Di banyak ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI), pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) berjalan dengan pola yang nyaris seragam. Guru bercerita, siswa mendengarkan, lalu di akhir pertemuan siswa diminta menghafal. Soal ujian pun akrab di telinga: Perang Khandaq terjadi pada tahun berapa? Atau siapa yang mengusulkan penggalian parit? Siswa yang hafal pulang dengan nilai yang bagus. Namun, pertanyaan yang lebih penting jarang ditanyakan: setelah belajar sejarah itu, apakah anak menjadi lebih pandai berpikir?
Pertanyaan itu layak direnungkan karena SKI menyimpan bahan yang luar biasa untuk melatih nalar. Salah satunya adalah Perang Khandaq, yang juga dikenal sebagai Perang Ahzab, pada tahun kelima Hijriah. Kisah ini tidak berhenti pada pasukan besar yang mengepung Madinah. Ia juga bercerita tentang cara sebuah masyarakat menghadapi ancaman besar dengan akal sehat, musyawarah, dan penerimaan terhadap hal baru.
Gagasan dari Seorang Pendatang
Menurut catatan sirah, pasukan gabungan Quraisy dan sekutu-sekutunya mendatangi Madinah dengan jumlah yang jauh melampaui kekuatan kaum Muslimin (Ibnu Hisyam, 2006; al-Mubarakfuri, 2008). Al-Qur’an melukiskan suasana mencekam itu dalam Surah Al-Ahzab ayat 9 sampai 11. Dalam keadaan genting tersebut, Rasulullah saw. tidak memutuskan sendiri. Beliau mengajak para sahabat bermusyawarah, sebagaimana perintah Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159.
Di sinilah kisah ini menjadi menarik bagi dunia pendidikan. Salman Al-Farisi, sahabat yang berasal dari Persia, mengusulkan siasat yang belum lazim dipakai bangsa Arab, yakni menggali parit di sisi kota yang terbuka. Ia mengenal cara itu dari pengalaman hidupnya di negeri asal. Usul tersebut tidak ditolak hanya karena datang dari seorang pendatang atau karena terdengar asing. Gagasan itu ditimbang, dinilai masuk akal, kemudian dikerjakan bersama-sama (Haekal, 2011).
Bila dibaca dengan kacamata pendidikan, peristiwa ini memuat urutan berpikir yang rapi. Pertama, ada masalah yang jelas: bagaimana melindungi kota dari serangan yang jauh lebih besar. Kedua, ada ruang bagi gagasan alternatif, sebab siapa pun boleh mengusulkan. Ketiga, ada penilaian terhadap usulan berdasarkan manfaatnya, bukan berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Keempat, ada pelaksanaan dan pembuktian: parit digali bergotong royong dan terbukti menahan laju pasukan lawan.
Urutan itulah yang dalam kajian pendidikan disebut berpikir kritis. Ennis (1996) merumuskannya sebagai cara berpikir reflektif dan masuk akal yang berfokus pada keputusan tentang apa yang layak diyakini atau dilakukan. Facione (2011) menambahkan bahwa kemampuan ini mencakup menafsirkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menyimpulkan. Semua kemampuan itu tampak hidup dalam kisah Khandaq.
Mengapa Nalar Kritis Perlu Ditanam Sejak MI?
Sebagian orang mungkin ragu. Bukankah berpikir kritis terlalu berat bagi anak usia tujuh hingga dua belas tahun? Anggapan ini perlu ditinjau ulang. Anak usia sekolah dasar justru sedang berada di masa penuh rasa ingin tahu. Mereka gemar bertanya “kenapa?” dan “bagaimana kalau?” Tugas pendidikan bukan memadamkan pertanyaan itu, melainkan menyalurkannya.
Tantangan zaman juga mendesak. Anak-anak kini tumbuh bersama gawai dan derasnya arus informasi. Mereka menerima video pendek, potongan ceramah, dan kabar yang belum tentu benar. Al-Qur’an telah menanamkan kewaspadaan terhadap informasi lewat Surah Al-Hujurat ayat 6, yang memerintahkan untuk memeriksa dengan teliti kabar dari pembawa berita yang meragukan. Anak yang terbiasa menerima cerita tanpa bertanya akan mudah menelan apa saja. Anak yang terlatih menimbang alasan akan lebih siap menghadapi banjir informasi.
Perlu ditegaskan pula bahwa berpikir kritis dalam SKI bukan berarti meragukan ajaran agama atau menggugat kedudukan Nabi. Maksudnya adalah memahami sebab dan akibat, menimbang pilihan, serta menarik pelajaran secara bermakna. Rasulullah saw. sendiri memberi teladan: dalam urusan strategi dan perkara dunia, beliau mendengar pendapat para sahabat. Karena itu, melatih anak bernalar lewat sejarah Islam justru sejalan dengan jejak beliau.
Dari Hafalan Menuju Pertanyaan
Bagaimana guru SKI di MI membawa kisah Khandaq menjadi pengalaman berpikir? Beberapa langkah sederhana dapat dicoba:
- Mulai dari masalah, bukan dari tanggal. Alih-alih langsung menulis “Perang Khandaq, 5 H” di papan tulis, guru dapat membuka kelas dengan situasi yang dekat dengan anak: “Bayangkan kampungmu akan didatangi rombongan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Apa yang akan kamu lakukan?” Anak dipersilakan menebak, mengusulkan, dan beradu alasan. Setelah itu, kisah Khandaq dibuka sebagai jawaban sejarah atas masalah yang baru saja mereka pikirkan.
- Ajukan pertanyaan terbuka. Misalnya, “Mengapa usul Salman diterima padahal belum pernah dilakukan orang Arab?”, “Apa yang terjadi jika usulnya ditolak hanya karena ia bukan orang Madinah?”, atau “Jika kamu berada di sana, apa yang bisa kamu bantu?” Pertanyaan semacam ini tidak punya satu jawaban hafalan, sehingga anak mau tidak mau harus berpikir.
- Hubungkan dengan kehidupan anak. Musyawarah dan gotong royong di Khandaq dapat ditarik ke persoalan kelas, seperti sampah yang berserakan atau jadwal piket yang dirasa tidak adil. Bayangkan seorang guru yang meminta siswa menyelesaikan masalah piket dengan aturan sederhana: setiap anak boleh mengusulkan satu cara, usulan dinilai dari manfaatnya, lalu kelas memilih bersama. Anak belajar bahwa cara para sahabat memecahkan masalah dapat ditiru dalam skala kecil, yaitu mendengar usul teman, menimbang, dan memutuskan bersama.
- Hargai proses, bukan hanya jawaban benar. Ketika anak menjawab, guru dapat menanggapi dengan “Kenapa kamu berpikir begitu?” dan tidak buru-buru menyalahkan. Dengan begitu anak merasa aman untuk berpendapat. Suasana kelas yang menghargai gagasan adalah miniatur dari majelis musyawarah di Madinah.
Contoh Kegiatan: Parit di Dalam Kelas
Agar gagasan ini tidak berhenti di tataran teori, berikut satu rancangan kegiatan sederhana untuk siswa SD/MI. Guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil dan memberi tugas: “Madinah akan diserang dari tiga arah, tetapi satu sisi kota terbuka tanpa benteng. Tuliskan tiga cara untuk melindungi kota.” Setiap kelompok bekerja sekitar sepuluh menit, lalu menempelkan jawabannya di papan. Guru tidak langsung menilai benar atau salah. Ia meminta tiap kelompok menjelaskan alasan pilihannya.
Pada tahap berikutnya, guru menceritakan keputusan yang diambil Rasulullah saw. dan para sahabat, lalu mengajak siswa membandingkannya dengan jawaban mereka. Apakah ada kesamaan? Apa kelebihan usul Salman dibanding gagasan lain? Mengapa usul itu cocok dengan kondisi Madinah yang dikelilingi bukit dan kebun kurma? Di akhir pelajaran, siswa menuliskan satu kalimat refleksi, misalnya “Hari ini aku belajar bahwa…” Kalimat-kalimat pendek itu menjadi bahan penilaian yang jauh lebih kaya daripada sekadar skor hafalan.
Kegiatan seperti ini hanya membutuhkan kertas, spidol, dan keberanian guru untuk membiarkan kelas sedikit lebih ramai. Namun, hasilnya terasa. Siswa yang biasanya diam mulai berani mengutarakan alasan, dan siswa yang cepat menjawab belajar mendengarkan teman. Sejarah pun berubah dari cerita yang dihafal menjadi pengalaman yang dialami.
Nilai yang Tumbuh Bersamanya
Pembelajaran seperti ini tidak hanya mengasah nalar. Ia juga menumbuhkan sikap-sikap yang sejalan dengan tujuan pendidikan akidah akhlak di madrasah. Anak belajar rendah hati, karena sanggup menerima gagasan baik dari siapa pun, termasuk teman yang kurang menonjol. Anak belajar menghargai perbedaan latar belakang, sebab Salman datang dari Persia dan tetap dihormati ketika pendapatnya bermanfaat. Anak belajar bekerja sama, karena parit digali bersama dalam keadaan lapar dan lelah. Anak pula belajar tawakal yang aktif: berdoa dan bersandar kepada Allah berjalan seiring dengan ikhtiar menyusun strategi. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.
Dengan demikian, nalar kritis dan akhlak tidak berjalan sendiri-sendiri. Anak yang pandai bertanya tetapi sombong bukanlah tujuan. Yang diharapkan adalah anak yang berpikir jernih sekaligus berakhlak baik.
Tantangan dan Harapan
Mengubah kebiasaan lama tentu tidak mudah. Guru sering dikejar target materi, sementara ujian masih menekankan hafalan. Jam pelajaran SKI terbatas dan jumlah siswa dalam satu kelas kadang banyak. Di sisi lain, merancang pertanyaan yang memancing nalar juga belum menjadi keterampilan yang dilatihkan secara khusus kepada guru.
Meski begitu, hambatan ini bukan alasan untuk berhenti. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: satu pertanyaan terbuka di setiap pertemuan, satu diskusi singkat di akhir pelajaran, atau satu tugas sederhana yang meminta anak menjelaskan alasan. Pelatihan guru, bahan ajar yang kaya kisah dan pertanyaan, serta dukungan kebijakan madrasah akan sangat membantu. Kerangka kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada madrasah (Kementerian Agama RI, 2019) pun membuka ruang bagi pembelajaran yang aktif dan bermakna.
Penutup
Parit Khandaq bukan sekadar galian tanah di sisi utara Madinah. Ia adalah lambang bagaimana sebuah masyarakat menghadapi bahaya dengan akal sehat, musyawarah, dan kerja bersama. Di dalamnya ada seorang sahabat yang berani mengusulkan sesuatu yang baru, dan seorang pemimpin yang bersedia mendengar.
Jika SKI di MI hanya diajarkan sebagai kumpulan tanggal dan nama, anak akan mengingat angka tetapi melupakan makna. Jika SKI diajarkan sebagai ruang bertanya, menimbang, dan memecahkan masalah, anak akan membawa pulang sesuatu yang lebih berharga: kebiasaan berpikir jernih yang berpijak pada iman dan akhlak. Dari parit sederhana empat belas abad silam, kita belajar bahwa gagasan baik layak didengar, dan bahwa anak-anak kita layak dilatih untuk melahirkannya.

