari serta mudah meresap ke dalam jiwa manusia. Kehadiran semangat untuk mengikuti alur cerita mencegah timbulnya rasa bosan dan kesal.
Berbeda dengan pelajaran yang disampaikan melalui metode talqin atau ceramah—yang membutuhkan usaha ekstra untuk menarik perhatian, khususnya bagi kalangan generasi muda—metode kisah dinilai lebih efektif. Pada umumnya anak-anak menyukai cerita; ini merupakan fitrah yang seharusnya dimanfaatkan oleh para pendidik dalam dunia pendidikan (An-Nahlawi, 1995).
Dalam kisah-kisah Al-Qur’an, terdapat sarana yang dapat membantu kesuksesan para pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Mereka dapat membekali peserta didik dengan rekam jejak kehidupan para nabi, berita umat terdahulu, dan sunnatullah dalam kehidupan masyarakat pada zaman Rasulullah SAW.
Para pendidik hendaknya dapat menyuguhkan kisah-kisah Al-Qur’an dengan uslub (gaya bahasa) yang sesuai dengan tingkat nalar pelajar. Bahkan, ketika sebuah kisah disampaikan dengan cara yang tepat dan suasana yang pas, tidak hanya otak saja yang bekerja, melainkan juga kalbu dan perasaan yang turut berimajinasi mengikuti nilai-nilai alur yang dipaparkan.
Penggunaan metode cerita dalam dunia pendidikan harus memperhatikan situasi dan saat yang tepat, tentunya dengan mempertimbangkan tujuan pembelajaran tersebut. Hal ini bertujuan agar metode cerita yang digunakan tepat sasaran dan materi pembelajaran tersampaikan dengan baik.
Situasi penggunaan metode cerita dalam pendidikan di antaranya:
- Mendidik keteladanan Pendidik harus jeli melihat materi yang akan disampaikan kepada peserta didik. Apabila materi berkaitan dengan akhlak dan moral, metode ini sangat tepat digunakan. Sebab, dengan menceritakan sebuah kisah, peserta didik akan lebih terikat dan mengikuti alur pemikiran sembari membandingkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan inilah yang dapat diambil dan diterapkan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari (Ulwan, 2004).
- Menarik perhatian dan merangsang otak Kisah-kisah yang mengandung hikmah sangat efektif untuk menarik perhatian dan merangsang otak. Dengan mendengarkan cerita, peserta didik akan merasa senang sekaligus menyerap nilai-nilai Islam tanpa adanya paksaan. Hal ini juga telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW; beliau sering bercerita tentang kaum terdahulu kepada para sahabat agar mereka mengambil hikmah darinya.
- Menanamkan nilai akhlak dan emosional Metode bercerita dapat mengungkapkan peristiwa yang mengandung nilai-nilai moral, rohani, dan sosial—baik cerita tentang kebaikan maupun kezaliman. Melalui kisah, kepekaan jiwa dan perasaan peserta didik dapat tergugah, secara otomatis mendorong mereka untuk berbuat kebaikan dan membentuk akhlak mulia sebagaimana yang dicontohkan para nabi.
- Anak usia pra-sekolah Menurut Quthb (1993), cerita memiliki daya tarik yang menyentuh perasaan dan mempunyai pengaruh kuat terhadap jiwa anak pada usia dini.
- Peserta didik dengan kecerdasan verbal-linguistik Peserta didik yang memiliki kecerdasan ini cenderung memiliki kemampuan retorika bahasa atau kemampuan meyakinkan orang lain melalui serangkaian kata, serta berpotensi dalam mengingat bahasa (Gardner, 2011). Oleh karena itu, kecerdasan linguistik ini berfokus pada pengolahan kata. Dengan mendengarkan cerita, peserta didik akan mengenal kata-kata baru serta menyerap hikmah dari isi cerita tersebut.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an memuat banyak kisah masa lalu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masa kini. Kita dapat mengambil hikmah dari kisah-kisah tersebut agar kesalahan masa lalu tidak terulang kembali dan kita bisa menuju kehidupan yang lebih baik.
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an juga dapat dijadikan materi pembelajaran bagi peserta didik agar mereka lebih mudah memetik pelajaran di dalamnya. Selain materi, metode penyampaian juga sangat penting. Jika disampaikan dengan baik, peserta didik akan lebih tertarik dan lebih mudah memahami materi yang diberikan.
Oleh: Toatin Nur Aliyah, Mahasiswi Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya
Editor: Adis Setiawan
Daftar Referensi
- Al-Qaththan, M. K. (2007). Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
- An-Nahlawi, A. (1995). Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press.
- Gardner, H. (2011). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.
- Quthb, M. (1993). Sistem Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- Shihab, M. Q. (2013). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.
- Ulwan, A. N. (2004). Tarbiyaat al-Aulad fi al-Islam (Pendidikan Anak dalam Islam). Jakarta: Pustaka Amani.

