Esai

Menghidupkan Daya Tahan Membaca dan Menulis (Literasi) Umat Islam

2 Mins read

KULIAHALISLAM.COM – Membaca dan menulis adalah keterampilan dasar bagi siapa saja yang ingin mengembangkan diri menjadi lebih baik. Kemampuan ini sering kali disebut sebagai keberaksaraan atau literasi.

​Sebagai bagian tak terpisahkan dari perkembangan peradaban manusia, makna budaya literasi sebenarnya merujuk pada kebiasaan berpikir kritis yang diikuti oleh proses membaca dan menulis yang konsisten.

​Namun, perkembangan budaya literasi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Sejumlah lembaga survei memaparkan fakta yang cukup memprihatinkan. Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2012, misalnya, menempatkan budaya literasi Indonesia di urutan ke-64 dari 65 negara yang disurvei. Pada penelitian yang sama, Indonesia berada di posisi ke-57 untuk kategori minat baca.

​Data UNESCO bahkan menyebutkan indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang, hanya ada satu orang yang memiliki minat membaca tinggi. Beberapa tahun setelahnya, kondisi ini belum membaik secara signifikan. Laporan “Skills Matter” yang dirilis oleh OECD pada tahun 2016 berdasarkan tes PIAAC menunjukkan bahwa tingkat literasi orang dewasa di Indonesia masih berada di posisi terendah dari 40 negara peserta.

​Rendahnya angka-angka tersebut disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan manfaat nyata dari literasi. Sebagian orang bahkan belum sepenuhnya memahami esensi dari literasi itu sendiri.

​Masyarakat kita cenderung lebih terbiasa mendengar dan berbicara ketimbang berliterasi. Di lingkungan sekitar, kita bisa dengan mudah menemukan orang yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol atau menikmati hiburan di televisi, namun sangat sedikit yang mau menyisihkan waktu untuk membaca dan menulis.

​Menulis memang sekilas terlihat mudah, tetapi tanpa latihan yang konsisten, keterampilan ini tidak akan pernah terasah. Ibarat pisau, kemampuan menulis akan semakin tajam jika terus digunakan dan diasah secara rutin.

Baca...  Jadal Alqur'an: Argumentasi dalam Kitab Suci

​Sejatinya, menulis dapat dijadikan sebagai sarana rekreasi pikiran dan hati. Jangan jadikan aktivitas ini sebagai beban. Mulailah memandang menulis sebagai sebuah kebutuhan dan kewajiban personal, sehingga kita merasa terdorong untuk terus mencobanya setiap saat.

​Pada tahap awal, menulis bisa dilakukan dengan mengikuti mood atau perasaan. Ketika dorongan itu ada, tuangkan saja tanpa ragu. Sebaliknya, saat energi menulis sedang turun, manfaatkan waktu tersebut untuk membaca dan menuntaskan buku-buku yang disukai.

​Bagi seseorang yang banyak membaca dan mempelajari hal baru, prosesnya tidak boleh berhenti di sana. Agar apa yang telah dipelajari terikat kuat dalam memori, kita perlu menuliskannya kembali. Menuliskan ulang ilmu, wawasan, pengalaman, serta perenungan sehari-hari akan memudahkan kita menghubungkan setiap serpihan informasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga.

​Lewat tulisan, kita bisa menebarkan gagasan dan ide-ide bermanfaat kepada masyarakat luas sekaligus mengambil peran untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Perkara banyak atau sedikitnya orang yang membaca, mendapat respons positif atau tidak, hingga dipuji atau tidak, itu bukanlah tujuan utama. Hal yang paling esensial adalah proses belajar yang terus berjalan dari lingkungan sekitar.

​Sebuah Tulisan pada Hakikatnya adalah Perwakilan Gagasan

​Dalam praktiknya, menulis bukan sekadar masalah bisa atau tidak bisa, mampu atau tidak mampu, ataupun ada atau tidaknya waktu luang. Menulis sebenarnya membutuhkan sebuah kegelisahan—kegelisahan yang lahir dari jarak antara harapan dan kenyataan, atau dari situasi yang terus berubah maupun yang justru jalan di tempat.

​Ada banyak sekali hal yang bisa dieksplorasi menjadi tulisan. Mulai dari keresahan personal, perasaan, keyakinan, kedekatan keluarga, fenomena sosial, agama, hingga isu kemanusiaan. Semua hal pada dasarnya dapat menjadi bahan baku untuk memulai proses kreatif ini.

Baca...  Ilmu Kalam di Tengah Arus Radikalisme dan Sekularisme: Menjawab Tantangan Zaman dengan Rasionalitas Iman

​Namun, di balik luasnya pilihan tema tersebut, seorang penulis harus mampu menentukan fokus saat mulai menggoreskan pena. Setiap orang pun memiliki cara yang unik untuk membangun kenyamanan saat menulis. Sebagian orang menyukai tempat yang sunyi dan memilih menyendiri demi menjemput ide. Sementara yang lain justru menemukan inspirasi terbaiknya di tengah keramaian.

​Terkadang, saat membaca karya orang lain, muncul keyakinan bahwa kita bisa menulis dengan lebih baik karena merasa memiliki pengalaman atau sudut pandang yang lebih kaya. Narasi dan dorongan seperti itulah yang harus ditangkap untuk mulai menulis.

​Dengan terus membaca dan menuliskannya kembali, apa yang kita dapatkan dari pengalaman hidup akan melekat lebih kuat, mengasah ketajaman berpikir, dan menjadikan hidup kita lebih bermakna bagi sesama.

Oleh: Fitratul Akbar (Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang)

Editor: Adis Setiawan

103 posts

About author
Alumni Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang menempuh studi Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis adalah Redaktur Pelaksana Kuliah Al-Islam
Articles
Related posts
EsaiFilsafatTokoh

Teo-Humanisme Pluralistik dalam Diskursus Filsafat Gus Dur

6 Mins read
Diskursus mengenai pemikiran Islam modern di Indonesia sering kali terjebak dalam dikotomi rigid antara tradisi teks klasik (turats) dan modernitas Barat. Namun,…
Esai

Mengapa Manusia Modern Mudah Merasa Lelah?

2 Mins read
​Setiap hari kita berusaha menjaga kesehatan tubuh. Kita memilih makanan yang bergizi, berolahraga, dan beristirahat ketika merasa lelah. Namun, ada satu hal…
EsaiKeislamanSejarah

Menjemput Berkah di Gerbang Jam’iyah: Menghidupkan Kembali Askese Spiritual Wasiat Kiai As’ad

12 Mins read
Dalam konstelasi sejarah peradaban Islam Nusantara, khususnya dalam bentang garis linimasa Nahdlatul Ulama (NU), nama al-Maghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin bukan sekadar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *