KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read

Pendahuluan

​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan menjadi media refleksi nilai, ibrah (pelajaran hidup), serta pembentuk karakter dan identitas peserta didik. Melalui penjelasan dinamika peradaban Islam—mulai dari periode kenabian, Khulafaur Rasyidin, hingga puncak kejayaan ilmu pengetahuan di era kekhalifahan—peserta didik diajak untuk membangun kesadaran historis yang utuh. Namun, realitanya pembelajaran SKI di lapangan hingga kini masih dihadapkan pada masalah pedagogis yang mendasar. Pembelajaran SKI masih didominasi oleh pendekatan tekstual berpusat pada guru (teacher-centered) yang membatasi proses belajar menjadi sekadar aktivitas menghafal nama tokoh, angka tahun, dan lokasi peristiwa. Pendekatan pasif ini menyebabkan SKI kerap dinilai monoton dan memicu kesenjangan yang nyata dengan karakteristik Generasi Z yang kritis, aktif, serta membutuhkan gaya belajar kontekstual (Asy’ari & Prayogi, 2026).

​Padahal, di tengah derasnya arus informasi saat ini, penguasaan literasi sejarah dan kemampuan berpikir kritis bagi Generasi Z menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Literasi sejarah tidak sebatas tahu “apa” yang terjadi pada masa lampau, melainkan kecakapan dalam menganalisis “mengapa” dan “bagaimana” suatu peristiwa terjadi, serta kemampuan membedakan fakta dari narasi yang menyimpang (Rafi et al., 2025). Ketika pembelajaran SKI dirancang secara analitis melalui kajian kritis dan penyusunan kembali peristiwa sejarah, mata pelajaran ini mampu melatih Generasi Z untuk berpikir logis, mengevaluasi data secara objektif, dan menarik relevansi nilai sejarah bagi pemecahan masalah masa kini. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam urgensi reorientasi pembelajaran SKI dari pendekatan tekstual menuju kontekstual sebagai sarana strategis dalam membentuk literasi sejarah dan daya nalar kritis Generasi Z.

​Pembahasan

​1. Dekonstruksi Model Pembelajaran SKI: Dari Keterbatasan Tekstual Menuju Optimalisasi Potensi Analitis Gen Z

​Kritik mendasar terhadap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di era sekarang bermula dari masih kuatnya pendekatan pembelajaran yang hanya berfokus pada teks dan fakta (Asy’ari & Prayogi, 2026). Pembelajaran SKI di madrasah maupun sekolah menengah masih menempatkan materi sejarah sebagai kumpulan fakta yang hanya perlu dihafalkan, seperti nama tokoh, kronologi tahun, dan lokasi geografis tanpa melalui proses penalaran yang mendalam. Model instruksional yang berpusat pada guru (teacher-centered) ini mengurangi makna penting sejarah, dari sebuah disiplin ilmu analitis menjadi sekadar penyampaian pengetahuan secara pasif. Akibatnya, materi SKI kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya: nilai-nilai kejuangan, dinamika sosio-politik peradaban Islam, serta ibrah (hikmah) sejarah terputus dari relevansi kehidupan nyata peserta didik.

​Secara metodologis, pendekatan berorientasi hafalan tersebut bertentangan dengan karakteristik pola pikir Generasi Z. Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Gen Z memiliki karakteristik belajar yang menuntut keterlibatan aktif, pembentukan pemahaman mandiri, serta penyampaian informasi yang bersifat interaktif dan berbasis media (Mudzakir et al., 2026; Naitboho et al., 2026). Ketidaksesuaian metodologis ini menyebabkan kebingungan pemahaman di kalangan Generasi Z, di mana SKI sering diidentikkan sebagai pelajaran yang monoton dan minim manfaat praktis bagi pemikiran masa depan. Padahal, akar masalahnya bukan terletak pada materi kebudayaan Islam itu sendiri, melainkan pada kelemahan sudut pandang pedagogis yang digunakan dalam menyampaikannya.

​Untuk mengurangi perbedaan tersebut, pembelajaran SKI harus ditelaah kembali dari pola pengajaran yang menekankan hafalan fakta menuju pengajaran yang berorientasi pada analisis penyebab peristiwa dan pemaknaan kembali kejadian masa lalu (Asy’ari & Prayogi, 2026). Materi SKI sesungguhnya kaya akan peristiwa kompleks, seperti strategi diplomasi, resolusi konflik, dan perkembangan pemikiran sains masa kekhalifahan yang amat potensial dijadikan bahan kajian kritis. Ketika pengajaran SKI digeser untuk membedah latar belakang keputusan para tokoh sejarah dan dampak kebudayaannya, mata pelajaran ini bertransformasi dari sekadar hafalan yang bersifat kaku menjadi sarana untuk merangsang kemampuan berpikir yang sesuai dengan daya pikir analitis Generasi Z.

Baca...  Takut Menyia-nyiakan Ilmu, Lalu Memilih Tidak Belajar

​2. Urgensitas Literasi Sejarah di Tengah Lingkungan Infodemi

​Di era transformasi digital abad ke-21, tantangan utama yang dihadapi oleh Generasi Z bukan lagi keterbatasan atau kelangkaan informasi (information scarcity), melainkan kelimpahan informasi yang meluap tanpa pemilahan (information overload). Kehadiran internet, media sosial, dan platform berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) memungkinkan Gen Z untuk mengakses beragam klaim dan narasi sejarah dalam hitungan detik. Namun, kemudahan akses teknologi ini tidak secara otomatis berbanding lurus dengan peningkatan pemahaman sejarah yang sahih (Rafi et al., 2025). Ruang digital kini dipenuhi oleh narasi-narasi sejarah yang mengalami penyederhanaan berlebihan, penilaian yang subjektif, penyuntingan yang mengabaikan fakta sejarah, bahkan informasi palsu tentang agama yang sengaja disebarkan.

​Dalam kondisi inilah urgensi penguatan literasi sejarah (historical literacy) memiliki peran yang sangat penting (Naitboho et al., 2026). Literasi sejarah tidak boleh dimaknai secara sempit sekadar kemampuan membaca atau mengingat kembali fakta-fakta masa lampau. Lebih dari itu, literasi sejarah merupakan kemampuan memahami, menganalisis, dan menilai cara berpikir sendiri untuk melakukan pembacaan kritis (critical reading), memahami kondisi sosial pada masa lalu, serta memastikan bahwa informasi sejarah berasal dari sumber yang valid dan autentik.

​Melalui pembelajaran SKI yang dikembangkan secara sistematis, Generasi Z dibekali dengan keterampilan berpikir historis (historical thinking skills). Keterampilan ini mencakup:

  • ​Analisis Kausalitas: Kemampuan memahami bahwa suatu peristiwa peradaban tidak terjadi secara terisolasi, melainkan dipengaruhi oleh jalinan sebab-akibat yang kompleks.
  • ​Kesadaran Kontinuitas dan Perubahan (Continuity and Change): Kemampuan melacak bagaimana nilai-nilai peradaban Islam berevolusi, bertahan, atau bertransformasi dalam merespons dinamika zaman.
  • ​Pembacaan Lateral (Lateral Reading): Strategi memverifikasi kebenaran suatu klaim sejarah digital dengan membandingkannya secara silang (cross-check) terhadap berbagai literatur dan sumber primer yang independen (Rafi et al., 2025).

​Mata pelajaran SKI yang berorientasi pada penguatan literasi sejarah berfungsi sebagai proteksi pola pikir bagi Generasi Z. Dengan menguasai literasi sejarah, peserta didik tidak akan mudah terombang-ambing oleh narasi-narasi sejarah yang manipulatif atau penyebaran ideologi ekstremis yang sering kali memotong konteks sejarah Islam demi kepentingan kelompok tertentu. SKI mendidik Gen Z untuk bersikap tabayyun (verifikatif), analitis, dan objektif dalam menelaah setiap klaim informasi yang mereka temui di dunia maya.

​3. Konstruksi Pemikiran Kritis dan Deep Learning Melalui Pembelajaran SKI

​Mata pelajaran SKI memiliki potensi pedagogis yang luar biasa sebagai laboratorium pengasahan pemikiran kritis (critical thinking) Generasi Z. Berpikir kritis merupakan kemampuan intelektual untuk menilai argumen, menganalisis sudut pandang yang berbeda, serta mengambil keputusan atau kesimpulan berdasarkan logika dan bukti data yang rasional. Keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan modern nasional yang mendorong penerapan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam (Fatmawati, 2025).

Baca...  Mu'awiyah bin Abi Sufyan: Khalifah Pertama Dinasti Umayyah dan Pembentuk Peradaban Islam

​Deep Learning dalam pengajaran sejarah bukanlah sekadar penambahan kurikulum baru, melainkan sebuah orientasi pendekatan yang menekankan penciptaan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) (Fatmawati, 2025). Ketika Deep Learning diintegrasikan ke dalam mata pelajaran SKI, pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada hafalan fakta, tetapi juga pada pemahaman konsep dan makna materi secara mendalam.

​Proses penguatan pemikiran kritis melalui SKI berorientasi pada tiga pengalaman belajar utama:

  1. ​Pengalaman Memahami (Understanding): Peserta didik diajak untuk memahami kondisi masyarakat dan penyebab terjadinya suatu peristiwa pada masa lalu. Sebagai contoh, dalam mempelajari Perjanjian Hudaibiyyah atau Piagam Madinah, siswa tidak hanya diminta menghafal isi pasalnya, melainkan dihadapkan pada analisis krisis melalui pertanyaan pemicu (essential questions): Mengapa Rasulullah SAW mengambil keputusan diplomatis tersebut? Apa pertimbangan sosiologis dan geopolitik yang melatarbelakanginya?
  2. ​Pengalaman Mengaplikasi (Applying): Mendorong siswa menghubungkan fenomena masa lalu dengan isu-isu kontemporer. Ketika menelaah masa kejayaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad atau Umayyah di Andalusia, siswa diajak menganalisis bagaimana integrasi ilmu pengetahuan, keterbukaan filsafat, dan riset menjadi kunci kemajuan peradaban, lalu mengaplikasikannya untuk merefleksikan kontribusi umat Islam dalam dinamika sains global saat ini.
  3. ​Pengalaman Merefleksi (Reflecting): Puncak proses Deep Learning di mana peserta didik melakukan perenungan moral dan spiritual melalui empati sejarah. Mereka menggali ibrah tentang nilai kepemimpinan yang berkeadilan, pentingnya toleransi antarumat beragama, dan bahaya perpecahan internal.

​4. Strategi Pembaruan Metode Pembelajaran SKI Kontekstual-Digital

​Untuk menjadikan pembelajaran SKI mampu meningkatkan pemahaman sejarah dan kemampuan berpikir kritis peserta didik, diperlukan perubahan besar dalam metode pembelajaran, yaitu beralih dari pembelajaran yang hanya berfokus pada teks menuju pembelajaran yang menghubungkan materi dengan kehidupan nyata serta memanfaatkan teknologi digital (Asy’ari & Prayogi, 2026; Fatmawati, 2025). Pembaruan ini tidak berarti membuang substansi nilai sejarah Islam, melainkan menyusun dan menyampaikannya melalui strategi pedagogis progresif yang adaptif terhadap karakteristik Generasi Z.

​Berdasarkan sintesis penelitian pendidikan, terdapat beberapa strategi inovatif yang amat efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran SKI:

  • ​Model Problem-Based Learning (PBL) dan Diskusi Analitis: Guru memposisikan diri sebagai fasilitator dengan menyajikan studi kasus atau kontroversi sejarah yang menantang. Siswa dibagi ke dalam kelompok kolaboratif untuk membandingkan sumber asli dan sumber pendukung, menggunakan metode Sokratik atau instrumen kartu pertanyaan (question card) guna melatih argumen berbasis data.
  • ​Penerapan Digital Storytelling dan Media Visual Interaktif: Mengingat Gen Z amat responsif terhadap komunikasi visual, narasi sejarah Islam dapat dikemas melalui kombinasi peta digital interaktif jalur penyebaran Islam hingga tur museum virtual (seperti Google Street View) yang menghadirkan pengalaman pembelajaran imersif (Fatmawati, 2025; Naitboho et al., 2026).
  • ​Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning / PjBL): Memberikan ruang ekspresi bagi kreativitas Gen Z melalui pembuatan produk digital seperti minidokumenter ilmuwan Muslim, infografis peradaban Islam, podcast, hingga pameran virtual. Kegiatan ini sekaligus mengasah keterampilan abad ke-21 (kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan kecakapan digital).
  • ​Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence (AI) Secara Etis: Alat bantu seperti ChatGPT, Gemini, atau Perplexity AI dimanfaatkan sebagai asisten riset awal siswa dengan tetap dibingkai oleh nilai-nilai etika keislaman, seperti prinsip amanah, kejujuran akademik, dan kewajiban verifikasi (tabayyun) atas data yang dihasilkan (Mudzakir et al., 2026).
Baca...  Babi Makhluk Ajaib yang Diharamkan untuk Dikonsumsi dalam Alquran

​Penutup

​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi yang amat strategis dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian sejarah masa lalu, melainkan sebagai instrumen pembentuk identitas, karakter religius, serta penggalian ibrah (pelajaran hidup) bagi peserta didik. Namun, efektivitas pencapaian fungsi ideal tersebut selama ini terhambat oleh dominasi pendekatan pengajaran tradisional yang kaku, tekstual, dan berpusat pada guru (teacher-centered). Pendekatan berorientasi hafalan pasif ini terbukti menimbulkan kesenjangan pedagogis yang nyata dengan gaya belajar Generasi Z yang cenderung kritis, interaktif, serta membutuhkan pembelajaran kontekstual berbasis media digital (Asy’ari & Prayogi, 2026).

​Dalam kondisi melimpahnya informasi yang belum terverifikasi serta meningkatnya penyebaran informasi sejarah yang tidak benar di dunia digital, penguatan literasi sejarah (historical literacy) dan pemikiran kritis Generasi Z menjadi urgensi yang amat mendesak (Rafi et al., 2025). Melalui pemaparan historical thinking skills yang mencakup analisis kausalitas, pemahaman kontinuitas perubahan, serta pembacaan lateral (lateral reading), SKI berfungsi sebagai perlindungan pola pikir yang mendidik Gen Z untuk bersikap tabayyun (verifikatif) dan objektif terhadap setiap klaim informasi di dunia maya.

​Perubahan SKI dari pola metode menghafal fakta secara berulang menuju pembelajaran yang memahami konteks dan menganalisis peristiwa sejalan dengan arah kebijakan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) yang menekankan penciptaan suasana belajar berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) (Fatmawati, 2025). Melalui pembaruan pengalaman memahami konteks peristiwa, mengaplikasikannya pada krisis kontemporer, serta merefleksikan nilai-nilai moral kebangsaan, SKI berhasil mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) Generasi Z. Penerapan strategi pedagogis progresif—seperti Problem-Based Learning (PBL), Project-Based Learning (PjBL), digital storytelling, tur museum virtual, serta integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) secara etis—menjadi kunci implementasi dalam menghidupkan narasi sejarah Islam agar relevan dengan gaya belajar Gen Z, sekaligus membekali mereka dengan kedalaman karakter keislaman di era digital.

​Referensi / Daftar Pustaka

  • ​Asy’ari, M. F., & Prayogi, A. (2026). Reformulasi metode pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) agar relevan bagi Generasi Z. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 4(4), 1639–1645. https://doi.org/10.61104/ihsan.v4i4.11664
  • ​Fatmawati, I. (2025). Transformasi pembelajaran sejarah dengan deep learning berbasis digital untuk Gen Z. Jurnal REVORMA, 5(1), 25–39. https://doi.org/10.62825/revorma.v5i1.140
  • ​Mudzakir, S., Nuraniyyah, R. N., Damayanti, R. A., Alamsyah, S., Salsabilla, S., & Kholifah, A. (2026). Analisis relevansi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran SKI dalam menghadapi tantangan era digital. AL-IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, 10(1), 1044–1063. http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman
  • ​Naitboho, Y., Kirana, A. R. C., Da Silva, N. L., Sensi, N., & Mas’ud, F. (2026). Strengthening history education in building Generation Z’s nationalism: A humanities and digital learning perspective. Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora, 10(1), 1–9. https://doi.org/10.36526/santhet.v10i1.6703
  • ​Rafi, A., Aliyah, D. Z. H., & Razaq, A. (2025). Peran literasi digital dalam meningkatkan kemampuan berfikir kritis Generasi Z. Jurnal Literasi Digital, 5(3), 311–320. https://doi.org/10.54065/jld.5.3.2025.794
1 posts

About author
Mahasiswa PAI UIN Malang
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Menanamkan Nilai Toleransi SKI SD/MI lewat Piagam Madinah dan Pancasila

5 Mins read
​Indonesia ialah rumah besar bagi ratusan suku, bahasa, dan keyakinan. Di tengah keragaman yang begitu luas dan indah ini, menanamkan benih toleransi…
KeislamanPendidikan

Transformasi Pembelajaran SKI SD/MI: Membumikan Moderasi Beragama

4 Mins read
​Pendahuluan ​Indonesia merupakan ruang hidup bersama yang ditakdirkan berdiri di atas keanekaragaman suku, ras, budaya, dan agama. Keberagaman ini adalah kekayaan sosial…
KeislamanPendidikan

Fikih Kecerdasan Artificial: Etika & Hukum AI Perspektif Islam

12 Mins read
Pendahuluan ​Kemajuan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, salah satunya melalui kehadiran kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *