KeislamanSejarah

Jejak Langkah Ormas Islam yang Menghormati Perbedaan dan Menjunjung Tinggi Persamaan

3 Mins read

​Penulis: Rahmadani Nur Fajriyah*

​Ormas Islam di Indonesia: Sejarah, Peran, dan Toleransi

​Apa itu Ormas Islam? Apa saja Ormas Islam terbesar di Indonesia? Bagaimana asal-usul terbentuknya Ormas Islam? Apa saja peran Ormas Islam? Bagaimana cara Ormas Islam menyikapi perbedaan dan menjunjung tinggi persamaan?

​Indonesia adalah salah satu negara muslim terbesar di dunia yang memiliki peran penting dalam dunia Islam. Indonesia juga berperan sebagai kekuatan baru di dunia yang didukung oleh realitas sejarah, salah satunya dibuktikan melalui kemunculan Ormas (Organisasi Kemasyarakatan) Islam. Ormas Islam sangat berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia karena keberadaannya sudah ada sejak sebelum masa kemerdekaan.

​Pengertian Ormas Islam

​Ormas adalah singkatan dari Organisasi Kemasyarakatan, sedangkan Ormas Islam adalah organisasi berbasis massa yang dibentuk atas dasar kesepakatan bersama dengan tujuan memperjuangkan serta membela Islam sesuai ajaran Al-Qur’an dan Hadis (As-Sunnah), sekaligus memajukan umat Islam dalam berbagai bidang, seperti agama, pendidikan, sosial, dan budaya.

​Peran Ormas Islam Terbesar di Indonesia

​Di Indonesia, terdapat dua Ormas Islam terbesar, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Kedua Ormas Islam ini sangat berperan sebagai penggerak negeri. Meskipun terdapat banyak Ormas Islam di Indonesia, hanya dua yang umum diakui sebagai yang terbesar. Hal ini bukan bermaksud mengecilkan ormas lain, melainkan karena sejarah mencatat bahwa kedua Ormas tersebut memiliki sumbangsih yang sangat besar bagi bangsa.

​Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah adalah dua Ormas Islam yang didirikan sebelum kemerdekaan—selain Persis dan Al-Irsyad. Keduanya turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Walaupun memiliki banyak perbedaan pemikiran yang hingga saat ini masih didiskusikan oleh para ulama kontemporer, para tokoh dan ulama dari kedua ormas ini tetap mampu menjunjung tinggi persamaan. Hal ini menjadi cerminan dari semboyan bangsa Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Baca...  Hak (Milk) Milik Harta dalam Islam

​Sejarah Berdirinya NU dan Muhammadiyah

​Nahdlatul Ulama (NU) adalah Jam’iyah Diniyah Islamiah (Organisasi Keagamaan Islam) yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) di Surabaya di bawah pimpinan K.H. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar). Ada banyak faktor yang melatarbelakangi berdirinya NU.

​Faktor-faktor tersebut mencakup pertumbuhan dan kebangkitan pemikiran Islam, serta respons terhadap dinamika keagamaan global. Bagi pondok pesantren, pembaharuan pemikiran keagamaan tetap diperlukan, namun bukan berarti meninggalkan tradisi akademis para ulama terdahulu yang masih relevan. Oleh karena itu, pembentukan Jam’iyah Nahdlatul Ulama menjadi sangat mendesak.

​Untuk mempertegas prinsip dasar organisasi ini, K.H. Hasyim Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi dan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam Khittah NU dan menjadi landasan serta rujukan refleksi maupun kiprah warga NU di bidang sosial, agama, dan politik.

​Sementara itu, Persyarikatan Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 H.

​Berdirinya Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh keprihatinan K.H. Ahmad Dahlan terhadap kondisi umat Islam Indonesia yang tertindas kolonialisme Belanda, yang menyebabkan kondisi pendidikan menjadi lumpuh. Gagasan mendirikan organisasi kemasyarakatan dan keagamaan ini merupakan hasil dari perjalanan intelektual dan spiritual beliau yang panjang.

​Pada periode awal sebelum dan sesudah berdirinya Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan mencoba berdakwah kepada keluarga dan sahabat terdekatnya di Yogyakarta. Cara berpikir baru beliau sampaikan melalui pemahaman tafsir Al-Qur’an. Kegiatan serupa juga dilakukannya di organisasi Budi Utomo dan Sarekat Islam, di mana semangat dakwah K.H. Ahmad Dahlan membuatnya diangkat sebagai penasihat masalah keagamaan.

​Dari sinilah K.H. Ahmad Dahlan menyebarkan ide-idenya secara lebih luas. Setelah gagasannya tersebar, beliau memandang perlu mendirikan perkumpulan umat Islam yang permanen. Atas saran sahabat dari Budi Utomo, Sarekat Islam, serta para santrinya, lahir lah Muhammadiyah yang kemudian berkembang pesat.

Baca...  Hukum Operasi Kelamin Dalam Islam

​Melalui Muhammadiyah, berbagai kegiatan sosial dilakukan untuk meringankan beban masyarakat. Kajian keagamaan diperkuat untuk membekali masyarakat dengan pemahaman Islam yang komprehensif. Selain itu, muncul pula gerakan pemberdayaan perempuan (Aisyiyah), pelatihan kepanduan (Hizbul Wathan), hingga pembentukan cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah.

​Persamaan dan Perbedaan Dua Ormas Islam Terkait Toleransi

​Toleransi adalah sikap menghargai setiap individu dengan segala perbedaan yang dimiliki serta menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama. Dalam beragama, toleransi antarsesama sangat dibutuhkan karena di dalam satu agama terdapat berbagai mazhab, ajaran, dan organisasi masyarakat.

​NU dan Muhammadiyah adalah dua Ormas Islam yang memiliki perbedaan pemahaman dalam beberapa aspek, namun tetap memiliki banyak persamaan. Hubungan harmonis antara NU dan Muhammadiyah patut menjadi teladan dalam menyikapi perbedaan aliran maupun antarumat beragama secara nasional.

​Islam melarang perpecahan, namun memaklumi adanya perbedaan pendapat (ikhtilaf). Toleransi yang ditunjukkan oleh dua Ormas Islam terbesar ini patut menjadi contoh. Konsep hidup berbangsa dan bernegara di tengah keberagaman sudah sangat jelas, yaitu saling menghormati keyakinan masing-masing tanpa harus memicu konflik.

​Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah umumnya berada pada ranah furu’iyah (cabang/pelengkap) dalam hukum Islam. Perbedaan pendekatan dan metode ijtihad yang dikembangkan kedua Ormas ini terlihat jelas dalam beberapa hal, seperti metode penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah (Rukyatul Hilal vs Hisab).

​Perbedaan orientasi keagamaan ini dipengaruhi oleh latar belakang pemikiran dan pengalaman pendidikan kedua ulama pendirinya, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan, yang merupakan ulama besar Indonesia pada abad ke-19 dan ke-20.

​Meskipun terdapat perbedaan, hal tersebut masih berada dalam batas yang dapat diterima sehingga menciptakan rasa toleransi. Di balik perbedaan tersebut, terdapat banyak persamaan inti: baik NU maupun Muhammadiyah sama-sama menganut agama Islam, mengesakan Allah SWT, serta mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah yang menjadi teladan hidup.

Baca...  Kata Kita: In Memoriam Bassam Tibi, Islamisme Bukan Islam

​Kedua Ormas ini sama-sama menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman utama kehidupan, menjadikan Ka’bah sebagai arah kiblat, serta mengamalkan Rukun Islam dan Rukun Iman.

​Dalam kehidupan bermasyarakat, warga NU dan Muhammadiyah saling mendoakan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Keduanya menjunjung tinggi kebersamaan: warga NU merasa senang jika warga Muhammadiyah berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan, dan sebaliknya, warga Muhammadiyah terbuka menerima warga NU untuk menempuh pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah.

​*) Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Editor: Adis Setiawan

2 posts

About author
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

​Fathu Makkah ke Ruang Kelas MI: Menanamkan Antiperundungan

5 Mins read
​Baru-baru ini, masyarakat Indonesia kembali terkejut oleh maraknya kasus perundungan (bullying) yang melibatkan siswa sekolah. Ada siswa yang dipukul hanya karena dianggap…
KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read
Pendahuluan ​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Nilai Toleransi SKI SD/MI lewat Piagam Madinah dan Pancasila

5 Mins read
​Indonesia ialah rumah besar bagi ratusan suku, bahasa, dan keyakinan. Di tengah keragaman yang begitu luas dan indah ini, menanamkan benih toleransi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *