Artikel

Nabi Ibrahim Sang Pencari Tuhan Sejati

3 Mins read


Penulis: Dina Elwarda*

KULIAHALISLAM.COM – Bapak para nabi sudah menjadi julukan untuk Nabi Ibrahim, hal ini dikarenakan banyak para nabi yang berasal dari anak turun Nabi Ibrahim.(Iqbal Harahap, 2014) Bahkan Nabi Muhammad SAW jika di lihat nasabnya menyambung sampai ke Nabi Ibrahim.(Rizem Aizid, 2018)

Pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim merupakan kisah yang menarik, karena ini merupakan cikal bakal adanya agama samawi (agama wahyu) seperti Islam, Yahudi, dan Kristen.(Nur Media Publishing) Karena itu pula nabi Ibrahim di juluki sebagai bapak agama samawi.

Masa Kecil Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim lahir dari keluarga pengerajin patung, namun dengan begitu Nabi Ibrahim tidak terpengaruh untuk menyembah patung-patung tersebut karena dia tau bahwa yang membuat patung adalah ayahnya sendiri. Nabi Ibrahim juga memperdagangkan patung patung tersebut meski dengan hati yang tidak tulus dan tidak ikhlas. Nabi Ibrahim menjual patung-patung tersebut hanya untuk bentuk pengabdian kepada orang tuanya saja, bahkan Nabi Ibrahim menjual patung-patung tersebut dengan kalimat yang mengejek.

“Siapa yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini?”

“Ayo! Ayo! Siapa yang mau membeli patung jelek ini? Patung, patung, siapa yang mau beli”(Ajen Dianawati, 2004)

Masyarakat Babilonia sangat kesal kepada nabi Ibrahim dikarenakan merasa nabi Ibrahim telah mengejek Tuhan mereka, meski begitu nabi Ibrahim tidak di hukum karena masyarakat Babilonia menganggap bahwa itu hanya sekedar gurauan anak kecil. Namun tidak ada yang tahu bahwa gurauan itu terucap dari mulut calon seorang nabi.

Perjalanan Nabi Ibrahim Mencari Tuhan

Berawal dari rasa kebingungan Nabi Ibrahim terhadap masyarakat Babilonia yang menyembah berhala, padahal berhala adalah ciptaan manusia (ayahnya). Dari rasa kebingungan inilah Nabi Ibrahim mulai penasaran akan Tuhan yang sejati. Kemudian Nabi Ibrahim melakukan hal yang dianggap gila oleh masyarakat Babilonia dikarenakan melakukan hal yang di luar nalar yaitu mencari Tuhan sejati.

Baca...  Budaya Moderasi Cerminan IMM Jawa Tengah Berkebudayaan

Pencariaan Tuhan sejati yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim merupakan hal yang baru menurut masyarakat pada saat itu dikarenakan belum ada manusia sebelumnya yang mencari keberadaan Tuhan sejati. Metode yang dilakukan Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan sejati adalah metode observasi.

Awalnya Nabi Ibrahim menggap benda-benda adalah Tuhan, namun ada rasa ketidakpuasan yang di rasakan oleh nabi Ibrahim, karena Nabi Ibrahim merasa itu bukan Tuhan yang sejati. Nabi Ibrahim juga sempat menyangka benda-benda di angkasa adalah Tuhan, berawal dari bintang, bulan dan matahari.

Berawal dari menganggap bintang adalah Tuhan, dikarenakan bintang dapat bercahaya dengan sangat indah dan menerangi bumi pada malam hari sehingga Nabi Ibrahim menyimpulkan “inilah Tuhanku.” tetapi setelah itu bintang redup dan menghilang, lalu nabi Ibrahim berkata dalam hati “Tuhanku tidak mungkin terbenam, sesuatu (bintang) yang dapat terbenam bukanlah Tuhan sejati. Aku tidak suka pada sesuatu yang terbenam.” (Rizem Aizid, 2018)

Kemudian muncullah bulan yang sinarnya lebih terang dibandingkan bintang, lalu terbesit dalam pikiran nabi Ibrahim “inilah Tuhanku.”, namun setelah itu nabi Ibrahim kecewa untuk yang kedua kalinya karena melihat bulan terbenam, dan Nabi Ibrahim berkata dalam hati “aku tidak suka pada yang terbenam, ia bukan Tuhanku.”

Meskipun telah dikecewakan dua kali berturut-turut tidak meruntuhkan niat nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan sejati, hingga muncullah benda angkasa yang ketiga yaitu matahari. Nabi Ibrahim di buat takjub oleh sinarnya yang terang benderang yang dapat menerangi bumi dan cahayanya dapat menghangatkan bumi. 

Hingga muncullah anggapan bahwa matahari adalah Tuhan sejati, dan terbesit lagi dalam benak nabi Ibrahim bahwa “inilah Tuhanku.”, namun lagi dan lagi anggapan nabi Ibrahim tentang matahari adalah Tuhan terpatahkan ketika melihat matahari terbenam, lalu Nabi Ibrahim berkata dalam hati “tidak mungkin itu Tuhanku. Aku tidak suka pada sesuatu yang terbenam. Dan sesuatu yang terbenam bukan Tuhan.”

Baca...  Mengikuti Jejak Ulama: Penerapan Kearifan dalam Kehidupan Modern

Menemukan Tuhan Sejati

Untuk yang terakhir kali nabi Ibrahim tidak menggunakan argumentasi-argumentasi seperti di atas karena menganggap bahwa benda-benda angkasa yang indah itu hanya sekadar ciptaan bukan Sang Pencipta.(Syihabuddin Qalyubi, 2009). Melalui pendekatan observasi dan empiris, Nabi Ibrahim akhirnya menemukan Tuhan yang tidak di buat oleh ayahnya dan tidak pula di sembah oleh kaumnya, tidak terbenam dan tidak pula hilang. 

Tuhan yang tidak di ciptakan tetapi yang menciptakan. Tuhan yang tidak digerakkan tetapi yang menggerakkan; the unmove mover-Aristoteles. Tuhan sejati adalah Tuhan yang menciptakan bumi, bintang, bulan, dan matahari.

Akhirnya Nabi Ibrahim berkeyakinan bahwa Tuhan tidak berbentuk seperti ciptaannya, Nabi Ibrahim menyimpulkan bahwa Tuhan sejati adalah Sang Pencipta yang tidak bisa di nalar oleh akal dan wujudnya tidak bisa dilihat oleh indera. Dengan begitu Nabi Ibrahim menghadapkan dirinya dan berserah diri dengan setulus hati kepada-Nya, ini pun yang dinamankan keIslaman nabi Ibrahim. Seperti definisinya, Islam adalah pasrah dan berserah diri.(Rizem Aizid, 2018)

*) Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
2572 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
Artikel

Panduan Lengkap Memilih Travel Umroh Terbaik: Wujudkan Ibadah Nyaman, Aman, dan Mabrur

4 Mins read
Menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci adalah impian setiap umat Muslim. Perjalanan spiritual ini bukan sekadar liburan, melainkan momen sakral untuk mendekatkan…
Artikel

Aturan Pemilu 2029 Berubah, Pengamat: Politik Uang Masih Jadi Ancaman

1 Mins read
BEKASI – Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI bersama Komisi II DPR RI menggelar Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan di Hotel Holiday Inn, Cikarang,…
Artikel

Matematika dalam Al-Qur’an: Rahasia Penjumlahan di Surah Al-Kahf 25

3 Mins read
Pendahuluan ​Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Pendidikan memiliki dua bentuk, yaitu akademik dan non-akademik. Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *