Pendidikan

Bagaimana Menjawab Krisis Kader Ulama di Muhammadiyah?

2 Mins read

KULIAHALISLAM.COM – Isu tentang minimnya kader ulama bukanlah hal baru di internal Muhammadiyah. Almarhum Prof. Dr. Yunahar Ilyas pernah menyatakan bahwa krisis ulama di Muhammadiyah sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta pada tahun 1985. Hal ini terus menjadi keprihatinan mendalam di kalangan tokoh-tokoh Persyarikatan hingga saat ini.

​Kaderisasi ulama menjadi sangat penting dan dibutuhkan untuk menjaga ukhuwah serta ketenteraman umat. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, harus menjawab kebutuhan tersebut dan menjadikannya sebagai program skala prioritas utama.

​Sebagaimana diketahui bersama, kaderisasi ulama bukan sekadar proses penanaman nilai-nilai agama untuk membentengi diri dari ekses negatif globalisasi. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Maarif, menegaskan hal yang lebih urgen:

​”Nilai-nilai agama yang telah ditanamkan dalam kaderisasi tersebut harus mampu berperan sebagai kekuatan pembebas dari impitan kemiskinan, kebodohan, serta keterbelakangan sosial-budaya dan ekonomi.”

 

​Kualifikasi Ulama Muhammadiyah

​Secara umum, ada dua kualifikasi unggulan yang wajib dimiliki oleh seorang ulama, yaitu kualifikasi ilmu dan kualifikasi akhlak. Seorang ulama harus memahami misi kenabian dengan baik, menguasai ulumuddin (ilmu-ilmu agama), memahami pemikiran Islam klasik maupun kontemporer, serta mengerti strategi dan taktik perjuangan di zamannya.

​Sebagaimana para nabi, ulama sepatutnya mendapatkan hikmah dari Allah SWT. Dengan begitu, mereka tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman secara teoretis, tetapi juga mampu menerapkannya dengan penuh kebijaksanaan.

​Oleh karena itu, kualifikasi akhlak yang wajib dimiliki ulama adalah sikap yang hanya takut kepada Allah, tidak hubbud-dunya (cinta dunia), apalagi sampai gila jabatan dan gila hormat. Hal ini sejalan dengan penegasan Prof. Dr. Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah), yang mengingatkan bahwa ulama Muhammadiyah harus memiliki kedekatan spiritual yang kokoh (taqarrub ilallah) dan memosisikan diri sebagai teladan moral (uswah hasanah) bagi umat, bukan pemburu kekuasaan.

Baca...  Cahaya yang Terbelah, Hikayat Mani dan Bayang Gnostisisme di Panggung Zaman

​Konsep “Ulama Intelektual” dan “Intelektual Ulama”

​Terkait konsep ulama, Prof. Dr. Haedar Nashir menjelaskan bahwa selama ini pengertian ulama menurut Muhammadiyah melekat dengan watak tajdid (pembaharuan), purifikasi (pemurnian), dan dinamis. Namun, konsep ulama ideal di Muhammadiyah tidak cukup sampai di situ. Ulama Muhammadiyah masa kini harus bertransformasi menjadi ulama intelektual dan intelektual ulama.

  • Ulama Intelektual: Seorang ulama yang tidak hanya ahli dalam bidang ilmu agama, tetapi juga menguasai dan memahami ilmu-ilmu umum/sains modern. Representasi tokoh nyata untuk kategori ini adalah almarhum Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.A.
  • Intelektual Ulama: Seorang akademisi atau pakar ilmu umum/sains yang juga memiliki pemahaman agama Islam yang mendalam dan mumpuni. Contoh nyata dari figur ini adalah Prof. Dr. M. Amien Rais.

​Konsep ini dipertegas dalam dokumen Sistem Kaderisasi Muhammadiyah (SKM). Muhammadiyah mencita-citakan lahirnya kader yang memiliki integritas beragama yang kokoh sekaligus memiliki wawasan keilmuan kontemporer yang luas untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

​Solusi Strategis Mengatasi Krisis Ulama

​Untuk menyelesaikan persoalan krisis ulama ini, para tokoh Muhammadiyah merumuskan dua langkah strategis sebagai solusinya, yaitu secara kelembagaan dan sosial:

Jalur Solusi Implementasi Gerakan

Secara KelembagaanMenumbuhkan kesadaran kolektif melalui jalur resmi organisasi. Langkah nyata ini dibuktikan dengan mulai menjamurnya Pondok Pesantren Muhammadiyah (MBS/Muhammadiyah Boarding School) di berbagai daerah. Selain itu, Muhammadiyah memaksimalkan peran PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) di Yogyakarta sebagai rahim utama pencetak ulama fikih dan tarjih.

Secara Sosial Menumbuhkan

Menumbuhkan kesadaran di tingkat akar rumput (grassroots), khususnya warga Muhammadiyah. Para orang tua diharapkan memiliki kesadaran ideologis untuk membimbing putra-putrinya menempuh pendidikan di pesantren atau lembaga pendidikan agama yang konsen mencetak kader-kader ulama masa depan.

Baca...  Membangun Patriotisme Melalui Pendidikan Berkarakter

Melalui sinergi kelembagaan dan kesadaran sosial ini, Muhammadiyah diharapkan tidak akan pernah kehabisan stok ulama yang mampu menjadi suluh penerang bagi umat dan bangsa.

​Penulis adalah Alumni Pondok Modern Muhammadiyah Darul Arqam Patean, Kendal.

15 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
FilsafatOpiniPendidikan

Epistemologi Pesantren Digital: Membedah Kurikulum Integratif dan Teori Komitmen Dr. Hosaini

5 Mins read
Capaian akademik tertinggi yang diraih oleh Dr. Hosaini, S.Pd.I., M.Pd. sebagai wisudawan peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.00 pada program doktoral…
FilsafatOpiniPendidikan

Rekonstruksi Kurikulum dan Novelty Teori Komitmen Dr. Hosaini

6 Mins read
Pendidikan Islam di Indonesia, khususnya yang berakar pada tradisi pondok pesantren, senantiasa berada dalam jalinan dialektika yang tak pernah usai antara mempertahankan…
Pendidikan

Refleksi Pendidikan Nabi dan Cinta

5 Mins read
​Saya tersenyum saat pemateri itu berbicara. Bukan karena setuju, bukan pula karena menolak—tapi karena saya merasa pernah berada di situasi ini sebelumnya….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *