Keislaman

Perbedaan Tafsir Syiah: Perbandingan Al-Qumi dan Al-Tabarsi

4 Mins read

​Berasal dari satu rahim bukan berarti harus menghasilkan sesuatu yang sama, begitu pun dalam ranah penafsiran Al-Qur’an. Penafsiran yang dilakukan oleh Al-Qumi dan Al-Tabarsi contohnya. Kedua karya tafsir ini memiliki pola yang berbeda meski lahir dalam doktrin aliran yang sama, yakni aliran Syiah. Pada umumnya, penafsiran yang disajikan oleh ulama kalangan Syiah cenderung fanatik terhadap doktrin yang diajarkan. Namun, kali ini justru ada yang berbeda di antara kedua tafsir ini.

​Ali Ibrahim Al-Qumi merupakan sosok di balik tertulisnya kitab Tafsir Al-Qumi. Ia merupakan salah seorang ulama Syiah yang hidup pada masa awal mazhab ini berkembang. Tafsir Al-Qumi merupakan salah satu karya tafsir tertua dalam tradisi tafsir Syiah dan dijadikan sebagai salah satu kitab yang wajib dirujuk perihal penafsiran Al-Qur’an di kalangan Syiah. Tafsir Al-Qumi sangat bergantung pada riwayat atau sumber penafsiran dari kalangan imam-imam Syiah dalam menginterpretasikan makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, tafsir ini dicap sebagai tafsir yang fanatik terhadap aliran Syiah.

​Dari segi penyajiannya, Tafsir Al-Qumi tergolong ke dalam tafsir yang sederhana, ringkas, dan pendek jika dibandingkan dengan karya-karya tafsir Syiah yang lain. Dalam menafsirkan Al-Qur’an, Al-Qumi lebih memilih serta membatasi diri untuk menggunakan metode bil-ma’tsur (riwayat) yang fokusnya hanya pada hadis-hadis yang periwayatannya berasal dari para imam Syiah saja. Oleh sebab itu, benar adanya jika tafsir ini dikatakan fanatik berat terhadap teologi Syiah karena sangat memuja dan membatasi penggunaan sumber-sumber penafsiran hanya dari kalangan imam-imam Syiah. Fokus utama yang ditekankan dalam penulisan maupun hasil tafsir ini adalah menunjukkan dan menonjolkan otoritas para imam Syiah sebagai penafsir dan topik utama dalam Al-Qur’an.

Baca...  Tafsir Sya'rawi: Ayat Bismillah dalam Al-Qur'an

​Berbeda halnya dengan Fakhruddin Al-Tabarsi, sosok mufasir di balik hasil karya tafsir Majma’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an. Al-Tabarsi adalah sosok ulama sekaligus mufasir yang hidup pada kisaran abad ke-6 H, dengan kondisi dan ruang lingkup keilmuan Islam yang sudah lebih mapan dibandingkan dengan masa hidup Al-Qumi. Karya tafsirnya, yakni Majma’ al-Bayan, merupakan karya tafsir yang sangat sering disebut di permukaan sebagai kitab tafsir yang komprehensif dalam ruang lingkup kajian literatur tafsir Islam.

​Melalui karya tafsir Majma’ al-Bayan ini, Al-Tabarsi menawarkan sajian baru dalam menafsirkan Al-Qur’an di kalangan para teolog Syiah dengan penyajian yang lebih sistematis dan rasional. Isi dari kitab Majma’ al-Bayan karya Al-Tabarsi tidak hanya menyajikan pembahasan dari segi makna dan maksud ayat-ayat Al-Qur’an saja, melainkan juga memberikan beberapa penjelasan lain yang mencakup bidang bahasa, sastra, dan teologi.

​Pendekatan yang dipakai oleh Al-Tabarsi dalam menuliskan kitab ini pun berbeda dengan milik Al-Qumi. Al-Tabarsi memilih untuk memadukan dua metode, yakni metode bil-ma’tsur (riwayat) dan metode bil-ra’yi (rasional). Hal ini membuat hasil penafsiran dalam kitab Majma’ al-Bayan terkesan lebih moderat sehingga dapat dijadikan rujukan dan diterima secara luas di kalangan umat Islam. Hal inilah yang kemudian membuat kitab tafsir karya Al-Tabarsi dikenal sebagai salah satu kitab Syiah yang moderat dan tidak fanatik terhadap teologi Syiah semata.

​Kemoderatan yang ada di dalam Tafsir Majma’ al-Bayan karya Al-Tabarsi dilatarbelakangi oleh keinginan dan kesungguhan Al-Tabarsi untuk menegaskan pentingnya pemahaman umat Islam atau para mufasir terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dengan melihatnya dari segi konteks ayat, tanpa melupakan penggunaan akal pikiran dalam memahami teks Al-Qur’an. Selain itu, dari segi pengambilan riwayat atau pendapat ulama, Al-Tabarsi tidak seketat Al-Qumi yang mengharuskan penggunaan pendapat dari kalangan imam Syiah. Al-Tabarsi justru terbuka dengan pendapat dari kalangan ulama teologi lain, seperti pendapat dari aliran Sunni dari Imam Al-Zamakhsyari dan Imam Al-Razi.

Baca...  Pandangan Hukum Islam Terhadap Fenomena Flexing di Media Sosial

​Keterbukaan yang diambil oleh Al-Tabarsi tidak menjadikannya memiliki alasan untuk menghilangkan pendapat Syiah dari karya tafsirnya. Al-Tabarsi tetap menjaga pandangan teologis dan doktrin Syiah dalam menafsirkan Al-Qur’an, meski tidak secara terus-menerus ia gunakan dan tonjolkan seperti halnya yang dilakukan oleh Al-Qumi.

​Perbedaan cara pandang dan penyajian antara Al-Qumi dan Al-Tabarsi dalam masing-masing karyanya menyebabkan munculnya beberapa perbedaan dalam hasil tafsir mereka. Meski kedua tafsir ini sama-sama berangkat dari doktrin teologi Syiah dan berasal dari sekte yang sama, yakni Itsna Asyariyah, metodologi yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an sangat bertolak belakang. Hal ini terlihat saat Al-Qumi dan Al-Tabarsi menafsirkan Q.S. An-Nisa’ ayat 59 tentang Ulil Amri:

​يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

​Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

​Ali Ibrahim Al-Qumi dalam Tafsir Al-Qumi menjelaskan bahwa frasa “Ulul Amr” diartikan sebagai para imam Syiah yang memiliki kedudukan tinggi dan harus ditaati oleh umat Islam. Sesuai dengan doktrin Syiahnya, Al-Qumi menegaskan bahwa ketaatan kepada para imam Syiah itu sama halnya dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

​Sedangkan Fakhruddin Al-Tabarsi dalam kitabnya, Majma’ al-Bayan, menjelaskan frasa “Ulil Amri” sebagai sosok pemimpin yang adil, serta mengaitkannya dengan pembahasan dalam ranah pemerintahan. Al-Tabarsi juga menjelaskan bahwa tingkat ketaatan itu ada tiga, yaitu taat kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada ulil amri, sekaligus menjelaskan pentingnya ketaatan dalam kehidupan sosial dan politik.

Baca...  Dekonstruksi Akidah dalam Tafsir Babiyah dan Bahaiyah

​Dari hasil penafsiran Surah An-Nisa’ ayat 59 di atas, dapat kita lihat bahwa Tafsir Al-Qumi memang sangat menonjolkan doktrin Syiah sebagai pembenaran atas kepemimpinan Ali dan keturunannya, sampai-sampai konteks taat kepada Allah dan Rasul-Nya disamakan dengan konteks taat kepada para imam Syiah. Sementara itu, hasil penafsiran Al-Tabarsi justru menawarkan sesuatu yang lebih rasional, yakni tentang konsep ulul amri yang merujuk pada sosok kepemimpinan yang adil dalam aspek ketaatan kehidupan sosial-politik.

​Dengan memahami perbandingan antara Tafsir Al-Qumi dan Tafsir Al-Tabarsi ini, kita dapat mengetahui bahwa sesuatu yang lahir dari asal dan ruang lingkup doktrin yang sama dapat menghasilkan penafsiran yang berbeda. Hal ini dikarenakan paradigma berpikir tokoh atau mufasir yang berbeda dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman, sehingga dapat memperkaya khazanah dunia intelektual Islam.

3 posts

About author
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

​Fathu Makkah ke Ruang Kelas MI: Menanamkan Antiperundungan

5 Mins read
​Baru-baru ini, masyarakat Indonesia kembali terkejut oleh maraknya kasus perundungan (bullying) yang melibatkan siswa sekolah. Ada siswa yang dipukul hanya karena dianggap…
KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read
Pendahuluan ​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Nilai Toleransi SKI SD/MI lewat Piagam Madinah dan Pancasila

5 Mins read
​Indonesia ialah rumah besar bagi ratusan suku, bahasa, dan keyakinan. Di tengah keragaman yang begitu luas dan indah ini, menanamkan benih toleransi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *