Filsafat

Mengarungi Makna Kecantikan & Kesalehan

3 Mins read

​

​وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة (رواه مسلم)

​Artinya:

“Dari Abdullah bin Amr r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah.” (H.R. Muslim)

​Kebanyakan umat Muslim kerap menjadikan hadis ini sebagai orientasi utama perihal kecocokan atau keutamaan dalam mencari pasangan.

​Padahal, makna salihah memiliki banyak dimensi yang tidak mungkin dimaknai secara tunggal. Misalnya, memaknai wanita salihah hanya sebatas cantik parasnya dan baik hatinya, atau membuat standardisasi bahwa wanita salihah adalah wanita yang sesuai dengan keinginan laki-laki dalam memandang perempuan sebagai figur ideal.

​Pertanyaannya: apakah makna salihah itu menempatkan perempuan sebagai manusia, atau justru sebagai alat kepuasan laki-laki?

​Makna metaforis dari perhiasan tidak seharusnya hanya dikaitkan dengan simbol keagamaan—seolah-olah yang salihah itu pasti memakai kerudung, memakai jubah, atau sering berwudu agar wajahnya tampak putih memancar.

​Bukan itu saja, melainkan “perhiasan” dalam tanda kutip ini merujuk pada makna:

​إن الله جميل يحب الجمال

​“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.” Makna kata jamīl menurut Kamus Bahasa Arab dapat diartikan sebagai baik atau elok. Namun, “baik yang mana” atau “elok yang bagaimana” terkadang menjadi jawaban yang subjektif. Penafsiran di atas adalah hal-hal yang berkaitan dengan kesakralan keindahan.

​Ada sisi teologis yang belum bisa terjawab ketika manusia kerap menggambarkan keindahan hanya sebatas sesuatu yang hadir secara visual-eksistensial. Padahal, makna baik atau elok adalah ciptaan-Nya yang hadir sebagai realitas yang diakui keberadaan-Nya (Ulfah, 2022).

​Namun, dalam realitas sosial saat ini, makna kecantikan dan kesalehan hampir-hampir disamakan.

Baca...  Gagasan Integrasi-Interkoneksi M. Amin Abdullah

​Prinsip searching-oriented kerap dijadikan patokan untuk memenuhi kebutuhan pasangan atau diri sendiri. Kesalehan perempuan pada dasarnya sama dengan kesalehan laki-laki dalam prinsip beragama, yang meliputi saleh ritual, saleh sosial, saleh media sosial, saleh ekologis, dan bentuk kesalehan lainnya.

​Kata saleh dan salihah hanyalah perbedaan penyebutan subjek beragama berdasarkan gender: mudzakkar (laki-laki) dan muannats (perempuan). Dalam beragama, keduanya memiliki peran yang sama sebagai manusia, meski terpisah oleh kodrat penciptaan masing-masing.

​sayangnya, hal-hal terkait perempuan selalu dituntut untuk dipenuhi demi orang lain. Misalnya: cantik itu harus perawatan, harus make-up, harus menenteramkan hati pasangan, hingga harus memberikan kenyamanan pada pasangan—sebuah tuntutan berkedok kecantikan.

​Padahal kecantikan memiliki beragam tafsir. Hal paling mendasar yang harus disadari adalah bahwa perempuan lahir cantik secara fitrah sebagai manusia. Ia menjadi cantik karena lingkungan sosial yang menuntutnya beradaptasi, serta karena ia merupakan representasi dari ciptaan Allah. Kemanusiaannya (akal, nurani, kodrat, dan hasrat) adalah simbol penghormatan.

​Dari perspektif Barat, Naomi Wolf menyatakan bahwa dalam kaitannya dengan feminitas dan seksualitas perempuan pada periklanan, tubuh perempuan dikonstruksi sesuai selera pasar. Dalam hal ini, pasar menjadi kekuatan yang mendefinisikan apakah seksualitas atau feminitas (termasuk kecantikan, bentuk tubuh, jenis rambut, dan sebagainya) dapat diterima atau tidak.

​Perempuan akan bebas dari mitos kecantikan bila ia sadar bahwa kecantikan fisiologis hanyalah ekspresi dirinya terhadap lingkungan sosial. Menurut Naomi Wolf, berdandan untuk kecantikan diri sendiri memang diperbolehkan, tetapi perempuan juga harus memperjuangkan hak-hak keadilan gender (Wirasari, 2016: 151).

​Kesalehan Sebagai Ajaran Moral Beragama

​Kerudung, jubah, dan hal-hal yang berkaitan dengan fisik perempuan memang merupakan simbol budaya yang berkembang, tetapi tidak dimungkiri bahwa simbol budaya tersebut juga membentuk pola interaksi di masyarakat.

Baca...  Aktivisme Manusia: Sepenggal Hikmah dari Kiai Husnan Bey Fananie

​Sayangnya, kita sering lupa akan esensi kesalehan, yakni selalu bermuhasabah dalam melakukan kebaikan sosial, kebaikan diri sendiri, dan kebaikan ritual. Mar’atus Salihah dalam hadis tersebut tidak merujuk pada suatu golongan atau kelompok, melainkan merujuk pada individu sebagai pemantik kesadaran kolektif.

​Selain itu, makna perhiasan di atas bukanlah sebagai alat untuk menghiasi posisi laki-laki. Dari makna keindahan tadi, proses dialektika pun termasuk keindahan. Perhiasan adalah upaya untuk saling melengkapi, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 187:

​هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

​Artinya:

“Mereka (perempuan) adalah pakaian bagimu (laki-laki), dan kamu pun (laki-laki) adalah pakaian bagi mereka (perempuan).” (Q.S. Al-Baqarah: 187)

​Posisi Mar’atus Salihah bukanlah untuk mendukung kalangan tertentu, melainkan tentang bagaimana prinsip beragama berjalan setara dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.

​Sebab, dalam beragama, kita pasti saling melihat, merawat, dan mendidik lingkungan sekitar. Semisal ada tetangga non-Muslim, seyogianya kita tetap berbuat baik atas dasar sesama manusia. Begitu pula ketika melihat wanita malam, jangan langsung menghakiminya. Justru anggaplah ia sebagai sesama manusia yang dari padanya kita bisa mempelajari banyak arti kehidupan.

​Perihal menjaga aurat, hal itu dikembalikan kepada diri masing-masing. Pepatah Jawa mengatakan, “Ajining diri soko lati, ajining rogo soko busono” (harga diri seseorang berasal dari lidahnya, dan harga diri badan berasal dari pakaiannya). Penulis tidak berani berpanjang kata apabila aurat selalu diidentikkan secara sepihak dengan ketidaksolehan personal.

​Semua kembali kepada individu masing-masing dalam beragama dan berkemanusiaan di lingkungan sosial, di mana simbol keagamaan akan selalu terikat dengan interaksi konstruksi sosial yang ada pada masyarakat (Zulfikar, 2019).

​Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, kurang lebihnya saya mohon maaf.

Baca...  Peran dan Tujuan Filsafat Pendidikan Islam

​Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

​Referensi:

5 posts

About author
Santri Pusat Kajian Filsafat & Teologi Tulungagung
Articles
Related posts
Filsafat

Filsafat di Ujung Layar: Etika Islam dan Algoritma Fintech Syariah

3 Mins read
Coba perhatikan ponsel pintar yang sedang Anda genggam saat ini. Hanya dalam hitungan detik, kita hari ini bisa melakukan berbagai transaksi finansial…
FilsafatOpini

Neoplatonisme dan Jalan Sufi Falsafi

6 Mins read
Setiap gagasan besar lahir dari perjumpaan. Tasawuf sering dibayangkan sebagai laku sunyi di sudut masjid atau zawiyah, padahal ia tumbuh dari pergaulan…
FilsafatKeislaman

Humanisme Islam & The Metamorphosis Franz Kafka

4 Mins read
Modernitas membawa manusia pada berbagai kemajuan, tetapi sekaligus melahirkan paradoks: manusia semakin dihargai berdasarkan apa yang dapat ia hasilkan. Nilai seseorang kerap…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *