KeislamanSejarahTokoh

Riwayat Nabi Shaleh dan Mada’in Shaleh

5 Mins read

​Ibnu Katsir (700 H/1300 M–774 H/1373 M) merupakan ulama besar di bidang tafsir Al-Qur’an dan sejarah Islam (Ibnu Katsir, 2015). Nama lengkapnya adalah Abu al-Fida’ Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir bin Dhau’ bin Katsir al-Quraisy ad-Dimasyqi. Ibnu Katsir sudah menghafal Al-Qur’an pada usia 11 tahun dan membacanya dengan berbagai macam qira’at (Adz-Dzahabi, 1998).

​Beliau berguru kepada banyak ulama besar, di antaranya Ibnu Taimiyah, Imam Adz-Dzahabi, dan Abu al-Hajjaj al-Mizzi, yang kemudian menjadi mertuanya (Al-Mizzi, 1980). Tafsir Ibnu Katsir yang ditulis sebanyak 10 jilid merupakan salah satu karya fenomenalnya (Ibnu Katsir, 1999). Selain itu, karya monumental lainnya adalah Qashash al-Anbiya (Kisah Para Nabi).

​Dalam kitab Qashash al-Anbiya, Ibnu Katsir menjelaskan kisah Nabi Saleh AS yang termaktub dalam Al-Qur’an (Ibnu Katsir, 2015). Nabi Saleh AS hidup di tengah-tengah kaum Tsamud. Istilah Tsamud diambil dari nama kakek mereka, yaitu Tsamud saudara Judais. Keduanya adalah putra Abir bin Irham bin Sam bin Nabi Nuh AS (Al-Tabari, 1987).

​Kaum Tsamud merupakan salah satu kabilah bangsa Arab kuno (Arab al-Aribah) yang menetap di daerah perbukitan batu (Al-Hijr) yang terletak antara Hijaz dan Tabuk (Ibnu Manzhur, 1990). Rasulullah Muhammad SAW pernah melewati daerah tersebut ketika beliau berangkat menuju Tabuk bersama kaum muslimin (Al-Bukhari, 2002, Hadis No. 3381). Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 61:

​وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

​Wa ilā ṡamūda akhāhum ṣāliḥā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin ghairuh, huwa ansya’akum minal-arḍi wasta’marakum fīhā fastaghirūhu ṡumma tūbū ilaih, inna rabbī qarībum mujīb.

​Artinya:

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).'” (QS. Hud [11]: 61).

​Kaum Tsamud hidup menyembah berhala. Oleh karena itu, Allah SWT mengutus seorang hamba dan rasul-Nya dari kalangan mereka sendiri, yaitu Nabi Saleh bin Ubaid bin Masih bin Ubaid bin Hadr bin Tsamud bin Atsir bin Irham bin Nabi Nuh AS (Ibnu Katsir, 2015). Banyak ayat Al-Qur’an yang menceritakan kisah kaum Tsamud, sebagaimana terdapat dalam Surah At-Taubah, Surah Ibrahim, Surah Al-Furqan, Surah Sad, Surah Qaf, Surah An-Najm, dan Surah Al-Fajr.

Baca...  Empat Pilar Keberhasilan Menurut Kitab Tanbihul Ghafilin

​Para ahli tafsir Al-Qur’an menjelaskan bahwa pada suatu hari kaum Tsamud berkumpul di suatu tempat perkumpulan mereka (Al-Qurthubi, 2006). Nabi Saleh AS mendatangi mereka untuk mengajak menyembah Allah SWT. Kaum Tsamud berkata kepadanya sambil menunjuk sebuah batu besar di dekat mereka: “Jika engkau dapat mengeluarkan seekor unta betina yang besar dan hamil tua dari batu ini, maka kami akan memenuhi seruanmu!” (Ibnu Katsir, 2015).

​Nabi Saleh AS menuju tempat salatnya dan mengerjakan salat, kemudian beliau berdoa kepada Allah SWT agar memenuhi permintaan kaumnya. Allah SWT lantas memerintahkan batu besar tersebut terbelah dan keluarlah seekor unta betina yang ciri-cirinya tepat seperti yang mereka minta (Al-Thabari, 2001). Setelah menyaksikan mukjizat tersebut, sebagian kecil dari kaum Tsamud beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, namun sebagian besar dari mereka justru semakin bertambah kekafirannya.

​Meskipun demikian, terdapat pemimpin kaum Tsamud yang beriman, yaitu Junda’ bin Amr bin Mihlah bin Labid bin Jawas (Ibnu Katsir, 2015). Nabi Saleh AS berkata: “Ini adalah unta betina dari Allah sebagai bukti bagi kalian atas kebenaran yang aku bawakan. Oleh sebab itu, biarkanlah unta ini mencari makan di bumi Allah dan janganlah kalian mengganggunya dengan kejahatan, yang menyebabkan kalian akan ditimpa azab yang dekat.” (QS. Hud [11]: 64).

​Ditetapkanlah kesepakatan bersama agar unta tersebut dibiarkan hidup di tengah-tengah mereka, memakan rumput dan minum sekehendaknya. Waktu terus berlalu, hingga para tokoh kafir menyusun rencana jahat untuk membunuh unta betina itu agar mereka tidak merasa terbatasi lagi. Orang yang ditunjuk untuk mengeksekusi unta tersebut adalah Qidar bin Salif bin Junda’—seorang pria berkulit cokelat tua dan bertubuh pendek (Ibnu Katsir, 2015).

​Kaum Tsamud Ditimpa Azab Allah

​Qidar menghujamkan pedangnya ke kaki unta tersebut hingga terputus, lalu menyembelihnya. Tidak cukup sampai di situ, mereka bahkan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Saleh AS. Allah SWT berfirman:

​“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar pula, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat dari makar mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Itulah rumah-rumah mereka yang runtuh akibat kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.” (QS. An-Naml [27]: 50–53).

​Allah SWT menurunkan batu-batu dari langit yang melempari para pria yang merencanakan pembunuhan unta tersebut. Kemudian, keesokan harinya pada hari Kamis pagi, wajah seluruh kaum Tsamud yang kafir berubah menjadi kuning. Pada hari Jumat, wajah mereka berubah menjadi merah, dan pada hari Sabtu, wajah mereka berubah menjadi hitam (Ibnu Katsir, 2015).

Baca...  Fiqih Teks dan Realitas: Menembus Kejumudan Umat Islam

​Bukannya bertobat, mereka justru semakin bertambah kafir dan menantang agar azab segera diturunkan. Pada hari Ahad saat matahari terbit, terdengar suara menggelegar yang sangat keras dari langit (ash-shaiqah) diiringi gempa bumi yang sangat dahsyat (ar-rajfah), sehingga mereka semua tewas bergelimpangan (Al-Qurthubi, 2006).

​Allah SWT berfirman:

“Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (QS. Al-A’raf [7]: 78).

​Tidak ada yang tersisa di kota itu kecuali seorang budak perempuan bernama Kalbah binti al-Salqi. Ia adalah wanita kafir yang sangat memusuhi Nabi Saleh AS. Ia berlari ke daerah lain untuk memberitahukan peristiwa tragis yang menimpa kaumnya. Namun, ketika ia berhenti untuk minum air di suatu tempat, seketika ia tewas menyusul kaumnya (Ibnu Katsir, 2015).

​Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud itu mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (QS. Hud [11]: 68).

​Kisah Abu Rughal

​Imam Ahmad meriwayatkan: Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, Abdullah bin Utsman bin Khaitsam menceritakan kepada kami, dari Abu Zubair, dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata bahwa ketika Rasulullah SAW melewati Al-Hijr (wilayah bekas pemukiman kaum Tsamud), beliau bersabda:

​“Janganlah kalian meminta mukjizat (bukti-bukti kebenaran), karena hal itu pernah diminta oleh kaum Nabi Saleh. Unta betina itu keluar dari batu ini dan kembali ke batu ini. Namun mereka melanggar perintah Tuhan mereka dan menyembelihnya. Unta itu minum air sumur mereka sehari, dan mereka minum air susu unta itu sehari secara bergantian. Kemudian mereka menyembelihnya, sehingga mereka ditimpa oleh suara guntur yang sangat keras dari langit. Dengan suara guntur itu, Allah membinasakan semua orang yang berada di bawah langit ini, kecuali satu orang saja yang sedang berada di tanah Haram (Makah).”

​Para sahabat bertanya: “Siapakah orang itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ia adalah Abu Rughal. Namun, begitu ia keluar dari tanah Haram, azab yang menimpa kaumnya langsung menimpanya juga.” (HR. Ahmad, No. 14698; Ibnu Katsir, 2015).

​Abdurrazaq juga meriwayatkan dari Ma’mar, bahwa Ismail bin Umayyah mengabarkan kepada kami bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melewati kuburan Abu Rughal. Beliau kemudian bertanya: “Tahukah kalian siapa yang dimakamkan di kuburan ini?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Baca...  Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Menilik Kepemimpinan Politik Islam

​Nabi SAW bersabda: “Ini adalah kuburan Abu Rughal, salah seorang dari kaum Tsamud. Saat azab turun, ia berada di tanah Haram sehingga selamat. Namun ketika ia keluar dari tanah Haram, ia tertimpa azab yang sama lalu dimakamkan di sini. Bersamanya dimakamkan pula sebatang dahan dari emas. Kemudian orang-orang membongkar kuburnya dan mengeluarkan batang emas tersebut.” (HR. Abu Dawud, No. 3088; Ibnu Katsir, 2015).

​Mada’in Saleh

​Situs Mada’in Saleh hingga kini menjadi perhatian besar para ilmuwan dan arkeolog. Dalam buku Mada’in Saleh: Tilka al-A’jubah (Mada’in Saleh: Sebuah Keajaiban), Muhammad ‘Abd al-Hamid Murdad (1979) menjelaskan:

​“Jika Anda berada di antara bangunan-bangunan ini, Anda akan merasa seakan-akan berada di antara ribuan gunung terpisah yang dipahat menjadi karya arsitektur yang memukau. Setiap gunung dipahat menjadi tempat tinggal sebuah keluarga. Anda akan melihat pintu-pintu dan jendela-jendela besar yang dipahat langsung pada cadas gunung, lengkap dengan prasasti kuno yang mengisahkan nama pemilik, tahun pengukiran, serta anggota keluarga. Terdapat pula dua gunung besar yang dinamakan Lembah Al-Mu’zham dan Gunung Al-Hiwar, tempat keluarnya unta Nabi Saleh.” (Murdad, 1979).

​Terdapat pula gunung bernama Al-Muruj yang dipahat secara sederhana, di mana pada setiap pahatannya terdapat ornamen patung menyerupai kepala burung Nasar (burung bangkai). Di Mada’in Saleh, jalan-jalan kota tertata dengan sangat rapi dan luas.

​Pintu masuk kawasan ini dikenal dengan sebutan Jalan Al-Ula, sedangkan jalan menuju peristirahatan raja dipahat dengan ukiran yang sangat indah. Salah satu lembah terkenal di Mada’in Saleh adalah Lembah As-Sabkhah, yaitu lembah berpasir putih dengan kadar garam tinggi, sehingga jika dilintasi, kaki dapat terperosok dan tenggelam ke dalam tanah (Murdad, 1979).

​Daftar Pustaka

  1. ​Adz-Dzahabi, S. A. (1998). Tadzkirah al-Huffazh. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
  2. ​Al-Bukhari, M. I. (2002). Shahih al-Bukhari. Riyadh: Darussalam.
  3. ​Al-Mizzi, Y. A. (1980). Tahdzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.
  4. ​Al-Qurthubi, M. A. (2006). Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubi). Beirut: Mu’assasah al-Risalah.
  5. ​Al-Tabari, I. J. (1987). Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. Beirut: Dar al-Turath.
  6. ​Al-Thabari, I. J. (2001). Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an (Tafsir at-Thabari). Kairo: Dar Hajr.
  7. ​Ibnu Katsir, I. U. (1999). Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Riyadh: Dar Thaibah.
  8. ​Ibnu Katsir, I. U. (2015). Qashash al-Anbiya’. Kairo: Dar al-Haddathah.
  9. ​Ibnu Manzhur, M. M. (1990). Lisan al-‘Arab. Beirut: Dar Sader.
  10. ​Murdad, M. A. (1979). Mada’in Saleh: Tilka al-A’jubah. Jeddah: Dar al-Asfahani.
262 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read
Pendahuluan ​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Nilai Toleransi SKI SD/MI lewat Piagam Madinah dan Pancasila

5 Mins read
​Indonesia ialah rumah besar bagi ratusan suku, bahasa, dan keyakinan. Di tengah keragaman yang begitu luas dan indah ini, menanamkan benih toleransi…
KeislamanPendidikan

Transformasi Pembelajaran SKI SD/MI: Membumikan Moderasi Beragama

4 Mins read
​Pendahuluan ​Indonesia merupakan ruang hidup bersama yang ditakdirkan berdiri di atas keanekaragaman suku, ras, budaya, dan agama. Keberagaman ini adalah kekayaan sosial…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *