Salat menjadi ibadah yang dijalankan manusia dengan beberapa gerakan terdiri dari 2, 4 hingga 20 an ke atas. Gerakannya pun ada yang tidak pakai sujud sampai pakai. Hal ini menandakkan bahwa manusia masih membutuhkan Allah SWT sebagai wasilah. Meskipun pada prakteknya terkadang niat seseorang terbatas dan tak sesuai apa yang diinginkan Allah swt. Namun salat masih menjadi media manusia baik fardhu hingga sunnah.
Salat fardhu misalnya hasil dari perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad sowan ke Nabi-nabi yang kita sebut langit. Berawal 500 raka’at berubah menjadi 5 raka’at. Sebelum Nabi Muhammad SAW menurut beberapa kitab kuning yang pernah saya dengar penjelasan dari Gus Musta’in bahwa salat itu sudah pernah dilakukan para Nabi-nabi sebelumnya.
Nabi Yunus melakukan salat subuh di paus. Nabi Adam Maghrib Isya dan seterusnya. Tetapi ada yang paling penting dari itu semua yakni 3 hal mau melakukan salat disampaikan langsung Ustaz Shodiqul Amin selaku ketua takmir dalam Kultum Subuh Barokahnya Ahad (07/12/25).
3 diantaranya adalah pertama sebagai berikut;
Niat
Menurutnya niat sangatlah penting khususnya melakukan salat. Ia mengkaitkan niat dalam penjelasan Nabi Muhammad SAW, “Seumpamana setiap orang melaksanakan salat berarti sedang bermunajab kepada Allah SWT” . Ia juga memberikan dalil Al-Qur’an dalam (QS. Al-An‘am: 162–163):
﴿ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ • لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴾
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”
Kosentrasi
Selanjutnya ialah kosentrasi menurut Ustaz Shodiqul Amin. Dengan kosentrasi kita akan lebih khusu’ dalam menjalankannya kata Ust Shodiqul Amin. Ustaz Shodiq juga mengambil refrensi hadis Nabi dengan kebiasaan Nabi Muhammad SAW berbunyi, “Kain ini sudah menganggu tempatnya salat.”
Faham dan Dihayati
Ustaz Shodiq menekankan pentingnya pemahaman bacaan salat kemudian dihayati. Ia menegaskan bahwa setiap rukuk itu harus rapat. Kemudian batuk harus ditempelkan. Jari tangan harus ditempelkan juga. Serta dengkul kaki diselehkan. Karena menurutnya ini mendadakan sebagai proses khusu’ dalam salat. Seperti dalam surat Muhammad ayat 24 yang artinya :
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?”
Tuma’ninah
Menurut Ustaz Shodiq bahwa Tuma’ninah ini semuanya harus jalan. Setelah takbiratul ihram, i’tidal, duduk diantara kedua sujud sampai akhir sholat. Ia pun juga memberikan sumber hadits berbunyi.
«اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ»
Artinya :
“Kembalilah (ulangilah) dan shalatlah lagi, karena sesungguhnya engkau belum salat.” (HR. Bukhori dan Muslim nomor 257 dan 397).
Ustaz Shodiq juga menyoroti hal ini dilakukan 3 kali lantaran untuk memperbaiki salat agar baik dan benar sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Maka inilah penting kita memahami salat dalam beberapa hal supaya sholat tidak hanya dimaknai kewajiban dan ungkapan manusia kepada Allah SWT.

