KULIAHALISLAM.COM- Matahari baru saja menyembul di ufuk langit Jakarta Selatan, menyinari pucuk-pucuk pepohonan di sekitar kompleks Admiralty Residence, Podnok labu. Di saat sebagian manusia masih menggeliat, selasar Masjid Al-Husna sudah dipenuhi oleh energi yang berbeda. Udara pagi yang masih bersih menjadi latar sempurna bagi sebuah pertemuan besar: Kegiatan Kajian Tahrib Ramadhan yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cilandak bersama BKM Al-Husna Admiralty pada Sabtu 31 Januari 2026. Kegiatan ini terlaksana bukan sekadar seremoni, agenda ini adalah untuk memberi ruang bagi tadabbur sekaligus pernyataan sikap umat menyambut bulan suci dengan kesadaran penuh akan Tuhan dan alam semesta.Utusan dari berbagai PRM di wilayah Cilandak tampak antusias berdiskusi. Kehadiran massa yang terorganisir ini membuktikan bahwa gerakan Muhammadiyah di tingkat akar rumput memiliki kepedulian yang besar terhadap isu-isu kontemporer. Mereka tidak hanya datang untuk mendengar, tetapi juga untuk menyelaraskan langkah dalam menyambut Ramadhan yang lebih bermakna secara sosial dan lingkungan.
Embun Pagi dan Kesadaran Ekologis
Kegiatan dimulai dengan suasana yang intim namun megah, sebagaimana bangunan Masjid Alhusna Admiralty. Kolaborasi antara PCM Cilandak dan BKM Al-Husna Admiralty ini bertujuan untuk menggeser paradigma lama. Ramadhan tidak lagi dipandang sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebuah siklus pembaruan iman dan lingkungan. Ketua PCM Cilandak, Ir Hamzah Berdikari menyambut para peserta yang datang dari berbagai Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dengan penuh kehangatan. Beliau menekankan bahwa memilih pagi hari sebagai waktu pelaksanaan bukan tanpa alasan; pagi adalah simbol kebangkitan dan kejernihan berpikir—dua hal yang sangat dibutuhkan untuk memahami isu berat seperti krisis ekologi. Di tengah suasana yang sejuk, Dr. Saiful Bahri yang menjadi pemateri kajian memulai orasi ilmiah-spiritualnya. Dengan gaya bahasa yang mengalir, beliau membedah bagaimana ayat-ayat tauhid dalam Al-Qur’an sebenarnya adalah manifesto perlindungan alam.
“Pagi ini kita menghirup oksigen yang disediakan gratis oleh alam. Itulah ayat Kauniyah,” ujar Dr. Saiful.
Beliau menekankan bahwa tauhid yang benar harus melahirkan perilaku ekologis. Merusak lingkungan, menurutnya, adalah bentuk pengingkaran terhadap keagungan Sang Pencipta yang telah mengatur alam secara presisi Ceramah ini menjadi pengingat bahwa puasa di bulan Ramadhan nanti harus menjadi “puasa dari merusak bumi”—sebuah integrasi ibadah yang sangat relevan dengan kondisi Jakarta saat ini.
Melengkapi perspektif ekologis tersebut, Ustadz Ardian Parlindungan membedah buku karyanya terbarunya, “Titik Balik Jiwa”. Penulis buku Islamic Quantum Energy ini menyuntikkan semangat baru bagi jamaah yang hadir. Ardian menjelaskan bahwa manusia memiliki potensi energi yang luar biasa yang seringkali terpendam. Namun untuk meraihnya, manusia harus bisa berdamai pada “luka batin” yang dialami secara sadar/tidak sadar dimasa-masa terdahulu. Melalui pendekatan ini, dirinya mengajak jamaah melihat Ramadhan sebagai momentum untuk merenungi luka batin atau bermuhasabah, seraya melepas jerat simpul yang masih membayangi luka tersebut, guna melepaskan energi positif dari setiap insan dikemudian hari.
“Seorang Ardian yang sekarang, bukan hadir tiba-tiba. Tapi lahir dari pergulatan renungan dari aktivitas tersebut”, sebutnya dihadapan jamaah.
Untuk itu,dirinya berpesan spiritualnya jelas: jika setiap Muslim mampu mengelola energi spiritualnya dengan baik (melalui shalat, puasa, dan tadabbur), maka resonansi kebaikan yang dihasilkan akan mampu memperbaiki hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam.
Harapan dari Fajar Baru Menjelang Bulan Suci
Kegiatan Tahrib Ramadhan di Masjid Al-Husna Admiralty pagi itu ditutup dengan sebuah optimisme kolektif. Ada harapan besar bahwa Ramadhan kali ini akan melahirkan “Manusia Baru”—pribadi yang kuat secara tauhid, berlimpah energi positif, dan menjadi pelindung bagi lingkungan hidup.
Sinergi antara intelektualitas, spiritualitas, dan aktivisme lingkungan di pagi hari tersebut menjadi modal berharga bagi jamaah yang hadir untuk menjalani ibadah puasa yang mencerahkan dan menggerakkan.

