Keislaman

Hadis Fitnah, Etika Kehati-hatian di Era Media Sosial

2 Mins read

Salah satu hadits Nabi SAW. yang sangat relevan dengan keadaan masyarakat digital sekarang berbunyi:

صحيح البخاري ٦٥٥٤: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَحَدَّثَنِي صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ فَمَنْ وَجَدَ مِنْهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin Ubaidullah) telah menceritakan kepada kami (Ibrahim bin Sa’d) dari (ayahnya) dari (Abu Salamah bin Abdurrahman) dari (Abu Hurairah) -lewat jalur periwayatan lain- (Ibrahim) mengatakan, dan telah menceritakan kepada kami (Shalih bin Kisan) dari (Ibnu Syihab) dari (Sa’id bin Musayyab) dari (Abu Hurairah) menuturkan: Rasulullah SAW. bersabda: “Akan terjadi fitnah, ketika itu yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barang siapa berusaha menghadapi fitnah itu, justru fitnah itu akan mempengaruhinya, maka barangsiapa mendapat tempat berlindung atau base camp pertahanan, hendaklah ia berlindung diri di tempat itu.”

Kata Gus Ulil, Hadits ini berbicara satu zaman yang diprediksikan oleh Nabi SAW. bahwa pada suatu zaman akan ada zaman di mana di situ terjadi fitnah. Anda tahu! Fitnah adalah zaman ketika terjadi kekacauan sosial, kegalauan sosial, misinformasi, disinformasi, kesalahpahaman dan konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Gus Ulil menegaskan, bahwa situasi sekarang yang kita hadapi ini adalah bagian dari kekacauan sosial karena adanya media baru yang bernama “media sosial”. Lalu apa sebenarnya resep dari Nabi dalam menghadapinya?

Baca...  Gus Ulil: Pentingnya Akhlak dan Etika Bagi Orang Berilmu

Kata Nabi, “Ketika engkau menghadapi zaman fitnah seperti ini, maka yang perlu dicermati adalah sikap-sikap pertama bahwa orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Orang yang berdiri saja, tidak bergerak kemana-mana dia lebih baik daripada orang yang jalan (jalan biasa). Dan orang yang jalan biasa tanpa lari lebih baik daripada orang yang lari.”

Artinya, kata Gus Ulil, ketika terjadi fitnah seperti ini, maka yang diperlukan adalah sikap untuk hati-hati. Kalau Anda bisa diam, maka itu lebih baik daripada bergerak. Kalau Anda bergerak, akan tetapi tidak menimbulkan huru-hara, maka itu lebih baik daripada bergerak menimbulkan huru-hara. Misalnya, dengan membagikan dan menyebarkan informasi yang tidak jelas, hoax dan seterusnya.

Sekali lagi, kata Nabi SAW. dalam menghadi fitnah kejam yang seperti ini, maka bersikap hati-hati lebih baik. Dengan kata lain, jangan pernah menambahkan keributan dan kekacauan dalam situasi yang sudah kacau. Kecuali, jika Anda sudah mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah ini, maka Anda boleh bergerak.

Nah, jika dibahasakan dengan zaman sekarang, pada zaman telah terjadi fitnah, maka orang yang tidak mempunyai handphone, lebih baik daripada orang yang mempunyai handphone. Kalaupun Anda mempunyai handphone (punya handphone saja), maka itu lebih baik daripada orang yang mempunyai handphone tetapi bermain media sosial (medsos). Atau, orang yang bermain medsos saja, tetapi tidak ikut-ikutan menyebarkan hoax, maka itu lebih baik daripada main medsos tetapi menyebarkan hoax.

Inilah resep Nabi SAW. dalam menghadapi zaman hoax. Sebuah zaman yang berisikan misinformasi dan disinformasi atau zaman yang disebut dengan zaman post-truth, pasca kebenaran. Wallahu a’lam bisshawab.

230 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Teologi Anti-Rasisme: Melampaui Warna Kulit dalam Islam & Kristen

7 Mins read
Judul Buku: Melampaui Warna Kulit: Jejak Teologi Anti-Rasisme Dalam Kristen dan Islam Untuk Indonesia Penulis: Dr. Nurul Huda, M.Fil.I Penerbit: Pustaka Nurja…
Keislaman

Teisme, Ateisme, dan Deisme: Memahami Tuhan dalam Paradigma Modern

3 Mins read
Sekitar abad ke-6 SM, jauh sebelum lahirnya para intelektual besar Yunani atau bahkan sejak zaman para nabi, manusia telah memulai debutnya dalam…
Keislaman

Makna Hijrah dan Jihad: Menuju Islam Rahmatan lil Alamin

2 Mins read
Jihad tanpa peperangan lebih tepat diamalkan pada situasi masyarakat damai seperti saat ini. Di berbagai negara, hubungan umat beragama mulai membaik; Muslim…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Aza Ceritakan Kisah Perempuan Buta Yahudi Diasuh Nabi Muhammad SAW

Verified by MonsterInsights