KeislamanPendidikan

​Membentuk Karakter Religius Anak Lewat Pembiasaan & Keteladanan

9 Mins read

​Pendahuluan

​Seorang siswa kelas tiga SD tampak khusyuk membaca doa sebelum memulai pelajaran. Ia menghafal doa tersebut dengan baik, melafalkannya dengan suara lantang, dan diikuti oleh teman-temannya. Namun, ketika berada di rumah, ia justru tidak melakukannya. Tanpa kehadiran guru yang mengawasi atau teman-teman yang mengikutinya, kebiasaan berdoa itu seolah terlupakan. Situasi seperti ini sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, ketika anak menunjukkan perilaku religius di hadapan orang lain, tetapi belum mampu menerapkannya saat sendirian. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagaimana cara menanamkan ibadah dan akhlak agar tidak sekadar menjadi kegiatan rutin, tetapi benar-benar tumbuh menjadi bagian dari keimanan anak.

​Untuk mewujudkan hal tersebut, pembiasaan dan keteladanan menjadi dua cara penting yang dapat diterapkan dalam pendidikan anak. Meskipun terlihat sederhana dan mudah dilakukan, kedua cara ini memiliki peran besar dalam membentuk karakter serta menumbuhkan keimanan sejak dini. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan keteladanan yang diberikan oleh orang dewasa, anak dapat belajar memahami sekaligus menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tulisan ini membahas bagaimana pembiasaan dapat membantu menumbuhkan keimanan serta bagaimana peran orang tua dan guru dalam memberikan contoh yang baik bagi anak.

​Pembahasan

​Iman Anak Tidak Cukup Hanya dengan Hafalan

​Dalam pembelajaran Akidah Akhlak di SD/MI, siswa mempelajari berbagai materi keagamaan, seperti rukun iman, asmaulhusna, kisah para nabi, serta perilaku terpuji. Materi tersebut menjadi dasar penting dalam pendidikan agama. Namun, keberhasilan belajar tidak cukup dinilai dari kemampuan anak dalam mengingat dan menyebutkan materi yang telah dipelajari. Dalam ajaran Islam, iman berkaitan dengan keyakinan dalam hati, pengakuan melalui lisan, dan pembuktian melalui perbuatan. Dengan demikian, pendidikan iman perlu mencakup tiga aspek yang saling berkaitan, yaitu pemahaman, penghayatan, dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

​Karakter yang baik tidak hanya terbentuk dari pengetahuan tentang nilai-nilai kebaikan, melainkan juga dari tumbuhnya rasa cinta terhadap kebaikan dan kebiasaan untuk melakukannya (Sa’diyah & Achadi, 2026). Ketiga aspek tersebut perlu dikembangkan secara seimbang. Sebagai contoh, anak mungkin sudah memahami bahwa kejujuran merupakan perilaku yang baik, tetapi jika belum terbiasa menerapkannya, ia masih berpotensi berbohong ketika menghadapi situasi yang sulit. Begitu pula dengan ibadah salat. Apabila anak melaksanakannya hanya karena takut mendapat teguran dari orang tua atau guru, kebiasaan tersebut bisa saja hilang ketika tidak ada yang mengawasi (Sa’diyah & Achadi, 2026). Oleh sebab itu, pendidik memiliki tanggung jawab untuk membantu anak memahami nilai-nilai agama sekaligus membimbing mereka agar mampu menerapkannya secara nyata. Proses ini dapat dilakukan melalui kegiatan yang konsisten, disertai pemahaman dan pengalaman positif, sehingga anak tidak hanya menjalankan ibadah sebagai kewajiban, tetapi juga mulai menyadari makna dan manfaatnya. Dalam hal ini, pembiasaan menjadi salah satu cara yang penting untuk menanamkan nilai-nilai keimanan dan membentuk akhlak mulia sejak usia dini.

​Permasalahan ini juga terlihat dalam proses pembelajaran di sekolah. Penilaian keberhasilan belajar di sekolah masih cenderung berfokus pada aspek kognitif, seperti kemampuan menghafal materi dan memperoleh hasil ujian tertulis (Ilmi & Rodiah, 2024). Akibatnya, penerapan nilai-nilai agama dalam perilaku sehari-hari belum mendapatkan perhatian yang seimbang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan agama perlu diarahkan tidak hanya pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai keimanan (Ilmi & Rodiah, 2024).

​Pembiasaan: Menanamkan Kebaikan Hingga Menjadi Bagian dari Karakter Anak

​Pembiasaan merupakan proses melatih seseorang untuk melakukan perilaku positif secara berulang sampai perilaku tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan Islam, metode ini dinilai sesuai untuk diterapkan kepada anak usia dini dan siswa sekolah dasar karena pada tahap tersebut mereka masih mudah menerima pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Pandangan Al-Ghazali menjelaskan bahwa anak merupakan amanah bagi orang tuanya dan memiliki hati yang masih bersih sehingga dapat menerima nilai-nilai yang mengajarkan kebaikan padanya. Pandangan ini berkaitan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Oleh karena itu, pendidikan dan kebiasaan yang diberikan sejak kecil memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian serta perilaku anak ketika dewasa.

Baca...  Ontologi Keadilan Kosmis: Etika Kepemimpinan Ekologis Umar bin Khattab

​Penerapan pembiasaan dalam pendidikan agama dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana yang mudah diterapkan di sekolah. Pada salah satu sekolah dasar negeri di Banyuasin, Sumatera Selatan, ditemukan bahwa guru menerapkan kegiatan keagamaan secara rutin, seperti membaca doa sebelum dan sesudah pembelajaran, melafalkan asmaulhusna, serta membaca surat-surat pendek (Hakim et al., 2026). Selain itu, terdapat kegiatan mingguan berupa membaca Al-Qur’an bersama dan berinfak setiap hari Jumat (Hakim et al., 2026).

​Praktik yang hampir sama juga ditemukan di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Bone. Guru Pendidikan Agama Islam membiasakan siswa mengucapkan salam, membaca Al-Qur’an, dan berdoa sebelum belajar, serta mengajak mereka untuk bersedekah setiap hari Jumat (Mujahidah, 2025). Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembiasaan keagamaan dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten (Mujahidah, 2025).

​Penerapan pembiasaan keagamaan juga ditemukan di sejumlah sekolah lainnya. Kegiatan seperti salat dhuha, istigasah, infak, dan membaca surat pendek diterapkan secara berkala di SDN Lemahputro 1 Sidoarjo (Rahmawaty & Supriyadi, 2025). Kegiatan tersebut dilaporkan berkontribusi terhadap perkembangan sikap disiplin, kerja sama, dan kesadaran spiritual siswa. Keberhasilannya juga didukung oleh keterlibatan aktif guru dan orang tua (Rahmawaty & Supriyadi, 2025).

​Sementara itu, penelitian di sebuah sekolah dasar negeri di Kota Blitar menunjukkan penerapan berbagai kegiatan, mulai dari berdoa setiap hari, membaca asmaulhusna, salat dhuha dan zuhur berjamaah, menghafal Al-Qur’an, hingga bersedekah pada hari Jumat (Hapsari et al., 2026). Pembiasaan tersebut dinilai berjalan dengan baik karena dilaksanakan secara terencana dan berkelanjutan, serta didukung oleh contoh perilaku guru dan orang tua (Hapsari et al., 2026).

​Hal serupa juga ditemukan di MI Mambaul Huda, Magetan, bahwa sebagian besar siswa sudah berinisiatif pergi ke masjid untuk melaksanakan salat dhuha tanpa menunggu perintah guru (Prastyo et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan yang awalnya dilakukan atas arahan guru mulai tumbuh menjadi kesadaran diri (Prastyo et al., 2025).

​Agar pembiasaan dapat berjalan dengan baik, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dan orang tua:

  1. ​Memulai dari kegiatan sederhana yang sesuai dengan usia anak. Anak SD/MI masih membutuhkan bimbingan dalam belajar agama. Karena itu, pembiasaan dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengucapkan salam, membaca basmalah sebelum makan, berdoa sebelum tidur, dan menyiapkan perlengkapan salat sendiri. Jika dilakukan secara terus-menerus, kegiatan sederhana ini dapat membentuk kebiasaan baik pada anak.
  2. ​Melakukan pembiasaan secara rutin dan teratur. Kebiasaan baik akan lebih mudah terbentuk jika dilakukan secara konsisten. Orang tua dan guru dapat mengatur waktu kegiatan keagamaan, seperti membaca Al-Qur’an sebelum belajar atau salat magrib berjamaah bersama keluarga. Dengan jadwal yang teratur, anak akan terbiasa melakukannya hingga akhirnya mampu menjalankan kegiatan tersebut secara mandiri.
  3. ​Memberikan bimbingan dengan pendekatan yang positif. Dalam membiasakan anak beribadah, guru sebaiknya tidak hanya mengandalkan teguran atau hukuman. Siswa yang belum terbiasa menjalankan ibadah perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan secara personal (Mujahidah, 2025). Melalui pendekatan tersebut, guru dapat memahami kesulitan yang dialami anak sekaligus membimbingnya secara perlahan. Anak juga perlu diberi penjelasan mengenai tujuan dan manfaat ibadah agar mereka tidak melakukannya hanya karena takut dimarahi. Dengan demikian, pembiasaan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan kemauan anak untuk beribadah, bukan sekadar kepatuhan ketika berada di bawah pengawasan (Mujahidah, 2025).

​Pembiasaan tidak hanya dilakukan dalam ibadah, tetapi juga untuk mengajarkan anak menghormati orang tua. Contohnya, MI Asih Putera Cimahi memiliki program Babakti ka Sepuh yang membiasakan siswa datang tepat waktu, mengucapkan salam, berdoa, dan membantu orang tua di rumah (Muslimah et al., n.d.). Perkembangan anak dipantau melalui buku agenda harian yang menjadi sarana komunikasi antara guru dan orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter perlu dilakukan di sekolah dan di rumah agar anak terbiasa menerapkan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari (Muslimah et al., n.d.).

Baca...  Siswa Bertanya Jodoh, Ustaz Menjawab dengan Contoh

​Keteladanan: Anak Mencontoh Perilaku Orang di Sekitarnya

​Keteladanan merupakan cara mendidik anak melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak usia sekolah dasar cenderung meniru perilaku orang-orang terdekat, terutama orang tua dan guru. Perilaku guru dapat memengaruhi sikap siswa. Oleh karena itu, guru dan orang tua perlu menunjukkan perilaku yang baik serta menyesuaikan perkataan dengan tindakan (Hakim et al., 2026).

​Hal ini sejalan dengan teori belajar sosial Bandura (1977), yang menjelaskan bahwa anak dapat mempelajari perilaku melalui pengamatan dan peniruan. Misalnya, mengajarkan kejujuran akan lebih efektif jika orang tua juga bersikap jujur. Begitu pula dalam mengajarkan ibadah, anak akan lebih mudah mengikuti ketika melihat orang tuanya melaksanakan salat secara rutin.

​Keteladanan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara sopan, datang tepat waktu, meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih. Sikap tersebut sejalan dengan semboyan Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarsa sung tuladha, yang berarti seorang pendidik harus memberikan contoh yang baik. Dalam Islam, Rasulullah SAW juga menjadi teladan utama dalam perkataan, sikap, dan perbuatan.

​Keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai agama melalui kegiatan sehari-hari, seperti berdoa sebelum makan, membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat berjamaah, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang baik. Melalui contoh tersebut, anak dapat memahami bahwa ajaran agama tidak hanya dipelajari melalui nasihat, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

​Dalam pembelajaran Akidah Akhlak, keteladanan Rasulullah SAW dapat dikenalkan melalui empat sifat utama, yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fatanah (cerdas) (Khofifah, 2023). Nilai-nilai tersebut dapat menjadi pedoman dalam membentuk karakter anak. Selain itu, cerita tentang para nabi dan tokoh Islam juga dapat membantu anak memahami perilaku terpuji (Khofifah, 2023).

​Kegiatan bercerita tentang tokoh Islam dapat mendorong munculnya perilaku positif pada anak (Sa’diyah & Achadi, 2026). Dengan demikian, keteladanan guru dan orang tua, yang didukung oleh cerita keagamaan, dapat membantu anak memahami dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari (Sa’diyah & Achadi, 2026).

​Ketika Pendidikan di Sekolah Tidak Selaras dengan Lingkungan Rumah

​Pembentukan karakter anak dapat mengalami kendala ketika kebiasaan di sekolah berbeda dengan lingkungan rumah. Perilaku positif yang dibangun di sekolah dapat berkurang jika anak berada di lingkungan yang kurang mendukung. Kurangnya bimbingan orang tua, pengaruh teman sebaya, serta penggunaan media sosial juga dapat memengaruhi perilaku anak (Hakim et al., 2026).

​Oleh karena itu, pendidikan agama tidak cukup hanya dilakukan di sekolah, tetapi perlu didukung oleh keluarga. Sebagian orang tua masih menyerahkan pembentukan karakter religius anak sepenuhnya kepada sekolah. Padahal, kerja sama antara guru dan orang tua sangat diperlukan agar kebiasaan beribadah dan perilaku terpuji dapat diterapkan secara konsisten, baik di rumah maupun di sekolah (Mujahidah, 2025).

​Kerja sama tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi rutin antara guru dan orang tua, pemantauan perkembangan perilaku anak, serta kegiatan keagamaan bersama, seperti salat berjamaah dan membaca Al-Qur’an. Buku penghubung juga dapat digunakan untuk memantau kebiasaan anak di rumah dan di sekolah.

​Selain itu, penggunaan gawai perlu mendapatkan pendampingan agar tidak mengganggu perkembangan karakter dan spiritual anak. Orang tua dan guru dapat mengenalkan kegiatan yang menarik, seperti mendengarkan kisah para nabi, menyanyikan lagu islami, dan bermain permainan edukatif tentang asmaulhusna. Dengan demikian, dukungan keluarga, sekolah, dan penggunaan teknologi secara bijak dapat membantu anak menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

​Dari Kebiasaan Menuju Kesadaran Beragama

​Pembiasaan dalam pendidikan agama tidak cukup dilakukan hanya secara berulang, melainkan anak juga perlu memahami makna dari kegiatan tersebut. Jika hanya mengikuti rutinitas, anak bisa saja beribadah tanpa mengetahui tujuan sebenarnya. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu membimbing anak agar kebiasaan baik dapat tumbuh menjadi kesadaran penuh dalam menjalankan ajaran agama.

Baca...  Kampus Merdeka bukan Berarti Kampus Liberal

​Pembentukan karakter melalui pembiasaan meliputi tiga tahap utama, yaitu knowing (memahami kebaikan), acting (melakukan kebaikan), dan habituating (membiasakan kebaikan) (Hapsari et al., 2026). Proses ini perlu didukung oleh keteladanan guru dan lingkungan yang baik agar anak tidak hanya memahami nilai agama, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Hapsari et al., 2026).

​Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran beragama pada anak:

  1. ​Menjelaskan alasan dengan bahasa sederhana. Misalnya, anak diajarkan berdoa sebelum makan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Anak juga perlu memahami bahwa kejujuran merupakan perilaku yang baik dan dicintai Allah. Dengan penjelasan sederhana, anak dapat memahami alasan di balik kebiasaan yang dilakukan.
  2. ​Mengajak anak berdialog dan bercerita. Orang tua atau guru dapat menanyakan perasaan anak setelah melakukan kebaikan, seperti berbagi makanan dengan teman. Cara ini membantu anak memahami manfaat berbuat baik. Selain itu, kisah Nabi Muhammad SAW yang jujur dan Nabi Ayyub AS yang sabar dapat menjadi contoh yang mudah dipahami dan ditiru. Hal ini menunjukkan bahwa karakter yang baik juga perlu disertai kecintaan terhadap kebaikan.
  3. ​Memberikan apresiasi atas usaha anak. Pujian, senyuman, atau ucapan terima kasih dapat mendorong anak untuk terus melakukan kebaikan. Motivasi, apresiasi, dan saling mengingatkan antar teman dapat membantu membentuk perilaku religius siswa (Mujahidah, 2025). Dengan demikian, anak diharapkan beribadah bukan karena takut dimarahi, melainkan karena mulai memahami pentingnya ibadah (Mujahidah, 2025).

​Kesimpulan

​Menumbuhkan keimanan anak membutuhkan proses, kesabaran, dan pendampingan dari guru serta orang tua. Pembiasaan yang konsisten dan keteladanan yang baik dapat membantu anak memahami serta menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

​Guru dapat membimbing anak melalui kegiatan sederhana, seperti berdoa sebelum makan, mengucapkan salam, dan menaati peraturan. Sementara itu, orang tua perlu memberikan contoh melalui ibadah dan perilaku terpuji di rumah. Kerja sama antara sekolah dan keluarga juga penting agar kebiasaan baik tetap diterapkan di berbagai lingkungan.

​Keberhasilan pendidikan agama tidak hanya diukur dari kemampuan anak menghafal materi, tetapi juga dari perilakunya sehari-hari. Dengan pembiasaan dan keteladanan yang berkelanjutan, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang beriman, jujur, dan menghormati orang lain.

​Daftar Pustaka

  • ​Hakim, L., Amri, H., & Habiburrahman, S. (2026). Peran guru meningkatkan karakter religius melalui pembiasaan di sekolah dasar negeri. Journal of Management in Islamic Education, 7(6), 120–131. https://doi.org/10.32832/itjmie.v7i6.23757
  • ​Hapsari, H. I. W., Suyitno, & Widiastuti, S. (2026). Pengembangan karakter religius peserta didik melalui metode pembiasaan. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11, 290–301.
  • ​Ilmi, N., & Rodiah, K. (2024). Model-model evaluasi pembelajaran PAI (Model Pengukuran, Model Kesesuaian, Model Sistem dan Model Illuminatif). Journal MULTICULTURAL of Islamic Education, 12–23.
  • ​Khofifah, L. (2023). Penanaman karakter berbasis nilai keagamaan pada Sekolah Dasar. Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ), 1(3), 129–132.
  • ​Mujahidah. (2025). Peran dan upaya guru PAI dalam pembentukan karakter religius siswa. Jurnal Pendidikan & Pembelajaran Sekolah Dasar, 4(4), 417–423.
  • ​Muslimah, N., Surana, D., & Rachmah, H. (n.d.). Internalisasi nilai akhlak karimah pada peserta didik melalui metode keteladanan dan pembiasaan di Madrasah Ibtidaiyah.
  • ​Prastyo, Y., Budiwan, J., & Wahyuni, F. (2025). Implementasi metode pembiasaan dan keteladanan dalam membentuk karakter religius pada siswa MI Mambaul Huda Panggung Barat Magetan. 1–11.
  • ​Rahmawaty, M., & Supriyadi, S. (2025). Religious character formation through habituation of worship activities: Pembentukan karakter religi melalui pembiasaan kegiatan ibadah. Indonesian Journal of Islamic Studies, 13(1), 1–9. https://doi.org/10.21070/ijis.v13i1.1797
  • ​Sa’diyah, K., & Achadi, M. W. (2026). Implementasi program pembiasaan kegiatan keagamaan dalam membentuk karakter religius anak di RA Al-Fatih Kuripan Sugihan. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11.
1 posts

About author
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Mengajarkan Akidah Anak SD: Agar Dipahami & Dihayati, Bukan Sekadar Hafalan

6 Mins read
Coba kalau kita tanyakan kepada anak SD: “Rukun iman ada berapa?” Kemungkinan besar mereka akan menjawab dengan cepat dan lantang, “Enam!”—mulai dari…
KeislamanPendidikan

Menanam Iman Lewat Keteladanan: Mengapa Anak Lebih Meniru Orang Tua

8 Mins read
​Pendahuluan ​Seorang ibu menegur putranya yang berumur tujuh tahun karena belum menunaikan shalat Asar. “Shalat itu wajib, Nak, ayo segera berwudhu,” ujarnya….
KeislamanPendidikan

Menghidupkan Nilai Keimanan Lewat Refleksi Diri Anak SD

3 Mins read
​Masa sekolah dasar adalah fase ketika anak mulai menyusun penilaian tentang dirinya sendiri. Di kelas-kelas awal, anak biasanya tumbuh percaya diri dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *