Pendidikan hadir sebagai praktik menuju kemerdekaan setiap insan manusia yang berorientasi pada pembentukan karakter. Namun, realitas mahasiswa saat ini justru menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan nilai. Sudah menjadi hal umum bahwa ketika ujian berlangsung, mahasiswa tentu mengharapkan nilai yang maksimal.
Lantaran hanya mengedepankan esensi nilai, tidak jarang mahasiswa mengerjakan ujian sambil membuka ponsel (menyontek). Contoh seperti ini merupakan salah satu dampak negatif penggunaan teknologi yang terasa di dunia pendidikan.
Kebiasaan menyontek kini sudah mudah kita jumpai di lingkungan mahasiswa. Meskipun tidak semua mahasiswa melakukan perbuatan tersebut, cara yang dianggap paling praktis ini telah bergeser menjadi sebuah budaya.
Fenomena ini paling marak dijumpai saat masa Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester (UAS). Jika dicermati dan dianalisis, budaya menyontek mahasiswa saat ujian sangat beragam. Keberagaman modus tersebut tidak lain dipengaruhi oleh kebiasaan menyontek pada jenjang pendidikan sebelumnya.
Namun, faktor paling utama yang memengaruhi budaya menyontek adalah lingkungan pertemanan. Ketika mahasiswa masuk ke lingkungan dengan mindset kuliah yang hanya mengedepankan nilai akhir, di situlah pintu budaya menyontek mulai terlestarikan.
Perlu kita refleksikan bersama, saat ini banyak mahasiswa yang hanya mementingkan aspek nilai tanpa memedulikan pemahaman materi, bahkan enggan meningkatkan keahlian (upskilling) sebagai investasi masa depan. Pola pikir seperti ini akhirnya melahirkan sifat malas membaca dan belajar, sebab menyontek dianggap sebagai jalan pintas yang efektif.
Budaya menyontek terus bertahan karena tidak banyak dosen yang berperan aktif mengawasi ujian secara penuh. Alhasil, mahasiswa menganggap sepele dan dengan mudah merencanakan bagaimana aksi menyontek akan dilakukan.
Tidak dapat dipungkiri, kampus sekelas Universitas Islam Negeri (UIN) pun masih banyak yang melestarikan budaya ini—seperti halnya di UIN Surakarta, kampus tercinta penulis. Sekelas perguruan tinggi yang terkenal dengan mahasiswanya yang berperilaku agamis, budaya menyontek nyatanya tetap subur dan mudah ditemui. Artinya, fenomena ini tidak hanya terjadi di kampus berlabel umum, tetapi juga di kampus berbasis keagamaan.
Kebiasaan buruk ini perlahan mengotori citra dan marwah seorang mahasiswa. Salah satu cara menyontek yang menarik untuk dianalisis adalah dengan memilih “kursi istimewa” (kursi barisan belakang). Istilah tersebut menjadi kelakar di kalangan mahasiswa yang sudah terbiasa menyontek.
Dengan nada berseloroh mereka berkata, “Ayo golek kursi istimewa supoyo aksi kita lancar lan terjamin hasile” (Ayo cari kursi istimewa supaya aksi kita lancar dan terjamin hasilnya). Perkataan seperti itu menjadi fenomena sosial yang kerap tertangkap oleh indra pendengaran penulis. Ucapan tersebut mencerminkan bahwa idealisme dalam diri mahasiswa telah meluntur.
Jika dulu mahasiswa lekat dengan idealismenya, kini justru banyak yang kehilangan nilai tersebut. Padahal, idealisme merupakan hal vital yang harus dimiliki setiap mahasiswa karena dari sinilah pola pikir, perilaku, dan sikap mereka terbentuk. Mengapa budaya menyontek dianggap sebagai hal yang wajar saat ini? Karena mahasiswa tidak lagi memaknai esensi idealisme itu sendiri.
Idealisme seorang mahasiswa seharusnya memberikan pandangan hidup agar mereka selalu optimistis dalam menuntut ilmu. Sikap optimistis inilah yang akan membentengi mahasiswa dari tindakan menyontek, baik melalui bantuan teknologi modern maupun cara-cara tradisional.
Mahasiswa yang seharusnya menjunjung tinggi kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab, justru sering kali mengabaikannya. Mahasiswa yang terjebak dalam budaya menyontek perlu disadarkan agar mampu merefleksikan kembali tujuan awal mereka melangkah ke perguruan tinggi.
Budaya menyontek yang sudah tumbuh subur ini hanya bisa dikikis jika ada upaya membangun kesadaran dari dalam diri setiap mahasiswa. Kesadaran ini kelak akan bermuara pada penguatan budaya literasi, baik dalam membaca maupun menulis. Literasi adalah langkah tepat bagi mahasiswa yang telah terlanjur menempuh jalan yang salah.
Literasi yang dibangun atas dasar kesadaran penuh akan membantu mahasiswa memaknai hakikat dirinya sebagai agen perubahan yang dinamis guna membangun peradaban yang lebih baik. Dengan demikian, literasi dapat memutus rantai budaya menyontek. Pendidikan zaman sekarang telah didukung oleh teknologi informasi; mahasiswa harus mampu memanfaatkannya secara bijak (bukan untuk menyontek) agar berhasil menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial (social control).
Mahasiswa harus mampu mengontrol penggunaan teknologi informasi secara tepat agar tidak mencoreng citra dunia pendidikan. Melalui proses belajar yang tekun dan jujur, ilmu yang diperoleh akan membawa keberkahan, kebaikan, keadilan, serta menciptakan kemaslahatan bersama.
Penulis: Achfan Aziz Zulfandika*
*) Mahasiswa aktif Pendidikan Agama Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.

