Esai

Hijrah Mindset: Mengapa Rasulullah Memilih Proses daripada Jalan Pintas?

6 Mins read

Bayangkan sebuah pohon raksasa diperintahkan tumbuh dalam satu malam. Akarnya belum sempat mencari air, batangnya belum mengeras, tetapi ia harus langsung menopang badai. Itulah kondisi banyak orang hari ini—menuntut buah kesuksesan, tetapi enggan menunggu akar proses tumbuh. Lalu, mengapa Rasulullah saw. tidak meminta Buraq membawanya dari Makkah ke Madinah dalam sekejap, padahal Allah telah menunjukkan keajaiban tersebut dalam Isra’ Mi’raj setahun sebelumnya?

​Tentu kita dapat melihat di lingkungan sekitar atau melalui postingan di media sosial bagaimana banyak orang membagikan pengalaman hidup mereka. Ada yang baru menerima gaji, namun hanya dalam beberapa hari saja uang tersebut sudah habis untuk kebutuhan konsumtif, cicilan, layanan paylater, hingga gaya hidup yang seharusnya bisa ditunda. Di sisi lain, ada pekerja yang ingin langsung naik jabatan dengan gaji selangit atau mahasiswa yang ingin skripsinya cepat selesai namun enggan membaca, mencatat, atau melakukan revisi. Dari hal tersebut, terlihat jelas bahwa banyak orang mendambakan badan ideal, keterampilan baru, atau kekayaan dalam waktu singkat tanpa mau melalui proses yang panjang.

​Kita hidup di zaman ketika semuanya bergerak serba cepat: layar gawai berada di dalam genggaman selama dua puluh empat jam, makanan dapat tiba dalam hitungan menit, informasi tersebar dalam beberapa detik, dan transaksi keuangan dilakukan secara instan. Dominasi generasi muda terhadap teknologi ini juga didukung oleh data yang menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial mendominasi pengguna internet di Indonesia (Katadata, 2025). Akibat kemudahan ini, orang yang masih di usia muda merasa harus serba cepat—cepat membeli rumah, cepat menikah, cepat punya usaha, cepat viral, atau cepat naik gaji. Alhasil, proses yang seharusnya menjadi bagian dari pertumbuhan justru dianggap sebagai hambatan.

​Realitas ekonomi di lapangan turut memperbesar tekanan tersebut. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah buruh sebesar Rp3,29 juta per bulan, sementara tingkat pengangguran terbuka mencapai 4,68 persen. Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak orang mencari jalan pintas. Ditambah lagi, transaksi e-retail dan marketplace tercatat tumbuh sebesar 61,9 persen (Antaranews, 2025), yang menunjukkan tingginya aktivitas konsumsi digital masyarakat. Ketika penghasilan terasa terbatas dan masa depan kerja tidak sepenuhnya pasti, godaan untuk membeli sekarang dan membayar nanti menjadi sangat kuat. Paylater, pinjaman online, investasi cepat kaya, dan konten gaya hidup mewah hadir seolah sebagai solusi instan, padahal sering kali hanya memindahkan masalah dari hari ini ke hari esok.

​Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BPS memperlihatkan ketidakseimbangan yang nyata dalam hal ini. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat indeks inklusi keuangan sebesar 80,51 persen, tetapi indeks literasi keuangan hanya berada di angka 66,46 persen. Artinya, banyak orang sudah mampu mengakses produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko, biaya, dan konsekuensi penggunaannya. Kesenjangan sebesar 14,05 persen inilah yang menjadi ruang tumbuhnya utang konsumtif, pinjaman online berisiko tinggi, dan investasi bodong.

Baca...  Melihat Pengkhianatan Yahudi Bani Quraizah

​Fobia proses adalah sifat yang membuat seseorang menghindari langkah-langkah panjang, melelahkan, dan penuh ketidakpastian untuk mencapai sesuatu. Mereka yang mengalami kondisi ini ingin langsung mendapatkan hasil tanpa mau menghadapi proses seperti belajar, mengalami kegagalan, memperbaiki diri, menabung, mengasah keterampilan, dan tetap bertahan saat hasil belum terlihat. Dalam kehidupan sehari-hari, fobia proses terlihat saat seseorang memilih berutang demi gaya hidup mewah, membeli pengikut di media sosial daripada membangun konten berkualitas, atau mencari cara instan untuk lulus, menjadi kaya, dan sukses.

​Islam tentu tidak mengajarkan umatnya menolak teknologi, kemudahan, atau usaha memperbaiki ekonomi; justru kemajuan merupakan bagian dari ikhtiar manusia. Namun, Islam menegaskan bahwa hasil yang baik tidak boleh dipisahkan dari proses yang jujur, sabar, dan bertanggung jawab. Allah Swt. berfirman:

​“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

​Ayat ini menunjukkan pentingnya akuntabilitas, di mana setiap usaha sekecil apa pun memiliki nilai. Dalam kehidupan modern, ayat ini menolak budaya yang hanya menghargai pencapaian besar secara instan, namun mengabaikan proses kecil yang dilakukan secara jujur dan konsisten.

​Dalam khazanah Islam, Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Yatsrib (Madinah) sering diceritakan sebagai peristiwa spiritual yang penuh mukjizat. Narasi tersebut tidak salah, namun kurang lengkap apabila berhenti sekadar pada aspek keajaiban. Hijrah sesungguhnya merupakan manifestasi dari pemikiran kritis, perencanaan matang, manajemen risiko, dan keberanian menjalani proses. Hijrah bukan tindakan impulsif akibat ketakutan semata. Rasulullah saw. membaca realitas sosial-politik Makkah yang kian menutup ruang dakwah dan mengancam keselamatan umat Islam. Dalam kondisi tersebut, bertahan di Makkah tanpa basis dukungan yang memadai bukanlah bentuk keberanian, melainkan keputusan berisiko tinggi.

​Pilihan hijrah ke Yatsrib menunjukkan ketajaman analisis Rasulullah saw. Yatsrib merupakan wilayah plural yang dihuni oleh suku Aus, Khazraj, serta komunitas Yahudi. Konflik internal yang panjang membuat masyarakat Yatsrib membutuhkan figur pemersatu. Kredibilitas Rasulullah saw. sebagai Al-Amin menjadi modal sosial yang sangat kuat. Mahmuddin (2020) menjelaskan bahwa Yatsrib dipandang cocok sebagai sasaran pengembangan dakwah karena masyarakatnya plural dan multietnis, sementara Aus dan Khazraj sering berkonflik akibat belum adanya pemimpin yang mampu mempersatukan mereka.

Baca...  Membangun Kedekatan Dengan Anak: Langkah Sederhana Untuk Hubungan Yang Lebih Kuat

​Sebelum hijrah dilaksanakan, Rasulullah saw. membangun fondasi melalui Perjanjian Aqabah I dan II. Pada perjanjian pertama, dua belas penduduk Yatsrib menyatakan ikrar kepada Nabi, dan pada perjanjian kedua, 73 laki-laki serta dua perempuan dari Yatsrib menemui Rasulullah saw. untuk menyepakati perlindungan dan pembelaan bersama (Mahmuddin, 2020). Sumber lain menyebutkan bahwa ikrar Aqabah pertama dilakukan oleh dua belas penduduk Yatsrib yang bertemu Nabi di Aqabah (Ahyuni, 2019). Setelah itu, Rasulullah saw. mengutus Mus’ab bin Umair ke Yatsrib sebagai duta dakwah untuk menanamkan ajaran Islam, memperkuat komunitas, dan menyiapkan kondisi sosial sebelum hijrah dilakukan. Perubahan besar tidak lahir dari keputusan mendadak; ia membutuhkan riset, diplomasi, pembentukan jejaring, pendidikan komunitas, dan kesabaran jangka panjang.

​Perjalanan hijrah mengajarkan bahwa keberanian bukanlah bertindak tanpa perhitungan. Rasulullah saw. membangun tim, membagi tugas, mengelola risiko, dan menggunakan strategi yang presisi sesuai kondisi lapangan:

  1. ​Pembagian tugas berdasarkan kompetensi: Ali bin Abi Thalib ditugaskan menjaga rumah dan berbaring di tempat tidur Rasulullah saw. untuk mengelabui kaum Quraisy. Abu Bakar ash-Shiddiq mendampingi perjalanan sekaligus menyiapkan logistik berupa dua ekor unta. Sementara itu, Abdullah bin Uraiqith, seorang non-Muslim yang memiliki keahlian navigasi, disewa sebagai pemandu perjalanan yang tepercaya (Jailani, 2024).
  2. ​Kolaborasi lintas kelompok: Asma binti Abu Bakar membantu menyiapkan perbekalan makanan untuk Rasulullah saw. dan Abu Bakar di Gua Tsur, sementara adiknya, Abdullah bin Abu Bakar, berperan memantau pergerakan kaum Quraisy.
  3. ​Keberanian strategis: Rasulullah saw. tidak mengambil jalur tercepat menuju Madinah. Beliau dan Abu Bakar justru bergerak ke arah selatan menuju Gua Tsur, berlawanan dengan arah tujuan utama, agar jejak mereka tidak mudah dilacak oleh kaum kafir Quraisy (Jailani, 2024).

​Kisah di Gua Tsur memberikan definisi tawakal yang matang. Tawakal bukanlah sikap pasrah tanpa usaha atau menunggu keajaiban sembari mengabaikan perencanaan. Tawakal adalah menempatkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah manusia menjalankan ikhtiar secara maksimal. Al-Qur’an merekam momen tersebut dalam QS. At-Taubah ayat 40:

​“Jika kamu tidak menolongnya, sungguh Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat…” (QS. At-Taubah: 40)

Baca...  Antara Esensi dan Identitas: Membaca Ulang Wajah Islam

​Ayat ini menegaskan bahwa pertolongan Allah hadir ketika ikhtiar insaniah telah ditempuh secara optimal. Di sinilah letak keseimbangan Islam: ikhtiar harus maksimal, namun keterikatan mutlak pada hasil harus diserahkan kepada Sang Pencipta (Jailani, 2024).

​Hijrah di masa kini tentu tidak dapat direduksi sekadar menjadi perpindahan domisili, perubahan penampilan luar, atau penggunaan label keagamaan tertentu. Hijrah yang lebih substansial adalah transformasi cara berpikir—berpindah dari mentalitas rapuh yang menuntut hasil instan menuju mentalitas yang mencintai proses, berpikir kritis, dan bertindak strategis.

​Hijrah mindset berarti berpindah dari mengejar viralitas semu menuju membangun kualitas karya, dari utang konsumtif menuju pengelolaan keuangan yang sehat, serta dari menyalahkan keadaan menuju pengembangan keterampilan, jejaring, sistem, dan ketahanan mental. Umat Islam tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi pasif, melainkan harus bertransformasi menjadi produsen gagasan, pengelola lembaga, penggerak ekonomi, dan perumus solusi bagi permasalahan bangsa.

​Peristiwa hijrah Rasulullah saw. membuktikan bahwa keberhasilan besar tidak pernah lahir dari jalan pintas. Ia lahir dari visi yang jernih, analisis yang tepat, perencanaan yang matang, kerja sama yang solid, kesabaran yang teruji, dan tawakal yang teguh. Generasi Muslim hari ini memerlukan hijrah mindset—perpindahan dari budaya instan menuju budaya proses, dari reaktif menuju strategis, dari mengejar pencitraan menuju membangun substansi, dan dari sekadar menunggu keajaiban menuju menjalankan ikhtiar dengan penuh kesungguhan. Ketika proses dihargai, kesabaran dirawat, dan tawakal dipahami secara benar, kesuksesan tidak lagi menjadi beban kecemasan, melainkan buah manis dari perjuangan yang bermakna.

​DAFTAR PUSTAKA

  • ​Ahyuni, A. (2019). Konteks Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah Melalui Dakwah Individual ke Penguatan Masyarakat. Mamba’ul ’Ulum, 15(2), 1–7. https://doi.org/10.54090/mu.18
  • ​Antaranews. (2025). BPS Catat Transaksi E-Retail dan Marketplace Tumbuh 6,19 Persen. Antaranews.
  • ​Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Data Sakernas Februari 2026: Rata-Rata Upah Buruh dan Tingkat Pengangguran Terbuka. BPS Republik Indonesia.
  • ​Jailani, A. (2024). Strategi Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Gua Tsur.
  • ​Katadata. (2025). Gen Z dan Milenial Mendominasi Pengguna Internet di Indonesia pada 2025. Databoks Katadata.
  • ​Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Qur’an Kemenag).
  • ​Mahmuddin, M. (2020). Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah. Jurnal Dakwah Tabligh, 21(1), 87. https://doi.org/10.24252/jdt.v21i1.12428
  • ​Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2025). OJK dan BPS Umumkan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025. Siaran Pers OJK.
1 posts

About author
Kontributor Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
Esai

Statistika dan Tabayyun: Seni Memeriksa Data Sebelum Percaya

3 Mins read
Kita sudah terbiasa mendengar iklan yang berbunyi “9 dari 10 dokter merekomendasikan”. Hampir tidak ada yang bertanya dokter yang mana, jumlah seluruhnya…
EsaiKesehatanPolitik

Politik Berkeadilan dan Demokrasi: Dari Piagam Madinah ke Kesehatan Jantung

6 Mins read
PENDAHULUAN ​Politik sering kali dianggap hanya berkaitan dengan kekuasaan, pemimpin, dan pemilihan umum. Padahal, politik sebenarnya memiliki pengaruh yang cukup besar dalam…
Esai

Dakwah Kampus dan Ormawa: Menghadirkan Inklusivitas & Keteladanan

4 Mins read
​“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *