Pada tanggal 2 Mei 2026, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang ke-118. Angka tersebut bukan sekadar hitungan tahun; ia adalah cermin seberapa jauh perjalanan bangsa ini dalam menjawab cita-cita Ki Hajar Dewantara: pendidikan yang memanusiakan manusia, bukan sekadar memproduksi ijazah.
Upacara digelar serentak. Topi diluruskan, bendera berkibar. Tema resmi tahun ini berbunyi: “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Tapi di sebuah sudut negeri ini, ada guru yang hari ini tetap mengajar dengan gaji yang tidak cukup untuk membeli beras seminggu. Dan kita menyebutnya: pengabdian.
Islam dan Perintah Pertama: Iqra’
Hal yang paling menakjubkan dari Islam adalah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah shalat, zakat, ataupun perang. Wahyu pertama itu adalah:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq: 1)
Iqra’—bacalah. Perintah untuk berilmu. Inilah fondasi pertama Islam, jauh sebelum syariat lainnya turun. Ini bukan kebetulan. Allah ingin menunjukkan bahwa tanpa ilmu, manusia tidak bisa menjalankan apa pun dengan benar—tidak ibadah, tidak muamalah, tidak memimpin dirinya sendiri, apalagi orang lain.
Allah juga menegaskan dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ilmu adalah tangga derajat di sisi Allah, dan guru adalah orang yang setiap hari menaiki tangga itu sambil menarik tangan murid-muridnya untuk ikut naik bersama. Maka pertanyaannya adalah: jika Islam memuliakan ilmu setinggi itu, mengapa bangsa yang mayoritas Muslim ini tidak memuliakan orang yang mengajarkan ilmu dengan upah yang layak?
Guru: Pewaris Para Nabi yang Digaji di Bawah UMR
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرِّثُوا الْعِلْمَ
“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Para nabi mewariskan ilmu, dan siapa yang meneruskan warisan itu hari ini? Guru. Mereka adalah mata rantai antara generasi lalu dan generasi mendatang. Mereka adalah penjaga peradaban. Ibnu Mubarak dalam kitab Tahdzibul Kamal menyebut bahwa setelah derajat kenabian, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada menyebarkan ilmu.
Tapi, bagaimana kita memuliakan mereka dalam praktiknya?
Meskipun anggaran pendidikan cukup besar, kebutuhan riil di lapangan belum sepenuhnya terpenuhi. Biaya distribusi guru dan fasilitas belajar di daerah terpencil jauh lebih mahal dibandingkan di kota, sehingga banyak sekolah masih kekurangan tenaga pendidik dan infrastruktur. Guru non-ASN masih banyak yang menerima insentif jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Ada yang hanya menerima Rp300.000 sebulan, sementara UMR di banyak kota sudah melampaui Rp2 juta.
Kita menyebut mereka “pewaris para nabi” di mimbar-mimbar ceramah, tapi kita membayar mereka seolah-olah mereka bukan siapa-siapa.
Tiga Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai
Jika kita membaca kondisi pendidikan Indonesia hari ini dengan jujur—bukan dengan kacamata tema upacara—ada tiga masalah yang terus berulang tanpa penyelesaian tuntas.
1. Kesenjangan Kota dan Pelosok yang Masih Menganga
Apakah pendidikan kita masih setia pada cita-cita memanusiakan manusia, atau telah bergeser menjadi sekadar mesin produksi angka, ijazah, dan tenaga kerja? Di satu sisi, ada sekolah swasta elite di Jakarta dengan fasilitas laboratorium modern. Di sisi lain, ada anak-anak di pedalaman Papua, NTT, dan Kalimantan yang belajar di kelas tanpa dinding dengan guru yang merangkap tiga kelas sekaligus. Islam tidak mengenal pendidikan eksklusif; Rasulullah SAW mengajar di mana saja untuk semua kalangan tanpa terkecuali.
2. Digitalisasi Tanpa Infrastruktur yang Merata
Digitalisasi membuka peluang besar, namun menghadirkan kesenjangan baru. Tablet dan Smart TV dikirim ke sekolah-sekolah, namun di banyak daerah listrik masih sering padam (byar-pet), internet tidak ada, dan guru belum dilatih menggunakan perangkat tersebut. Kita sering mengukur kemajuan dari banyaknya program yang diluncurkan, bukan dari manfaat nyata di dalam kelas.
3. Kurikulum yang Berubah Sebelum Sempat Mengakar
Dalam Panca Dharma, Ki Hajar Dewantara mengajak kita berpikir global namun tetap berakar lokal. Sayangnya, setiap pergantian menteri hampir selalu diikuti pergantian arah kebijakan. Guru yang baru saja terbiasa dengan satu sistem tiba-tiba harus belajar ulang dari nol. Akibatnya, siswa selalu menjadi korban pertama dari setiap masa transisi ini.
Partisipasi Semesta dalam Kacamata Islam
Tema Hardiknas tahun ini menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Gagasan ini sangat Islami. Dalam tradisi Islam, pendidikan selalu bersifat komunal—mulai dari majelis taklim di masjid hingga pesantren yang didirikan masyarakat.
Rasulullah SAW bersabda: “Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR. Thabrani)
Perintah ini ditujukan kepada semua pihak, bukan hanya negara. Namun, “partisipasi semesta” tidak bisa berdiri di atas bahu guru yang tidak sejahtera. Ia tidak bisa tumbuh di atas infrastruktur yang timpang, dan tidak akan bermakna jika hanya menjadi slogan indah di spanduk upacara.
Menutup dengan Tafakur
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, hendaklah ia menguasai ilmu.” (HR. Ahmad)
Ilmu adalah jalan untuk semua tujuan. Namun, ilmu hanya bisa ditempuh jika ada guru yang mengajarkannya. Guru hanya bisa mengajar dengan sepenuh hati jika hidupnya sejahtera, statusnya jelas, dan martabatnya dihargai.
Hardiknas bukan sekadar seremonial, melainkan pijakan refleksi atas perjuangan Ki Hajar Dewantara. Maka, jadikanlah hari ini sebagai hari “tafakur”—hari untuk merenung dengan jujur tentang seberapa jauh kita telah memenuhi amanah ilmu yang Allah perintahkan lewat wahyu pertama-Nya.
Iqra’—bacalah. Kita sudah 118 tahun membacanya. Kini saatnya kita benar-benar mengamalkannya, dimulai dari memastikan guru yang mengajarkan Iqra’ itu bisa hidup dengan layak dan bermartabat.
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026.

