KeislamanSejarah

Kebohongan Barat Terhadap Penemuan Bahtera Nabi Nuh di Gunung Ararat

3 Mins read

Nabi Nuh lahir 126 tahun setelah Nabi Adam wafat, demikian menurut Ibnu Jarir. Nabi Nuh diangkat menjadi rasul saat beliau berusia 480 tahun, menurut Ibnu Abbas. Allah menyebutkan kisah Nabi Nuh dan kaumnya dalam Al-Qur’an. Allah juga menceritakan azab berupa badai topan dan banjir besar yang diturunkan kepada kaum Nabi Nuh.

​Begitu juga Allah menceritakan dalam firman-Nya bagaimana menyelamatkan Nabi Nuh dan para pengikutnya yang menumpang kapal bersama. Kisah tersebut terdapat di dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf, Q.S. Yunus, Q.S. Hud, Q.S. Al-Anbiya, Q.S. Al-Mu’minun, Q.S. Asy-Syu’ara, Q.S. Al-Ankabut, As-Saffat, dan Q.S. Al-Qamar. Bahkan, Nuh ditetapkan sebagai salah satu surah utuh dalam Al-Qur’an.

​Nabi Nuh dalam Versi Al-Qur’an dan Taurat

​Dalam buku yang ditulis Ibnu Katsir berjudul Sejarah Para Nabi, dijelaskan bahwa Nabi Nuh diperintahkan Allah untuk membangun sebuah bahtera. Muhammad ibnu Ishaq berkata dari Ats-Tsauri, “Kapal terbuat dari kayu jati.” Sementara itu, dalam kitab Taurat disebutkan bahwa kapal Nabi Nuh terbuat dari pohon sanobar.

​Imam Hasan Al-Basri berkata panjang kapal itu 600 hasta dengan lebar 300 hasta. Tinggi kapal itu 30 hasta dan bertingkat 3 lantai: lantai dasar untuk menampung berbagai jenis binatang, lantai tengah untuk orang-orang, dan lantai ketiga untuk menampung burung-burung.

​Allah memerintahkan Nabi Nuh setelah pembuatan kapal selesai untuk mengangkut semua jenis tanaman, semua jenis makhluk, dan semua pengikutnya. Jenis burung pertama yang masuk ke kapal adalah burung kakatua, sementara hewan yang pertama masuk adalah keledai.

​Kemudian, terjadilah banjir besar di permukaan bumi yang airnya keluar dari India (menurut pendapat Ibnu Abbas). Pada saat berada di kapal, hewan tikus memakan persediaan bahan makanan, sehingga Allah mengilhamkan kepada singa untuk bersin hingga keluarlah kucing. Sementara itu, jumlah orang yang berada di kapal hanya 80 orang menurut Ibnu Abbas.

Baca...  Warisan Aset Digital: Hukum E-Wallet dan Kripto dalam Fiqih Muamalah

​Imam Qatadah berkata Nabi Nuh dan para pengikutnya mulai naik kapal pada hari kesepuluh bulan Rajab dan berlayar mengarungi air selama 150 hari hingga kapal itu berlabuh di Gunung Al-Judi selama satu bulan.

​Tempat Berlabuh Kapal Nabi Nuh

​Tempat perahu itu berhenti menurut Al-Qur’an adalah di Bukit Judi, sedangkan menurut Alkitab Kitab Kejadian, tempat perahu itu berhenti adalah di Pegunungan Ararat. Dr. Maurice Bucaille dalam tulisannya, Al-Qur’an, Bible, dan Sains Modern, menyatakan bahwa “Gunung Judi ini adalah puncak pegunungan Ararat di Armenia, tetapi tidak dapat menjamin bahwa tidak ada perubahan nama untuk menyesuaikan antara riwayat itu sebab banyak nama tempat ‘Judi’ di Arab.”

​Muhammad Isa Daud dari Mesir dalam karyanya, Al-Lazina Sakanu al-Ardha Qablana, terbitan Pustaka Hidayah mengungkapkan adanya pembodohan penemuan bahtera Nuh yang dilakukan sejumlah ilmuwan.

​Pada saat itu, seorang ilmuwan Amerika bernama John Leiby mengatakan kepada para arkeolog senior bahwa dia bermimpi tentang tempat yang dalam yang merupakan lokasi terdamparnya kapal Nabi Nuh. Setelah bermimpi, ia berkeliling di sekitar Gunung Ararat untuk mencarinya, tetapi pencariannya gagal karena beruang-beruang mengusirnya.

​Pada tahun 1969, ia melakukan pendakian ketujuh kalinya di Gunung Ararat, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Walau begitu, ia tetap yakin bahwa bahtera Nabi Nuh ada di sana. Gunung Ararat merupakan gunung dengan ketinggian 4.267 meter di atas lembah di Turki. Puncaknya diselimuti es dan salju. Apakah Al-Judi itu Ararat? Masalah ini masih dalam penelitian.

​Seorang peneliti, Christian Herald, mengakui bahwa seluruh ekspedisi pencarian bahtera Nuh kira-kira sejak Perang Dunia Kedua di Gunung Ararat merupakan ekspedisi yang dirancang dan didanai Barat dengan harapan memberikan keabsahan Alkitab. George Jefferson Green berada dalam helikopter yang berputar di atas Gunung Ararat dan menemukan suatu benda asing di atas gunung itu.

Baca...  Setitik Nila Kebaikan, Fondasi Perubahan Besar Peradaban

​Maka, dia mengitarinya pada ketinggian kurang dari 30 meter. Dia mengambil sejumlah gambar fotografi. Ia menegaskan dengan yakin bahwa benda itu besar, dan ia menyaksikan pada bagian bawah batu yang menjulang tinggi itu seluruhnya tertutup es dan puing-puing dengan garis-garis sejajar berupa lembaran papan yang mirip dengan bentuk kapal.

​Yang lebih aneh lagi, terdapat 30 orang saksi yang masing-masing bersaksi bahwa mereka melihat enam buah foto yang jelas dan besar di tangan George Jefferson Green. Salah seorang dari mereka menggambarkan dengan kemampuannya melalui gambar. Dia membuat sketsa dari gambar terpenting yang dia lihat, tentu dengan khayalannya.

​Gambar itu menampakkan suatu bentuk persegi besar di tepi bagian bawah batu yang menjulang tinggi, yang seluruhnya tertutup es dan puing-puing. Namun, foto-foto dari 30 saksi itu disebutkan hilang dari tangan George Jefferson Green. Seorang peneliti Amerika, Gordon Gaskill, mengakui bahwa hingga kini tidak ada bekas-bekas dari foto-foto Green yang tak terhingga nilainya itu.

​Pada tahun 1955, Fernand Navarra dari Prancis yang tidak diketahui agamanya mengaku bahwa akhirnya ia menemukan sekumpulan potongan kayu yang ditemukan pendaki di Gunung Ararat. Seorang penguji dari Spanyol, kantor Masonry, melakukan pengujian terhadap kayu-kayu itu.

​Ia menentukan umur kayu itu kira-kira 5.000 tahun. Ia berkesimpulan bahwa umur kayu itu sesuai dengan masa Nabi Nuh. Namun, kayu-kayu tersebut diteliti lebih lanjut di Inggris dan Amerika Serikat. Setelah dilakukan penelitian, lalu diumumkan bahwa potongan kayu itu benar berasal dari masa lalu, tetapi potongan kayu itu berumur tidak kurang dari 1.400 tahun dan tidak lebih dari 1.200 tahun yang lalu. Bagaimanapun, keduanya dibuat pada masa setelah kelahiran Nabi Isa Al-Masih.

Baca...  Gerakan Dakwah dan Bisnis Darul Arqam di Malaysia

​Barat menyebarkan rahasia yang menakutkan bahwa kapal Nabi Nuh itu ada di atas Gunung Ararat. Mereka mengklaim melihat sendiri dan menyentuh bagian-bagiannya dengan tangan mereka. Arkeolog Inggris bernama Mike Pitt mengatakan bahwa para penjelajah Injil belum menghasilkan bukti konklusif tentang bahtera Nuh.

​Kitab Kejadian sendiri tidak pernah merinci secara spesifik di wilayah mana bahtera Nuh berlabuh. Dalam Islam sendiri, para ulama berbeda pendapat tentang di mana sesungguhnya kapal Nabi Nuh berlabuh. Letak pasti keberadaan bahtera Nuh masih menjadi misteri yang saat ini hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

262 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Pendidikan Karakter Siswa Melalui Peristiwa Pemindahan Hajar Aswad

6 Mins read
​PENDAHULUAN ​A. Latar Belakang dan Problem Pembelajaran Sejarah ​Dalam praktik pendidikan saat ini, pengajaran mengenai Sirah Nabawiyah dan sejarah Islam sering kali…
KeislamanPendidikan

Perjanjian Hudaibiyah & Nalar Kritis Pembelajaran SKI SD/MI

5 Mins read
​Pernahkah kita menganggap sebuah keputusan sebagai kekalahan hanya karena hasilnya tidak sesuai harapan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menilai sesuatu berdasarkan apa…
KeislamanPendidikan

Peran Sejarah Kebudayaan Islam dalam Pendidikan Karakter Anak

5 Mins read
​Ada sebuah pertanyaan besar yang diam-diam menghantui para orang tua dan pendidik di era digital ini: siapa yang menjadi pahlawan atau panutan…

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *