Berita

Refleksi Timnas Futsal Indonesia AFC 2026: Kalah Terhormat & Pelajaran Kepemimpinan

5 Mins read

Mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk politik dalam negeri. Mari bicara tentang bola kecil yang membuat hati besar berdebar. Timnas Futsal Indonesia baru saja usai bertarung di final AFC Futsal 2026 melawan raksasa Asia, Iran. Skor akhir adu penalti 5-6. Piala memang tidak pulang ke Tanah Air, tetapi simaklah ceritanya sambil menata detak jantung.

​Di laga yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, suasana sudah terasa berbeda sejak awal. Iran datang dengan aura juara bertahan, sedangkan kita membawa semangat “Macan Asia” yang baru saja belajar terbang tinggi. Lapangan futsal yang mengilap bak cermin masa depan malam itu hanya memantulkan kesungguhan dua tim yang sama-sama ingin menggenggam piala. Bola bergulir cepat, gerakan pemain lincah, dan setiap tendangan terdengar seperti hentakan jantung yang menggema di seluruh stadion.

​Pertandingan berjalan dengan irama yang membuat penonton tak berani berkedip. Indonesia tidak mau kalah, menunjukkan permainan yang sudah dibangun bertahun-tahun. Bola dari kaki ke kaki mengalir seperti pesan cinta yang ingin sampai ke gawang lawan. Pada babak reguler, kedua tim saling mengungguli, kemudian kembali sama kuat. Skor tetap imbang hingga akhir waktu normal, memaksa laga masuk ke babak tambahan yang semakin memacu adrenalin.

​Babak tambahan pun tidak memberikan jawaban siapa yang layak menang. Kedua penjaga gawang tampak seperti penjaga gerbang surga yang enggan memberikan celah sedikit pun. Setiap serangan dihalau dengan refleks luar biasa; setiap umpan cerdik dijawab dengan antisipasi tepat. Waktu terus berlalu, dan tekanan di stadion makin terasa berat seperti jaket besi yang dipakai di tengah musim panas.

​Lalu tiba saatnya adu penalti, babak yang selalu membuat hati tercekat di tenggorokan. Pemain Indonesia maju satu per satu, membawa harapan jutaan orang di balik setiap tendangan. Lima kali kita mencetak gol cantik, laksana puisi yang dibacakan dengan penuh semangat. Namun, Iran—dengan pengalaman yang sudah teruji—mampu menjawab dengan kemenangan yang menyakitkan hati.

​Ketika wasit membunyikan peluit akhir, wajah para pemain Indonesia penuh dengan campuran kesedihan dan kebanggaan. Beberapa menangis diam-diam, beberapa saling berpelukan menyemangati satu sama lain. Mereka tahu mereka sudah memberikan yang terbaik, tetapi takdir malam itu memilih Iran sebagai juara. Di seluruh penjuru Indonesia, jutaan suporter yang menonton di layar kaca merasakan hal yang sama: hati yang sakit, tetapi dada yang membengkak karena bangga.

Baca...  Warga Muslim Bima Sholat Idul Fitri di Mesjid Agung Al-Muwahidin Kota Bima

​Mari kita menengok kembali perjalanan panjang Timnas Futsal Indonesia. Ternyata, kesuksesan yang mereka tunjukkan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ada nama Kensuke Takahashi yang pernah membangun fondasi kuat untuk tim ini. Pria asal Jepang itu tidak hanya mengajarkan teknik bermain, tetapi juga mencetak karakter dan identitas tim yang jelas.

​Pada masa kepelatihannya tahun 2019–2021, Takahashi tidak hanya fokus pada tim senior. Ia juga menyentuh tim U-20, bahkan tim putri, menyebarkan benih filosofi permainan yang sama di setiap tingkatan. Ia melihat potensi di setiap pemain, memahami karakter masing-masing, dan menyusun sistem yang membuat mereka bisa bermain dengan nyaman dan efektif. Itu adalah fondasi emas yang tidak mudah roboh.

​Ketika ia harus pergi, banyak yang khawatir proses pembangunan akan terhenti. Namun, takdir membawa pelatih baru yang tidak memilih untuk merobohkan apa yang sudah dibangun. Alih-alih membuat sistem baru dari nol, pelatih penerus memilih untuk melanjutkan dan memperkaya fondasi yang ada. Ini bukan tentang mengganti warna cat, melainkan menyempurnakan struktur bangunan agar lebih kokoh dan menjulang.

​Hasilnya terlihat jelas. Timnas futsal kita mulai menunjukkan performa yang semakin baik, menembus semifinal, bahkan sampai ke panggung final Asia. Setiap kemenangan diraih dengan kerja keras yang terlihat; setiap kekalahan dijadikan pelajaran berharga. Publik bisa melihat progres yang nyata, dari cara mereka memegang bola hingga cara menghadapi tekanan lawan kuat.

​Sekarang, mari bandingkan dengan sepak bola Indonesia yang ceritanya berbeda jauh. Pernah ada masa di mana harapan tinggi menggema di udara. Pelatih yang mampu membangun fondasi awal, memahami karakter pemain, dan menciptakan identitas tim mulai terlihat jelas. Sayangnya, politik masuk ke dalam olahraga yang seharusnya murni untuk prestasi bangsa.

​Shin Tae-yong adalah salah satu nama yang sering muncul dalam pembicaraan ini. Ia dianggap sebagai arsitek yang sedang membangun fondasi kuat untuk timnas sepak bola. Statistiknya tidak buruk, bahkan bisa dibilang cukup menjanjikan. Namun, ia harus pergi bukan karena hasil yang tidak memuaskan secara keseluruhan, melainkan karena keputusan yang dipengaruhi oleh faktor lain di luar lapangan.

Baca...  Pemkab Lamongan Gelar Gebyar Hari Anak Nasional Guna Dukung dan Ciptakan Iklim Kondusif

​Siapa sangka, seorang pelatih yang sudah bekerja keras membangun tim dihukum hanya karena satu laga yang tidak berjalan sesuai harapan, yakni pertandingan Indonesia vs Chinese Taipei. Seolah-olah seluruh proses kepelatihan selama bertahun-tahun bisa diabaikan hanya karena satu hasil yang kurang memuaskan. Ini seperti menghakimi sebuah buku hanya dari halaman terakhirnya saja.

​Pergantian pelatih yang cepat menjadi kebiasaan di sepak bola nasional. Banyak yang menganggap ini sebagai cara untuk mencari hasil instan, padahal justru membawa efek sebaliknya. Tanpa filosofi jangka panjang yang kuat, tim menjadi seperti kapal tanpa kompas di tengah lautan luas, terombang-ambing oleh ombak tuntutan hasil yang harus segera diraih.

​Setiap pergantian pelatih berarti harus mulai dari awal lagi. Sistem baru, pola permainan baru, cara komunikasi baru—semuanya harus diadaptasi kembali oleh pemain. Akibatnya, permainan menjadi inkonsisten, filosofi tak jelas, dan publik sulit mengenali identitas tim yang sebenarnya. Setiap kekalahan menjadi beban tambahan yang membuat semangat semakin luntur.

​Berbeda dengan sepak bola, kekalahan Timnas Futsal di final justru melahirkan rasa bangga kolektif di tengah kesedihan. Masyarakat tidak menyalahkan pemain atau pelatih karena mereka melihat proses yang jelas dan usaha yang sungguh-sungguh. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya bereaksi terhadap hasil akhir, tetapi juga terhadap bagaimana perjuangan itu dilakukan.

​Psikologi sosial menyebut hal ini sebagai procedural justice: orang lebih mudah menerima hasil buruk jika mereka merasa proses yang dilalui adil dan transparan. Dalam kasus futsal, publik melihat betul bagaimana tim berkembang dari waktu ke waktu. Mereka melihat konsistensi strategi, keberanian menghadapi lawan kuat, dan identitas tim yang terbentuk dengan jelas.

​Di sisi lain, kekalahan sepak bola sering kali berujung pada kemarahan dan rasa kecewa yang mendalam. Tanpa proses yang jelas dan konsistensi yang terlihat, otak publik hanya menyisakan satu indikator untuk mengevaluasi: hasil akhir. Kekalahan tidak dianggap sebagai bagian dari perjalanan menuju kemajuan, melainkan sebagai kegagalan total yang perlu disalahkan pada seseorang atau kelompok tertentu.

​Ada pelajaran penting dari perbandingan kedua olahraga ini, bahkan bisa kita hubungkan dengan ajaran agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa kebaikan yang telah berjalan jangan dipatahkan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa siapa yang memulai sunnah hasanah (kebiasaan baik), maka ia akan mendapat pahala dan pahala orang-orang yang mengikutinya. Maknanya sangat jelas tentang pentingnya kesinambungan.

Baca...  Belajar Sejarah Mbahe Lamongan

​Kisah kepemimpinan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan contoh yang luar biasa. Ketika Khalifah Umar bin Khattab memasuki Baitul Maqdis, ia tidak datang dengan visi baru yang menghapus apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Ia melanjutkan visi yang sudah ditanamkan oleh Rasulullah dan dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pembebasan Baitul Maqdis adalah hasil kerja sama lintas kepemimpinan, bukan karya seorang diri.

​Umar bin Khattab tidak berkata, “Ini era saya, saya akan mengubah semua arah.” Sebaliknya, ia menunjukkan dengan tindakan bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang mampu menyambung rantai kebaikan yang sudah ada. Ia hanya melanjutkan jalan yang sudah benar dan menyempurnakannya sesuai dengan kondisi yang ada. Inilah sebabnya kemenangan bisa diraih dengan kokoh dan langgeng.

​Islam juga menekankan bahwa makna hidup tidak hanya ditemukan di garis akhir sebuah perjuangan. Nilai sebuah perbuatan tidak ditentukan semata oleh hasil akhirnya, tetapi oleh proses yang melahirkannya. Hasil berada dalam kuasa Allah Taala, sementara proses adalah wilayah tanggung jawab manusia yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan istikamah.

​Karena itu, usaha harus dinilai sebelum capaian. Seseorang bisa gagal secara duniawi, tetapi tetap berhasil secara spiritual jika proses yang dilalui jujur dan penuh dedikasi. Ayat Al-Qur’an dalam Surah An-Najm ayat 39 menyatakan:

Wa al laisa lil-insāni illā mā sa‘ā

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

 

​Bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang kesungguhan dan kesinambungan dalam berusaha.

​Jadi, meskipun Piala AFC Futsal tetap berada di tangan Iran dengan skor adu penalti 5-6, kita tidak perlu merasa kecil hati. Timnas Futsal Indonesia telah menunjukkan bahwa mereka layak berada di panggung tertinggi Asia. Kekalahan ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan batu loncatan untuk meraih prestasi yang lebih besar di masa depan. Kita harus terus mendukung mereka karena proses yang mereka jalani sudah layak untuk disabari dan dirayakan sebagai bagian dari perjuangan bangsa.

​Bravo! Salam Olahraga.

15 posts

About author
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
Articles
Related posts
Berita

EmasMu Buka Kemitraan Dealer: Bisnis Emas Modal Terjangkau & Aman

1 Mins read
CILACAP (7/2/2026) – PT Putra Surya Yogyakarta, melalui jenama logam mulia EmasMu, resmi membuka peluang kemitraan bagi masyarakat yang ingin mengembangkan bisnis…
Berita

IMM Membaca Ulang Sejarahnya: PK IMM KH Ahmad Badawi Gelar Bedah Buku “Kelahiran yang Dipersoalkan”

1 Mins read
Bekasi — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) KH Ahmad Badawi Cabang Bekasi Raya menggelar kegiatan bedah buku bertajuk Kelahiran yang…
BeritaSUMU

Ilham Taufiq Dorong Pengusaha Muhammadiyah Raih Rp1 Miliar Pertama Lewat Social Commerce

2 Mins read
YOGYAKARTA — Praktisi internet marketing dan startup builder, Ilham Taufiq, mendorong para pengusaha yang tergabung dalam Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) untuk meraih…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Teologi Asy’ariyah Menurut Gus Ulil: Kehendak Bebas dan Tindakan Tuhan (3)

Verified by MonsterInsights