- Artikel ini membahas terkait perjuangan ulama dan santri
Peran ulama dan santri dalam sejarah dan perkembangan Indonesia memiliki nilai yang sangat penting dan strategis. Sejak masa penjajahan hingga era kemerdekaan, ulama dan santri tidak hanya berperan sebagai penyebar agama, tetapi juga sebagai penggerak perjuangan melawan kolonialisme.
Mereka turut serta dalam membangun kesadaran nasionalisme melalui pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang berfokus pada pembentukan moral dan etika kebangsaan. Ulama dan santri berperan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman yang menghargai persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan yang menjadi fondasi dari berdirinya negara Indonesia.
Dari sekian penjajah yang datang menjajah Indonesia, salah satunya adalah belanda. Pada sa’at itu kekuatan Nahdhatul Ulama mulai terlihat yang mana segelintir kelompok melawan dengan kekerasan, Nahdhatul Ulama yang pertama kali melawan dengan kebudayaan sebagaimana Wali Songo menyebarkan Islam di Indonesia.
Nahdlatul Ulama tidak melawan dengan kekerasan akan tetapi dengan kebudayaan sesuai dengan keyakinan Nahdhatul Ulama bahwa “ siapa pun yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut”. maka dapat di ambil kesimpulan bahwa siapa yang menyerupai belanda maka dia bagian dari belanda.(1)
Perlawanan yang di lakukan Nahdhatul Ulama ini sangat luar biasa dan itu bisa kita lihat dari implementasi firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Imran: 104
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Terjemahan
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Ali ‘Imran Ayat 104
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kaum mukmin untuk mengajak orang lain pada kebaikan, mengajarkan perbuatan baik, dan mencegah perbuatan buruk. Sebagian dari mereka hendaknya terus-menerus menyeru pada kebajikan dengan mengamalkan petunjuk Allah, mengajak pada akhlak yang luhur dan adat yang sesuai dengan nilai agama, serta melarang hal-hal yang dipandang buruk oleh akal sehat.
Mereka yang mengamalkan ketiga hal tersebut memiliki kedudukan mulia di sisi Allah dan akan mendapat keberuntungan di dunia dan akhirat. Kaum mukmin diingatkan untuk tidak berpecah belah seperti Yahudi dan Nasrani yang saling berselisih setelah menerima kebenaran. Mereka yang terpecah karena kepentingan kelompok akan mengalami kesengsaraan dan azab yang berat di hari kiamat.(2)
Salah satu bukti yang kongkrit pergerakan yang dilakukan oleh Nahdhatul Ulama dan Santri melawan kolonialisme Belanda dari segi budaya adalah style. Dimana para bangsa Belanda memakai jas, santri tetap memakai baju koko. Belanda memakai celana, santri menggunakan sarung.
Belanda memakai topi, santri memakai peci dan ketika belanda memakai sepatu, santri memakai sandal. Itulah salah satu perlawanan yang dilakukan Nahdhatul Ulama dari sisi budaya.
Di satu sisi, K.H. Wachid Hasjim adalah salah satu ulama yang konsisten berjuang di bidang kenegaraan. Beliau menjabat sebagai Menteri Agama pada 1950-1952, ketika ada upaya dari sekelompok orang untuk menghapuskan Departemen Agama. Meskipun demikian, beliau tetap berusaha mempertahankannya.
K.H. Wachid Hasjim menegaskan bahwa pemerintah Republik Indonesia memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terkait agama sesuai dengan prinsip Pancasila.(3) Beliau juga menyatakan bahwa pemisahan agama dan negara hanyalah konsep teori yang belum pernah diterapkan sepenuhnya di negara mana pun, kecuali negara yang menganut paham ateis. Inilah sedikit kisah perjuangan para Ulama dan Santri di Indonesia.
Referensi:
1. K.H. Ahmad Muwafiq, Islam rahmatan lil alamin, (al-Barokah, Yogyakarta: 2019), hal. 190
2. https://tafsirweb.com/1236-surat-ali-imran-ayat-104.html
3. Ahmad Mansur Suryanegara, API Sejarah 2, cet, IV, (Penerbit Salamdani, Mei 2012), hal. 339