BEKASI – Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI bersama Komisi II DPR RI menggelar Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan di Hotel Holiday Inn, Cikarang, Sabtu (2/5/2026). Agenda ini bertujuan meningkatkan kesadaran politik masyarakat menjelang Pemilu 2029.
Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI sekaligus Anggota Komisi II dari Fraksi NasDem, Saan Mustopa; Ketua KPU Jawa Barat, Ummi Wahyuni; serta Ketua KPU Kabupaten Bekasi, Ali Rido.
Ajakan Menolak Politik Uang
Dalam sambutannya, Saan Mustopa menekankan pentingnya partisipasi pemilih mengingat tahapan pemilu akan segera dimulai. Ia mengingatkan bahwa dua tahun telah berlalu sejak Pemilu 14 Februari 2024, dan masyarakat harus mulai memahami urgensi memilih wakil rakyat secara cerdas.
”Masyarakat harus sadar betapa pentingnya memilih wakil di DPR RI, DPRD Provinsi, maupun DPRD Kabupaten/Kota. Jangan tergiur uang yang sifatnya sesaat tanpa memikirkan nasib ke depan,” ujar Saan.
Saan menambahkan bahwa suara pemilih menentukan arah pembangunan daerah selama lima tahun. Ia juga menyoroti dampak buruk praktik suap dalam pemilu. “Mereka yang menyuap biasanya tidak akan peduli lagi dengan daerahnya karena fokus pada ‘balik modal’ untuk pemilu berikutnya. Mari bersama kita tolak politik uang di 2029,” tegasnya.
Tantangan Regulasi dan Pragmatisme Pemilih
Pada sesi diskusi, Pengamat Publik dari IKA UNJ, Afief Ardhila, memaparkan tantangan regulasi pada Pemilu 2029. Menurutnya, terdapat kemungkinan perubahan skema pemilihan, baik menjadi sistem proporsional tertutup maupun tetap terbuka.
- Sistem Tertutup: Berisiko menurunkan partisipasi karena pemilih merasa tidak mengenal calon yang akan mewakili mereka.
- Sistem Terbuka: Dinilai lebih mampu menarik minat rakyat untuk datang ke TPS karena mereka bisa memilih langsung kandidatnya.
Namun, Afief menggarisbawahi bahwa masalah utama bukan sekadar regulasi, melainkan budaya politik uang yang sulit terkikis. Banyak masyarakat yang bersikap pragmatis karena merasa siapapun yang menjabat tidak akan mengubah nasib mereka.
”Mari menjadi pemilih cerdas. Pelajari rekam jejak calon melalui media sosial. Saat ini informasi ada di genggaman. Pemilih pemula, khususnya, pasti akan mempelajari dulu siapa calon yang layak dipilih sebelum menentukan suara,” pungkas Afief.

