Artikel

Muhammad Abduh dan Konflik Antar Pemeluk Agama

3 Mins read


Kita sudah tahu bahwa konflik, kekerasan, dan perang dalam tubuh (internal) kaum muslimin masih terus berlangsung, hampir di mana-mana, terutama di negeri-negeri Arab yang mayoritas muslim, sampai hari ini dan di tempat-tempat yang lain di belahan dunia. Perang, perusakan, perampasan hak-hak hidup, dan kehidupan terus berlangsung dan pengingkaran atas ekspresi-ekspresi pikiran terus berhamburan.

Individu dan kelompok muslim yang berpikiran progresif dan menggugat konstruksi pemikiran keagamaan konservatif (mapan) dituduh sesat, kafir dan menghancurkan agama. Mereka tidak mematuhi hukum-hukum Tuhan. Sebagian kelompok itu dituduh ā€œmunafikā€, sebuah term kafir berkedok dan dengan performa muslim.

Beragam stigma lain dilekatkan kepada mereka; antek barat, sekularis, liberal, sinkretis dan lain-lain. Berbagai term ini dianggap mereka sebagai sepenuhnya negatif, keburukan dan biang kerusakan social, boleh jadi setan-setan gentayangan yang merontokkan keyakinan umat.

Sebaliknya, individu atau kelompok-kelompok progresif menyebut kaum konservatif. Sebuah term orang-orang yang ā€œngototā€ mempertahankan kemapanan pikiran-pikiran kuno dan tradisi-tradisi yang tidak lagi relevan dengan dinamika sosial, politik dan kebudayaan, sebagai orang-orang yang memasung, menghambat dan mematikan sirkuit kehidupan dan kemajuan umat manusia dan bangsa-bangsa.

Dalam hal ini, kaum konservatif yang fanatik buta dianggap orang-orang yang paling bertanggungjawab atas keterpurukan, kebodohan, kemiskinan dan ketidakberdayaan kaum muslimin dewasa ini.

Pertanyaan krusial kita adalah, apakah semua persitiwa saling menghancurkan antar kaum muslimin tersebut benar-benar dialasi oleh benturan-benturan teologis? Mengingat bahwa peristiwa-peristiwa adalah fenomena-fenomena yang selalu bisa ditafsirkan secara ambigu; ā€œhammal awjuhā€, mengandung dimensi-dimensi yang beragam. Masing-masing pembaca atau pendengar dapat mengindentifikasi suatu kasus berdasarkan pengalaman, pengetahuan, kecenderungan dan kepentingannya sendiri-sendiri atau masing-masing.

Muhammad Abduh, dalam perdebatannya dengan Farah Anton, pernah mengemukakan fenomena dan pandangan-pandangannya: ā€œBahwa perang antara kaum salafi, Asy’arian dan Mu’tazilah, sesungguhnya tidak karena motif teologis, meski di antara mereka terdapat perbedaan teologis yang tajam. ā€œHurub al-Khawarijā€, pemberontakan kelompok Khawarij, dan peristiwa penyerangan gerakan Karamitah (Qaramithah) dan lain-lain memang terjadi. Akan tetapi, perang-perang seperti ini sejatinya tidak dipicu oleh perbedaan teologis, melainkan dikobarkan oleh kepentingan-kepentingan politik dalam rangka penguasaan atas rakyatā€.

Baca...  Richard Rorty: Bahasa Adalah Kunci Untuk Menyatukan Masyarakat

Tak hanya itu, lanjut Abduh, ā€œBegitu juga perang antara Iran yang Syi’ah dan Dinasti Otoman yang Sunny atau kelompok Wahabi di Saudi Arabia terhadap kelompok muslim lain. Banyak orang yang melihat ini sebagai perang atau konflik ideologis, atau teologis, tetapi Abduh mengatakan; ā€œpeneliti yang serius akan mudah menemukan bahwa semua perang tersebut adalah perebutan kekuasaan politik.ā€

Tentu saja, penjelasan Abduh tidak sampai di sini. Ia melihat kekerasan, konflik dan berbagai peristiwa pergolakan dalam dinasti Abbasia ketika mapan. Juga bukan karena motif-motif teologis. Muhammad Abduh (sang pembaru abad 20) itu kemudian mengatakan:

ā€œTak ada penyakit yang lebih besar yang merasuk dalam tubuh, akal dan semangat kaum muslimin kecuali masuknya orang-orang bodoh (al-Jahalah) ke dalam pemerintahan. ā€œAl-Jahalahā€, (secara literal: orang-orang bodoh), dimaksudkan sebagai mereka yang berhati kasar (al-Khusyunah) dan pribadi-pribadi yang sangat arogan (al-Ghatrasah). Mereka tidak mengerti Islam yang benar dan keimanan mereka semu dan tak mendalam.ā€ (Baca: Farah Anton, Ibn Rusyd wa Filsafatuhu, Dar al-Farabi, Beirut, cet. I, 1988, h. 217-218).

Syahdan, Al-Syihristani, seorang teolog besar, ahli perbandingan agama dan penulis buku terkenal; ā€œal-Milal wa al-Nihalā€ (Agama-agama dan Sekte-sekte), berkata: ā€œKejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan masyarakat adalah hal-hal yang tidak dapat dihitung. Adalah pasti bahwa tidak setiap kejadian selalu ada teks (nash). Jika teks-teks adalah terbatas sementara peristiwa kehidupan tidak terbatas, dan yang terbatas tidak mungkin menampung yang tak terbatas, maka upaya-upaya intelektual adalah niscaya adanya.ā€

Oleh karena itu, upaya-upaya menghidupkan teks-teks fiqh, sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak dilakukan oleh umat Islam. Tanpa upaya ini, hukum Islam yang ada pasti akan ditinggalkan, dan dengan begitu umat Islam tak punya pegangan hukum yang memberikan jalan keluar dalam kehidupannya.

Baca...  Orientalisme Vis A Vis Oksidentalisme

Begitupun juga Imam al-Qarafi, bermazhab Maliki, menyampaikan pandangan yang sangat kritikal atas kecenderungan keberagamaan masyarakat yang terus menerus berpegang teguh pada pikiran-pikiran para ulama yang ditulis dalam kitab-kitab, tanpa melihat perkembangan dan dinamika perubahan sosial yang terjadi. Beliau mengatakan: 

قال القرافى : “فمهما ŲŖŲ¬ŲÆŲÆ فى العرف اعتبره ŁˆŁ…Ł‡Ł…Ų§ سقطت أسقطه ŁˆŁ„Ų§ تجمد على Ų§Ł„Ł…Ų³Ų·ŁˆŲ± فى Ų§Ł„ŁƒŲŖŲØ Ų·ŁˆŁ„ Ų¹Ł…Ų±Łƒ ŲØŁ„ Ų§Ų°Ų§ جاؔك رجل من غير Ų„Ł‚Ł„ŁŠŁ…Łƒ يستفتيك لا تجره على عرف ŲØŁ„ŲÆŁƒ ŁˆŲ§Ų³Ų£Ł„Ł‡ عن عرف بلده ŁˆŲ§ŁŲŖŁ‡ به ŲÆŁˆŁ† عرف ŲØŁ„ŲÆŁƒ ŁˆŲ§Ł„Ł…Ł‚Ų±Ų± فى كتبك. فهدا Ł‡Łˆ الحق Ų§Ł„ŁˆŲ§Ų¶Ų­ ŁˆŲ§Ł„Ų¬Ł…ŁˆŲÆ على Ų§Ł„Ł…Ł†Ł‚ŁˆŁ„Ų§ŲŖ Ų£ŲØŲÆŲ§ ضلال فى Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† ŁˆŲ¬Ł‡Ł„ بمقاصد علماؔ Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† ŁˆŲ§Ł„Ų³Ł„Ł Ų§Ł„Ł…Ų§Ų¶ŁŠŁ†” (Ų§Ł„ŁŲ±ŁˆŁ‚, Ų¬ 1 Ųµ 176_ 177)

ā€œManakala tradisi telah terbarui, maka ambillah. Tetapi manakala ia telah gugur (tak berlaku), janganlah dipakai. Jangan pula engkau terpaku pada apa yang tertulis dalam kitab-kitab sepanjang hidupmu. Bila seseorang datang dari luar daerahmu, meminta fatwa hukum kepadamu, maka janganlah berlakukan hukum yang berlaku di daerahmu. Tanyalah kepadanya tentang tradisi yang berlaku di daerahnya, lalu putuskan berdasarkan tradisinya, bukan tradisimu dan bukan pula berdasarkan apa yang tertulis dalam buku-bukumu. Ini adalah pandangan yang benar. Sikap terpaku hanya pada teks-teks yang ada dalam buku-buku adalah kesesatan yang nyata dalam agama dan ketidakpahaman terhadap tujuan-tujuan para Ulama Islam dan para pendahulu.ā€ Wallahu a’lam bisshawab.

2532 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
Artikel

Seragam Drumband: Identitas, Estetika, dan Fungsi dalam Dunia Pertunjukan Musik Baris-Berbaris

3 Mins read
Dalam setiap penampilan drumband, perhatian publik tidak hanya tertuju pada komposisi musik, kekompakan barisan, atau keterampilan memainkan instrumen. Ada satu elemen visual…
Artikel

Tips Menata Taman di Depan Rumah

4 Mins read
Menata taman di depan rumah merupakan investasi estetika dan fungsional yang dapat meningkatkan kenyamanan serta nilai properti. Perencanaan yang matang dan pemilihan…
Artikel

Room for Rent in Singapore: Stay Near These Must-Visit Spots in 2025

3 Mins read
Singapore is a dynamic, world-renowned city-state celebrated for its vibrant culture and fast-paced lifestyle. If you’re looking for a room for rent…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights