Menurut perspektif Al-Qur’an, Hawa yang diidentifikasi sebagai perempuan pertama, tidaklah diciptakan dari tulang rusuk kiri Adam yang paling bengkok. Pandangan yang menyebutkan asal usul tersebut umumnya bersumber dari mufasir terdahulu yang merujuk pada riwayat Israiliyat (matan ahlul kitab).
Sebaliknya, penciptaan perempuan tidak berasal dari bagian tubuh laki-laki, melainkan diciptakan dari asal (substansi) yang sama. Oleh karena itu, sangat tidak bijak jika narasi penciptaan ini dijadikan alasan untuk menempatkan perempuan di bawah laki-laki (subordinasi).
Al-Qur’an menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dari entitas yang sama. Perbedaan jenis kelamin bukanlah tanda perbedaan kelas atau prioritas. Perbedaan tersebut justru bertujuan menciptakan hubungan yang saling melengkapi sebagai mitra (azwaj) yang harmonis.
Kesetaraan Asal-Usul Manusia
Dalam hal-hal yang berkaitan dengan asal-usul, proses reproduksi, dan tujuan eksistensi, Al-Qur’an tidak menarik garis pemisah yang kaku antara laki-laki dan perempuan.
Perbedaan biologis yang meliputi struktur anatomi dan organ reproduksi merupakan wujud komitmen Tuhan dalam menciptakan kosmos secara berpasangan. Tujuannya jelas, yaitu agar proses regenerasi manusia dapat berjalan lancar.
Perbedaan ini sama sekali tidak dapat dijadikan dasar diskriminasi. Sebaliknya, hal ini harus dipandang sebagai keniscayaan untuk menciptakan hubungan saling ketergantungan (interdependensi) di antara dua jenis manusia tersebut.
Adam Sebagai Khalifah Pertama
Mengenal asal-usul kejadian manusia, hampir semua kitab tafsir menjelaskan bahwa manusia pertama adalah Adam A.S. Ia diyakini sebagai nenek moyang seluruh umat manusia.
Al-Qur’an mendeskripsikan momen ketika Allah menyatakan keinginan-Nya menjadikan khalifah di bumi. Saat itu, para malaikat mengajukan “keberatan”. Mereka bertanya: “Apakah Engkau akan menjadikan makhluk yang akan melakukan kerusakan dan pertumpahan darah di dalamnya?”
Sebagian ulama menyepakati bahwa ayat ini menjelaskan penciptaan Adam sebagai khalifah (manusia pertama) di dunia. Pandangan ini didasarkan pada penjelasan ayat selanjutnya, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 31.
Di sisi lain, sebagian ulama memahami bahwa ayat tersebut menegaskan kelebihan Adam dibanding makhluk lainnya (malaikat dan iblis). Adam diberikan ilmu untuk mengetahui segala sesuatu, mulai dari yang mikro hingga makro, yang tidak diketahui oleh malaikat.
Terkait Hawa, jika diasumsikan ia diciptakan setelah Adam, maka penggunaan kata “min” (dari) dalam ayat penciptaan sering disalahartikan. Kata “min” di sini lebih tepat berfungsi sebagai ibtida’ al-gayah (permulaan bentuk), yang berarti perempuan diciptakan dari “jenis” yang sama, bukan dari “potongan tubuh” Adam.
Terminologi Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an
Di dalam Al-Qur’an, istilah penciptaan manusia direpresentasikan lewat kosakata yang beragam. Berikut adalah lima istilah utamanya:
1. Al-Ma’ (Air)
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Al-Ma’ bermakna air. Nazwar Syamsu dalam bukunya Al-Qur’an tentang Al-Insan, menerjemahkan Al-Ma’ sebagai hidrogen. Hal ini terdapat pada QS. Al-Furqan [25]: 54:
“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”
Dan QS. Al-Anbiya’ [21]: 30:
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
2. Al-Nafs (Jiwa/Diri)
Kata ini muncul dalam bentuk tunggal (Al-Nafs) maupun jamak (Al-Anfus). Contohnya terdapat dalam QS. An-Nisa [4]: 1:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri (nafs wahidah), dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…”
Serta QS. Al-A’raf [7]: 189.
3. Al-Tin (Tanah/Lempung)
Bermakna tanah, namun Nazwar Syamsu juga mengartikannya dengan unsur meteor. Disebutkan dalam QS. Al-Mu’minun [23]: 12:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
Juga terdapat dalam QS. Al-Sajdah [32]: 7 dan QS. Sad [38]: 76.
4. Al-Turab (Debu Tanah)
Artinya tanah atau debu, sedangkan menurut Nazwar Syamsu berarti sari tanah. Terdapat pada QS. Ali Imran [3]: 59:
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia.”
Juga terdapat dalam QS. Al-Waqiah [56]: 47.
5. Nutfah (Sperma)
Memiliki arti setetes mani atau sperma. Terdapat dalam QS. Al-Kahfi [18]: 37 dan QS. Fatir [35]: 11:
“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan)…”
Empat Konsep Penciptaan Menurut Ibnu Katsir
Sementara itu, Ibnu Katsir membagi penciptaan perempuan dan manusia secara umum menjadi empat kategori konsep:
- Penciptaan Adam: Tercipta dari tanah, tanpa perantara laki-laki maupun perempuan.
- Penciptaan Hawa: Tercipta melalui laki-laki (Adam) tanpa perantara perempuan (rahim ibu).
- Penciptaan Isa A.S: Tercipta melalui perempuan (Maryam) dengan proses kehamilan tanpa campur tangan laki-laki, baik secara hukum maupun biologis.
- Penciptaan Manusia Umum: Tercipta melalui proses kehamilan dengan adanya ayah dan ibu secara biologis.
Dari kelima terminologi dan empat konsep di atas, hanya asal-usul Hawa yang mekanismenya sering diperdebatkan. Namun, konsep penciptaan Hawa dalam Al-Qur’an sejatinya lebih kuat mengacu pada kata nafs (diri/jiwa).
Hal ini merujuk pada tiga ayat kunci yaitu QS. An-Nisa’ [4]: 1, QS. Al-A’raf [7]: 189, dan QS. Az-Zumar [39]: 6. Ketiga ayat tersebut menggunakan frasa nafsin wahidah (diri yang satu), minha (darinya/jenisnya), dan zaujaha (pasangannya). Inilah landasan bahwa perempuan diciptakan setara secara substansi dengan laki-laki.

