Pendidikan

Dinamika Artificial Intelligence dalam Dunia Pendidikan

4 Mins read

Abad ke-21 ditandai oleh perubahan yang sangat dinamis di berbagai lini kehidupan, tidak terkecuali pada sektor pendidikan. Pada era modern ini, pendidikan telah menjadi salah satu kebutuhan primer yang esensial bagi manusia, sebab tanpa landasan pendidikan yang kokoh, individu akan kesulitan meraih kestabilan dan kedamaian hidup.

​Ketenangan dalam hidup salah satunya dilatarbelakangi oleh proses pendidikan itu sendiri. Dalam konteks yang lebih luas, keterbatasan akses atau latar belakang pendidikan kerap menjadikan seseorang rentan terhadap ketimpangan sosial dan marjinalisasi oleh pihak yang lebih terdidik. Saat ini, dunia pendidikan berkembang pesat akibat dorongan ekosistem teknologi (Ratheeswari, 2018).

​Salah satu manifestasi teknologi di era digitalisasi yang perlu dicermati adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). AI didefinisikan sebagai sistem komputasi yang memiliki kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan instruksi penggunanya (Rozaq, 2019).

​AI memiliki dinamika yang signifikan dalam memengaruhi dunia pendidikan karena kecerdasan buatan menjadi topik hangat yang terus dikembangkan lintas disiplin ilmu (Luckin et al., 2016). Namun, dinamika penerapan AI di dunia pendidikan tidak hanya membawa dampak positif, melainkan juga memicu pro dan kontra di lingkungan akademis.

​Kontroversi yang muncul pada dasarnya bukan bersumber dari kesalahan sistem AI itu sendiri, melainkan dari faktor penggunanya (human error). Realitas saat ini menuntut lembaga pendidikan dan insan akademis untuk menguasai teknologi pembelajaran yang tersedia. AI menjadi salah satu teknologi yang sangat populer di lembaga kependidikan, namun pengaplikasiannya kerap mengalami pergeseran fungsi, khususnya di tingkat perguruan tinggi.

​Fenomena yang marak ditemui adalah penggunaan platform AI generatif, seperti ChatGPT, yang tidak sesuai dengan peruntukan akademis yang ideal. Sebagai contoh, pada kasus mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta—berdasarkan pengamatan empiris di kelas serta data lapangan—ChatGPT sering dimanfaatkan sekadar untuk mempermudah tugas tanpa melalui proses berpikir secara mendalam dan kritis.

Baca...  Sejarah Kerajaan Pajang di Tanah Jawa

​Praktik tersebut antara lain terlihat ketika mahasiswa menyusun pertanyaan diskusi materi menggunakan AI untuk diajukan kepada pemakalah. Akibatnya, proses pembelajaran gagal meningkatkan kapasitas intelektual mahasiswa yang seharusnya dilatih untuk berpikir logis dan analitis. Selain itu, sebagian mahasiswa memanfaatkan AI untuk menyusun karya tulis ilmiah (esai, makalah, dan sejenisnya) secara instan melalui metode penyalinan langsung (copy-paste), yang pada akhirnya mengikis keterampilan menulis akademis (academic writing skills) mereka (Cotton et al., 2023).

​Jika ditinjau dari hakikatnya, AI secara ideal memiliki potensi dampak positif yang besar terhadap proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hal ini dikarenakan AI menyediakan berbagai alat bantu yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran (Holmes et al., 2019).

​Beberapa jenis platform AI yang bermanfaat antara lain:

  1. ​Perplexity AI: Membantu pencarian informasi akademis dengan menyertakan rujukan referensi.
  2. ​DeepL: Mengoptimalkan penerjemahan kata, artikel ilmiah, maupun dokumen PDF dengan akurasi tinggi.
  3. ​Conch AI: Membantu deteksi plagiarisme dan proses parafrasa kalimat.
  4. ​Grammarly: Memperbaiki tata bahasa dan struktur penulisan bahasa Inggris.

​Jika dimanfaatkan secara bijak dan beretika, seluruh alat AI tersebut dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal.

​Tantangan utama yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana para pemangku kepentingan (stakeholders) dapat mengedukasi serta mengawasi penggunaan AI secara tepat. Penggunaan kecerdasan buatan dalam KBM perlu dibatasi pada koridor pembantu (tool), bukan pengganti nalar manusia. Apabila peserta didik menggunakan AI tanpa pengawasan dan panduan etis, ketajaman intelektual dan minat membaca-menulis mereka berpotensi menurun, sehingga pembentukan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) menjadi terhambat (Selwyn, 2019).

​Kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan sebagai salah satu keterampilan inti di abad ke-21. Hal ini sejalan dengan kerangka kerja yang dirumuskan oleh Wagner (2008), yang menyebutkan tujuh keterampilan bertahan hidup (survival skills) di abad ke-21, yaitu:

  1. ​Rasa ingin tahu dan imajinasi (curiosity and imagination).
  2. ​Kemampuan mengakses dan menganalisis informasi (accessing and analyzing information).
  3. ​Komunikasi lisan dan tertulis yang efektif (effective oral and written communication).
  4. ​Jiwa kewirausahaan dan inisiatif (initiative and entrepreneurship).
  5. ​Keluwesan dan kemampuan beradaptasi (agility and adaptability).
  6. ​Kepemimpinan dan kolaborasi (collaboration across networks and leading by influence).
  7. ​Berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem-solving).
Baca...  Jum'at Berkah dan Pendidikan Moralitas

​Berpikir kritis dan AI seharusnya dapat saling melengkapi. Ketika pemikiran kritis sedang dilatih, AI dapat diposisikan sebagai rekan diskusi (peer learner) untuk beradu argumen dan menguji ide. Sebaliknya, penggunaan AI justru sangat membutuhkan berpikir kritis agar pengguna mampu menganalisis, memverifikasi, dan menyaring informasi yang dihasilkan oleh AI secara bijak (Zawacki-Richter et al., 2019).

​AI memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya di dunia pendidikan. Kekurangannya terletak pada aksesibilitas yang sangat terbuka tanpa batasan yang ketat, sehingga peserta didik berisiko terpapar konten yang kurang sesuai dengan usia atau tingkat perkembangannya, yang pada akhirnya dapat mengganggu fokus belajar. Di sisi lain, kelebihannya mencakup efisiensi kerja, seperti penggunaan Bing Image Creator untuk visualisasi pembelajaran berbasis animasi, serta berbagai platform penunjang lainnya.

​Pada hakikatnya, hadirnya AI dalam dunia pendidikan membawa banyak manfaat potensial, namun dampak negatifnya tetap perlu diwaspadai, di mana muaranya sangat bergantung pada integritas dan etika penggunanya.

Penulis: Achfan Aziz Zulfandika

​Daftar Referensi:

  • ​Cotton, D. R., Cotton, P. A., & Shipway, J. R. (2023). Chatting and cheating: Ensuring academic integrity in the era of ChatGPT. Assessment & Evaluation in Higher Education.
  • ​Holmes, W., Bialik, M., & Fadel, C. (2019). Artificial Intelligence in Education: Promises and Implications for Teaching and Learning. Center for Curriculum Redesign.
  • ​Luckin, R., Holmes, W., Griffiths, M., & Forcier, L. B. (2016). Intelligence Unleashed: Arguments for AI in Education. Pearson.
  • ​Ratheeswari, K. (2018). Information communication technology in education. Journal of Applied and Advanced Research, 3(1), 45-47.
  • ​Rozaq, A. (2019). Pengantar Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Yogyakarta: Deepublish.
  • ​Selwyn, N. (2019). Should Robots Replace Teachers? AI and the Future of Education. Polity Press.
  • ​Wagner, T. (2008). The Global Achievement Gap: Why Even Our Best Schools Don’t Teach the New Survival Skills Our Children Need—and What We Can Do About It. Basic Books.
  • ​Zawacki-Richter, O., Marín, V. I., Bond, M., & Gouverneur, F. (2019). Systematic review of research on artificial intelligence applications in higher education. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 16(1), 1-27.
Baca...  Kitab Kuning Sebagai Rujukan Utama Pesantren, Mengapa?
3 posts

About author
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.
Articles
Related posts
Pendidikan

Nalar Kritis Siswa MI: Belajar SKI lewat Kisah Khandaq

5 Mins read
​Di banyak ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI), pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) berjalan dengan pola yang nyaris seragam. Guru bercerita, siswa mendengarkan,…
KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read
Pendahuluan ​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Nilai Toleransi SKI SD/MI lewat Piagam Madinah dan Pancasila

5 Mins read
​Indonesia ialah rumah besar bagi ratusan suku, bahasa, dan keyakinan. Di tengah keragaman yang begitu luas dan indah ini, menanamkan benih toleransi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *