Tarajim jamaknya dari tarjamah artinya biografi. Tarajim merupakan salah satu corak penulisan tarikh ( historiografi) Islam yang sangat populer dan sangat dominan. Corak ini berkembang sejak awal penulisan sejarah Islam dan bertahan sampai saat ini.
Faktor utama yang menyebabkan berkembangnya penulisan biografi dalam historiografi Islam adalah perhatian besar ulama Islam kepada ilmu hadits terutama tentang biografi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan ilmu kritik hadis bagi generasi sahabat dan generasi sesudahnya yang menentukan shahih tidaknya sebuah hadis melalui penilaian terhadap perawi hadis itu.
Corak penulisan tarikh Islam lainnya antara lain adalah Magazi ( peperangan-peperangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam), at-tarikh al-‘alami ( Sejarah umum), at-tarikh al-Mahali ( sejarah lokal), at-tarikh al-Mu’asir wa al-muzzakirat ( sejarah tentang peristiwa-peristiwa yang semasa dengan sejarawan), rihlah ( riwayat penjelajahan), muqtatafat min at-tarikh ( makalah-makalah kutipan tentang sejarah), dan sejarah dinasti.
Di samping Tarajim, karya biografi dikenal juga dengan nama lain yang biasanya berkaitan erat dengan tekanan tertentu pada penulisan biografi itu. Nama lain itu misalnya : al-ansab (secara etimologis berarti silsilah) berisi biografi aristokrat Arab berdasarkan silsilah, al-wafayat ( secara etimologis berarti orang yang meninggal dunia) berisi biografi tokoh berdasarkan tahun wafatnya, al-ma’ajim ( secara etimologis berarti kamus), dan at-tabaqat ( secara etimologis berarti lapisan/strata). At-tabaqat merupakan yang paling terkenal dalam historiografi Islam.
Penulisan at-tabaqad biasanya menghimpun sejumlah tokoh dalam bidang ilmu tertentu seperti ahli fiqih, hakim agama, ahli syair, dokter dan lain sebagainya. “Lapisan” disini kecuali dalam kasus para sahabat dan tabiin lebih menunjukkan lapisan generasi dan bukan tingkat tingkat ketokohan.
Penulisan at-tabaqat ( biografi) betul-betul orisinal Islam, tidak ada contohnya dalam penulisan sejarah pada masa sebelumnya, tidak juga dalam tradisi sejarah Yunani. Pembahasan at-tabaqat dalam pengertian generasi ini bermula dari klasifikasi orang-orang yang berada di sekitar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam disebut dengan sahabat, tabiin, tabiat tabiin ( generasi sudah tabiin) dan seterusnya.
Penulisan ini pada umumnya dikaitkan dengan kritik isnad ( keterangan mengenai sanad hadits) di dalam periwayatan hadis yang berkembang pada permulaan abad ke-2 H. Nama lainnya adalah As-Sirah ( secara etimologis artinya adalah riwayat hidup). Berbeda dengan karya biografi lainnya seperti tersebut di atas yang biasanya merupakan kumpulan biografi, As-Sirah berisi riwayat hidup seorang tokoh saja.
Biasanya bila disebutkan As-Sirah saja, kalau yang bersangkutan berisi riwayat hidup Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun apabila digunakan dengan kata jamak yaitu As-Syiar maka karya biografi ini merupakan kumpulan biografi yang identik dengan pengertian at-Tarajim, tetapi jarang digunakan.
Sejarah Perkembangan Penulisan Biografi
Perkembangan penulisan biografi dalam sejarah ( historiografi) Islam dimulai dengan penulisan riwayat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang lebih dikenal dengan Sirah an-Nabi wa Magazih ( riwayat hidup Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan peperangannya) atau disingkat dengan As Sirah wa al-Magazi saja. Menyusul setelah itu, biografi para sahabat, tabiin dan Tabi’ at tabiin, terutama mereka yang merawikan hadits.
Penulisan biografi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, sahabat dan perawi hadits tersebut dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk penulisan sejarah Islam yang pertama. Karena subjek karya biografi itu adalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, sahabat dan perawi hadits, maka terlihat dengan jelas bahwa penulisan biografi itu sangat berhubungan dengan kepentingan ilmu Hadis.
Salah satu tolak ukur terpenting yang berkaitan dengan Shahih tidak hanya sebuah hadis adalah kekuatan hafalan, kejujuran dan ketakwaan perawinya. Tolak ukur itulah yang memotivasi para sejarawan pertama menyusun biografi perawi hadits.
Dalam perkembangan selanjutnya muncul dan berkembang pula penulisan biografi para tokoh pemerintahan dan politik serta para ilmuwan. Akan tetapi penulisan biografi terakhir ini berkembang dengan caranya sendiri. Dalam tahap pertama biografi para tokoh atau ulama hanya diselipkan dalam karya sejarah yang berbentuk sejarah dinasti atau sejarah umum yang ditulis secara kronologis berdasarkan urutan tahun.
Ketika itu penulis sejarah mencantumkan tokoh-tokoh yang meninggal dunia pada akhir setiap tahun yang bersangkutan. Oleh para pengamat historiografi Islam, corak sisipan ini belum dipandang sebagai sebuah karya biografi. Baru dalam perkembangan selanjutnya muncul karya-karya biografi khusus yang telah memisahkan diri dari penulisan sejarah dinasti atau sejarah umum itu.
Penulisan Biografi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
Sebagaimana disebutkan dan perkembangan penulisan biografi dalam penulisan sejarah atau historiografi riwayat hidup dan perang-perang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Penulisan As- Sirah yang bermula di kota Mekkah dan Madinah ini sampai saat ini mendapat perhatian khusus dari kalangan sejalan Islam.
As-Sirah menyajikan secara terperinci biografi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Kaum muslimin generasi pertama memang sangat berminat mengumpulkan secara terperinci segala perbuatan, perkataan dan bahkan ketetapan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Catatan ini berguna sebagai pedoman dan teladan bagi mereka dalam menjalankan ajaran agama Islam. Mengikuti tradisi atau sunnah nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah kewajiban bagi umat Islam.
Faktor utama yang menyebabkan perkembangan penulisan biografi Nabi Muhammad SAW ini dalam historiografi Islam adalah karena segala perbuatan, perkataan dan penetapan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan sumber kedua ajaran Islam setelah Alquran. Di samping itu biografi Nabi Muhammad SAW merupakan sumber utama bagi pembangunan masyarakat Islam bagi masyarakat Islam merupakan teladan dalam menjalankan ajaran Islam.
Seperti dalam ilmu hadis ketika menulis riwayat hidup Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam para sejarawan pertama Islam juga bersandar kepada informasi lisan. Setiap generasi menerima informasi itu dari generasi sebelumnya. Transmisi informasi itu dikenal dalam ilmu hadits sebagai sanad. Melalui penilaian terhadap sanad inilah suatu informasi sejarah dapat nilai autensitasnya. Oleh karena itu dapat dikatakan ilmu sejarah berhutang budi kepada ilmu hadits.
Para sejarawan generasi pertama yang menulis tentang riwayat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan peperangan Nabi Muhammad SAW di Mekah dan Madinah dapat dibagi menjadi tiga tingkatan generasi.
Generasi tingkat pertama merupakan generasi peralihan dari ilmu hadits ke penulisan sejarah atau biografi. Mereka adalah Aban bin Utsman bin Affan ( wafat 105 H), Urwah bin Zubair ( wafat 92 H), dan Syuhrabil Ibnu Sa’ad ( Wafat 123 H). Peringkat kedua adalah generasi ketiga penulisan biografi mulai berdiri sendiri sebagai ilmu, terdiri dari Abdullah bin Abu Bakar ( wafat 135 H), Asim bin Umar bin Qatadah (wafat 120 H), dan Muhammad bin Syihab az-Zuhri ( wafat 124 H).
Peringkat ketiga, adalah generasi ketiga ilmu ini mulai mengalami perkembangan. Para tokohnya adalah Musa bin Uqbah ( wafat 141 H), Muhammad bin Ishaq bin Yassar ( wafat 207 H). Kecuali Muhammad bin Syihab az-Zuhri, semuanya berasal dari Madinah.
Penulisan Biografi Para Sahabat
Pada masa berikutnya, kepentingan penulisan biografi para sahabat terutama yang menonjol dan berhasil dalam menjalankan kepemimpinan, juga mendapatkan perhatian. Penulisan ini diperlukan sebagai petunjuk dalam menjalankan organisasi sosial Islam.
Dalam ilmu kritik hadis, biografi para sahabat tidak menjadi topik pembahasan karena dalam pandangan para ahli kritik hadis seluruh sahabat jujur dan mempunyai otoritas dalam meriwayatkan hadis.
Namun, pengetahuan terhadap biografinya tetap penting karena mereka adalah generasi pertama yang menerima hadis langsung dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Berdasarkan pengetahuan terhadap biografi mereka dapat diketahui Apakah sebuah hadits memiliki silsilah sanad yang bersambung kepada nabi atau tidak.
Untuk kepentingan itulah pengetahuan terhadap biografi para sahabat menjadi sangat penting bagi para perawi hadits dan terutama bagi para ahli kritik hadis. Kepentingan itu merupakan faktor utama dan pertama yang menyebabkan berkembangnya penulisan biografi para sahabat.
Para sejarawan generasi pertama yang menulis kumpulan biografi Sahabat adalah Abu Abdullah Muhammad bin sa’ad bin Mani’ al-Basri al-Hasyimi atau Muhammad Ibnu Sa’ad ( wafat 230 H) dalam kitabnya yang berjudul kitab at-tabaqat al-kabir, Ali al-Madini dalam kitabnya Ma’rifah manazala as sahabah min Sa’ir al-Buldan, Imam at-Tabari, Ibnu Asir dan lainnya.