KeislamanPendidikan

​Fathu Makkah ke Ruang Kelas MI: Menanamkan Antiperundungan

5 Mins read

​Baru-baru ini, masyarakat Indonesia kembali terkejut oleh maraknya kasus perundungan (bullying) yang melibatkan siswa sekolah. Ada siswa yang dipukul hanya karena dianggap berbeda, diejek terus-menerus karena kondisi fisiknya, hingga dikucilkan dari lingkaran pertemanan lantaran tidak mampu mengikuti tren. Yang lebih memprihatinkan, beberapa kasus justru terjadi pada anak-anak usia dini.

​Mengapa anak-anak yang seharusnya belajar tentang kebaikan justru tega menyakiti teman sebayanya? Mengapa ejekan, hinaan, dan pengucilan sering dianggap sebagai hal yang lumrah di lingkungan sekolah? Masalah ini bukan karena anak-anak terlahir dengan sifat buruk, melainkan karena mereka belum cukup mendapatkan pembelajaran tentang cara menghargai sesama. Di sinilah pendidikan memegang peranan yang sangat krusial. Sekolah tidak hanya bertugas mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga membina hati dan karakter para peserta didik.

​Saat Sang Pemenang Memilih Memaafkan

​Peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) merupakan salah satu momen paling monumental dalam sejarah Islam (Intan, 2019). Setelah bertahun-tahun mengalami penderitaan—mulai dari hinaan, penyiksaan fisik, pemboikotan ekonomi, hingga pengusiran dari tanah kelahiran—Rasulullah SAW akhirnya kembali memasuki Kota Makkah sebagai seorang pemenang.

​Secara manusiawi, Beliau memiliki alasan dan kekuatan yang sangat cukup untuk membalas dendam kepada para musuhnya yang saat itu berada dalam posisi lemah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Rasulullah SAW tidak datang membawa dendam, mempermalukan lawan, ataupun melampiaskan rasa sakit hati. Di hadapan penduduk Makkah, Rasulullah SAW justru menganugerahkan pengampunan massal (amnesti umum) yang menyejukkan hati (Amin, 2021).

​Mengapa Harus Dimulai dari MI?

​Masa pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan fase emas dalam pembentukan karakter. Pada tahap ini, anak-anak mulai membangun ikatan sosial di luar lingkungan keluarga. Mereka belajar memahami perbedaan, mengelola persaingan, dan berinteraksi dengan teman sebaya. Apa yang mereka serap pada masa ini akan berdampak besar terhadap cara pandang mereka saat dewasa kelak.

​Jika sejak kecil anak terbiasa mengejek temannya tanpa ada pembenahan atau teguran dari orang tua dan guru, mereka akan tumbuh dengan anggapan bahwa perbuatan tersebut adalah hal biasa. Sebaliknya, jika sejak awal mereka ditanamkan nilai-nilai empati, saling membantu, dan menghargai perbedaan, karakter terpuji tersebut akan melekat kuat hingga dewasa.

​Dalam konteks ini, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memiliki peran yang sangat strategis (Siregar dikan-kan, 2024). Pembelajaran SKI tidak hanya menyajikan doktrin atau nasihat, tetapi juga menampilkan keteladanan konkret dari Rasulullah SAW. Ketika anak-anak mempelajari bagaimana Nabi Muhammad SAW memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya, mereka memahami bahwa kebaikan dan ketaatan moral jauh lebih mulia daripada membalas sakit hati. Metode bercerita (storytelling) dalam pembelajaran SKI juga terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai keteladanan tersebut ke dalam jiwa peserta didik (Akna dkk., 2026).

Baca...  Sultanah Safiatuddin : Cahaya dari Serambi Mekkah yang Menerangi Nusantara

​Fathu Makkah dan Indonesia Hari Ini

​Meskipun peristiwa Fathu Makkah terjadi lebih dari empat belas abad yang lalu, nilai-nilai universal di dalamnya tetap relevan dengan dinamika masyarakat modern, khususnya Indonesia. Sebagai bangsa yang majemuk, anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan perbedaan suku, budaya, bahasa, status sosial-ekonomi, hingga kepribadian. Sayangnya, perbedaan kerap dijadikan pemicu tindakan diskriminasi dan perundungan.

​Oleh karena itu, pesan terpenting dari Fathu Makkah bukan sekadar perayaan kemenangan fisik semata, melainkan tata cara memperlakukan manusia lain dengan kasih sayang dan keadilan, bahkan di tengah perbedaan dan konflik sekalipun.

​Krisis Empati di Tengah Generasi Digital

​Tantangan pembentukan karakter anak masa kini makin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi. Mereka tumbuh di era digital yang memungkinkan interaksi berlangsung tidak hanya secara tatap muka, tetapi juga secara daring melalui media sosial dan aplikasi pesan singkat.

​Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan informasi; namun di sisi lain, hadir ruang baru bagi munculnya cyberbullying. Jika dahulu perundungan terbatas di lingkungan sekolah, kini aksi tersebut dapat berlangsung selama 24 jam nonstop. Korban perundungan tidak lagi merasa aman meski sudah berada di rumah karena masih bisa menerima lontaran komentar negatif, hinaan, dan pengucilan melalui genggaman telepon seluler.

​Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berulang kali menegaskan bahwa perundungan tidak boleh dianggap sebagai kenakalan anak biasa. Dampaknya sangat destruktif, mulai dari trauma psikologis, penurunan rasa percaya diri, gangguan kesehatan mental, hingga merosotnya prestasi belajar siswa.

​Pelajaran Besar dari Rasulullah SAW untuk Generasi Masa Kini

​Peristiwa Fathu Makkah mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan atau kekuatan yang dimilikinya, melainkan dari bagaimana ia menggunakan kekuatan tersebut. Sikap Rasulullah SAW yang memilih untuk memaafkan berhasil mengubah kebencian menjadi persaudaraan yang erat (Amin, 2021).

Baca...  Membina Keluarga Yang Harmonis Melalui Pendidikan Keluarga

​Nilai inilah yang harus diinternalisasikan kepada peserta didik MI. Anak yang memiliki kelebihan—baik secara akademis, fisik, maupun status sosial—tidak boleh memanfaatkan kelebihannya untuk merendahkan orang lain. Demikian pula, siswa yang tergolong populer di sekolah tidak boleh mengasingkan teman-teman lainnya. Anak-anak perlu diajarkan bahwa kehebatan sejati bukan ditunjukkan dengan membuat orang lain merasa takut, melainkan dengan membuat orang lain merasa aman dan dihargai.

​Peran Guru SKI dalam Mencegah Perundungan

​Guru SKI memegang peranan kunci dalam menginternalisasikan nilai-nilai toleransi dan antiperundungan (Farabi dkk., 2025). Pembelajaran sejarah tidak boleh berhenti pada pemaparan angka tahun dan penumpukan hafalan semata. Guru harus mampu menghubungkan peristiwa sejarah dengan konteks kehidupan nyata yang dihadapi siswa sehari-hari.

​Sebagai contoh, saat membahas materi Fathu Makkah, guru dapat mengajak siswa berdiskusi mengenai pengalaman mereka seputar perundungan, melatih rasa empati terhadap korban, serta mendiskusikan bagaimana keteladanan Rasulullah SAW dapat dijadikan acuan dalam mengatasi masalah perundungan di sekolah (Siregar dkk., 2024). Dengan pendekatan reflektif ini, SKI tidak lagi dipandang sebagai pelajaran hafalan tekstual, melainkan sarana pembinaan akhlak dan karakter peserta didik.

​Membangun Budaya Sekolah Antiperundungan

​Menghentikan praktik perundungan tidak cukup hanya dengan menjatuhkan sanksi atau merespons kasus yang sudah terjadi. Hal yang jauh lebih penting adalah membangun budaya sekolah yang ramah, aman, dan inklusif (Ifadah dkk., 2025). Budaya ini dapat dibiasakan dari hal-hal sederhana, seperti membiasakan tutur kata yang santun, menghormati perbedaan pendapat, saling tolong-menolong, serta melatih keberanian siswa untuk melapor kepada guru jika melihat tindakan perundungan.

​Mencegah perundungan membutuhkan kolaborasi linier antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan media agar perlindungan terhadap anak berjalan optimal (Ifadah dkk., 2025). Orang tua harus menjadi teladan utama dalam bersikap ramah di rumah, sementara masyarakat bertugas menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang aman.

​Membangun Sekolah yang Aman dan Ramah

​Menciptakan sekolah bebas perundungan tidak cukup dilakukan dengan sebatas menempelkan slogan atau spanduk antiperundungan. Diperlukan keteladanan yang konsisten, habituasi yang berkelanjutan, serta pendidikan karakter yang terintegrasi (Ifadah dkk., 2025; Farabi dkk., 2025).

Baca...  Penafsiran Yusuf Itfisy terhadap Kata "Yadullah": Telaah Komparatif Tafsir Hamyan al-Zad dan Taisir al-Tafsir

​Kisah-kisah Sejarah Kebudayaan Islam jangan hanya dijadikan narasi masa lalu, melainkan diposisikan sebagai pedoman moral hidup. Ketika anak-anak menghayati peristiwa Fathu Makkah, mereka belajar bahwa memaafkan jauh lebih mulia daripada membalas dendam, menghormati sesama lebih berharga daripada menghina, dan merangkul orang lain jauh lebih bermakna daripada menyakiti.

​Penutup

​Madrasah Ibtidaiyah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi setiap anak untuk tumbuh, belajar, serta menghargai perbedaan. Indikator keberhasilan pendidikan Islam tidak hanya diukur dari kemampuan siswa dalam menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis, melainkan juga dari sejauh mana nilai-nilai tersebut tecermin dalam perilaku sehari-hari.

​Mengimplementasikan nilai Fathu Makkah berarti mendidik generasi muda untuk memilih melindungi daripada menyakiti, serta menyelesaikan perbedaan dengan penuh kedamaian dan keadilan. Melalui sinergi antara guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah, anak-anak tidak hanya dibimbing menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga tumbuh menjadi manusia yang berakhlak mulia, berempati, dan membawa kedamaian bagi sesamanya.

​Daftar Pustaka

  • ​Akna, I., Ningrum, A. S., Rofiah, Z. H. S. A., Arista, F., Hidayah, N., Maula, A., Salwa, I. M., & Rifiyati, D. (2026). Implementasi Storytelling dalam Pembelajaran SKI untuk Menanamkan Nilai Keteladanan Sahabat Nabi pada Siswa Kelas IV MI/SD. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(2). https://doi.org/10.23969/jp.v11i02.46650
  • ​Amin, M. Y. (2021). Amnesti Umum Nabi Muhammad SAW pada Peristiwa Fathu Makkah. Politea: Jurnal Pemikiran Politik Islam, 4(1), 109–128. https://doi.org/10.21043/politea.v4i1.10527
  • ​Farabi, R. A., Fitriyani, F. N., & Muttaqin, M. F. (2025). Implementasi Karakter Toleransi dalam Mengatasi Bullying di Madrasah Ibtidaiyah. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(1). https://doi.org/10.23969/jp.v10i01.22995
  • ​Ifadah, M. F., Mustafida, F., & Sulistiani, I. R. (2025). Upaya Pencegahan Perilaku Bullying dalam Membentuk Sekolah Ramah Anak di Madrasah Ibtidaiyah. JPMI: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 7(2). [suspicious link removed]
  • ​Intan, S. (2019). Fathul Makkah (Keteguhan Nabi Muhammad saw. Menjalankan Perjanjian). Al-Hikmah, 21(2). https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/al_hikmah/article/view/11398
  • ​Siregar, N. H., Kosim, M., & Rehani. (2024). Analisis Materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) pada Tema Ketabahan Nabi Muhammad SAW dan Sahabat di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam, 7(1), 30–40. https://doi.org/10.51476/dirasah.v7i1.590
1 posts

About author
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
Articles
Related posts
Pendidikan

Nalar Kritis Siswa MI: Belajar SKI lewat Kisah Khandaq

5 Mins read
​Di banyak ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI), pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) berjalan dengan pola yang nyaris seragam. Guru bercerita, siswa mendengarkan,…
KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read
Pendahuluan ​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Nilai Toleransi SKI SD/MI lewat Piagam Madinah dan Pancasila

5 Mins read
​Indonesia ialah rumah besar bagi ratusan suku, bahasa, dan keyakinan. Di tengah keragaman yang begitu luas dan indah ini, menanamkan benih toleransi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *