Kisah

Meneladani Sosok Agus Salim dalam Film Moonrise Over Egypt: Diplomasi dan Kesabaran

2 Mins read

Pada era sebelum kemerdekaan, terdapat satu tokoh legendaris yang kelak menjadi bagian penting dalam roda pemerintahan era Soekarno, yakni Haji Agus Salim. Beliau terlibat aktif dalam dunia politik dan bertemu dengan salah satu pimpinan Sarekat Islam (SI), H.O.S. Tjokroaminoto.

Agus Salim kemudian menjadi tangan kanan Tjokroaminoto hingga akhirnya Sarekat Islam pecah menjadi dua kubu: SI Putih dan SI Merah.

​SI Putih berpegang teguh pada prinsip keislaman yang mengedepankan Rahmatan lil ‘Alamin serta menjalankan nilai-nilai syariat sebagaimana mestinya. Sementara itu, SI Merah digerakkan oleh Semaun, yang dulunya juga merupakan orang kepercayaan Tjokroaminoto.

​Pada masa itu, Agus Salim menolak keras adanya gerakan komunis. Ia beranggapan bahwa komunisme adalah gerakan yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran Islam karena cenderung ateis. Oleh karena itu, Agus Salim terus menentang ajaran komunis yang dianggap dapat merusak citra Islam.

​Namun, dalam film Moonrise Over Egypt (2018), fokus cerita beralih pada peran Agus Salim sebagai diplomat (Menteri Muda Luar Negeri). Film ini menggambarkan upayanya mencari cara agar kerja sama untuk pengakuan kemerdekaan Indonesia di mata dunia internasional, khususnya di Mesir, bisa berjalan mulus.

​Tantangan yang dihadapi tidaklah mudah. Belanda pelan-pelan melancarkan strategi dan siasat licik untuk menggagalkan rencana Indonesia. Proses negosiasi menjadi alot karena pihak lawan sering mengungkit-ungkit faktor sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa Belanda belum puas dan sangat mewaspadai strategi yang dirancang oleh Agus Salim.

​Kejutan terjadi ketika seorang mahasiswa Indonesia di Mesir (yang dalam film digambarkan sebagai tokoh fiktif/pengkhianat) ternyata memata-matai pergerakan Agus Salim dan rekan-rekannya.

Sebenarnya, mahasiswa tersebut tidak ingin melakukannya. Namun, kondisi ekonomi yang sulit memaksanya untuk bertahan hidup, meskipun harus mengkhianati bangsanya sendiri.

Baca...  Ruang Aman dari Allah: Narasi Kesembuhan Jiwa Nabi Musa

​Situasi ekonomi Agus Salim dan delegasi Indonesia kala itu juga sangat memprihatinkan, bahkan hampir putus asa. Salah satu rekan Agus Salim sempat mengeluh, “Kalau terus begini, keuangan kita tidak cukup, Pak Haji.”

​Dengan tekad yang kuat, Agus Salim menjawab, “Sabar dulu, tenangkan pikiran kita dahulu.”

​Rekannya kembali mendesak dengan resah, “Sampai kapan kita sabar terus, Pak Haji?”

​Lagi-lagi Agus Salim menjawab dengan tenang, “Sabar dulu.”

​Bisa dibayangkan betapa sulitnya misi ini. Mereka harus berjuang mati-matian dengan logistik yang sangat terbatas. Pastinya, kita hari ini mungkin tidak sekuat mental Agus Salim.

Kemampuannya berkomunikasi dan doa yang tak putus adalah kunci keberhasilannya dalam menerjang jalan terjal diplomasi. Jika kita berada di posisi rekannya saat itu, belum tentu kita mampu memiliki kesabaran ekstra seperti beliau.

Pengalaman Agus Salim dalam konflik Sarekat Islam di masa lalu mungkin menjadi bekal kesabarannya dalam menghadapi situasi pelik ini.

​Menonton film ini rasanya membuat frustrasi melihat beratnya perjuangan Agus Salim dan rekan-rekannya. Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika mahasiswa yang berkhianat tersebut akhirnya sadar dan harus bertarung melawan majikannya (pihak Belanda).

​Sebelum meninggal, mahasiswa tersebut ternyata menyimpan pesan mendalam. Pesan itu ditemukan terselip di pakaian, bertepatan dengan momen duka saat Agus Salim juga mendengar kabar wafatnya putranya di Tanah Air.

Dalam surat tersebut, sang mahasiswa meminta maaf sebesar-besarnya atas sikapnya yang diam-diam memata-matai delegasi demi uang.

​Film ini menjadi pembelajaran luar biasa bagi bangsa kita. Perjuangannya benar-benar mati-matian dan sejujur-jujurnya demi membela bangsa yang baru merdeka. Di akhir film, saya sangat terkesan dengan kalimat yang diucapkan Agus Salim, yang intinya berbunyi:

Baca...  Ketika Psikoanalisis Melihat Nabi Musa

“Bangsa ini akan terus dijajah setiap regenerasinya, kita sebagai warga Indonesia jangan mudah untuk menyerah.”

​Menutup tulisan ini, saya teringat penjelasan mendalam dari Muhammad Natsir yang senada dengan Agus Salim: Kita tidak boleh diam bila bangsa ini dijajah oleh siapa pun, entah itu penjajahan fisik, ekonomi, maupun pemikiran.

Selagi masih bisa menikmati kemerdekaan Indonesia, jangan cepat puas, teman-teman. Masih ada ujian di hadapan kita saat ini: apakah kita hanya akan mengikuti arus, atau bergerak memperbaiki arus?

53 posts

About author
Direktur Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kabupaten Sukoharjo
Articles
Related posts
KeislamanKisah

Ketika Psikoanalisis Melihat Nabi Musa

3 Mins read
Sudah mafhum bahwa logis dan rasional adalah kata kunci untuk memahami jalan pikiran Nabi Musa. Selama puluhan tahun, Nabi Musa hidup bersama…
EsaiKisah

Mengambil Ibrah dari Nuray Istiqbal

1 Mins read
KULIAHALISLAM.COM-Nuray Istiqbal atau Rae Lil Black, merupakan seorang model Jepang dan mantan pemeran video plus plus, telah mengalami perubahan hidup yang dramatis…
KeislamanKisah

Menolak Lupa Perjuangan Ulama Dan Santri Untuk Indonesia

2 Mins read
Peran ulama dan santri dalam sejarah dan perkembangan Indonesia memiliki nilai yang sangat penting dan strategis. Sejak masa penjajahan hingga era kemerdekaan,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Opini

Efektivitas Pemerintah Pamer Uang Sitaan: Seremoni atau Solusi?

Verified by MonsterInsights