Pendidikan

Refleksi Pendidikan Nabi dan Cinta

5 Mins read

​Saya tersenyum saat pemateri itu berbicara. Bukan karena setuju, bukan pula karena menolak—tapi karena saya merasa pernah berada di situasi ini sebelumnya. Di sebuah ruang workshop KBC minggu lalu, ketika seorang pemateri menyebut bahwa pendidikan Nabi membolehkan anak usia sepuluh tahun dipukul jika meninggalkan salat, sesuatu dalam kepala saya bergerak mundur. Jauh. Ke akhir tahun 2017, ke meja belajar di semester terakhir kuliah, ke sebuah pertanyaan yang pernah hampir menjadi bahan penelitian—namun urung, terlupakan, lalu hidup kembali siang hari ini di ruangan tempat kami belajar lagi tentang arti ‘CINTA’.

​Pada tahun 2017, berita tentang guru yang dijerat pidana karena mendisiplinkan murid marak di mana-mana. UU Perlindungan Anak seolah menjadi senjata yang menakutkan, sementara hak guru dikesampingkan begitu saja. Padahal di bangku kuliah, kami diajarkan bahwa tugas guru bukan sekadar mengajar, melainkan juga mendidik. Bagi saya, mendisiplinkan siswa adalah bagian tak terpisahkan dari mendidik itu sendiri.

​Di tengah pemberitaan itu, ada perasaan sedih, pilu, miris, dan khawatir yang sulit saya ungkapkan. Bagaimanapun, saya adalah calon guru saat itu. Kelak ketika terjun ke lapangan, apa yang harus saya lakukan? Mendisiplinkan siswa yang melanggar membuat saya dihantui bayang-bayang undang-undang. Membiarkan mereka melanggar tanpa respons apa pun terasa seperti mengkhianati nurani sendiri—seolah kami mengabaikan tanggung jawab moral sebagai pendidik.

​Di tengah kekalutan itulah sebuah pertanyaan muncul: jika Nabi saja mengizinkan anak berumur sepuluh tahun dipukul ketika meninggalkan salat, mengapa dunia pendidikan modern justru melarang guru mendisiplinkan murid yang melanggar aturan sekolah?

​Hadis yang menjadi pemantik perdebatan itu diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 495):

“Perintahkanlah anak-anakmu salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun.”

 

​Kita terlalu sering membaca hadis ini secara sepotong—lalu berhenti tepat pada kata “pukullah”, seolah di sanalah inti pesannya. Padahal, justru di antara angka tujuh dan sepuluh itulah pesan terbesar Nabi tersimpan. Ada jeda tiga tahun yang kerap kita lewatkan begitu saja. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama rentang waktu tersebut, Nabi tidak memerintahkan satu bentuk hukuman pun—hanya ajakan, nasihat, dan kata-kata yang baik. Pukulan bukan titik awal mendidik; ia adalah pintu terakhir yang hanya boleh diketuk setelah semua pintu sebelumnya telah benar-benar dicoba—dengan sabar, dengan kasih, dan dengan proses waktu.

Baca...  Strategi Guru dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Alqur’an Hadis

​Dan ini bukan satu-satunya bukti. Suatu malam, saat Rasulullah sedang mengimami salat Isya, Hasan atau Husain—cucu beliau—menaiki punggungnya ketika sujud. Rasulullah tidak terburu-buru bangkit. Sujudnya diperpanjang hingga para sahabat yang menjadi makmum mulai bertanya-tanya dalam hati. Setelah salat selesai dan seorang sahabat bertanya, Rasulullah menjawab dengan tenang:

“Tidak ada apa-apa. Cucuku menunggangiku, dan aku tidak ingin terburu-buru sampai dia puas bermain.” (HR. Ahmad no. 16089, dari Abu Hurairah RA).

 

​Andaikan Rasulullah membentak cucunya saat itu, anak tersebut mungkin akan seumur hidup mengasosiasikan salat dengan ketakutan. Nabi memilih jalan sebaliknya—membiarkan anak merasakan bahwa ibadah adalah ruang yang aman, bukan ancaman.

​Ada pula perkataan Ali bin Abi Thalib yang populer—meski sebagian ulama memperdebatkan keabsahan penyandarannya—yang berbunyi: “Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Terlepas dari perdebatan riwayat tersebut, maknanya tetap relevan untuk kita renungkan: bahwa pendidikan bukan tentang menundukkan, melainkan tentang menyesuaikan diri dengan siapa yang sedang kita hadapi.

​Semakin saya mendalami, semakin saya menyadari satu hal: Rasulullah sebenarnya adalah guru KBC pertama dalam sejarah—jauh sebelum istilah itu ada.

​Ada satu kisah sederhana, namun begitu dalam. Seorang Arab Badui masuk ke masjid dan kencing di salah satu sudutnya. Para sahabat geram dan ingin segera menghentikannya. Namun Rasulullah mencegah mereka—membiarkan orang itu menyelesaikan hajatnya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah beliau menjelaskan dengan lembut bahwa masjid bukan tempat untuk hal tersebut. Orang Badui itu menerima penjelasan tersebut dengan lapang dada, bahkan penuh rasa kagum. Rasulullah kemudian berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda:

“Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan, bukan untuk menimbulkan kesusahan.” (HR. Bukhari no. 220).

 

​Sikap para sahabat yang geram adalah cermin jujur dari diri kita sendiri sebagai guru—cermin dari kita yang kadang lebih cepat bereaksi daripada berpikir ketika berhadapan dengan murid yang “bandel”. Sementara respons Rasulullah adalah cermin kematangan pendidik yang ingin kita raih.

​Ada pula kisah ketika Rasulullah sedang berkhotbah, lalu Hasan dan Husain berlarian di antara shaf hingga jatuh tergelincir. Beliau turun dari mimbar, menggendong keduanya, lalu melanjutkan khotbahnya (HR. Ahmad no. 22941, Abu Dawud no. 1109, Tirmidzi no. 3774, dan Nasa’i no. 1413, dari Buraidah RA). Dari satu tindakan sederhana itu, dua pelajaran hadir sekaligus: bagaimana memperlakukan anak-anak di ruang ibadah, dan bagaimana menciptakan suasana yang membuat mereka merasa aman, bukan takut. Ruang kelas pun seharusnya demikian.

Baca...  Konsep Pendidikan Ibnu Sina Tentang Tujuan Pendidikan, Kurikulum, dan Metode Pembelajaran

​Allah SWT sendiri mengingatkan dalam firman-Nya:

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (QS. Ali ‘Imran: 159).

 

​Ayat ini turun setelah peristiwa kekalahan di Perang Uhud—sebuah momen di mana emosi dan amarah paling mudah meluap. Namun tegasan Al-Qur’an jelas: kekerasan tidak pernah mendidik; ia hanya mengusir.

​Ketika Rasulullah perlu menegur, beliau tidak menunjuk atau menyebut nama orangnya di depan umum. Beliau menyampaikan teguran secara umum atau memanggil orang yang bersangkutan secara pribadi. Imam Asy-Syafi’i kemudian mewarisi prinsip luhur ini:

“Barang siapa menasihati saudaranya secara rahasia (diam-diam), ia telah benar-benar menasihatinya. Barang siapa menasihati di depan umum, ia telah mempermalukannya.” (Disitir oleh Al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim).

 

​Menegur murid di depan seluruh kelas dengan nada tinggi dan menyebut namanya terang-terangan bukanlah bentuk pendidikan. Itu adalah bentuk tindakan mempermalukan.

​Sebenarnya kita tidak pernah kekurangan ilmu tentang pendidikan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita sudah bisa menilai—mana guru yang kita rindukan, dan mana yang kita hindari. Itu saja sudah menjadi bekal yang cukup. Dari cara orang tua mendidik kita, dari pengalaman menjadi murid bertahun-tahun, kita sudah tahu seperti apa rasanya guru yang baik itu—di kulit, di hati, dan di ingatan yang bertahan hingga puluhan tahun.

​Masalahnya bukan terletak pada ketersediaan ilmu, melainkan pada jarak antara tahu dan melakoni. Ketika emosi datang, kelas gaduh, dan tanggung jawab administratif menumpuk, tiba-tiba semua yang kita pahami tentang kelembutan tenggelam. Ilmu itu tidak hilang; ia hanya terkubur sementara di balik kelelahan dan tekanan. Di situlah tantangan sesungguhnya menjadi seorang pendidik: bukan sekadar menguasai teori, melainkan menjaga agar teori itu tetap bernyawa di tengah hari-hari yang tidak selalu mudah.

​Pada akhirnya, esai ini bukan tentang Rasulullah versus KBC. Bukan pula tentang siapa yang paling benar dalam perdebatan di ruang workshop itu. Esai ini adalah sebuah cermin—dan apa yang saya lihat di dalamnya tidak selalu menyenangkan.

Baca...  Menemukan Cahaya: Kisah Inspiratif Belajar Alqur'an dan Hadis

​Saya masih jauh dari gambaran guru ideal yang saya bayangkan. Kelelahan masih sering menang atas kesabaran. Emosi kadang masih lebih cepat berbicara daripada akal sehat. Refleksi hanya datang di awal tahun ajaran, lalu perlahan tenggelam bersama tumpukan tanggung jawab yang terasa makin berat setiap harinya. Tujuan mulia yang dulu membawa saya masuk ke dunia pendidikan kadang terasa seperti bisikan suara yang kian menjauh.

​Namun, mungkin itulah gunanya kisah-kisah luhur itu ada. Kisah Rasulullah yang memperlama sujudnya bukan karena beliau tidak paham aturan salat, melainkan karena memilih cinta di atas kebiasaan. Kisah tentang jeda tiga tahun yang penuh dengan nasihat sebelum diterapkannya sebuah konsekuensi. Kisah tentang sosok guru utama yang diutus untuk memberi kemudahan, bukan kesusahan.

​Kisah-kisah itu bukanlah standar yang hadir untuk menghakimi. Mereka adalah kompas—menunjuk arah untuk hari-hari ketika kita mulai lupa ke mana sebenarnya kita hendak pergi.

​Dan mungkin, pertanyaan terpenting untuk kita tanyakan pada diri sendiri hari ini bukanlah “sudahkah saya menjadi guru yang baik?”—melainkan “apakah hari ini saya masih mau terus mencoba?”

Soppeng, 2–3 Mei 2026

Catatan Penulis

​Esai ini ditulis sebagai refleksi pribadi seorang guru. Semua kisah dan riwayat yang dikutip disarikan dari literatur hadis dan tafsir klasik yang kredibel. Tulisan ini sekaligus dipersembahkan sebagai kado Hari Pendidikan Nasional untuk diri sendiri—sebagai pengingat dan penguat langkah dalam mengemban amanah mendidik.

Referensi 

  1. QS. Ali ‘Imran: 159 (Prinsip kelembutan dalam berdakwah dan mendidik).
  2. HR. Abu Dawud (No. 495) (Hadis rentang usia perlakuan salat anak).
  3. HR. Bukhari (No. 220) (Kisah Arab Badui & pesan kemudahan dalam mengajar).
  4. HR. Ahmad (No. 16089) (Kisah Rasulullah memperlama sujud saat ditunggangi cucunya).
  5. HR. Ahmad (No. 22941), Abu Dawud (No. 1109), Tirmidzi (No. 3774), Nasa’i (No. 1413) (Kisah Rasulullah merangkul cucunya saat khotbah).
  6. Al-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Syarah Shahih Muslim (Kutipan Imam Asy-Syafi’i terkait etika menasihati).
  7. Atsar Ali bin Abi Thalib RA (“Didiklah anakmu sesuai zamannya…”).
1 posts

About author
Guru Matematika MTs S PP Al Wahid
Articles
Related posts
EsaiPendidikanTokoh

Kepemimpinan Profetik dan Etika Sosial Guru Umar Hosnol

6 Mins read
Di tengah lanskap kepemimpinan modern yang kian terfragmentasi oleh kepentingan pragmatis dan transaksional, masyarakat sering kali kehilangan kompas moral untuk menentukan arah…
EsaiPendidikanTokoh

Sang Pendidik dari Lereng Gambu-Gambu: Membaca Kepemimpinan Kultural dan Spiritualitas Ekologis Guru Umar Hosnol

10 Mins read
Dalam lanskap pemikiran filsafat kebudayaan dan sosiologi agama, figur kepemimpinan keagamaan acapkali terjebak dalam dikotomi eksklusif: antara otoritas tekstual yang elitis di…
EsaiPendidikanTokoh

Lentera di Tepian Negeri: Filantropi Pendidikan dan Dedikasi Kemanusiaan Guru Umar Hosnol

8 Mins read
Sudah mafhum bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan instrumen paling fundamental dalam upaya pembebasan manusia dari belenggu kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Sebagai sebuah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *