PendidikanSejarah

Arca Totok Kerot Dwarapala Raksasa Tanpa Pasangan

3 Mins read

Seperti yang kita ketahui, di Jawa Timur ada sebuah kerajaan yang dulunya merupakan pecahan dari Kerajaan Kahuripan. Pada masa keemasannya, Kahuripan dipimpin oleh raja sangat terkenal bernama Prabu Airlangga. Kemudian, Kerajaan Kahuripan dipecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala.

​Selama masih menjadi dua kerajaan yang berbeda, kedua penguasa tersebut terus bertikai hingga tibalah masa kepemimpinan Prabu Jayabaya. Ia berhasil menyatukan kembali keduanya menjadi Kerajaan Kadiri.

​Kerajaan Kadiri merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu terbesar pada masanya yang dipimpin oleh banyak raja. Tidak dapat dipungkiri, salah satu raja yang paling berhasil membawa Kadiri pada masa kejayaannya adalah Prabu Sri Aji Jayabaya.

​Keberhasilannya membawa Kediri pada masa keemasan tidak lepas dari kesaktiannya. Bahkan hingga saat ini, penganut agama Hindu masih meyakini bahwa Sri Aji Jayabaya merupakan titisan Dewa Wisnu. Bukti kesaktian mandraguna Sri Aji Jayabaya dapat ditemukan pada Arca Totok Kerot yang menjadi bagian dari cerita rakyat di Kediri. Arca Totok Kerot ini terletak di Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kab. Kediri—sekitar 10 km dari pamoksan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang.

​Ciri-ciri Arca Totok Kerot adalah berwujud raksasa dalam posisi jongkok dengan mata melotot, rambut panjang terurai, kalung tengkorak, serta lengan kiri yang terputus. Arca ini diketahui sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang. Ada pula yang mengatakan bahwa lengan sebelah kirinya putus karena Belanda mengalami kesulitan saat mencoba mengangkat arca tersebut, sehingga lengannya patah/terjatuh dalam proses pengangkatan dari dalam tanah yang membenamkannya.

​Arca Totok Kerot diyakini memiliki nyawa dan kemampuan sakti mandraguna. Konon, Totok Kerot bisa hadir dalam mimpi seseorang. Dalam mimpi orang-orang yang didatanginya, Totok Kerot berubah menjadi putri yang sangat cantik. Legenda dari mulut ke mulut itu akhirnya menyebutkan bahwa sosok asli Totok Kerot adalah seorang putri berparas jelita. Ia merupakan putri dari Demang di Lodaya, Blitar. Putri cantik ini berkeras hati ingin diperistri oleh Sri Aji Jayabaya, namun keinginannya ditolak dan ditentang keras oleh sang ayah.

Baca...  Bangkit dan Runtuhnya Kesultanan Delhi di India

​Karena keinginannya tidak dituruti, sang putri melarikan diri ke Kadiri untuk menemui sang raja. Ia bahkan terlibat dalam peperangan antara Kerajaan Blitar dan Kadiri. Kerajaan Blitar keluar sebagai pemenang, dan sang putri kembali meminta orang tuanya untuk merestui hubungannya dengan Sri Aji Jayabaya. Jika tidak, ia berjanji akan membuat keonaran dan kekacauan.

​Akhirnya orang tua sang putri menyetujui permintaan anaknya. Sayangnya, kali ini justru Sri Aji Jayabaya yang tidak menginginkan pernikahan tersebut. Hal ini kembali memicu peperangan di antara kedua kerajaan. Sampai pada keadaan terdesak, Sri Aji Jayabaya mengeluarkan sabda berupa kutukan yang mengubah sang putri cantik jelita menjadi raksasa menyeramkan, atau dalam istilah Jawa disebut buto yang tidak memiliki tata krama. Hal inilah yang kemudian menjadi bukti sahih kemasyhuran ucapan Sri Aji Jayabaya.

​Totok Kerot berwujud seperti arca dwarapala yang ada di Singosari, namun memiliki perbedaan. Secara umum diketahui bahwa dwarapala tidak pernah berdiri sendirian; ia selalu diciptakan berpasangan karena berfungsi sebagai penjaga pintu utama sebuah candi atau istana kerajaan.

​Namun, Totok Kerot berdiri sendirian. Meskipun memiliki ciri seperti dwarapala, ia berdiri tanpa pasangan—seolah-olah ingin menunjukkan bahwa tanpa teman atau bala tentara pun ia bisa menghadapi semuanya sendirian.

​Arca Totok Kerot berwujud raksasa dengan tinggi hampir 3 meter yang diperkirakan terbuat dari batu andesit. Patung raksasa dwarapala ini merupakan peninggalan masa lalu dari kerajaan yang dipimpin oleh Sri Aji Jayabaya di daerah Pamenang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

​Hal ini dapat dicermati dari adanya ornamen hiasan pada patung yang merupakan ikon atau lambang Kerajaan Kediri, yaitu hiasan berbentuk tengkorak bertaring di atas bulan sabit (biasa disebut candrakapala). Ornamen ini terletak di atas kepala patung Totok Kerot.

Baca...  Kiprah Tokoh Penyebar Islam di Jawa Pra Walisongo: Syekh Maulana Akbar

​Oleh karena itu, diperkirakan bahwa Arca Totok Kerot merupakan penjaga pintu gerbang sebelah barat istana Kerajaan Kadiri atau lokasi yang dianggap sakral. Namun, kondisi Arca Totok Kerot terlihat mengenaskan karena lengan kirinya hilang dan tampak retakan besar pada tangan kanannya.

​Ada beberapa versi mengenai misteri hilangnya lengan kiri arca tersebut. Salah satu cerita rakyat menyebutkan bahwa lengan kiri Totok Kerot terputus karena dikeroyok dan dianiaya oleh rakyatnya sendiri. Mereka risih dengan perilaku sang putri yang tidak mencerminkan sifat seorang bangsawan, hingga kemudian ia dikutuk oleh Raja Kadiri, Sri Aji Jayabaya, yang juga merasa terganggu oleh perilakunya.

​Namun, literatur lain menyebutkan bahwa lengan kiri Arca Totok Kerot putus akibat upaya pemerintah mengangkat patung tersebut dari benaman lumpur pada tahun 1970.

​Pada tahun 1981, penduduk sekitar melaporkan adanya penampakan benda besar yang menyembul di area persawahan di bawah pohon besar, hingga kemudian dilakukan penggalian oleh pemerintah setempat. Namun lagi-lagi, berbagai hal misterius terjadi hingga patung tersebut hanya dapat digali sebagian.

​Awalnya hanya setengah badan arca saja yang terlihat. Konon, setelah dilakukan berbagai ritual, barulah arca tersebut berhasil dikeluarkan dari benaman lumpur dan dipugar hingga menjadi seperti sekarang.

​Penulis: Nur Fita Sari, Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

2 posts

About author
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Articles
Related posts
PendidikanSejarah

​Menghidupkan Sejarah Islam untuk Gen Alpha di Era Digital

3 Mins read
​Anak-anak dari orang tua Generasi Milenial dan Generasi Z yang lahir dari tahun 2010 hingga 2026 dikenal sebagai Generasi Alpha dan tumbuh…
KisahOpiniSejarah

Jubah Tanpa Ilmu

6 Mins read
Di banyak kampung, orang yang berjubah, bersorban, dan berbicara dengan nada tenang mudah sekali dianggap alim. Penampilan menjadi tiket masuk, dan pertanyaan…
KeislamanPendidikan

Pembelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah: Menanamkan Karakter Melalui Sejarah

9 Mins read
Pendahuluan ​Pandangan umum kerap mereduksi sejarah hanya sebagai cerminan masa lalu yang membeku dan tak terubahkan. Akibatnya, saat membicarakan sejarah, benak kita…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *