PENDAHULUAN
Perkembangan era globalisasi dan pesatnya arus digitalisasi membawa perubahan mendasar dalam berbagai dimensi kehidupan, khususnya dalam pembentukan nilai moral, spiritual, dan identitas keislaman generasi muda. Kemudahan akses informasi di era yang serba cepat sering kali menimbulkan kekhawatiran terhadap menurunnya moral, seperti penurunan kedisiplinan dan krisis identitas di kalangan anak-anak usia sekolah dasar (Amaliya & Syafira, 2026). Dalam merespons tantangan tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti di tingkat sekolah dasar (SD/MI) memiliki peran penting untuk menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sehari-hari guna membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia dan sempurna (insan kamil).
Namun, praktik pembelajaran PAI di sekolah sering kali masih didominasi oleh pendekatan konvensional yang berfokus pada transfer pengetahuan kognitif teoretis semata (Khoiriyah et al., 2021). Perbedaan antara materi agama yang dipelajari di sekolah dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari membuat anak sulit memahami ajaran agama secara menyeluruh. Sejalan dengan hal tersebut, Lusiana dan Fahrieyah (2024) menegaskan bahwa pemisahan antara pembelajaran agama dan kehidupan sehari-hari dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara pengetahuan agama dan perilaku siswa. Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang mengaitkan ajaran agama dengan pengalaman nyata siswa agar nilai-nilai keimanan dapat dipahami dan diterapkan secara konkret (Isnaniah, 2025). Artikel ini membahas strategi penanaman iman melalui pengalaman harian yang mengintegrasikan psikologi perkembangan anak, pembiasaan rutin, dan pembelajaran kontekstual.
PEMBAHASAN
Landasan Psikologi Perkembangan Anak dan Konsep Pendidikan Islam
Keberhasilan dalam menerapkan strategi pendidikan nilai dipengaruhi oleh kesesuaian metode pembelajaran dengan tahap perkembangan berpikir, sosial-emosional, dan spiritual anak. Berdasarkan kajian psikologi perkembangan, anak usia sekolah dasar (sekitar 7–11/12 tahun) berada pada tahap operasional konkret menurut Jean Piaget, di mana anak mampu berpikir logis namun masih sangat bergantung pada objek fisik dan contoh nyata yang dapat diamati langsung. Dalam teori perkembangan moral Kohlberg, anak usia ini berada pada tahap konvensional yang didorong oleh keinginan menjadi “anak baik” (good boy/girl) dan memperoleh penerimaan sosial. Sementara itu, dalam teori psikososial Erikson, anak berada pada tahap industry vs. inferiority yang berjuang meraih rasa kompeten dan percaya diri (Amaliya & Syafira, 2026).
Dalam perspektif pendidikan Islam, masa sekolah dasar sepadan dengan fase tamyiz, yaitu periode ketika anak mulai memiliki kemampuan membedakan antara hal yang baik dan buruk. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, sehingga tugas utama pendidik adalah menjaga fitrah tersebut melalui pembentukan kebiasaan positif (al-’adah) dan pendidikan hati (tarbiyatul qulub). Untuk mengoptimalkan fase perkembangan ini, strategi pendidikan dapat dibagi menjadi dua kelompok tingkatan:
- Kelas Rendah (Usia 6–8/9 Tahun / Kelas I–III): Penanaman nilai pada kelas rendah lebih efektif dilakukan melalui metode keteladanan (modeling), pembiasaan (habituation), cerita Islami (storytelling), bermain peran (role-playing), serta lagu bernuansa religi.
- Kelas Tinggi (Usia 10–12 Tahun / Kelas IV–VI): Seiring bertambahnya kemampuan logika berpikir anak, strategi dikembangkan ke arah diskusi kelompok, pemecahan masalah (problem solving), studi kasus moral, dan refleksi diri (self-reflection) agar ketaatan beribadah lahir dari kesadaran moral yang rasional (Amaliya & Syafira, 2026).
Strategi Pembiasaan Harian (Habituation Strategy) dalam Pengalaman Sehari-hari
Pembiasaan (habituation) merupakan metode penanaman nilai yang utama karena bertujuan mengubah tindakan positif menjadi kebiasaan otomatis yang melekat pada kepribadian anak. Sejalan dengan pandangan Ahmad Tafsir, kebiasaan adalah “tabiat kedua” manusia yang dibentuk secara halus dan berulang tanpa memberikan beban psikologis berlebih kepada peserta didik (Mustopa et al., 2020). Dalam studi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada siswa kelas V SD N Sungapan Yogyakarta, terbukti bahwa pembiasaan harian yang terstruktur secara signifikan mampu meningkatkan karakter disiplin sebesar 22%, empati sebesar 18%, dan tanggung jawab sebesar 25% (Tantri, 2025).
A. Penguatan Rutinitas Religius
- Shalat Dhuha dan Zhuhur Berjamaah: Kegiatan ini melatih ketertiban waktu, kebersihan wudhu, ketaatan pada aturan, serta kekhusyukan ibadah secara mandiri (Tantri, 2025).
- Tadarus Al-Qur’an / Juz ‘Amma Harian: Pembiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin bersama guru dan teman sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai untuk menumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur’an.
- Doa Khusyuk yang Dipahami: Guru memberi contoh berdoa dengan khusyuk serta menyertakan pemahaman makna dalam bahasa Indonesia agar maknanya dapat dihayati secara nyata oleh anak (Mustopa et al., 2020).
B. Pembentukan Budaya Akhlak dan Kepedulian Sosial
- Budaya Salam dan Senyum: Pembiasaan menyapa mempererat silaturahmi dan membentuk rasa saling menghargai (Tantri, 2025).
- Budaya Antre dan Kesabaran: Budaya antre melatih pengendalian diri, kesabaran, dan rasa keadilan pada anak (Mustopa et al., 2020).
- Kantin Kejujuran dan Pengembalian Barang Hilang: Membiasakan anak bersikap jujur dan amanah dengan melaporkan barang temuan serta bertransaksi secara jujur.
- Aksi Empati dan Kebersihan Lingkungan: Kegiatan menjenguk teman yang sakit, menggalang kepedulian sosial, serta piket kebersihan kelas (Mustopa et al., 2020).
Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL)
Agar keimanan terikat kuat dalam pengalaman hidup anak, metode pembiasaan perlu diperkaya dengan pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL). Isnaniah (2025) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan yang menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata yang dialami siswa di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendekatan CTL memberikan dorongan internal dan motivasi tinggi bagi siswa karena materi pelajaran dirasakan memiliki aplikasi praktis langsung dalam mengatasi tantangan kehidupan sehari-hari (Lusiana & Fahrieyah, 2024).
Dalam penelitian lapangan di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo Klaten, penerapan CTL diwujudkan secara konkret melalui integrasi materi PAI ke dalam seluruh mata pelajaran menggunakan kerangka spider web. Sebagai contoh, saat mempelajari tema kayu, materi Asmaul Husna (Ar-Rahman dan Al-Muhaimin) dihubungkan langsung dengan keberadaan pohon di lingkungan sekolah sebagai bentuk kasih sayang Allah. Ketika terjadi perselisihan antar siswa, guru langsung mengaitkan hadits larangan marah sebagai jalan penyelesaian masalah. Selain itu, alam dimanfaatkan sebagai laboratorium iman (sunnah kauniyah), kisah inspiratif dihubungkan dengan aksi sedekah langsung, serta materi muamalah dikaitkan dengan kearifan lokal bisnis perkayuan di masyarakat sekitar (Khoiriyah et al., 2021).
Tantangan Implementasi dan Solusi Sinergis Tri Pusat Pendidikan
Meskipun pembiasaan sehari-hari dan pendekatan CTL memberikan dampak yang sangat positif, penerapannya masih menghadapi beberapa kendala. Menurut Mustopa et al. (2020), hambatan tersebut meliputi pengaruh negatif dari lingkungan luar sekolah yang kurang mendapat pengawasan, terbatasnya fasilitas ibadah di sekolah, serta keterbatasan waktu guru dalam memantau pembiasaan harian secara terpadu. Selain itu, kesiapan guru juga menjadi tantangan tersendiri karena sebagian guru masih terbiasa menggunakan metode pembelajaran tradisional.
Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, terdapat beberapa langkah solusi strategis:
- Membangun Komunikasi dan Kerja Sama dengan Orang Tua: Sekolah perlu menjalin komunikasi rutin melalui rapat berkala, buku pemantauan ibadah harian, dan kunjungan rumah (home visit) untuk mengontrol aktivitas anak di luar sekolah.
- Aktivitas Tambahan yang Positif di Rumah: Orang tua memberikan kegiatan tambahan bernilai positif di rumah, seperti mengaji di TPA atau lingkungan sekitar.
- Peningkatan Sarana dan Fasilitas: Sekolah secara bertahap meningkatkan kualitas layanan sarana ibadah dan media pembelajaran (Mustopa et al., 2020).
Sejalan dengan hal itu, Amaliya dan Syafira (2026) menegaskan bahwa kerja sama yang kokoh antara guru sebagai teladan, dukungan orang tua di rumah, dan keterlibatan lingkungan masyarakat merupakan faktor penentu utama bagi keberhasilan pembentukan karakter muslim yang paripurna di era globalisasi.
KESIMPULAN
Penanaman iman pada anak SD/MI merupakan proses pendidikan yang menyeluruh dan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui penyampaian materi agama di dalam kelas. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tahap perkembangan anak sangat penting untuk menentukan strategi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Penerapan pembiasaan secara rutin dan pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL) dapat membantu anak memahami serta menerapkan nilai-nilai keimanan, kedisiplinan, empati, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, proses pendidikan ini diharapkan mampu membentuk generasi muslim yang berakhlak mulia dan memiliki kepribadian yang baik (insan kamil).
DAFTAR PUSTAKA
Amaliya, M. F., & Syafira. (2026). Membentuk Pribadi Saleh: Strategi Menanamkan Nilai Islam Untuk Anak Usia 6-12 Tahun. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan (JERKIN), 4(3), 19523–19530.
Isnaniah. (2025). Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Pendidikan Agama Islam di Era Globalisasi. Jurnal Kualitas Pendidikan (JKP), 3(1), 236–243.
Khoiriyah, T. E., Hakiman, & Aminudin. (2021). Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kontekstual di Sekolah Dasar Alam. Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 4(1), 62–71.
Lusiana, & Fahrieyah, L. (2024). Pembelajaran Kontekstual Dalam Pendidikan Islam. Jurnal Ilmiah Multidisiplin (JIM), 2(2), 95–103.
Mustopa, A., Maulida, A., & Sarifudin, A. (2020). Implementasi Metode Pembiasaan dalam Membentuk Karakter Islami pada Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SDN Sirnagalih 02 Desa Sukamantri Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor Tahun Ajaran 2019/2020. Prosa PAI: Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam, 2(2B), 1–15.
Tantri, R. A. (2025). Peningkatan Karakter Peserta Didik melalui Pembiasaan Harian dalam Pembelajaran PAI: Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V SD N Sungapan. IJAR: Indonesian Journal of Action Research, 4(1), 42–50.

