KeislamanPendidikan

Menanamkan Iman Anak di Era Digital: Strategi Orang Tua & Guru

7 Mins read

Ingatan masa kecil saya selalu kembali pada riuhnya suasana Subuh di rumah. Setiap kali azan berkumandang, Umi tidak pernah absen membangunkan saya untuk pergi ke masjid. Begitu mata saya terbuka, Ayah sudah siap di depan pintu, mengajak melangkah bersama menuju tempat salat. Karena rutinitas tersebut diulang secara konsisten tanpa putus, rasa malas bangun pagi perlahan hilang dengan sendirinya. Cerita tidak berhenti di situ; setiap hari Jumat, Ayah selalu menyisipkan beberapa lembar uang ke tangan saya. Saat kotak infak masjid berputar, beliau menuntun tangan saya untuk memasukkannya. Dari momen sederhana itulah saya belajar memahami arti bersedekah. Ada rasa bahagia dan bangga yang sulit dijelaskan ketika mengetahui uang kecil itu ikut menyumbang pembangunan masjid—sebuah amalan yang saya harapkan menjadi tabungan akhirat bagi saya dan kedua orang tua. Kebiasaan tersebut melekat kuat dan terus saya jalani hingga hari ini.

​Dari cerita kecil ini, saya makin yakin bahwa iman seorang anak tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan secara konsisten di rumah. Lingkungan keluarga adalah tempat utama yang menentukan bagaimana karakter dan nilai agama seorang anak terbentuk.

​Islam memandang bahwa setiap anak lahir ke dunia dalam keadaan suci atau fitrah. Artinya, dalam diri setiap anak sebenarnya sudah ada benih alami untuk mengenal dan mencintai Sang Pencipta. Keterangan ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW bahwa setiap bayi terlahir di atas fitrah, dan orang tualah yang kemudian membentuk arah hidupnya, apakah menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan betapa besarnya peran rumah. Fitrah yang bersih itu ibarat tanah subur; jika tidak disiram dan dirawat sejak dini dengan ajaran kebaikan, ia bisa tertutup oleh pengaruh luar yang merusak (Aisyah, 2019).

​Proses mengenalkan agama kepada anak pun memiliki tahapan dan seninya, tidak bisa dilakukan secara asal atau mendikte. Nabi Muhammad SAW memberi petunjuk agar kita mulai mengajari dan menyuruh anak salat saat usianya menginjak tujuh tahun, lalu memberikan teguran yang lebih tegas jika mereka meninggalkannya di usia sepuluh tahun (HR. Abu Dawud). Ada pesan pengasuhan yang sangat lembut di sini: kenalkan terlebih dahulu, biasakan dengan kasih sayang, baru kemudian tegakkan kedisiplinan. Pengalaman saya dibangunkan Subuh sejak kecil adalah bukti nyata dari prinsip ini. Saya diajak merasakan indahnya salat berjemaah terlebih dahulu sebagai bagian dari ritme hidup keluarga, jauh sebelum saya memahami hukum fikih di dalamnya.

​Terdapat perbedaan yang sangat besar antara orang tua yang hanya bisa menyuruh dan orang tua yang mau memberikan contoh langsung. Jika hanya diberi perintah, anak biasanya menganggap hal itu sebagai beban atau formalitas belaka. Namun, lain ceritanya jika orang tua langsung bergerak—misalnya dengan berwudu dan mengajak anak berjalan bersama ke masjid. Anak akan memahami bahwa ibadah adalah kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga, bukan sekadar tugas anak kecil.

​Dampak dari contoh nyata ini akan bertahan sangat lama. Ketika orang tua sedang sibuk bekerja atau memiliki halangan mendadak sehingga tidak bisa menemani salat, anak yang sudah terbiasa melihat teladan akan tetap berangkat salat berjemaah atas kesadaran sendiri. Sebaliknya, anak yang hanya dibombardir dengan suruhan tanpa pernah melihat orang tuanya melakukan hal serupa biasanya akan langsung merasa malas saat tidak ada yang mengawasi. Inilah alasan mengapa teladan langsung menjadi kunci utama. Baik orang tua di rumah maupun guru di sekolah harus menjadi cermin kebaikan yang nyata bagi anak-anak (Sulaiman & Ismail, 2024).

Baca...  Pendekatan Tafsir Kontekstual dalam Pemikiran Muhammad Shahrur: Antara Tradisi dan Pembaruan

​“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

​Kebiasaan baik seperti salat Subuh berjemaah dan rutin bersedekah pada hari Jumat tidak muncul begitu saja secara mendadak. Kebiasaan tersebut merupakan buah dari proses panjang yang diulang secara terus-menerus. Ketika orang tua tanpa bosan mengajak anak ke masjid setiap Subuh dan membimbing jemarinya memasukkan sedekah setiap Jumat, pengalaman itu mengendap jauh di dalam ingatan sang anak. Saat ia beranjak remaja dan dewasa, tindakan tersebut tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan sudah menyatu dalam gaya hidupnya sehari-hari (Sulaiman & Ismail, 2024).

​Tidak hanya ibadah ritual, nilai-nilai kepedulian sosial juga harus dibiasakan sejak kecil. Orang tua saya selalu menanamkan pesan agar saya rajin berusaha dan tidak ragu mengulurkan tangan bagi orang lain. Bentuknya sederhana saja, seperti diajak salat bersama, menyisihkan rezeki untuk yang membutuhkan, hingga membantu teman yang sedang kesusahan. Dari sekian banyak kenangan masa kecil, kehangatan salat berjemaah dan rasa lega setelah membantu teman adalah dua hal yang paling membekas di hati saya. Kebiasaan kecil inilah yang akhirnya menjadi benteng pelindung saya ketika berhadapan dengan pergaulan di luar rumah.

​Pada zaman sekarang, tantangan pergaulan anak jauh lebih rumit. Tanpa pengawasan dan perhatian yang cukup dari orang tua, anak-anak sangat mudah terperosok ke dalam lingkungan pertemanan yang salah. Tugas orang tua dan guru tidak cukup hanya memberi nasihat berulang-ulang, tetapi juga mendampingi dan menetapkan batasan yang jelas. Anak harus mengetahui batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilanggar, termasuk hal mendasar seperti aturan jam pulang saat bermain.

​Kurangnya kontrol dari rumah membuat anak rentan terseret arus pergaulan bebas. Lingkungan tempat anak bermain memiliki daya pengaruh yang luar biasa besar. Saya ingat betul kejadian nyata saat masih di sekolah dulu; ada seorang teman yang membawa vape (rokok elektrik) ke sekolah, memamerkannya, lalu membujuk teman lain untuk ikut mencoba. Walaupun awalnya ada yang menolak dan bertanya, “Buat apa mencoba yang begini?”, karena terus didesak dengan kata-kata “Coba saja dulu, tidak apa-apa”, akhirnya anak-anak lain ikut-ikutan mencoba.

​Kejadian ini membuka mata saya betapa kuatnya dorongan teman sebaya (peer pressure). Di sinilah orang tua harus hadir secara peka. Orang tua perlu mengetahui dengan siapa anaknya berteman dan bagaimana ia menghabiskan waktu di luar rumah. Pengawasan tidak harus berarti mengekang atau mengekor terus-menerus, melainkan cukup dengan menetapkan aturan main yang konsisten serta pemantauan dari jauh yang bijaksana.

Baca...  Mengungkap Keajaiban Angka dalam Al-Qur’an: Jumlah Ayat dan Surah

​Masuknya teknologi ke dalam kamar anak membawa tantangan pengasuhan yang tidak kalah berat. Saat ini, tidak sedikit orang tua yang memilih cara instan agar anak tidak rewel dengan memberikan gawai (smartphone). Ujung-ujungnya, anak-anak malah tenggelam dalam gim daring hingga lupa waktu. Dampaknya jelas: minat belajar anak merosot tajam dan kepekaannya terhadap lingkungan sekitar menjadi tumpul (Kurnia dkk., 2024).

​Saya kerap menemui fenomena ini di lingkungan sekitar rumah. Saat orang tua terlalu lelah atau sibuk dengan urusan pekerjaan, gawai akhirnya dijadikan “pengasuh elektronik” untuk menggantikan kehadiran mereka. Anak memang menjadi tenang dan diam, tetapi mereka kehilangan momen berharga untuk berinteraksi, bermain, dan beribadah bersama orang tuanya. Ponsel yang sejatinya hanya alat bantu justru menyita ruang emosional antara anak dan orang tua. Alangkah lebih bijak jika orang tua menahan diri untuk tidak memberikan gawai pribadi sebelum anak cukup umur dan benar-benar memahami cara memanfaatkannya untuk belajar (Kurnia dkk., 2024).

​Di samping tantangan gawai di rumah, pembelajaran materi Akidah Akhlak di tingkat SD/MI juga membutuhkan strategi yang hidup dan menyenangkan agar nilai-nilai keimanan tidak sekadar menjadi hafalan kaku di buku teks. Anak usia sekolah dasar berada pada fase perkembangan konkret, di mana mereka lebih mudah memahami nilai keagamaan melalui contoh visual, tindakan nyata, dan keterlibatan emosional.

​Salah satu strategi inovatif yang sangat efektif diaplikasikan guru di kelas adalah kombinasi metode bercerita (storytelling) dan bermain peran (role-playing). Melalui storytelling, guru dapat membawakan kisah-kisah teladan para Nabi, Sahabat, maupun cerita hikmah kehidupan sehari-hari dengan intonasi yang menggugah emosi anak. Kisah tentang kejujuran Nabi Muhammad SAW atau kedermawanan para Sahabat dapat ditanamkan bukan sebagai deretan fakta sejarah belaka, melainkan sebagai gambaran nyata sosok idola yang patut ditiru.

​Strategi tersebut kemudian diperkuat dengan metode role-playing, yaitu anak-anak diajak langsung mensimulasikan situasi kehidupan nyata. Misalnya, murid diberi skenario mempraktikkan sikap jujur ketika menemukan barang hilang di sekolah, atau mensimulasikan cara menolak dengan sopan saat diajak melakukan tindakan tidak terpuji oleh teman sebayanya. Melalui simulasi peran ini, anak-anak belajar menginternalisasi nilai-nilai keimanan ke dalam tindakan konkret, sehingga mereka memiliki kesiapan mental dan keberanian moral saat menghadapi situasi serupa di dunia nyata.

​Menanamkan nilai keimanan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan otoriter yang hanya berisi larangan dan hukuman. Menggembleng mental anak membutuhkan ikatan batin dan komunikasi dua arah yang hangat. Anak yang merasa didengar dan dihargai pendapatnya akan jauh lebih mudah menerima masukan daripada anak yang saban hari hanya dimarahi saat melakukan kesalahan (Mizani, 2017). Orang tua perlu meluangkan waktu khusus di tengah kesibukan, misalnya mengobrol santai sesudah salat Magrib atau menjelang tidur. Tanyakan hal-hal sederhana seperti bagaimana sekolahnya hari ini, siapa saja temannya, atau apa yang sedang ia pikirkan (Mizani, 2017).

​Saat anak berbuat keliru, ketimbang langsung membentak atau melarang tanpa alasan, cobalah ajak berpikir dengan memberikan penjelasan logis mengapa hal itu tidak baik. Obrolan yang terbuka seperti ini melatih naluri moral anak agar bisa membedakan mana yang benar dan salah secara mandiri (Mizani, 2017). Mengambil contoh kasus vape di sekolah tadi, anak yang terbiasa jujur dan dekat dengan orang tuanya tentu akan lebih berani menolak ajakan buruk temannya, lalu menceritakan kejadian itu saat pulang ke rumah. Dari situ, orang tua bisa langsung memberikan arahan sebelum masalahnya terlanjur jauh.

Baca...  Jejak Sanad Sufisme dan Pemikiran Syekh Nawawi Al-Bantani Menurut Gus Kautsar

​Selain rumah, sekolah adalah tempat kedua tempat anak menghabiskan banyak waktunya. Oleh karena itu, posisi guru sangat strategis dalam melanjutkan pembentukan karakter anak. Guru adalah sosok teladan di mata siswa. Bukan hanya mentransfer ilmu di papan tulis, guru juga perlu mempraktikkan kebiasaan baik di sekolah. Misalnya, saat jam istirahat, guru bisa meluangkan waktu sebentar untuk salat Duha dan mengajak murid-muridnya ikut serta, atau memimpin salat Zuhur berjamaah. Agar konsisten, kebiasaan ini sebaiknya dijadwalkan secara resmi dalam kegiatan sekolah.

​Sinergi antara sekolah dan rumah adalah kunci utama. Orang tua perlu rajin membuka komunikasi dengan guru mengenai tabiat anak saat di rumah, begitu pula sebaliknya. Dengan saling berbagi informasi, guru dapat memahami karakter setiap anak secara utuh dan menjalankan fungsinya sebagai orang tua kedua di sekolah dengan pendekatan yang tepat.

​Pengalaman pribadi yang saya jalani membentuk keyakinan kuat dalam diri saya bahwa kebaikan yang ditanamkan dengan sabar, penuh kasih sayang, dan konsisten di dalam rumah akan menjadi jangkar hidup anak hingga ia dewasa (Aisyah, 2019; Sulaiman & Ismail, 2024). Mendidik iman anak bukanlah tugas tunggal orang tua atau guru saja, melainkan kerja sama utuh yang dimulai dari contoh nyata di rumah, diperkuat melalui pembiasaan di sekolah, serta dijaga dari liarnya pergaulan dan paparan gawai.

​Kerja sama yang erat antara orang tua dan guru sangat dibutuhkan agar anak-anak kita bisa tumbuh di lingkungan yang sehat dan selamat dari pengaruh negatif zaman. Usia anak-anak adalah masa emas untuk menanamkan keimanan sebagai bekal keselamatan mereka kelak di dunia dan akhirat. Seperti ingatan indah yang disampaikan Allah SWT dalam Al-Qur’an:

​“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

​DAFTAR PUSTAKA

  • ​Aisyah, S. (2019). Pendidikan fithrah dalam perspektif hadist (studi tentang fitrhah anak usia 7-12 tahun). Al-Adzka: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 9(1), 51–64. https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/adzka
  • ​Kurnia, A., Kusuma, S. A., Arimanda, A. R. Y., & Lestari, N. (2024). Penumbuhan motivasi belajar serta pengenalan dampak gadget pada anak sekolah dasar. PaKMas (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat), 4(1), 198–208. https://doi.org/10.54259/pakmas.v4i1.2760
  • ​Mizani, Z. M. (2017). Komunikasi orang tua dan anak dalam Islam (Tinjauan pedagogis komunikasi Nabi Ibrahim dengan Nabi Isma’il dalam Al-Qur’an). Ibriez: Jurnal Kependidikan Dasar Islam Berbasis Sains, 2(1), 95–106. https://doi.org/10.21154/ibriez.v2i1.28
  • ​Sulaiman, W., & Ismail, S. (2024). Konsep keteladanan orangtua sebagai model pendidikan bagi anak dalam keluarga: Perspektif Islam. Journal of Education and Teaching (JET), 5(1). https://doi.org/10.51454/jet.v5i1.260
1 posts

About author
Program Studi: Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Relevansi Metode Pendidikan Keimanan Anak Al-Ghazali di Era Digital

4 Mins read
Pendahuluan ​Pendidikan akidah dan akhlak memegang peranan penting dalam membentuk karakter dasar seorang anak, khususnya pada masa transisi pertumbuhan di tingkat Sekolah…
KeislamanPendidikan

Peran Teman Sebaya dalam Menumbuhkan Keimanan Anak SD/MI

4 Mins read
Pendahuluan ​Penanaman keimanan dan akhlak mulia sejak usia Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) merupakan fondasi utama dalam membentengi anak dari ancaman degradasi moral…
KeislamanPendidikan

Menguatkan Iman Anak Melalui Keindahan Alam: Panduan Akidah Akhlak

8 Mins read
​Pernahkah kita melihat seorang anak merasa kagum ketika melihat pelangi, kupu-kupu yang hinggap di bunga, atau tanaman kecil yang tumbuh setelah beberapa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *