Tradisi sastra Arab menyimpan banyak kisah cinta, tetapi sedikit yang akhirnya sehalus kisah Majnun dan Layla. Di dalam kitab “Hasyiyah al-Khudhari” pada halaman 761, menukil sebuah riwayat dari Sandubi yang menutup kisah itu dengan adegan di sebuah kuburan.
حُكِيَ عَنْ مَجْنُونِ لَيْلَى أَنَّهُ لَمَّا مَاتَ وَتَزَوَّجَتْ بِرَجُلٍ مِنْ أَقْرِبَائِهَا مَرَّ بِهَا عَلَى قَبْرِهِ فَقَالَ لَهَا: هَذَا قَبْرُ الْكَذَّابِ، فَقَالَتْ: حَاشَ اللهِ، إِنَّهُ لَمْ يَكْذِبْ. فَقَالَ: أَلَيْسَ هُوَ الْقَائِلُ: وَلَوْ أَنَّ لَيْلَى… إِلَخْ؟ فَاسْتَأْذَنَتْهُ فِي السَّلَامِ عَلَيْهِ فَأَذِنَ لَهَا، فَقَالَتْ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا قَتِيلَ الْغَرَامِ، وَحَلِيفَ الْوَجْدِ وَالْهُيَامِ. فَفَرَّ الصَّدَى مِنَ الْقَبْرِ فَسَقَطَتْ مَيْتَةً، وَدُفِنَتْ عِنْدَهُ، فَطَلَعَ مِنْ قَبْرَيْهِمَا شَجَرَتَانِ يَلْتَفُّ بَعْضُهُمَا عَلَى بَعْضٍ، فَسُبْحَانَ مَنْ حَارَتِ الْأَفْكَارُ فِي عَظِيمِ قُدْرَتِهِ. اهـ سندوبي
Artinya: “Dikisahkan tentang Majnun Layla bahwa ketika ia wafat, Layla telah menikah dengan seorang lelaki dari kerabatnya. Suatu ketika lelaki itu melewati makam Majnun bersama istrinya, lalu berkata, “Ini kubur si pendusta.” Layla menjawab, “Maha Suci Allah, ia tidak pernah berdusta.” Sang suami bertanya, “Bukankah dia yang mengucapkan syair: “Seandainya Layla…” dan seterusnya? Layla pun meminta izin untuk mengucapkan salam kepada penghuni kubur itu, dan suaminya mengizinkan. Ia berkata, “Salam atasmu, wahai korban cinta, sahabat rindu dan kasmaran.” Seketika burung hantu (sada) melesat keluar dari kubur, dan Layla jatuh tersungkur tak bernyawa. Ia dimakamkan di sisi Majnun. Dari kedua kubur itu tumbuh dua pohon yang saling melilit. Maha Suci Allah, yang akal manusia takjub dan bingung di hadapan keagungan kuasa-Nya.” Demikian nukilan dari Sandubi.
Dalam kepercayaan Arab lama, sada dipahami sebagai burung yang keluar dari makam orang yang meninggal secara tragis, dianggap jelmaan rohnya. Kata itu juga bermakna gema. Dua makna inilah yang membuat adegan tersebut terasa hidup: tanah seperti menjawab salam yang tertunda seumur hidup.
Bermula dari Padang Gembala
Sebelum menjadi lambang cinta yang tak sampai, Majnun adalah anak muda bernama Qais bin al-Mulawwah dari Bani Amir, kabilah besar di jazirah Arab bagian tengah. Ayahnya terpandang. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menghargai syair, keberanian, dan kehormatan nama. Layla binti Mahdi berasal dari lingkungan yang sebaya, dan para penutur kisah umumnya memasukkannya ke dalam kabilah yang sama atau yang berdekatan.
Riwayat tentang pertemuan pertama mereka tidak seragam. Dalam salah satu versi yang paling sering diulang, keduanya masih kanak-kanak ketika bertemu di padang gembala. Keluarga mereka sama-sama memiliki ternak, dan anak-anak biasa digiring ke padang rumput yang sama pada musim tertentu.
Dalam versi lain, mereka dipertemukan di sebuah tempat belajar sederhana milik kampung, tempat anak-anak lelaki dan perempuan dari keluarga terpandang dikenalkan pada huruf dan syair. Para penutur yang gemar menambahkan bumbu menyebut bahwa Qais memperhatikan Layla sejak hari pertama, sementara Layla baru menyadarinya belakangan.
Dari semua variasi itu, benang merahnya sama. Perasaan mereka tumbuh perlahan, jauh dari adegan jatuh cinta yang meledak. Dua anak yang sering berada di tempat yang sama menemukan kenyamanan dalam kehadiran satu sama lain.
Mereka bermain, berbagi bekal, dan saling menunggu di tempat yang sama setiap pagi. Perbedaan kecil, seperti cara Layla tertawa atau cara ia menatap dari kejauhan, melekat di benak Qais dan tak mau pergi. Ketika keduanya beranjak remaja, rasa itu sudah mengakar sebelum mereka tahu namanya.
Qais adalah penyair, dan penyair tidak sanggup menyimpan perasaan dalam diam. Ia mulai menyebut nama Layla dalam bait-baitnya, mula-mula dengan malu, lalu terang-terangan. Di sinilah persoalan bermula.
Bagi masyarakat Arab saat itu, menyebut nama seorang perempuan dalam syair cinta dianggap mencoreng kehormatan keluarganya. Syair yang bagi Qais adalah pengakuan jujur, bagi keluarga Layla adalah aib yang beredar dari mulut ke mulut.
Ketika Qais akhirnya datang meminang, pintu tertutup. Adat melarang seorang perempuan dinikahkan dengan lelaki yang namanya telah dikaitkan dengannya lewat syair. Layla kemudian dinikahkan dengan lelaki lain.
Dari titik itulah Qais berubah. Orang-orang mulai menyebutnya Majnun, yang berarti terganggu akalnya. Ia meninggalkan kemah, berkelana di padang pasir, bercakap-cakap dengan kijang dan bebatuan, dan menyebut nama Layla pada apa saja yang dilihatnya. Julukan itu pada mulanya adalah ejekan. Dalam perjalanan sejarah sastra, ia berubah menjadi gelar kehormatan bagi siapa pun yang mencintai tanpa pamrih.
Kubur, Salam, dan Kesaksian
Kisah yang dinukil Sandubi dimulai ketika semua pergulatan itu sudah usai. Majnun telah wafat, dan Layla telah lama menjalani hidup sebagai istri orang lain. Cerita tidak menuliskan satu pun kalimat Layla tentang kesedihannya. Narasi hanya memperlihatkan sosok perempuan yang menjalankan perannya dengan tenang, sementara sesuatu yang lain di dalam dirinya tetap hidup.
Adegan kuburan itu menarik karena dibangun dari percakapan, bukan dari tangisan. Sang suami lewat di dekat makam, mungkin sambil lalu, mungkin dengan maksud menguji, lalu menyebut penghuninya pendusta. Tuduhan itu mengena pada hal yang paling dijaga dalam kisah ini, yaitu kesungguhan Majnun. Syair yang ia tinggalkan, yang mengandaikan Layla datang menyapa ke kuburnya, dianggap lamunan kosong dan janji yang tak akan pernah ditepati.
Jawaban Layla singkat dan tidak berapi-api. “Maha Suci Allah, ia tidak berdusta.” Ia tidak menjelaskan panjang lebar. Ia tidak membela diri dan tidak pula menyerang suaminya. Ia memilih menjadi saksi atas kebenaran yang ia ketahui sendiri. Yang ia bela bukan sekadar nama seorang lelaki yang telah tiada, tetapi arti sebuah kesetiaan yang pernah ia terima dan sebenarnya juga ia jaga.
Syair yang dikutip suaminya, menurut sebagian ahli sastra, masuk dalam deretan bait Arab yang terkenal. Isinya kurang lebih begini: seandainya Layla memberi salam kepadaku, padahal di antara kami ada batu dan lempengan kubur, niscaya aku akan menjawab salamnya dengan gembira, atau seekor burung hantu dari sisi kubur akan berseru menyambutnya.
Perlu dicatat bahwa sebagian ulama dan penghimpun syair menisbatkan bait itu kepada Tawbah bin al-Humayyir, kekasih Layla al-Akhyaliyyah. Penisbatan kepada Majnun Layla muncul dalam tradisi yang berbeda. Perbedaan ini tidak mengurangi nilai kisahnya, tetapi layak diketahui oleh pembaca yang ingin berhati-hati.
Yang paling mengharukan dari adegan ini adalah sikap suami Layla. Ia mengizinkan. Dalam banyak kisah cinta, pihak ketiga digambarkan sebagai penghalang yang kejam. Di sini ia justru memberi ruang bagi istrinya untuk mengucapkan salam yang sudah tertahan bertahun-tahun. Entah karena iba, entah karena sadar bahwa ada hal yang tidak patut dilarang, izin itu membuat adegan berakhir dengan kemanusiaan yang utuh. Tidak ada pihak yang sepenuhnya jahat, dan tidak ada pihak yang sepenuhnya menang.
Salam Layla pun ia susun dengan hati-hati. Ia menyebut Majnun sebagai korban cinta, qatil al-gharam, dan sahabat kerinduan serta kasmaran, halif al-wajd wa al-hayam. Dua sebutan itu menggambarkan lelaki yang gugur oleh perasaannya sendiri, dan yang selama hidupnya menjadikan rindu sebagai kawan setia.
Sesudah salam itu, kisah bergerak sangat cepat. Burung hantu keluar dari kubur, Layla jatuh, dan napasnya berhenti. Tidak ada sakit yang diceritakan, tidak ada sebab yang dijabarkan. Seolah jiwanya sudah lama menunggu alasan untuk pulang.
Dua Pohon dan Pelajaran bagi Kita
Layla dimakamkan di samping Majnun. Dari dua kubur itu tumbuh dua pohon yang dahan-dahannya saling melilit. Para penutur kisah tidak menjelaskan lebih jauh, dan memang tidak perlu. Dua orang yang dipisahkan oleh adat, pernikahan, dan jarak, akhirnya dipertemukan oleh tanah. Cinta yang tidak dikabulkan di dunia mendapat tempatnya di akhir cerita.
Sandubi menutup nukilannya dengan tasbih: Maha Suci Zat yang akal manusia bingung di hadapan keagungan kuasa-Nya. Penutup ini penting. Ia menunjukkan bahwa penulis tidak sedang menjual kisah asmara. Ia sedang mengajak pembaca menengadah. Kisah cinta dua manusia dijadikan pintu untuk mengenali kebesaran Pencipta yang menaruh rindu dan kesetiaan di dalam hati makhluk-Nya.
Di sinilah kisah Majnun dan Layla menemukan tempatnya dalam khazanah tasawuf. Para sufi memakai nama Layla sebagai tamsil untuk Zat yang dirindukan, sedangkan Majnun menjadi tamsil bagi hamba yang kehilangan dirinya karena rindu itu.
Kisahnya tidak harus dibaca sebagai pembenaran atas kegilaan atau kelalaian. Para ulama yang menukilnya mengajak pembaca melihat bahwa hati manusia mampu menanggung rindu yang besar, dan bahwa kemampuan itu seharusnya diarahkan kepada Yang Maha Abadi.
Meski begitu, kisah ini patut dibaca dengan mata yang jernih. Pertama, sumbernya adalah tradisi sastra dan cerita turun-temurun. Para peneliti sejarah sastra Arab masih memperdebatkan apakah Qais bin al-Mulawwah benar-benar hidup sebagaimana yang dikisahkan, atau ia tokoh yang dibentuk oleh banyak penutur dari waktu ke waktu. Tanpa kepastian itu pun, nilai moralnya tidak berkurang. Kisah ini hidup karena ia menyentuh pengalaman yang dikenal siapa pun yang pernah kehilangan.
Kedua, kisah ini perlu dibaca dengan kritis supaya tidak berubah menjadi pembenaran bagi romantisme yang merugikan. Majnun kehilangan akalnya, meninggalkan keluarganya, dan hidup tanpa arah. Kita boleh mengagumi ketulusannya tanpa menjadikan kehancuran diri sebagai teladan. Cinta yang sehat tidak menuntut seseorang meninggalkan tanggung jawabnya. Bagian paling bernilai dari kisah ini justru ada pada Layla, yang tetap menjalani kewajibannya sebagai istri dengan baik, dan baru berbicara ketika kebenaran hendak diputarbalikkan.
Ketiga, kisah ini menegur kebiasaan kita yang cepat menghakimi. Kata “pendusta” diucapkan dengan ringan oleh suami Layla, padahal ia tidak mengenal isi hati orang yang ia tuduh. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering menilai orang dari potongan cerita, dari satu bait syair, dari satu unggahan, dari satu sisi kehidupan yang kebetulan terlihat. Jawaban Layla mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak berlebihan di mata orang banyak adalah kebohongan. Kadang itu adalah kejujuran yang terlalu besar untuk dipahami.
Terakhir, kisah ini mengajarkan arti salam. Salam Layla terlambat bertahun-tahun, tetapi tetap sampai. Ada ucapan-ucapan baik yang tertahan oleh adat, rasa takut, dan keadaan, padahal waktu tidak menunggu siapa pun. Kita bisa belajar dari sini untuk tidak menunda kata-kata baik kepada orang yang kita sayangi, selagi mereka masih bisa mendengarnya.
Dua pohon yang saling melilit di atas dua kubur itu adalah gambaran yang indah, tetapi pesan utamanya tetap ada pada penutup Sandubi. Di balik tanah yang menyatukan, di balik kisah yang menggetarkan, ada kuasa Allah yang melampaui bayangan akal.
Dengan demikian, seorang pembaca yang jujur akan menutup kisah ini bukan dengan air mata semata, melainkan dengan kesadaran bahwa hati yang mampu mencintai sedalam itu sedang dititipi sesuatu yang besar, dan bahwa titipan itu patut dijaga dengan akal, adab, dan tanggung jawab. Wallahu a’lam bisshawab.

