KULIAHALISLAM.COM- Dilingkungan birokrasi dan pejabat pemerintahan, situasi dimana saling sikut menyikut adalah hal ladzim kita pandang sebagai sebuah fenomena. Namun, ada sosok yang bisa kita pelajari dari seorang pejabat muda diera saat ini. Ia tidak datang dengan ledakan ambisi yang menggebu, melainkan dengan ketenangan seorang pembelajar. Dialah Dzulfikar Ahmad Tawalla—Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah yang kini mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia—adalah representasi dari sintesa apik antara kedalaman nilai pesantren dan ketangkasan aktivisme modern.
Lahir dan ditempa dalam tradisi intelektual Sulawesi Selatan, Dzulfikar Ahmad Tawalla adalah putra dari ulama karismatik KH Ahmad Tawalla. Latar belakangnya sebagai santri bukan sekadar status formal, melainkan jangkar moral yang membentuk karakternya. Kanda Dzulfikar membuktikan bahwa nilai-nilai “pesantren” seperti tawadhu (rendah hati) dan istiqamah (konsistensi) adalah modal sosial yang tak ternilai di kursi kekuasaan. Saat dirinya terpilih menakhodai Pemuda Muhammadiyah dalam Muktamar XVIII di Balikpapan, ia tidak memosisikan diri sebagai penguasa organisasi, melainkan sebagai pelayan agenda besar persyarikatan. Ia membawa semangat “Pemuda Negarawan”, sebuah konsep yang ia tanamkan agar kader muda tidak hanya jago berwacana, tetapi juga cakap dalam tata kelola negara dan ekonomi.
Ada momen yang tak terlupakan saat saya berkesempatan bertemu langsung dengan beliau ketika menjadi seorang pembicara di pengajian PP Muhammadiyah. Ladzimnya dalam standar protokol seorang pejabat negara atau pemimpin organisasi besar, sering kali kita menemui sekat formalitas yang kaku dan berjarak. Namun, kanda Dzulfikar meruntuhkan dinding itu dengan satu senyuman yang tulus. Ia menyapa dengan keramahan yang sangat “membumi”—sebuah istilah yang sering disebut sebagai human-centric leadership. Ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Tak ada kesan terburu-buru atau sikap meremehkan lawan bicara. Kesantunannya seolah bukan polesan citra, melainkan cerminan dari jiwa yang sudah selesai dengan urusan ego pribadinya. Baginya, jabatan adalah “jaket” yang bisa dilepas kapan saja, namun integritas adalah kulit yang melekat selamanya.
Maka ketika Presiden selaku pemimpin negara memanggilnya untuk duduk di kursi Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI), publik melihat ini sebagai pengakuan atas kapasitasnya. Namun bagi Dzulfikar Ahmad Tawalla, ini adalah perluasan medan dakwah. Ia harus menjembatani regulasi yang kaku dengan realitas pahit yang dihadapi para “pahlawan devisa” di luar negeri. Sikapnya tetap konsisten: santun dalam diplomasi, namun tegas dalam perlindungan. Meski baru sebentar belajar, ia seolah memahami secara fundamental bahwa di balik angka-angka remitansi, ada harkat dan martabat manusia yang harus dibela. Seolah dirinya memahami secara utuh bahwa Amanah yang melekat padanya adalah bentuk nyata dari Amal Usaha yang selama ini ia pelajari di Muhammadiyah—bahwa politik harus menghasilkan kemaslahatan nyata bagi kaum mustadh’afin (golongan yang tertindas).
Fenomena Dzulfikar Ahmad Tawalla mendapat perhatian dari para intelektual muslim. Banyak yang melihatnya sebagai prototipe pemimpin masa depan yang mampu mengintegrasikan spiritualitas dengan profesionalisme. Dirinya seolah menyambut pesan dari Prof. Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya kader yang memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi. Senada dengan itu, cendekiawan muslim sering merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai pemimpin yang ideal dalam kitab Ihya Ulumuddin:“Seorang pemimpin harus memiliki sifat kasih sayang kepada rakyatnya sebagaimana kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Kekuasaan tidak boleh menjadikannya angkuh, melainkan harus menjadikannya lebih merasa diawasi oleh Tuhan.” — [Imam Al-Ghazali, “Ihya Ulumuddin”]. Nilai inilah yang sekiranya melekat pada Kanda Dzulfikar. Ia dipandang sebagai tokoh yang memegang teguh etika publik. Kita tentu sering mendengar adagium kontemporer: negeri ini tidak kekurangan orang pintar, negeri ini hanya kekurangan orang yang “selesai” dengan dirinya sendiri.
Dzulfikar Ahmad Tawalla adalah pengingat bagi kita sebagai pribadi muslim modern bahwa menjadi besar tidak harus dengan suara keras dan ambisi politik yang bertingkat. Menjadi sosok yang berpengaruh tidak harus dengan sikap angkuh. Ia adalah simbol dari pembelajar pribadi muslim yang memahami bahwa setiap pertemuan adalah ilmu, dan setiap jabatan adalah ujian.
“Setiap kali ilmuku bertambah, maka bertambah pula pengetahuanku tentang kebodohanku.”— [Imam Syafi’i]

