KATA KITAKeislaman

KATA KITA: Relativitas dalam Ajaran Islam

1 Mins read


Kita sepakat bahwa agama Islam memiliki kebenaran yang absolut, mutlak. Konsekuensi dari keyakinan ini adalah kita wajib mengikuti ajaran agama tersebut. 

Hanya persoalannya, aspek manakah agama yang dianggap sebagai memiliki kebenaran mutlak itu? Seberapa banyak porsi ajaran absolut dalam agama itu?

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa absolutisitas agama ada pada wilayah ijma’ ulama, atau pada wilayah dalil muhkamat, seperti tentang keesaan Tuhan, kebenaran Alqur’an, perintah salat dan seterusnya. 

Sementara, pada wilayah dalil musytarak dan mutasyabihat yang masih menjadi ikhtilaf ulama (karena perbedaan penafsiran, interpretasi), bersifat relatif.

Akan tetapi yang perlu dicatat, bahwa relativitas yang dimaksud adalah relativitas dalam konteks kebenaran, bukan dalam konteks sebaliknya. 

Karena Tuhan memberikan jaminan kepada ulama atau mujtahid yang melakukan upaya istinbath al-ahkam, yaitu jaminan kebenaran (idza-ijtahada al-hakim fa ashabaha falahu ajrani wa idza akhtha’a falahu ajrun wahid).

Pertanyaan yang mungkin muncul lagi, adakah ijma’ ulama itu? Dalam khazanah ushul fiqh, ijma’ ulama memang ada, hanya porsinya sangat sedikit dan terbatas. Hal ini sejalan dengan absolutisitas ajaran agama itu sendiri. 

Dengan demikian, yang perlu dipahami adalah bahwa relativitas dalam ajaran agama itu sangat dominan. Alqur’an memang memberikan porsi berbeda pendapat, porsi berijtihad lebih banyak ketimbang porsi untuk ijma’.

Apa hikmahnya? Supaya umat Islam kreatif dan dinamis. Sebab, kondisi dan setting sosial setiap kurun memiliki perbedaan sesuai dengan wilayah dimana mereka tinggal. Itulah yang kemudian melahirkan warna-warni Islam: ada Islam Arab, ada Islam Persi, Islam Indonesia dan seterusnya. 

Ada hukum Islam ala al-madzahib al-arba’ah, ada qaul qadim dan qaul jadid Imam Syafi’i dan lainnya. Ini pulalah yang kemudian melahirkan pluralitas umat, firqah-firqah dan jama’ah-jama’ah dalam Islam dan pluralitas itu sendiri merupakan sunnatullah.

Baca...  Relativitas Waktu dalam Alquran

Syahdan, yang tak kalah pentingnya untuk dipahami, bahwa warna-warni Islam itu secara subtansial tidak memiliki perbedaan. 

Hanya saja, selama ini yang terjadi justru perbedaan itu dipahami sebagai suatu yang aneh sehingga melahirkan pertentangan dan permusuhan, bahkan sampai pada konflik yang memprihatinkan. 

Padahal, Nabi sendiri menegaskan bahwa ikhtilaf yang ada pada umatnya sebagai sesuatu yang membawa rahmat. Wallahu a’lam bisshawab.



2560 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
Keislaman

Belajar Kiat Bisnis Utsman bin Affan: Kaya dan Dermawan

2 Mins read
Setiap orang yang ingin memulai bisnis pasti berharap diberi kemudahan, kesuksesan, dan keberkahan. Banyak cara dilakukan untuk meraihnya, salah satunya dengan belajar…
Keislaman

Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Perdebatan Tiga Saudara (Bagian 4)

3 Mins read
Menurut pandangan Asy’ariyah, tindakan Tuhan bisa saja menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan bagi makhluk hidup, termasuk hewan dan manusia yang tidak bersalah (iilam…
Keislaman

Teologi Asy’ariyah Menurut Gus Ulil: Kehendak Bebas dan Tindakan Tuhan (3)

5 Mins read
Menurut pandangan Asy’ariyah, klaim ketiga menunjukkan bahwa Tuhan dapat memberi penyakit kepada hewan yang tidak bersalah. Ini adalah salah satu aspek penting…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights