Pendidikan Agama Islam sejak dini berperan penting dalam membentuk iman, moral, dan karakter anak. Pada jenjang SD/MI, nilai keislaman sebaiknya ditanamkan melalui kegiatan yang sesuai dengan dunia anak, yaitu belajar sambil bermain. Pembelajaran Akidah Akhlak bertujuan menumbuhkan keimanan kepada Allah SWT dan mewujudkannya dalam perilaku baik sehari-hari.
Akhlak mulia menjadi dasar pembentukan karakter anak. Nilai seperti jujur, sabar, sopan, bertanggung jawab, dan peduli tidak cukup diajarkan melalui hafalan, tetapi perlu dialami dan dipraktikkan. Pembelajaran Akidah Akhlak berperan strategis dalam membentuk akhlakul karimah melalui penanaman iman, moral, dan etika Islam dalam tindakan nyata (Amri et al., 2026).
Hakikat Pendidikan Akhlak
Akhlak adalah perilaku yang telah menjadi kebiasaan dalam diri seseorang, baik berupa perilaku terpuji maupun tercela. Dalam Islam, akhlak mulia merupakan buah dari iman dan ketakwaan. Pendidikan akhlak bertujuan membentuk pribadi muslim yang beriman, berilmu, beramal saleh, dan mampu hidup secara sosial dengan baik.
Tujuan pendidikan akhlak adalah menumbuhkan kesadaran siswa untuk berbuat baik bukan karena paksaan, melainkan karena memahami nilai dan manfaatnya. Strategi guru dalam pembelajaran Akidah Akhlak diarahkan agar siswa mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai Islam berdasarkan Al-Qur’an dan hadis (Sufia et al., 2023).
Akhlak juga berkaitan erat dengan kehidupan bermasyarakat. Sikap toleran, suka menolong, dan menghormati orang lain merupakan wujud akhlak yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Pendidikan akhlak membantu menjaga tatanan sosial agar kehidupan bersama berjalan harmonis (Rambe et al., 2023).
Secara sederhana, akhlak adalah kebiasaan jiwa yang melahirkan perbuatan secara mudah tanpa banyak dipikirkan. Perbuatan baik yang dilakukan berulang-ulang disebut akhlak mahmudah, sedangkan kebiasaan buruk disebut akhlak madzmumah. Dengan demikian, akhlak tidak terbentuk dari satu perbuatan saja, melainkan dari pembiasaan dan strategi pembinaan perilaku secara terus-menerus (Nashihin & Zaini, 2023).
Karakteristik Siswa SD/MI
Siswa SD/MI umumnya berusia 6–12 tahun. Mereka senang bermain, bergerak, bercerita, dan bekerja dalam kelompok. Anak pada usia ini lebih mudah memahami pelajaran melalui contoh nyata, gambar, cerita, dan pengalaman langsung.
Pada tahap perkembangan kognitif, sebagian besar siswa SD berada pada fase operasional konkret. Mereka mulai mampu berpikir logis terhadap hal yang dapat dilihat dan dialami langsung, tetapi kemampuan berpikir abstrak masih terbatas. Karena itu, pembelajaran akhlak perlu menggunakan kegiatan konkret, seperti bermain peran, permainan kelompok, dan kegiatan sosial.
Siswa SD/MI juga sedang belajar bekerja sama, berbagi, mengikuti aturan, mengenali perasaan, dan membedakan perilaku baik-buruk. Permainan edukatif sesuai dengan karakteristik tersebut karena melatih anak untuk menunggu giliran, membantu teman, menerima aturan, dan menghargai orang lain (Parwanti et al., 2023).
Permainan Edukatif dalam Pembelajaran Akhlak
Permainan edukatif adalah kegiatan bermain yang dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam PAI, permainan bukan sekadar hiburan, melainkan media untuk mengenalkan nilai agama, melatih sikap, dan membentuk akhlak mulia. Alat permainan edukatif dapat menumbuhkan minat belajar serta membantu anak menyerap nilai agama dan moral dengan lebih menyenangkan (Amalia et al., 2023).
Salah satu contohnya adalah board game berjudul Petualangan Akhlak: Siddiq, Tabligh, Amanah, Fathonah. Melalui permainan ini, siswa diajak menyelesaikan misi akhlak hingga mencapai garis finis. Kartu permainan berisi situasi sehari-hari, misalnya menemukan uang, membuat kesalahan, atau melihat teman kesulitan. Siswa diminta memilih tindakan yang mencerminkan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
Desain permainan menggunakan bahasa yang ramah anak dan visual animasi yang menarik agar siswa lebih mudah memahami aturan serta terlibat aktif. Penggunaan media pembelajaran berbasis board game (seperti pengenalan sifat-sifat rasul) dalam pembelajaran Akidah Akhlak dapat membantu siswa mengenal materi keagamaan secara lebih interaktif dan menyenangkan (Susilowati et al., 2025).
Langkah Penerapan di Kelas
Penerapan permainan edukatif dapat dilakukan melalui beberapa langkah:
- Perencanaan: Guru menentukan tujuan pembelajaran, menyiapkan media, aturan main, kelompok, dan waktu.
- Pemilihan permainan: Guru memilih permainan yang sesuai dengan materi, usia siswa, jumlah siswa, dan fasilitas sekolah.
- Penjelasan awal: Guru menjelaskan singkat nilai akhlak yang akan dipelajari, misalnya kejujuran, disertai contoh nyata.
- Pelaksanaan permainan: Siswa bermain secara berkelompok atau berpasangan, sementara guru mengawasi dan memastikan semua siswa ikut berpartisipasi.
- Refleksi: Guru mengajak siswa membahas pengalaman bermain, misalnya mengapa jujur penting atau bagaimana perasaan saat membantu teman.
- Penguatan: Guru menegaskan kembali nilai akhlak dan mengajak siswa menerapkannya di rumah, sekolah, dan masyarakat.
Refleksi menjadi bagian terpenting karena tanpa refleksi, siswa mungkin hanya menikmati permainan tanpa memahami pesan moralnya. Metode aktif seperti role playing (bermain peran) dan permainan kelompok terbukti dapat meningkatkan akhlak siswa melalui pengalaman sosial yang langsung (Parwanti et al., 2023).
Penutup
Pembelajaran Akidah Akhlak di SD/MI perlu bergeser dari metode ceramah dan hafalan menuju pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan menyenangkan. Permainan edukatif, khususnya board game bertema akhlak, dapat membantu siswa memahami dan menerapkan nilai kejujuran, kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian secara alami.
Agar efektif, permainan harus dirancang sesuai usia siswa dan diikuti dengan diskusi serta refleksi. Dengan demikian, nilai akhlak tidak hanya diketahui siswa, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
- Amalia, N., Rosila, A. J., & Lestari, A. (2023). Menanamkan Nilai Agama dan Moral Anak Usia Dini Melalui Alat Permainan Edukatif. Islamic Education, 1(4), 1-14. https://doi.org/10.68352/education.v1i4.650
- Amri, A., Rahmayanti, S., Nisak, H., Shofa, N. Z., Nurrita, N., & Haikal, M. (2026). PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA MELALUI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI SEKOLAH DALAM MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH. Jurnal Pema Tarbiyah, 5(1), 118-129. http://dx.doi.org/10.30829/pema.v5i1.5565
- Nashihin, N., & Zaini, A. A. (2023). Strategi pembinaan akhlakul karimah di sekolah. Ummul Qura Jurnal Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan, 18(1), 49-66. https://doi.org/10.55352/uq.v18i1.116
- Parwanti, Junanah, & Husain, A. M. (2023). Metode role playing dan pengaruhnya dalam meningkatkan akhlak siswa SD Negeri Balecatur 2. HEUTAGOGIA: Journal of Islamic Education, 3(1), 71–83. https://doi.org/10.14421/hjie.2023.31-06
- Rambe, M. S., Waharjani, W., & Perawironegoro, D. (2023). Pentingnya pendidikan akhlak dalam kehidupan masyarakat Islam. Tadarus Tarbawy: Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan, 5(1). https://doi.org/10.31000/jkip.v5i1.8533
- Sufia, R., Rahayu, R., Marlina, T., & Diana, R. F. (2023). Strategi Guru dalam Membina Akhlakul Karimah Siswa Madrasah Ibtidaiyah. Dawuh Guru: Jurnal Pendidikan MI/SD, 3(1), 77-88. https://doi.org/10.35878/guru.v3i1.635
- Susilowati, S. A., Arifianto, P. F., & Setiawan, B. (2025). Perancangan Konsep Media Pembelajaran Berbasis Board Game untuk mengenalkan “4 Sifat Wajib Rasul” dalam Pelajaran Akidah dan Akhlak. JISPENDIORA Jurnal Ilmu Sosial Pendidikan Dan Humaniora, 4(1), 331-346. https://doi.org/10.56910/jispendiora.v4i1.2113

